Masuk“Tidak mungkin aku tidur dengan Paman!” suara Klara meninggi dan gemetar di ujung kata. Napasnya tersengal, wajahnya memanas oleh panik dan rasa tidak percaya.
“Paman adalah ayahnya Patryk, itu tidak mungkin,” ulangnya lagi dengan suara parau, seperti orang yang mencoba menolak kenyataan paling menyesakkan dalam hidupnya.
Adrian hanya duduk bersandar di kursi kerjanya, satu tangan menopang dagu menatap gadis di hadapannya dengan tenang.
Tatapan itu bukan tatapan penyangkalan—melainkan pengakuan yang tidak perlu lagi diucapkan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, cukup untuk membuat jantung Klara semakin berdegup kacau.
“Akulah yang bersamamu semalam, Klara,” tegas Adrian dengan nada serak, berat, dan dalam. “Apa perlu kita ulangi agar kau benar-benar ingat?”
Pertanyaan itu menusuk langsung ke pusat kesadaran Klara. Tubuhnya langsung tegang mendengarnya.
Seketika kulitnya meremang dan dingin, tapi pangkal pahanya berdenyut halus di antara rasa takut dan ingatan samar akan kehangatan yang pernah menguasainya.
“I-ini salah, Paman,” lirih Klara. Ia menggeleng dengan keras, masih berpikir jika semua itu tidak nyata. “Aku … aku mabuk berat semalam. Aku tidak bermaksud menggoda Paman Adrian. Bisakah kita lupakan saja kejadian itu?”
“Melupakannya?” ulang Adrian dan suaranya tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Wajahnya menegang, kedua matanya menatap tajam seperti ingin menembus pertahanan gadis di depannya.
“Bagaimana kalau kau hamil?” tanyanya nyaris berbisik, tapi justru membuat tubuh Klara merinding. “Kau tahu, Klara, kita tidak hanya melakukannya sekali. Dan aku tidak menggunakan pengaman apa pun.”
Tubuh Klara sontak bergetar. Ia menatap Adrian tanpa mampu berkata. Bayangan malam itu kembali berkelebat—desahan, tangan, sentuhan, dan panas tubuh asing yang membuatnya tak berdaya.
“Tidak,” bisiknya lirih, setengah histeris.
Akal sehatnya berontak, tapi perasaan tubuhnya justru menolak menepis kenangan yang terasa terlalu nyata. Putus dari anaknya, lalu berakhir di pelukan sang ayah? Dunia seperti sedang mempermainkannya.
“Tidak, Paman. Usia kita jauh berbeda. Lagipula, Paman adalah ayahnya Patryk!” ucapnya dengan tegas. “Bagaimana mungkin aku menjalin hubungan denganmu?”
Adrian menatapnya dengan lekat. Tatapannya tidak sekadar memandang—dia menelanjangi, mengupas, dan menghancurkan setiap lapisan logika Klara.
Tanpa menjawab, dia membuka laci kerjanya lalu melemparkan beberapa foto ke atas meja.
“Patryk sudah lama mengkhianatimu,” ucapnya datar, namun ada bara tersembunyi di nada suaranya. “Mereka berdua sering check in tanpa sepengetahuanmu.”
Klara membeku. Ia menatap foto-foto itu—Patryk dan Claudia tersenyum di lobi hotel, tangan mereka saling bertaut.
Mulut Klara terbuka lebar, dadanya terasa sesak. “Dari mana Paman dapat ini?” tanyanya, suaranya serak dan bergetar.
Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. “Itu hal yang sangat mudah, Klara.”
Matanya menatap lurus, sorot dingin bercampur sesuatu yang tak bisa ia definisikan—keinginan, mungkin.
“Sekarang, apa yang akan kau lakukan?” lanjutnya, suaranya menurun seperti godaan. “Kau masih mau diam, atau punya rencana lain?”
Klara mengepalkan tangannya. “Tentu saja aku ingin balas dendam, Paman! Aku ingin membuat Patryk menyesal karena sudah selingkuh!”
Matanya memerah dan ibirnya bergetar menahan amarah. “Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya dihancurkan!”
Adrian berdiri perlahan, tubuhnya menjulang tinggi, bayangannya menutupi separuh cahaya ruangan.
“Balas dendam seperti apa yang ingin kau lakukan, hm?” tanyanya dengan suara serak nan dalam.
Nada itu membuat kulit Klara merinding. Ia menelan ludah keras-keras. “Selama ini dia hanya memanfaatkanku,” suaranya melemah. “Claudia bilang aku tidak menarik, tidak pantas dibawa ke pesta, dia membuatku terlihat hina!”
Adrian mendengarkan tanpa menyela, tapi bola matanya menajam saat Klara berteriak lirih, “Sial! Selama ini aku telah ditipu oleh anakmu, Paman! Aku ingin membuatnya menyesal, apa pun caranya!”
Keheningan menggantung di udara.
Adrian melangkah perlahan mengitari meja lalu menatap Klara dengan lekat. “Aku bisa membantumu,” katanya tiba-tiba.
Klara mendongak dengan mata membulat. “Membantuku?”
“Ya,” Adrian berhenti tepat di depannya hingga jarak mereka kini hanya sejengkal. Udara di antara mereka berdenyut, panas, padat oleh sesuatu yang tak terucap.
“Jadilah sugarbaby-ku dan tunjukkan pada Patryk kalau kau lebih bahagia denganku.”
Kata-kata itu menghantam Klara seperti sambaran petir. Wajahnya pucat dan lututnya hampir lemas. “Apa Paman gila?!” suaranya meninggi, tapi terdengar lebih seperti kepanikan yang disamarkan.
Adrian hanya tersenyum kecil, nyaris tak terlihat, lalu melangkah semakin dekat hingga gadis itu bisa mencium aroma khas cologne-nya yang pekat dan maskulin.
“Tidak,” ucapnya rendah. “Aku justru ingin menyelamatkanmu.”
Jemarinya terulur, menyentuh dagu Klara dengan lembut, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. Sentuhan itu ringan, tapi membuat detak jantung Klara berlari liar.
“Kau bisa balas dendam,” lanjutnya, suaranya rendah dan berat, menekan setiap kata dengan penuh kontrol. “Dan aku bisa bertanggung jawab atas kesalahan kita semalam.”
Nada pada kata kesalahan terdengar ambigu—antara penyesalan dan godaan yang mengundang dosa.
Namun yang Klara lihat di mata pria itu bukan rasa bersalah. Yang dia lihat adalah hasrat. Hasrat yang terlalu berani untuk seorang pria seusia Adrian.
“Bagaimana, Klara?” suara itu memanggilnya lagi, lembut tapi menguasai.
Pria itu kini berdiri tepat di hadapannya, tatapan tajamnya menelusuri setiap detail wajah Klara, dari mata yang basah hingga bibir yang bergetar.
Klara tak bergerak. Dunia seperti berhenti.
Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya turun menjadi bisikan yang nyaris sensual.
“Jadilah sugarbaby-ku, Klara,” ujarnya pelan, jemarinya menyapu pipi gadis itu dengan lembut. “Aku akan berikan apa pun yang kau mau.”
Sentuhannya membuat napas Klara tercekat. Kulitnya merinding. Tubuhnya menolak tapi matanya tak bisa berpaling.
“P-Paman, aku ….”
Dua minggu kemudian. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul dua tepat ketika Klara terbangun dengan tarikan napas yang terputus.Keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa nyeri itu datang tiba-tiba, menekan dari dalam, membuatnya meringis dan refleks memegangi perutnya yang sudah sangat besar.“Adrian,” panggilnya dengan nada lirih.Adrian yang tertidur di sampingnya langsung terjaga. Begitu melihat wajah Klara yang pucat dan menahan sakit, rasa kantuknya lenyap seketika. “Kenapa, Sayang?” tanyanya panik sambil bangkit duduk.“Sakit … perutku sakit sekali,” jawab Klara dengan napas yang tersengal.Jantung Adrian dengan berdegup kencang. Ia langsung meraih ponsel di meja samping ranjang, tangannya sedikit gemetar saat menghubungi sopirnya. “Nyalakan mobil, kita ke rumah sakit sekarang juga!”Dia lalu kembali ke sisi Klara untuk membantu istrinya duduk. Wajah Klara meringis saat kontraksi kembali datang, kali ini lebih kuat.Adrian menelan ludah, lalu menggendong tubuh Klara dengan hat
Satu bulan setelah penangkapan itu, ruang sidang kembali dipenuhi suasana tegang. Kali ini bukan Patryk yang duduk di kursi terdakwa, melainkan James, pria yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang dendam, kebohongan, dan kejahatan yang terakumulasi seperti bom waktu.Penyelidikan mendalam membuka satu demi satu lapisan dosanya: penipuan berlapis lintas negara, pemalsuan identitas, penggelapan dana dalam jumlah besar, pembunuhan, dan keterlibatan dalam jaringan kriminal yang selama ini luput dari jerat hukum.Semua bukti mengarah pada satu kesimpulan yang tak terbantahkan.Hukuman mati.Adrian duduk di bangku pengunjung dengan punggung tegak dan rahang yang mengeras. Ia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut hakim, kalimat demi kalimat yang terasa panjang, berat, namun tegas.Ketika palu diketuk dan vonis itu resmi dibacakan, ruangan seketika hening. Tidak ada sorak, tidak ada isak. Hanya keheningan yang memadat, seolah semua orang di sana menyadari bahwa sebuah babak
