Masuk"Kenapa Anda melakukan itu?" pekikan Aruna memecah keheningan di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara itu. Di sampingnya, Leonardi duduk dengan ketenangan yang memuakkan. Aroma sandalwood dari tubuh pria itu mengepung Aruna, terasa seperti jerat yang perlahan mencekik lehernya hingga ia sulit bernapas.
Leonardi tidak langsung menoleh. Ia justru sibuk mengusap permukaan jam tangan mahalnya dengan ibu jari, seolah Aruna tidak lebih dari sekadar gangguan kecil yang ada di mobil mewahnya. "Melakukan apa? Menyelamatkanmu dari preman yang hampir menikmati tubuhmu?"
"Anda membayar mereka seolah saya adalah barang dagangan! Anda memamerkan kekuasaan Anda di depan saya!" Aruna mencengkeram tasnya kuat-kuat.
Leonardi akhirnya menoleh. Tatapannya sedingin es, tanpa ada sedikit pun empati. "Kamu memang sudah kubeli, Aruna." ucap Leonardi ringan. “Jadi, sekarang kau harus ikut denganku. Karena kau milikku.” imbuh Leonardi sambil menoleh ke arah Aruna dan tersenyum simpul.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema keras di dalam kabin mobil. Tangan Aruna mendarat telak di pipi Leonardi sebelum otaknya sempat memerintahkan untuk berhenti. Bram, sang sopir yang sedang menyetir di depan, melirik melalui spion tengah dengan mata membelalak. Namun, ia cukup profesional untuk menjaga kemudi tetap stabil meski suasana di belakangnya mendadak menjadi sangat berbahaya.
Suasana di dalam mobil berubah mencekam. Leonardi tidak membalas. Ia hanya memalingkan wajahnya perlahan kembali menatap Aruna. Ada bekas merah di pipinya yang putih bersih, namun matanya memancarkan kilatan gelap yang jauh lebih mengerikan daripada amarah biasa. Itu adalah tatapan seorang tuan yang baru saja diserang oleh peliharaannya.
Namun, dalam sorot mata Leonardi entah kenapa ada sedikit ketenangan dan kehangatan setelah tangan Aruna berhasil mendarat di pipinya hingga menimbulkan bekas merah. Raut monster penguasa yang dingin seolah luntur untuk beberapa detik.
"Buka pintunya," desis Aruna, tubuhnya gemetar hebat.
"Kita belum sampai di mansion," sahut Leonardi pelan. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang sangat nyata.
"Buka pintunya atau aku akan melompat sekarang juga!" Aruna menarik tuas pintu dengan kalap, namun sistem penguncian otomatis tetap menguncinya di dalam. Ia mulai memukul kaca jendela dengan kepalan tangannya yang kecil. "Buka! Aku tidak mau pergi dengan monster seperti Anda! Aku lebih baik mati daripada bersamamu!"
Leonardi memberi isyarat kecil dengan tangannya pada Bram. Mobil itu pun melambat dan berhenti mendadak di pinggir jalan raya Viance yang sepi. Di luar, lampu jalan yang berkedip-kedip tertutup kabut tebal, memberikan suasana yang suram.
Klik. Kunci pintu terbuka.
"Turun," perintah Leonardi datar.
Aruna tidak menunggu perintah kedua. Ia menyambar tasnya dan langsung keluar, menerjang guyuran hujan deras yang langsung membasahi seluruh tubuhnya. Namun, baru dua langkah ia menjauh dari mobil, suara Leonardi kembali terdengar, lebih tajam dan lebih dingin daripada petir yang menyambar di langit.
"Jalanan Viance sangat gelap malam ini, Aruna." ucap Leonardi setengah meremehkan.
Leonardi keluar dari mobil. Bram dengan sigap memayunginya, memastikan tidak ada satu tetes air pun yang mengenai jas mahal pria itu. Leonardi berdiri tegak, menatap Aruna yang berdiri di tengah jalan dengan pakaian basah kuyup yang melekat pada tubuhnya.
Aruna berbalik, menatapnya dengan api kebencian yang menyala di matanya. "Aku benci padamu!"
"Benci adalah perasaan yang sangat melelahkan, Aruna. Kau akan butuh energi itu untuk hal lain nanti," Leonardi melangkah mendekat, mengabaikan cipratan air hujan yang mengenai sepatu kulitnya yang mengkilap. "Pikirkan baik-baik tawaranku saat kau sampai di rumah kumuhmu nanti." imbuhnya
Lenardi berhenti tepat di depan Aruna, jarak mereka begitu dekat hingga Aruna bisa mencium bau hujan yang bercampur dengan parfum maskulin Leonardi yang mahal.
"Ingat satu hal, Aruna.” Leonardi mengatakan dengan penuh penekanan. “Saat kau melangkah masuk ke rumah sakit malam ini dan melihat ibumu sesak napas karena kau tidak punya uang untuk membeli tangki oksigen berikutnya, atau saat para preman itu kembali datang untuk mengambil adikmu, Renata, sebagai ganti hutang judi ayahmu, jangan pernah sungkan datang memohon padaku."
“Tidak akan.” bantah Aruna.
“Menarik.” desis Leonardi pelan.
Aruna hanya mengerutkan kening, tidak mengerti maksud Leonardi. “Aku tidak peduli, pergilah! Menjauh dari kehidupanku dan keluargaku.” bentak Aruna.
Leonardi tersenyum meremehkan. “Kau sungguh tidak sopan, Aruna.” sindirnya. “Kau membentak pria yang sudah membantumu melunasi semua hutang ayahmu.”
“Aku tidak meminta bantuanmu.” Aruna masih bertahan dengan harga dirinya.
Leonardi tertawa. “Jadi, harusnya aku biarkan saja kau dibawa dan melihat mereka menikmati tubuhmu?” sindir Leonardi tajam.
Aruna kehabisan kata-kata. “Aku akan membayarnya padamu.” ucapnya akhirnya. Lalu berjalan menjauhi pria itu.
Leonardi menipiskan bibirnya, sebuah senyum kejam tersungging di sana. Leonardi menatap punggung Aruna dengan perasaan yang berkecamuk.
"Pintu Obsidian Manor selalu terbuka untukmu. Tapi ingat satu hal, setiap menit yang kau habiskan untuk merenung di luar sana, 'harga' yang harus kau bayar di dalam kamarku nanti akan semakin mahal. Aku bukan pria yang sabar, dan aku tidak suka hutang dariku dibayar telalu lama." teriak Leonardi pada Aruna yang semakin menjauh.
Leonardi menatap tubuh Aruna yang menggigil sambil berjalan menjauhinya dengan pakaian yang sudah basah.
Tanpa menunggu respons dari Aruna, Leonardi masuk kembali ke dalam mobil. Sedan hitam itu melesat pergi dengan cepat, meninggalkan Aruna yang masih berjalan sendirian menantang hujan untuk mempertahankan sisa harga diri yang dimilikinya.
Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal
“Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken
Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L
Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem
Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha
Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor







