MasukIa hanya menatap ke arah Klara, meski seluruh penjuru ruangan mengamati mereka. Tatapan itu dalam, nyaris mengunci napas siapa pun yang berani menatap balik.
“Datanglah ke ruanganku segera,” ucap Adrian datar, tapi nada suaranya berat—mengandung sesuatu yang menggema, menyeret seluruh perhatian Klara hanya padanya.
Dipandang seperti itu oleh Adrian, jantung Klara sontak berdetak tak beraturan. Ada sesuatu pada sorot mata pria itu—dingin tapi memikat, berkuasa tapi misterius. Tatapan yang sama sekali tidak seperti biasanya.
Setelahnya, Adrian berbalik tanpa menunggu penjelasan apa pun, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang menempel di udara seperti kabut yang enggan pergi.
Klara mengerjap cepat, tubuhnya masih menegang, diikuti bisik-bisik teman-teman dan supervisornya yang tampak bingung.
“Apa Paman Adrian tahu kalau aku menatapnya kesal tadi?” batinnya gelisah.
Namun, yang lebih membuat dadanya sesak adalah sensasi aneh yang tertinggal dari tatapan Adrian.
Tatapan itu begitu familiar. Seolah pernah menyusuri tubuhnya dalam jarak yang lebih dekat.
“Lihatlah, dia pasti akan kena tegur oleh Tuan Adrian,” bisik seseorang.
“Baguslah! Dia memang tidak cocok berada di sini!” sambung yang lain dengan nada mengejek.
Klara menunduk, menahan napas panjang. Ia tidak peduli. Yang membuatnya benar-benar gugup bukan ancaman teguran, melainkan kemungkinan Adrian akan membicarakan hal yang paling tidak ingin dia dengar—Patryk.
Sialnya, pria itu terus saja menghubunginya. Panggilan, pesan, semua masuk bertubi-tubi. Namun Klara tidak akan goyah. Tidak setelah ia tahu seberapa dalam pengkhianatan Patryk dan Claudia.
Ia mengembuskan napas keras, lalu menatap pintu ruangan CEO yang tinggi dan berat. Rasanya seperti melangkah menuju sarang singa.
“Permisi,” suaranya kecil, nyaris tenggelam.
“Masuk,” jawab suara bariton itu dari dalam. Dingin. Tegas. Tapi entah kenapa, terdengar sensual di telinganya.
Klara melangkah perlahan lalu menutup pintu di belakangnya. Ruangan itu luas dan tenang, dengan aroma khas kayu dan cologne yang samar namun memabukkan.
Adrian berdiri di balik meja, kemeja putihnya tergulung di siku, memperlihatkan otot lengan yang menegang setiap kali dia bergerak.
Klara menelan ludah, mencoba fokus. “Adakah yang ingin disampaikan, Tuan?” tanyanya sopan.
Adrian mengangkat alisnya dan matanya menelusuri wajah gadis itu tanpa tergesa. “Selamat ulang tahun, Klara,” ucapnya datar tapi lembut. “Dan jangan panggil aku dengan embel-embel ‘Tuan’. Kita akan bicara bukan soal pekerjaan.”
Nada suaranya seperti belaian—dingin tapi menjerat. Wajahnya memang tidak tersenyum, tapi sorot matanya terlalu intens untuk sekadar formalitas.
“Terima kasih,” balas Klara datar sambil mencoba mengendalikan diri. “Tapi aku tidak ingin diingatkan pada momen ulang tahun paling buruk yang pernah aku alami, Paman.”
Adrian mendekat sedikit dengan menyandarkan tubuh pada tepi meja, dan kedua tangannya bersilang di dada. “Apa ini soal Patryk?”
Klara menggertakkan giginya. “Kurasa Paman sudah tahu apa yang pria itu lakukan!” suaranya meninggi tanpa sadar.
“Dan kalau Paman mau membujukku untuk memaafkannya, aku tidak akan sudi!”
Adrian menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Tidak akan, Klara. Kau pantas meninggalkannya.”
Kata-kata itu menenangkan sekaligus menggetarkan. Tapi Klara tetap menatap waspada, apalagi ketika Adrian membuka laci dan mengeluarkan beberapa foto.
“Aku menyelidikinya,” ucapnya tenang. “Mereka sudah berhubungan lama di belakangmu.”
Klara meraih foto-foto itu dengan tangan gemetar. Matanya memanas. Ada rasa jijik, marah, dan terhina yang bergulung jadi satu.
Namun, di balik tatapan sedih itu, Adrian justru menangkap sesuatu yang lain—kelemahan, ketelanjangan emosional yang tak bisa dia abaikan.
“Kau tampak lelah, Klara.” Suaranya berubah, kini lebih rendah nyaris seperti bisikan.
Ia mencondongkan tubuh ke depan dan mengamati gadis itu dari dekat. “Apa aku menyakitimu semalam?”
Langkah Klara langsung terhenti. Suasana hening menegang di antara mereka. “Ma-maksud Paman?” tanyanya dengan suara gemetar, hingga kerung di dahinya semakin dalam.
Adrian menatapnya lama sebelum akhirnya mencondongkan tubuh sedikit, hingga jarak mereka kini nyaris tanpa udara. “Kau terlihat menahan sakit saat berjalan,” bisiknya. “Aku perhatikan sejak di ruangan tadi.”
Klara menatapnya heran. “Ke-kenapa Paman tahu?”
“Karena aku melihatnya,” jawab Adrian pelan dan matanya menelusuri garis wajahnya tanpa berkedip. “Dan… kau melupakannya?”
Ia menghela napas panjang, lalu menatap ke arah dada Klara. “Bajumu masih sama seperti semalam.”
Jari telunjuknya terangkat pelan dan menunjuk ke arah robekan kecil di dress biru itu. “Ah, aku ingat. Bukankah aku yang merobeknya di sana?”
Klara membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dress-nya memang robek sedikit—tapi bagaimana Adrian bisa tahu detail sekecil itu? Apalagi ia menutupinya dengan jaket rapat!
Adrian menatapnya puas melihat reaksi gadis itu yang mulai kehilangan kata-kata. “Kau tampak terkejut,” ucapnya dengan senyum miring yang menggoda tapi berbahaya. “Padahal semalam, kau yang paling agresif sampai membuatku kewalahan.”
Suara berat dan rendah itu menelusup masuk ke sanubari Klara, membuat lututnya hampir lemas.
“Ma-maksud Paman apa?” suaranya nyaris tak terdengar.
Adrian tertawa pelan—rendah dan dalam, membuat udara di ruangan seolah menebal. Ia mendekat beberapa langkah lagi hingga aroma tubuhnya benar-benar mengelilingi Klara.
“Di sana ...,” bisiknya serak, dan jemarinya menunjuk samar ke arah dada Klara. “Apakah masih ada bekas kemerahan? Kurasa aku terlalu buas bermain di area itu.”
Klara menatapnya tak percaya. Bayangan semalam menampar pikirannya—suara pria itu, sentuhan, ciuman panas yang samar ia ingat di balik mabuk dan kabut lampu klub.
Dan suara itu—suara bariton yang sama.
Wajahnya memucat. Tangannya refleks menutup mulut. “Tidak mungkin,” desisnya dengan sorot mata yang membulat.
Klara terhuyung dan jantungnya serasa berhenti berdetak. “Jadi, semalam … pria itu—”
Dua minggu kemudian. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul dua tepat ketika Klara terbangun dengan tarikan napas yang terputus.Keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa nyeri itu datang tiba-tiba, menekan dari dalam, membuatnya meringis dan refleks memegangi perutnya yang sudah sangat besar.“Adrian,” panggilnya dengan nada lirih.Adrian yang tertidur di sampingnya langsung terjaga. Begitu melihat wajah Klara yang pucat dan menahan sakit, rasa kantuknya lenyap seketika. “Kenapa, Sayang?” tanyanya panik sambil bangkit duduk.“Sakit … perutku sakit sekali,” jawab Klara dengan napas yang tersengal.Jantung Adrian dengan berdegup kencang. Ia langsung meraih ponsel di meja samping ranjang, tangannya sedikit gemetar saat menghubungi sopirnya. “Nyalakan mobil, kita ke rumah sakit sekarang juga!”Dia lalu kembali ke sisi Klara untuk membantu istrinya duduk. Wajah Klara meringis saat kontraksi kembali datang, kali ini lebih kuat.Adrian menelan ludah, lalu menggendong tubuh Klara dengan hat
Satu bulan setelah penangkapan itu, ruang sidang kembali dipenuhi suasana tegang. Kali ini bukan Patryk yang duduk di kursi terdakwa, melainkan James, pria yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang dendam, kebohongan, dan kejahatan yang terakumulasi seperti bom waktu.Penyelidikan mendalam membuka satu demi satu lapisan dosanya: penipuan berlapis lintas negara, pemalsuan identitas, penggelapan dana dalam jumlah besar, pembunuhan, dan keterlibatan dalam jaringan kriminal yang selama ini luput dari jerat hukum.Semua bukti mengarah pada satu kesimpulan yang tak terbantahkan.Hukuman mati.Adrian duduk di bangku pengunjung dengan punggung tegak dan rahang yang mengeras. Ia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut hakim, kalimat demi kalimat yang terasa panjang, berat, namun tegas.Ketika palu diketuk dan vonis itu resmi dibacakan, ruangan seketika hening. Tidak ada sorak, tidak ada isak. Hanya keheningan yang memadat, seolah semua orang di sana menyadari bahwa sebuah babak
