Masuk“Tidak.” Aruna menggelengkan kepalanya keras.
“Aku tidak akan mau dibeli dengan cara seperti ini.” tegas Aruna.
Leonardi bergeming untuk beberapa detik. Aruna sempat menangkap sorot mata terkejut dalam manik matanya yang hitam.
Hening. Tidak ada respons. Aruna menggeser map itu dengan keras setengah melepar ke arah Leonardi. Membuat pria itu tertegun.
Aruna lalu mendorong mundur kursinya dan berdiri. Ia berbalik menuju pintu keluar ruangan dengan langkah panjang.
Sementara Leonardi menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil menatap punggung Aruna yang menjauh. Tangannya terkepal di bawah meja lalu dihentakkan di atas meja hingga menimbulkan suara yang menggema di ruangan yang hening itu.
Aruna melangkah keluar dari lobi marmer Wiratama Corp. dengan jemari yang masih gemetar.
Udara Viance yang dingin dan lembap menerpa wajahnya. Hujan turun lebih deras sekarang, menciptakan tirai abu-abu yang mengaburkan pandangan. Aruna baru saja hendak melangkah menuju stasiun bawah tanah ketika sebuah mobil van hitam tua berhenti mendecit tepat di depannya, mencipratkan air genangan ke rok kerjanya.
Tiga pria berbadan besar dengan jaket kulit lusuh keluar dari mobil. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di pelipis yang Aruna kenal sebagai anggota geng penagih hutang kelas teri di Viance Bawah, menyeringai lebar.
"Mau lari ke mana, Nona Cantik?" suara parau pria itu membelah suara hujan.
Aruna mundur selangkah, jantungnya berdegup liar. "Aku tidak lari. Aku sudah bilang, berikan aku waktu sampai akhir bulan."
"Akhir bulan itu kemarin, Aruna," pria itu melangkah maju, mencengkeram lengan Aruna dengan kasar. "Ayahmu, Yudha si pecundang itu, baru saja menambah taruhannya semalam dan kalah lagi. Sekarang hutangnya naik dua kali lipat. Bos kami sudah hilang kesabaran. Kau harus membayarnya sekarang juga."
"Lepaskan! Aku sedang mengusahakan uangnya!" Aruna meringis kesakitan.
"Mengusahakan? Dengan bekerja sebagai petugas kebersihan di gedung mewah ini?" Pria itu tertawa mengejek, matanya menatap tajam ke arah gedung Wiratama yang menjulang tinggi. "Atau kau sudah menemukan 'sugar daddy' di atas sana? Kalau begitu, minta dia membayar sekarang, atau kami akan menyeret adikmu, Renata, ke tempat hiburan di Viance Bawah malam ini sebagai jaminan."
"Jangan sentuh Renata!" Aruna berteriak histeris, mencoba melepaskan diri.
“Lalu, apa harus kau saja yang menggantikannya dan bekerja di tempat hiburan?” ucap pria itu dengan nada yang membuat Aruna mual. “Rapi sebelumnya, kami harus menikmati tubuhmu dulu.” pria itu lalu tertawa keras dan memberikan isyarat pada anak buahnya.
Aruna memberontak sekuat tenaga. Ia bergerak hingga dua pria yang memeganginya merasa kewalahan.
DASH!
Kaki Aruna berhasil mendarat di paha pria itu hingga tubuhnya tidak seimbang dan jatuh. Pria itu lalu bangkit dengan kemarahan yang membara. Pria itu akan mengangkat tangannya dan Aruna pun memejamkan matanya sambil memalingkan wajahnya.
Saat pria itu mengangkat tangannya, hendak mendaratkan tamparan ke wajah Aruna, sebuah suara klakson mobil yang berat dan panjang memecah ketegangan. Sebuah sedan mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di belakang mobil van tersebut.
Kaca jendela belakang turun perlahan, menampakkan sosok Leonardi yang duduk dengan tenang di kegelapan kabin mobil. Ia bahkan tidak menoleh ke arah mereka, matanya tetap menatap lurus ke depan.
"Bram," ucap Leonardi pelan, namun terdengar jelas di tengah hujan.
Pria bernama Bram yang duduk di balik kursi kemudi mengangguk, tangan kanan Leonardi, keluar dari pintu seolah memberikan isyarat yang hanya mereka yang mengetahui artinya. Ia tidak membawa senjata, namun kehadirannya yang dingin membuat para penagih hutang itu menghentikan aksi mereka.
Bram turun dari mobil dengan tangan kanan memegang gagang payung dan tangan kiri memegang sebuah koper hitam di bawah. Ia berjalan mendekati kumpulan preman yang menyandera Aruna dan menyodorkan sebuah koper kecil ke arah pemimpin preman itu.
"Sesuai perintah Tuan Wiratama. Semua hutang Yudha Ayudya, lunas. Beserta bunga dan denda keterlambatannya," ucap Bram datar. "Dan ini peringatan terakhir, Jika kalian, atau siapa pun dari kelompok kalian, mendekati wanita ini atau keluarganya lagi, kalian tidak akan pernah melihat matahari terbit di Viance lagi."
Pemimpin preman itu membuka koper, matanya membelalak melihat tumpukan uang tunai di dalamnya. Ia menelan ludah dan menatap Bram yang masih berdiri bergeming, lalu menatap Leonardi yang masih diam di dalam mobil. Tanpa sepatah kata pun, ia melepaskan cengkeramannya pada Aruna, memberi kode pada anak buahnya untuk segera masuk ke van dan pergi dari sana.
Aruna jatuh terduduk di aspal yang basah. Napasnya tersengal, air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. Ia menatap mobil mewah itu dengan perasaan campur aduk, antara lega dan ketakutan yang lebih besar.
Pintu mobil terbuka. Leonardi melangkah keluar, payung hitam yang dipegang Bram segera melindunginya dari hujan. Ia berdiri di depan Aruna yang bersimpuh, menatapnya dari ketinggian dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Sekarang kau mengerti, Aruna?" Leonardi mengulurkan tangan sarung tangan kulitnya. "Dunia di luar sana akan menghancurkanmu tanpa ampun. Hanya di dalam dinding rumahku kau akan aman."
Aruna menatap tangan itu. Ia tahu, jika ia menyambutnya, ia tidak akan pernah bisa kembali lagi ke kehidupannya yang lama. Namun bayangan Renata yang terancam dan ibunya yang sekarat membuatnya tidak punya pilihan.
“Tidak.” tolak Aruna dengan keras kepala. Aruna masih mempertahankan harga dirinya.
“Kau tidak punya pilihan lain, Aruna.” ucap Leonardi dingin. Ekor mata Leonardi memberikan isyarat pada Bram untuk membuat Aruna masuk ke dalam mobil. Bram yang berdiri memegang payung, mengangguk dan membukakan pintu.
“Aku tidak mau ikut denganmu.” Aruna masih bertahan dengan harga dirinya.
Leonardi mengangguk dan Bram langsung meraih lengan Aruna dan setengah menyeretnya untuk duduk di bangku belakang di samping Leonardi.
Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal
“Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken
Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L
Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem
Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha
Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor







