Masuk“Brengsek.” Aruna mengumpat dan mempercepat langkahnya menuju Halte di depannya.
“Aku bersumpah tidak akan menyerah padamu, Leonardi.” geram Aruna dalam hati. Tangannya mencengkeram tali tasnya dengan erat, walaupun tubuhnya masih menggigil kedinginan karena hujan.
Aruna terduduk di bangku kayu halte yang dingin, memeluk tasnya erat-erat. Pakaian kerjanya yang elegan kini lepek dan kotor, mencerminkan hancurnya harapan yang tadi ia bawa ke gedung Wiratama.
Aruna menghembuskan napasnya pelan. Hari ini adalah hari yang berat untuknya. Aruna menatap lurus ke depan, tatapannya kosong tapi isi kepalanya riuh. Batinnya memberontak kenapa ia harus menghadapi ketidak adilan ini.
Kota Viance memang kejam untuk manusia kelas bawah seperti dirinya ini. Sedangkan kehidupan di Viance akan berjalan mudah jika kau berada di posisi kelas atas. Apalagi kelas Konglomerat seperti Leonardi. Wiratama Corp. merupakan salah satu perusahaan besar di Negara Eldoria. Kelas Elite seperti Leonardi sudah pasti tidak akan mampu Aruna hadapi karena orang seperti Leonardi di Negara Eldoria, bisa mengatur hukum birokrasi yang berlaku. Jadi sebelum terlibat terlalu jauh, sebaiknya Aruna menjauh sejauh-jauhnya dari pria dingin itu.
Aruna mendadak terkesiap, ketika tiba-tiba, ia mendengar ponselnya bergetar dari dalam tasnya. Aruna membuka tasnya dan mengaduk isinya hingga menemukan benda yang bergetar itu. Aruna membaca bagian layarnya sekilas. Sebuah panggilan dari Rumah Sakit Viance Central.
"Nona Aruna, Ibu Maya mengalami penurunan kesadaran drastis," belum sempat Aruna menyapa, tiba-tiba suara seorang suster di seberang sana terdengar mendesak. "Transplantasi ginjal harus dilakukan dalam dua puluh empat jam ini. Pihak administrasi menunggu deposit dua miliar sebelum pukul delapan pagi besok, atau kami tidak bisa menjadwalkan ruang operasi kembali."
Dua miliar. Angka itu terngiang seperti lonceng kematian. Aruna menutup wajahnya dengan telapak tangan, terisak di tengah deru angin malam Viance. Ia tidak mungkin kembali merangkak pada Leonardi. Pria itu terlalu berbahaya, terlalu manipulatif.
“Suster, apakah ada cara lain untuk menyelamatkan ibu saya?” tanya Aruna. Secercah harapan, masih ia tunggu.
“Karena ini sangat mendesak, saya rasa tidak ada jalan lain selain operasi Nona.” jelas suster di seberang sana. “Tapi untuk lebih jelasnya, Nona Aruna bisa menghubungi dokter atau pihak admisnistrasi rumah sakit besok.” tambah suster itu. Menumbuhkan sedikit harapan untuk Aruna.
“Baik sus, saya akan kesana. Terimakasih.” ucap Aruna.
Klik. Sambungan telepon terputus. Aruna kembali meletakkan ponselnya ke dalam tasnya yang sudah basah. Ia menghela napas untuk kesekian kalinya hari ini. Aruna ingin menangis rasanya, tapi air matanya sudah kering. Ia dipaksa kuat oleh keadaan. Tidak ada pelukan dan tidak ada kehangatan. Semua ini, harus ia telan sendirian.
"Pasti ada jalan lain," bisiknya meyakinkan diri sendiri. "Besok... besok aku akan mencari pekerjaan apa pun." seolah teringat sesuatu, Aruna mengerjapkan mata beberapa kali.
Dengan jari gemetar, Aruna kembali mengambil ponselnya lalu membuka layarnya. Aa mencari satu nama di kontaknya. Siska, teman kuliahnya dulu yang kini bekerja di industri hiburan Viance. Aruna tahu Siska punya banyak koneksi.
"Halo, Siska? Maaf menelepon malam-malam..." Aruna berusaha menahan isak tangisnya. "Aku... aku butuh pekerjaan. Sekarang juga. Pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat."
Di seberang telepon, terdengar suara musik dentum yang samar. Siska terdiam sejenak. "Aruna? Kau serius? Aku dengar kau melamar di perusahaan-perusahaan besar."
"Aku butuh uang dua miliar besok pagi, Sis. Tolong aku."
Siska menghela napas panjang. "Dua miliar dalam semalam? Aruna, satu-satunya tempat yang bisa memberikan uang banyak dengan cepat di Viance hanyalah The Velvet Room, tempat hiburan malam paling elit di Distrik Merah. Mereka butuh 'pendamping' untuk tamu-tamu VVIP malam ini. Tapi aku tidak yakin kamu akan bisa mengumpulkan dua milyar dalam semalam, Aruna."
“Tidak masalah, Sis. Yang terpenting sekarang ini adalah aku mendapatkan pekerjaan dahulu.” ucap Aruna yakin.
Siska ragu sejenak, suaranya merendah. "Tapi Aruna, kau ini lulusan terbaik Universitas Eldoria. Kau punya masa depan cerah. Sayang sekali kalau kau harus masuk ke dunia seperti ini. Apa kau yakin? Sekali kau masuk, namamu akan tercemar di kota ini."
Aruna menatap ke arah jalanan yang gelap. Ia membayangkan wajah ibunya yang pucat dan adiknya yang ketakutan di rumah. Harga dirinya yang setinggi langit itu kini terasa seperti beban yang mencekiknya. Jika ia harus hancur, ia lebih baik hancur dengan caranya sendiri daripada menjadi tawanan di "Kamar Hasrat" milik Leonardi.
"Aku tidak punya pilihan lagi, Sis," ucap Aruna, suaranya mendadak dingin dan mantap. "Kirimkan alamatnya. Aku akan datang besok pagi-pagi sekali untuk audisi, atau malam ini jika mereka butuh. Aku terima tawarannya."
"Baiklah, kalau itu maumu. Datanglah besok jam tujuh malam ke pintu belakang The Velvet Room. Aku akan menunggumu." jelas Siska di seberang sana.
Telepon tertutup. Aruna menyandarkan kepalanya ke tiang halte. Ia sudah membuat keputusan. Aruna tahu betul, di kota Viance ini, jika kau berbakat sekalipun tapi berasal dari kelas bawah dan tidak ada koneksi, bisa dipastikan pekerjaan tidak akan ada yang menunggumu. Disini hal yang paling penting adalah kelas, kedudukan dan kekuasaan. Kejujuran dan bakat seolah tidak diharga
Ia akan terjun ke dunia gelap Viance demi uang itu, berharap ia bisa menyelamatkan keluarganya tanpa harus menyerahkan dirinya pada Leonardi Wiratama.
Namun, di kegelapan seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam legam masih terparkir diam, mengawasi setiap gerak-geriknya dari balik kaca film yang gelap. Leonardi belum benar-benar pergi, ia hanya sedang menunggu mangsanya menyadari bahwa semua pintu di kota Viance sudah tertutup, kecuali pintunya. Leonardi masih menunggunya masuk ke dalam Obsidian Manor tempat kediaman Leonardi berdiri dengan angkuh.
Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal
“Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken
Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L
Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem
Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha
Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor







