เข้าสู่ระบบ“Apa yang kau lakukan di sini?” geram Rei Harristian menghardik Josh Hartlin. Josh pun memasang tampang marah yang sama. Ia menggeram kesal dan marah pada Rei.
“Apa urusanmu! Memangnya siapa kamu?” hardik Josh balik menyalak pada Rei. Rei mendorong Josh yang juga melawan dengan kekuatan yang sama. Jika hari ini mereka harus berkelahi maka itu juga yang akan mereka lakukan. Keduanya seperti banteng yang siap untuk saling menyerang satu sama lain.
“Huh! Kamu benar-benar tidak tahu diri ya!” Rei mengejek tanpa filter sama sekali. Baginya kini Josh adalah saingan terberatnya. Ia langsung emosi begitu melihat Josh bisa datang menemui Honey tanpa ada halangan.
“Aku tidak ada urusannya denganmu!”
“Oh ya! Yang kamu sedang tengah kejar itu adalah kekasihku!” potong Rei sudah sangat kesal dan marah. Josh terdiam dan mengernyitkan keningnya. Siapa yang ia maksudkan? Axel atau Honey? Bukankah dia tidak tahu
Rei mulai bosan karena Honey yang tengah menjadi Axel kini sedang cuti. Honey baru cuti satu hari, akan tetapi Rei sudah uring-uringan. Ia bahkan sampai duduk di kursi kerja milik Honey untuk bisa merasakan keberadaannya. Rei benar-benar sedang jatuh cinta dan jauh dari Honey adalah hal yang paling menyiksa.Tiba-tiba ponsel Rei bergetar dan itu langsung membuat Rei jadi menoleh cepat ke arah kanan. Rei membesarkan matanya dan mengira jika yang menghubunginya mungkin Honey. Rei bergegas cepat ke mejanya dan harus kecewa saat melihat layar ponsel dan ternyata yang menghubunginya adalah Ayahnya Arjoona. Rei menghela napas kecewa dan mengambil panggilan tersebut.“Ya Dad?” sapa Rei dengan sikap malas. Ia menyandarkan punggungnya di ujung sisi meja sambil mendengarkan ayahnya bicara.“Kamu akan datang makan malam nanti kan?” sahut Arjoona menghubungi anaknya untuk memastikan kehadirannya. Kening Rei sontak mengernyit tak mengerti.&ldq
“Aku perlu bicara denganmu!” ujar Christina lagi dengan nada memelas. Ia benar-benar tak punya pilihan lain selain menghubungi Dalton. Dan Dalton Curt tahu persis hal tersebut.“Soal apa?” tanya Dalton pura-pura tidak tahu. Ia masih bernada dingin dan ketus.“Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak mau masuk penjara!” pinta Christina mulai memelas. Dalton menaikkan ujung bibirnya dan mendengus sinis.“Entahlah apa kamu masih bisa bekerja untukku atau tidak. Aku punya hal yang jauh lebih menarik di depanku,” gumam Dalton sambil menatap Charlotte nakal. Charlotte sedikit membesarkan matanya dan menunduk. Dalton lantas memilih untuk berdiri dan bicara pada Christina bukan di depan Charlotte dan Travis. Setelah Dalton menjauh dari mereka, Travis sedikit mendekat untuk berbisik pada Charlotte.“Jika Dalton memintamu menjadi salah satu pacarnya, kamu harus menyetujuinya,” bisik Tra
Honey sedikit resah saat makan siang. Pasalnya, Rei Harristian masih berada di dalam lemari pembersih. Waktu sudah lewat 15 menit dan ia pasti sangat sesak berada di dalam lemari itu. Tak ada ventilasi kecuali dari lubang kunci.“Dad, aku mau ke kamar sebentar. Aku mau ke toilet!” ujar Honey meminta ijin pada Ayahnya. Abraham langsung mengangguk dan tanpa menunggu persetujuan ayahnya, Honey langsung pergi begitu saja. Axel sepertinya tahu jika Honey sudah mengetahui jika Rei ada di dalam lemari tersebut. Honey masuk ke dalam kamar untuk mengganti celana pendeknya serta memakai camisole agar dadanya tak terlihat. Setelah itu barulah ia keluar dari kamar untuk melihat Rei.Honey bergegas ke lemari pembersih itu dan mengira jika Rei pasti sudah pingsan. Begitu ia membukanya, ternyata Rei sedang santai memainkan ponselnya dan bersandar dengan sisi lengannya ke lemari di sebelahnya. Rei langsung menaikkan pandangannya begitu mengetahui pintu terbuka. Ia menyengi
