LOGINYakkk. Kena lagi. Kalah lagi 😂😂😍😍🫰
CUP!Bima menekan ciumannya lebih dalam.Megha menegang sekejap, matanya membelalak lebar, tapi otaknya tetap sadar dan akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong dada itu agar bibir mereka terlepas.“Kamu gila, Bima!” pekik Megha. Melipat bibirnya.Jantung Megha dalam bahaya. Dadanya itu berdegup liar, hampir saja rasanya melompat. Matanya menegang dengan napas tertahan. “Mesum!”Bima justru menyeringai tipis tanpa dosa. “Aku hanya bertindak sesuai pesananmu saja.”Megha melotot dengan napas berat naik turun. “Pesanan bagaimana?! Jangan mengada-ada! Kamu sengaja mengambil kesempatan!”Bima menaikkan satu alisnya. “Kamu menggodaku dan mengirim sinyal secara eksplisit. Sebagai suami yang sangat pengertian, tentu harus langsung tanggap dan tahu diri untuk membahagiakan istriku. Lantas, apa salahku?”Megha merinding geli mendengarnya. “Tingkat rasa percaya dirimu benar-benar sudah menyentuh langit.”Megha berputar hendak mundur menjauh, tetapi Bima bergerak jauh lebih cepat. Tangan pria itu
Megha kembali menatap pengacara itu “Suami saya yang sangat baik hati, tidak sombong, dan tidak pernah marah-marah ini, selalu membelikan saya banyak barang mewah termasuk berlian mahal yang sama sekali tidak saya minta. Tapi sayangnya, dia melupakan janjinya sendiri. Dia lupa membelikan rumah mewah atas nama saya sendiri, mobil atas nama saya sendiri, bahkan apartemen atas nama saya dan beberapa aset.”Bima tercengang seketika, matanya melebar menatap istrinya dari samping.Megha menahan senyum kemenangannya. Tentu saja itu semua sengaja untuk mengerjai Bima.Paman pengacara itu langsung menoleh pada Bima, tajam. “Bima, kamu harus jadi pria yang berkomitmen penuh. Kekayaan keluarga tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena kamu membelikan beberapa aset untuk istri sahmu sendiri.”Bima dengan cepat menguasai raut wajahnya kembali. Dia tidak tinggal diam dan memilih meladeni serangan itu. Pria itu kini menyunggingkan senyum miring. “Tentu saja tidak, Paman. Aku bukannya lupa memb
“Bima tidak berbohong, Paman. Saya memang tinggal di sini.” Wanita itu melengkungkan senyum sangat lebar yang membuat bulu kuduk Bima langsung berdiri. Bima tergagap menatap istrinya. “Me-Megha?”Pria itu tak tahu lagi harus berkata apa. Dadanya terus berdenyut kencang dan tatapannya bergulir sembarangan, pasrah dengan situasinya.Pengacara sang kakek memicingkan mata, lalu mengangguk kecil. Pria paruh baya itu mencoba mengingat wujud istri Bima saat dia menjadi saksi pernikahan dua tahun lalu. Penampilan wanita di depannya ini sangat mirip dengan memori itu, meskipun ada sedikit perbedaan. Dan yang membuat pengacara itu sedikit merasa senyum, Bima benar-benar kuat menahan diri untuk menerima syarat dari kakeknya untuk bertahan menikahi istri yang tidak cantik. Megha berjalan tanpa keanggunan sama sekali. Dia sengaja memakai make up downgrade dengan foundation cokelat tua dan lipstik pucat. Bahkan, ada coretan hitam tipis sengaja dibubuhkan di salah satu pipinya. Kalau dulu rambutn
Dia lalu menoleh pada Bima dengan senyum miring menyebalkan. “Untuk apa aku pakai barang berkilauan seperti ini? Aku bukan manekin berjalan. Jangan bilang kamu mau pamer harta lewat istrimu? Dan semua ini takutnya nggak cuma-cuma. Bilang apa balasannya kalau aku menerima semua ini?” Bima menarik tangan dalam dan membuangnya pelan agar emosi tidak meledak. Sedang Megha semakin menikmati wajah kemarahan suami antagonisnya. Dia memiringkan kepala sambil tersenyum manis. “Jangan bilang kamu minta aku jadi gulingmu tiap malam. Harus bayar pajak pake ciuman? Atau malah lebih dari itu? Sayangnya, aku istri mahal. Semua ini, belum bisa membayarku.” Mata Bima melebar dengan dada naik turun. Dua tangannya meremas di bawah. “Belum bisa membayarmu belum tentu kamu tidak suka, bukan? Kecuali kalau kamu tidak menyukainya, aku tinggal bilang pada para pembantu dan menyuruh mereka berebut di sini.” Glek! Megha lantas menelan ludahnya. Nah, kan? Bima ini tetap nggak mau kalah, malah makin mau mema
Megha melotot tajam, menarik tangan pria itu agar kepalanya rendah, lalu dia memajukan wajahnya untuk berbisik, “Bima! Apa maksudnya ini?! Aku nggak butuh ranjang besar! Aku nggak mau tidur di kamar utama. Apalagi denganmu! Jangan sampai aku kabur dan menolak perpanjangan pernikahan.”Bima tersenyum tipis, dia justru menarik napas dalam-dalam menghirup aroma istrinya yang membuat candu. Lalu, baru berbisik, “Kamu sudah punya cara lain untuk menyelamatkan ayahmu?”Megha makin geram karena itu itu saja yang jadi ancamannya. “Varen menawarkan pengacara dan pengobatan terbaik. Jangan mengira kalau selamanya aku akan takut dengan ancamanmu.”Dahi Bima berkerut. “Maksudmu, aku harus membuat restoran pria itu bangkrut ditutup permanen, atau sampai membuatnya masuk penjara karena sudah menggunakan bahkan terlarang atau–”“Berani, Kamu!” Megha menggeram, rasanya ingin sekali meremas-remas mulut kejam itu. Lalu mendorong kuat dan menjauh malas.Bima lalu tertawa kecil. “Terserah kamu mau atau t
Dada Megha menempel di dada Bima, sementara satu tangan Bima mendekap pinggangnya erat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, hingga napas hangat Bima berembus di atas kening Megha. Sorot mata pria itu terkunci pada manik mata Megha yang membelalak kaget. Detak jantung mereka berdebar kencang, tak bisa disembunyikan lagi. Dilan menoleh pelan-pelan, sambil menahan getaran takut di dadanya. Bibirnya sedikit terbuka. Dia ingin bersuara meminta maaf, tapi tertahan saat melihat posisi dua orang di belakangnya yang begitu dekat. Cepat-cepat pria itu membuang tatapannya ke depan lagi. ‘Semoga tidak ada badai di tengah gurun pasir setelah ini,’ ratap Dilan dalam batin. Di kursi belakang, dada Bima bergejolak hebat. Ada rasa aneh yang mendesak dadanya begitu kuat. Tanpa sadar dan di luar kendalinya, Bima memajukan wajahnya perlahan, bermaksud meraih bibir manis istrinya, dengan bibirnya. Megha lantas menegang kaku. Ruang geraknya sudah terkunci rapat dalam lingkaran dekapan