Sirene meraung memecah keheningan lorong tua itu. Cahaya merah-biru memantul di dinding kusam, membuat bayangan bergerak liar seperti kenangan buruk yang berusaha kabur.James tertegun, matanya melebar saat beberapa sosok berseragam menyerbu dari dua arah.Dalam hitungan detik, moncong senapan dengan bidikan infra merah mengunci seluruh tubuhnya, dada, bahu, tangan yang masih menggenggam pistol.“Letakkan senjata!” bentak seorang polisi dengan suara tegas.James langsung membeku. Tangannya bergetar, keringat mengalir dari pelipisnya. Tatapannya beralih dari bidikan merah ke wajah Adrian yang berdiri tak jauh darinya. Ada kebencian yang menggelegak, ada pula ketidakpercayaan.Namun di hadapan kekuatan yang mengepungnya, kesombongan itu runtuh. Dengan gerakan lambat dan enggan, James menjatuhkan pistol ke lantai berdebu. Senjata itu memantul sekali, lalu berhenti seperti akhir dari sebuah pelarian panjang.Adrian mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan. Ia menoleh ke sisi lorong, m
Gedung itu berdiri seperti bangkai masa lalu begitu kusam, berdebu, dan nyaris runtuh. Cat dindingnya mengelupas, memperlihatkan beton kelabu yang retak-retak. Bau apek bercampur tanah lembap memenuhi udara, membuat siapa pun yang masuk akan langsung tahu bahwa tempat ini sudah lama ditinggalkan. Tak ada kehidupan di sana, kecuali satu bayangan dendam yang bersembunyi di dalamnya.Adrian berdiri di ujung lorong sempit, langkahnya terhenti sejenak. Matanya menyapu sekitar, memastikan setiap sudut. Lampu-lampu tua menggantung mati, hanya cahaya senja yang menembus dari celah jendela pecah, menciptakan bayangan panjang di lantai yang dipenuhi puing. Di ujung lorong itu, sebuah sosok berdiri membelakanginya, James.Adrian melangkah maju. Sepatu kulitnya menginjak pecahan kaca dan debu, menghasilkan bunyi pelan namun cukup untuk membuat James menoleh. Seketika itu juga, wajah James berubah. Matanya melebar, jelas terkejut.“Kau?” desis James, suaranya serak. “Bagaimana kau bisa tahu aku
Ruang kerja itu dipenuhi cahaya temaram dari lampu meja ketika Klara berdiri di ambang pintu.Langkahnya terhenti begitu matanya menangkap satu pemandangan yang membuat jantungnya seakan jatuh ke perut.Adrian sedang berdiri di depan meja kerjanya dengan laci terbuka, dan di tangannya sebuah pistol hitam mengilap yang selama ini tak pernah ia lihat dikeluarkan.Klara menelan salivanya. Tenggorokannya terasa kering.Adrian memiringkan badan sedikit, fokusnya tertuju pada pistol itu. Dengan gerakan tenang namun penuh presisi, ia mengisi amunisi satu per satu. Bunyi logam beradu terdengar jelas di ruangan yang sunyi, terdengar jauh lebih keras di telinga Klara.“Adrian …,” panggilnya dengan suara yang terdengar lirih dan nyaris bergetar. Ia melangkah mendekat, meski setiap langkah terasa berat. “Kau mau pergi ke mana?” tanyanya ingin tahu.Adrian menoleh sekilas ke arahnya, wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Tangannya tetap sibuk dengan pistol itu. “Menemui James.”Jawaban itu seperti
“Argghh! Sial! Berengsek!” teriak James.Ruangan sempit itu bergema oleh suara benda-benda yang dibanting dengan brutal. Sebuah televisi tua terlempar ke lantai, pecahannya berserakan.Kursi kayu dibalikkan, meja kecil dihantam hingga bergeser kasar. James berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, dadanya naik turun tajam, matanya merah oleh amarah yang tak lagi bisa ia kendalikan.Di layar ponsel yang kini tergeletak di lantai, berita itu masih terbuka.PATRYK ANDREAS DIHUKUM PENJARA SEUMUR HIDUP.James menggeram. Tangannya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. “Sialan kau, Adrian Wijck!” bentaknya penuh kebencian, seolah pria itu berdiri tepat di hadapannya.Ia meraih botol kosong dan melemparkannya ke dinding. Botol itu pecah dan membuat cairan sisa di dalamnya mengalir di lantai. James tidak peduli. Amarahnya terlalu besar untuk diwadahi oleh ruang sekecil ini.“Bodoh!” teriaknya lagi, kali ini bukan hanya pada Adrian, tetapi juga pada Patryk. “Kau seharusnya lebi







