Share

BAB 5

Penulis: Ellailaist
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-11 10:02:58

"Aku tahu kau punya uang, Aruna! Kau lulusan terbaik, tidak mungkin kau tidak punya simpanan!"

Suara parau Yudha ayahnya menggelegar di ruang tamu yang berantakan, menghantam dinding-dinding rumah mereka yang reyot di Viance Bawah. Aruna baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah berjalan menembus hujan, namun sambutan yang ia terima jauh lebih buruk daripada cuaca di luar.

"Ayah, berhenti! Ibu sedang sekarat di rumah sakit dan kau masih memikirkan judi?!" Aruna berteriak, suaranya pecah oleh kelelahan. Ia segera merentangkan tangan, melindungi Renata yang menangis sesenggukan di sudut ruangan.

Yudha, dengan mata merah yang liar dan napas berbau alkohol murahan, merangsek maju. Ia mencengkeram bahu Aruna dan mengguncangnya dengan kasar hingga kepala Aruna tersentak ke belakang.

"Jangan menceramahiku! Berikan tasmu! Aku butuh modal untuk mengembalikan kekalahanku malam ini, atau mereka akan mematahkan kakiku!"

"Tidak ada uang, Ayah! Tidak ada! Semuanya sudah habis untuk biaya rumah sakit!"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Aruna. Kekuatan pukulan itu begitu besar hingga Aruna tersungkur ke lantai yang dingin dan berdebu. Telinganya berdenging, dan rasa besi dari darah mulai terasa di ujung lidahnya.

"Kakak!" Renata menjerit dan mencoba melerai, namun Yudha yang sudah dipenuhi amarah justru mendorong remaja itu. Tubuh kecil Renata terpelanting hingga kepalanya terbentur pinggiran meja jati tua.

Melihat Renata terkulai lemas dengan dahi yang mulai membiru, kemarahan Aruna memuncak melampaui rasa takutnya. Ia berdiri dengan sisa tenaganya, matanya menyala dengan penuh kebencian. "Pergi sekarang sebelum aku benar-benar memanggil polisi!"

Yudha meludah ke lantai, menatap kedua putrinya dengan tatapan penuh kebencian. Ia menyambar vas bunga murah di meja, membantingnya hingga hancur berkeping-keping, lalu keluar sambil membanting pintu kayu yang nyaris lepas dari engselnya.

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka. Aruna memeluk Renata yang gemetar hebat dalam diam. Di saat itulah, tekad Aruna memadat menjadi sesuatu yang keras dan gelap. Ia tahu ia tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Nyawa ibunya di ujung tanduk, dan keselamatan adiknya terancam selama ayahnya masih berkeliaran.

Pukul 22.00 – Distrik Merah Viance

Lampu neon berwarna ungu dan merah darah menghiasi fasad The Velvet Room, klub paling eksklusif sekaligus paling gelap di jantung kota Viance. Aruna berdiri di koridor belakang, menatap pantulan dirinya di cermin retak. Ia mengenakan gaun hitam ketat pinjaman dari Siska, teman lamanya yang bekerja di sana. Gaun itu terasa terlalu pendek dan terbuka, mengekspos lekuk tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan di balik blazer kerja yang sopan.

Riasan tebal di wajahnya bukan untuk kecantikan, melainkan untuk menyembunyikan bekas tamparan merah di pipi kirinya.

"Ingat, Aruna," Siska berbisik di koridor remang-remang yang berbau parfum mahal, alkohol, dan cerutu. "Kau hanya perlu menemani mereka minum. Jika mereka mulai kurang ajar, ada petugas keamanan di setiap sudut. Tapi malam ini ada tamu VVIP di ruang Diamond. Dia baru saja mem-booking satu lantai penuh. Manajer ingin kau yang masuk karena kau terlihat, berkelas. Tidak seperti gadis-gadis lain di sini."

Aruna menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan menyakitkan. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual. "Dua miliar, Sis. Apa aku benar-benar bisa mendapatkannya malam ini?"

Siska menatapnya dengan iba, namun juga dengan realitas yang pahit. "Jika kau bisa membuat tamu ini senang, uang itu bukan masalah baginya. Dia penguasa di kota ini, Aruna."

Siska mengusap bahu Aruna, memberinya dukungan terakhir, lalu membukakan pintu ganda besar yang dilapisi beludru merah pekat.

Aruna melangkah masuk ke dalam ruangan yang sangat luas namun minim cahaya. Asap cerutu tipis melayang di udara, menari di bawah temaram lampu kristal yang redup. Di tengah ruangan, duduk seorang pria di sofa kulit besar. Wajahnya tertutup bayangan, hanya ujung cerutunya yang menyala kemerahan di kegelapan, seperti mata predator yang sedang menunggu.

"Tamu Anda sudah datang, Tuan," ucap pelayan pria yang segera mundur dan menutup pintu dengan suara klik yang final.

Aruna berdiri mematung di tengah ruangan, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. Ia meremas pinggiran gaunnya yang tipis. "Selamat malam, Tuan. Saya... saya Aruna. Saya yang akan menemani Anda malam ini."

Pria itu terdiam sejenak. Keheningan itu terasa seperti pisau yang mengiris saraf Aruna. Perlahan, pria itu meletakkan gelas kristal berisi cairan ambar ke atas meja kaca. Ia mencondongkan tubuh ke depan, hingga cahaya lampu gantung di atas meja menyinari wajahnya yang tegas, simetris, dan sangat dingin.

Manik mata gelap itu menatap Aruna dengan kilat kemenangan yang kejam.

"Sudah kubilang, bukan? Jalanan Viance sangat gelap malam ini." ucap pria itu.

Aruna tersentak mundur hingga punggungnya menabrak pintu. Tangannya menutup mulut karena terkejut yang luar biasa. "T-Tuan... Leonardi?"

Leonardi menyandarkan kembali punggungnya ke sofa, menatap Aruna dari ujung rambut hingga kaki dengan tatapan merendahkan yang menghancurkan sisa-sisa harga diri yang Aruna coba pertahankan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang mengerikan.

"Kau lebih memilih tempat kotor ini daripada mansionku, Aruna? Sayang sekali," Leonardi menyesap minumannya dengan sangat tenang, "Tapi sepertinya nasib memang ingin kau tetap menjadi milikku. Karena di Viance, aku tidak hanya memiliki gedung perkantoran dan bank tempat kau memohon pinjaman. Aku juga pemilik tempat ini."

Leonardi berdiri perlahan. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang. Ia berjalan mendekat, langkah sepatunya yang berat bergema di lantai marmer. Aruna menelan ludah dengan susah payah.

"Kau butuh dua miliar untuk ibumu besok pagi, kan? Dan kau butuh perlindungan untuk adikmu dari ayahmu yang tidak berguna itu?" Leonardi berhenti tepat di depan Aruna, mengunci gerakannya.

Ia mengulurkan tangan, ujung jarinya yang dingin menyentuh pipi Aruna yang tertutup riasan tebal, tepat di bekas tamparan yang tersembunyi. Aruna gemetar, namun ia tidak bisa berpaling.

"Sekarang, berlututlah," perintah Leonardi, suaranya rendah namun memiliki otoritas yang mutlak. "Mari kita lihat apakah kau cukup layak untuk kubayar semahal itu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
Terimakasih sudah baca sampai bab 5. yuk lanjut bab selanjutnya ya...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 263

    Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 262

    “Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 261

    Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 260

    Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 259

    Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 258

    Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status