Rei menatap ke sekelilingnya. Lemari tempatnya bersembunyi cukup kecil. Karena tinggi tubuhnya, lampu yang tergantung di atas langit-langit lemari sudah menyentuh kepalanya. Rei bahkan harus sedikit memiringkan kepalanya agar tak terkena bola lampu.“Ah, gue udah jadi sapu bentar lagi!” rutuk Rei sambil memindahkan beberapa barang dan sebuah gagang pel jatuh mengenai kepalanya.“Ouchh ... aduh ... apaan sih ini!” Rei mengomel dengan keras sambil mengaduh karena kepalanya terkena gagang pel. Belum beberapa barang lainnya yang berjatuhan.Terdengar suara yang cukup keras dari dalam lemari karena Rei harus memindahkan beberapa barang yang menimpanya di dalam lemari sempit tersebut.“Ahhh ... sial!” pekik Rei tak sadar jika suaranya bisa saja terdengar keluar.“Apa yang terjadi? Mengapa rambutmu jadi berubah pendek seperti ini?” Abraham masih terperangah tak percaya melihat keadaan Honey yang begitu jauh
Travis Lancey dan Charlotte Harper diterima oleh Dalton Curt di apartemen mewahnya di Manhattan. Saat Travis datang dan menawarkan sesuatu, Dalton awalnya tak tertarik. Tapi ia meyakinkan Dalton bahwa yang sedang ia bawa dapat membuat Dalton bisa menyingkirkan Rei Harristian dengan mudah. Sementara Charlotte masih di antara bimbang atau tidak dengan apa yang sedang dilakukannya.“Jadi apa yang ingin kamu katakan?” tanya Dalton dengan sikap dingin dan sangat tak bersahabat pada Charlotte. Charlotte menelan ludahnya dan sedikit menunduk. Ia jadi ragu akan bicara. Travis lantas menepuk pelan lengannya agar Charlotte mau bicara.“Aku tidak punya waktu untuk menunggumu seharian!” tambah Dalton pagi makin ketus. Charlotte agak sedikit gelagapan karena hal itu.“Uhm … aku …” Charlotte menoleh sekilas pada Travis lalu kembali pada Dalton. Pria itu mulai jengah dengan sikap Charlotte yang tak jelas. Travis jadi agak sedik
Rei tiba di depan pintu apartemen Honey dengan sekotak coklat dan sebuket bunga. Entah apa yang dipikirkannya sampai ia datang seperti seorang kekasih. Rasanya Rei seperti tak sadar dan tak peduli jika Honey akan terlihat seperti wanita jika Rei mengunjunginya di rumah seperti itu. Setelah mengetuk dan menunggu, pintu pun dibuka.“Apa yang kamu lakukan di sini?” Axel terkesiap melihat Rei sudah ada di depan pintu kala ia membukanya.‘Tentu aja dia yang akan membuka pintunya. Dasar sial!’ rutuk Rei dalam hatinya. Tapi ia harus bersikap ramah. Itu sebabnya Rei langsung memasang lengkungan senyuman lebar pada Axel. Namun Axel memang tak nyaman sama sekali. Ia terus mendelik pada Rei.“Aku datang kemari untuk mengunjungi H ... Axel. Maksudku Axel!” ujar Rei nyaris kelepasan. Axel mengernyitkan keningnya makin dalam. Rei Harristian memang manusia yang tebal muka. Ia tak peduli jika sudah ratusan kali diusir oleh Axel yang asli.