Sirene meraung memecah keheningan lorong tua itu. Cahaya merah-biru memantul di dinding kusam, membuat bayangan bergerak liar seperti kenangan buruk yang berusaha kabur.James tertegun, matanya melebar saat beberapa sosok berseragam menyerbu dari dua arah.Dalam hitungan detik, moncong senapan dengan bidikan infra merah mengunci seluruh tubuhnya, dada, bahu, tangan yang masih menggenggam pistol.“Letakkan senjata!” bentak seorang polisi dengan suara tegas.James langsung membeku. Tangannya bergetar, keringat mengalir dari pelipisnya. Tatapannya beralih dari bidikan merah ke wajah Adrian yang berdiri tak jauh darinya. Ada kebencian yang menggelegak, ada pula ketidakpercayaan.Namun di hadapan kekuatan yang mengepungnya, kesombongan itu runtuh. Dengan gerakan lambat dan enggan, James menjatuhkan pistol ke lantai berdebu. Senjata itu memantul sekali, lalu berhenti seperti akhir dari sebuah pelarian panjang.Adrian mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan. Ia menoleh ke sisi lorong, m
Gedung itu berdiri seperti bangkai masa lalu begitu kusam, berdebu, dan nyaris runtuh. Cat dindingnya mengelupas, memperlihatkan beton kelabu yang retak-retak. Bau apek bercampur tanah lembap memenuhi udara, membuat siapa pun yang masuk akan langsung tahu bahwa tempat ini sudah lama ditinggalkan. Tak ada kehidupan di sana, kecuali satu bayangan dendam yang bersembunyi di dalamnya.Adrian berdiri di ujung lorong sempit, langkahnya terhenti sejenak. Matanya menyapu sekitar, memastikan setiap sudut. Lampu-lampu tua menggantung mati, hanya cahaya senja yang menembus dari celah jendela pecah, menciptakan bayangan panjang di lantai yang dipenuhi puing. Di ujung lorong itu, sebuah sosok berdiri membelakanginya, James.Adrian melangkah maju. Sepatu kulitnya menginjak pecahan kaca dan debu, menghasilkan bunyi pelan namun cukup untuk membuat James menoleh. Seketika itu juga, wajah James berubah. Matanya melebar, jelas terkejut.“Kau?” desis James, suaranya serak. “Bagaimana kau bisa tahu aku
Ruang kerja itu dipenuhi cahaya temaram dari lampu meja ketika Klara berdiri di ambang pintu.Langkahnya terhenti begitu matanya menangkap satu pemandangan yang membuat jantungnya seakan jatuh ke perut.Adrian sedang berdiri di depan meja kerjanya dengan laci terbuka, dan di tangannya sebuah pistol hitam mengilap yang selama ini tak pernah ia lihat dikeluarkan.Klara menelan salivanya. Tenggorokannya terasa kering.Adrian memiringkan badan sedikit, fokusnya tertuju pada pistol itu. Dengan gerakan tenang namun penuh presisi, ia mengisi amunisi satu per satu. Bunyi logam beradu terdengar jelas di ruangan yang sunyi, terdengar jauh lebih keras di telinga Klara.“Adrian …,” panggilnya dengan suara yang terdengar lirih dan nyaris bergetar. Ia melangkah mendekat, meski setiap langkah terasa berat. “Kau mau pergi ke mana?” tanyanya ingin tahu.Adrian menoleh sekilas ke arahnya, wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Tangannya tetap sibuk dengan pistol itu. “Menemui James.”Jawaban itu seperti
“Argghh! Sial! Berengsek!” teriak James.Ruangan sempit itu bergema oleh suara benda-benda yang dibanting dengan brutal. Sebuah televisi tua terlempar ke lantai, pecahannya berserakan.Kursi kayu dibalikkan, meja kecil dihantam hingga bergeser kasar. James berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, dadanya naik turun tajam, matanya merah oleh amarah yang tak lagi bisa ia kendalikan.Di layar ponsel yang kini tergeletak di lantai, berita itu masih terbuka.PATRYK ANDREAS DIHUKUM PENJARA SEUMUR HIDUP.James menggeram. Tangannya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. “Sialan kau, Adrian Wijck!” bentaknya penuh kebencian, seolah pria itu berdiri tepat di hadapannya.Ia meraih botol kosong dan melemparkannya ke dinding. Botol itu pecah dan membuat cairan sisa di dalamnya mengalir di lantai. James tidak peduli. Amarahnya terlalu besar untuk diwadahi oleh ruang sekecil ini.“Bodoh!” teriaknya lagi, kali ini bukan hanya pada Adrian, tetapi juga pada Patryk. “Kau seharusnya lebi







