ログイン🫣🫣🫣 gimana ini 🫰🫰🫰😍😍😍
Saat ekor matanya melirik ke arah istrinya, Bima mendesis kesal dalam batinnya, ‘Kenapa wajahnya masih tetap seperti itu?! Apa dia nggak capek pasang wajah seperti itu?’Megha melangkah tenang keluar dari kamar mandi. Pakaian tidurnya sangat tertutup rapat, serba panjang, dan dijamin anti seksi.Membuat Bima menarik napas pelan, berusaha mengendalikan diri sambil meyakinkan otaknya sendiri. ‘Megha itu Kiran, Bima. Megha itu Kiran, Bima. Megha itu Kiran, Bima.’ Seperti sedang merapalkan mantra dalam hati.Saat Megha hampir mendekati sisi ranjang, Bima meletakkan iPad ke nakas di sebelah. Lalu, Pria itu menurunkan kedua kakinya ke lantai, sambil menatap istrinya dari ujung atas kepala sampai ke ujung kaki. “Besok saat acara besar keluarga. Jangan sampai kamu berpenampilan konyol begini di depan mereka.”Megha menaikkan satu alisnya, menghentikan langkahnya tepat di sebelah ranjang. “Kenapa? Kamu takut aku tampil dengan penampilan seperti ini? Lagipula, gaya seperti ini adalah penampilan
“Kenapa kamu nggak bilang sejak awal kalau Bima itu suaminya Megha!” Napas Varen memberat.Veronica menoleh dengan tatapan tajam, lalu menyunggingkan senyum sinisnya. “Kak Varen saja yang bodoh. Sudah lama kenal Kiran, tapi masih saja nggak tahu kalau dia itu Megha, istrinya Bima. Dibodohi dan dimanfaatkan begitu saja diam saja, malah kelihatan senang.”Varen mencebik, membuang muka sejenak, lalu kembali menatap adik sepupunya itu. “Dan itu alasanmu yang hampir membuat Megha celaka kemarin di laut?”Veronica melotot tajam, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. “Karena aku sangat membencinya! Memangnya Kakak juga tidak ingin mencelakai Bima saat ini karena tahu faktanya? Apalagi tahu kalau mereka tidak jadi cerai! Jadi, nggak usah banyak tanya lagi apa alasanku ingin Megha atau Kiran itu musnah dari muka bumi ini!”Varen menekan rahangnya kuat-kuat, sorot matanya tajam. “Kalau kamu berani macam-macam lagi sama Megha, semua kebusukanmu akan kubongkar sekalian. Masih untung kemari
‘Foto ranjang dan bukti kalau benar-benar tidur satu ranjang.’Megha merinding geli sekaligus kesal setengah mati membaca isi pesan itu. Giginya bergemeletuk menahan geram.Bima menurunkan ponselnya sambil menyunggingkan senyum tipis yang tertahan di bibirnya. “Bagaimana sekarang? Masih mau menolak tidur bersama?”Padahal, jika saja Megha bisa mengusap layar ponsel itu dan membaca bagian atasnya, pesan dari pengacara Kakek sebenarnya sama sekali tidak se-ekstrem itu. Pria paruh baya itu hanya menanyakan kabar biasa. Bima sengaja memancing hingga semua kalimat itu terbit, demi memojokkan istrinya.Megha lalu menghentakkan napasnya kasar dengan wajah geram memerah. “Mana surat perjanjian nikah yang baru? Aku mau tambah banyak poin di dalamnya!”Bima mendelik pelan. “Surat perjanjian hitam di atas putih memang belum kita tanda tangani, tapi persetujuan lisan sudah kamu lakukan. Dan sekadar mengingatkan, saat ini ayahmu sedang dalam proses pemindahan ke rumah sakit terbaik. Dilan sedang m
CUP!Bima menekan ciumannya lebih dalam.Megha menegang sekejap, matanya membelalak lebar, tapi otaknya tetap sadar dan akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong dada itu agar bibir mereka terlepas.“Kamu gila, Bima!” pekik Megha. Melipat bibirnya.Jantung Megha dalam bahaya. Dadanya itu berdegup liar, hampir saja rasanya melompat. Matanya menegang dengan napas tertahan. “Mesum!”Bima justru menyeringai tipis tanpa dosa. “Aku hanya bertindak sesuai pesananmu saja.”Megha melotot dengan napas berat naik turun. “Pesanan bagaimana?! Jangan mengada-ada! Kamu sengaja mengambil kesempatan!”Bima menaikkan satu alisnya. “Kamu menggodaku dan mengirim sinyal secara eksplisit. Sebagai suami yang sangat pengertian, tentu harus langsung tanggap dan tahu diri untuk membahagiakan istriku. Lantas, apa salahku?”Megha merinding geli mendengarnya. “Tingkat rasa percaya dirimu benar-benar sudah menyentuh langit.”Megha berputar hendak mundur menjauh, tetapi Bima bergerak jauh lebih cepat. Tangan pria itu
Megha kembali menatap pengacara itu “Suami saya yang sangat baik hati, tidak sombong, dan tidak pernah marah-marah ini, selalu membelikan saya banyak barang mewah termasuk berlian mahal yang sama sekali tidak saya minta. Tapi sayangnya, dia melupakan janjinya sendiri. Dia lupa membelikan rumah mewah atas nama saya sendiri, mobil atas nama saya sendiri, bahkan apartemen atas nama saya dan beberapa aset.” Bima tercengang seketika, matanya melebar menatap istrinya dari samping. Megha menahan senyum kemenangannya. Tentu saja itu semua sengaja untuk mengerjai Bima. Paman pengacara itu langsung menoleh pada Bima, tajam. “Bima, kamu harus jadi pria yang berkomitmen penuh. Kekayaan keluarga tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena kamu membelikan beberapa aset untuk istri sahmu sendiri.” Bima dengan cepat menguasai raut wajahnya kembali. Dia tidak tinggal diam dan memilih meladeni serangan itu. Pria itu kini menyunggingkan senyum miring. “Tentu saja tidak, Paman. Aku bukannya l
“Bima tidak berbohong, Paman. Saya memang tinggal di sini.” Wanita itu melengkungkan senyum sangat lebar yang membuat bulu kuduk Bima langsung berdiri. Bima tergagap menatap istrinya. “Me-Megha?” Pria itu tak tahu lagi harus berkata apa. Dadanya terus berdenyut kencang dan tatapannya bergulir sembarangan, pasrah dengan situasinya. Pengacara sang kakek memicingkan mata, lalu mengangguk kecil. Pria paruh baya itu mencoba mengingat wujud istri Bima saat dia menjadi saksi pernikahan dua tahun lalu. Penampilan wanita di depannya ini sangat mirip dengan memori itu, meskipun ada sedikit perbedaan. Dan yang membuat pengacara itu sedikit merasa senyum, Bima benar-benar kuat menahan diri untuk menerima syarat dari kakeknya untuk bertahan menikahi istri yang tidak cantik. Megha berjalan tanpa keanggunan sama sekali. Dia sengaja memakai make up downgrade dengan foundation cokelat tua dan lipstik pucat. Bahkan, ada coretan hitam tipis sengaja dibubuhkan di salah satu pipinya. Kalau dulu ram







