共有

Bab 7. Dosa Terindah!

作者: Manrei
last update 公開日: 2026-07-09 11:00:50

Alarm di ponsel Wulan menderu di atas bantal berwarna putih di samping kepalanya, sebuah pertanda jika ia harus lekas-lekas bangun, sebab waktu telah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Ia telah terbiasa bangun pagi semenjak masih tinggal bersama dengan Heru.

Wulan menjaga kebiasaan itu hingga ke rumah ini, tempat ia menumpang hidup diantara kesibukannya mengais rezeki. Ia tetap menjaga kebiasaan itu karena tepat pukul enam pagi ia harus segera berangkat ke tempat kerja. 

Biasanya, setelah mendengar alarm di ponsel, Wulan segera bangkit dan beranjak menuju ke dapur untuk menjerang air, menyiapkan sarapan, dan segera mandi agar tak berebut dengan Sari. 

Namun, kali ini Wulan merasa enggan untuk beranjak dari ranjang. Kedua matanya memang telah terbuka lebar, namun angannya masih melayang mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

Jantung Wulan masih berdebar kencang saat ia mengingat kejadian yang nyaris saja membuat persahabatannya dengan Sari hancur. Sahabat karibnya itu nyaris memergoki dirinya saat ia memadu kasih dengan Yudha. 

Wulan merasa beruntung karena Sari tak segera beranjak saat terbangun, sehingga ia memiliki kesempatan untuk menyelinap ke dalam kamarnya. 

Namun, keengganan Wulan untuk beranjak dari ranjang bukan hanya karena persoalan itu saja. Saat ini ia masih merasakan sisa-sisa kehangatan yang tersisa di jiwanya saat ia berbagi rahasia dengan Yudha. Ia masih merasakan getaran emosi yang tercipta dari sentuhan manja pria tersebut.

‘Seandainya Sari tak terbangun, aku tak keberatan jika Yudha memulai kembali sentuhan-sentuhan manja itu. Ia memang tak mengecewakanku,’ batin Wulan. Ia merasa jika pria tersebut memang memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh Heru, suaminya, yakni kelihaiannya dalam membuat hasratnya terus menyala. 

“Cepetan bangun, Wulan. Udah siang lho, bantu masak yok. Perut sudah keroncongan ini,” teriak Sari dari balik pintu sembari menggedor pintu keras-keras, membuyarkan lamunan Wulan.

“Bentar, Sar! Mager nih!”

“Ayolah! Keburu siang, Wulan!”

“Sesekali, Sar! Kau jerang air dulu sana, nanti aku buatkan sarapan!”

“Ah, kamu ini,” sahut Sari sembari melangkahkan kaki menuju dapur.

Meskipun sayup-sayup mendengar Sari menyalakan kompor, Wulan masih juga tak beranjak. Alih-alih berniat membantu Sari, ia justru kembali menenggelamkan diri dalam ingatan-ingatan yang memabukkan itu. 

‘Ingin sekali aku merasakan sensasi itu lagi,’ batin Wulan.

“Wulan, Aku sudah masak nasi. Kamu yang siapin lauk dan sayur ya,” pekik Sari dari dapur. “Aku mau mandi duluan.”

“Iya!” 

Selama tiga bulan berada di rumah itu, baru kali ini Wulan bangun lebih lambat ketimbang Sari. Biasanya, sahabat karibnya itu baru beranjak dari ranjang pada pukul lima.

Sesaat setelah mendengar Sari menutup pintu kamar mandi, Wulan mulai bangkit dari ranjang. Ia melangkahkan kaki menuju ke kaca untuk memeriksa penampilannya.

Setelah yakin kecantikannya masih utuh, Wulan segera beranjak untuk membuka pintu. Namun, sebelum ia melangkah keluar, jantungnya kembali berdegup kencang setelah melihat Yudha telah berdiri disana. Pria itu hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya, persis seperti semalam.

Saat itu juga, senyum Wulan mengembang. Pria yang baru saja ia bayangkan kini berada di depan matanya. 

Tanpa menunggu aba-aba Yudha mendekati Wulan, memberikan kecupan mesra dan mendorongnya kembali ke ranjang sembari menanggalkan handuk yang ia kenakan.

“Sari selalu menghabiskan waktu lima belas menit untuk mandi. Kita bisa melakukan dengan cepat,” bisik Wulan sembari memberikan sentuhan manja dengan bibirnya kepada pria di depannya itu.

Hawa dingin pagi itu seolah memberikan pembenaran bagi mereka untuk saling memberikan sentuhan kehangatan. Mereka segera hanyut dalam tarian penuh gejolak yang memabukkan.

Yudha tampak terkejut dengan gairah Wulan yang meluap-luap. Ia tak menyangka jika perempuan yang selalu nampak tenang tanpa banyak tingkah itu memiliki hasrat yang tak terduga sebelumnya.

Di atas sprei motif bunga-bunga, Yudha dan Wulan sejenak melupakan moralitas dan persahabatan. Wulan telah lupa jika ia memiliki seorang suami yang kini berada lima ratus kilometer dari ranjang itu. Sementara Yudha tak menyadari jika perempuan yang berpeluh keringat itu merupakan sahabat karib kekasihnya.

Kedua mata Yudha menatap lekat tubuh polos Wulan, seolah baru saja dilahirkan ke dunia ini. Ia sangat takjub dengan pemandangan itu karena beberapa jam yang lalu tak menyaksikan dengan jelas setiap lekuk tubuh perempuan itu karena ruang tamu yang remang-remang.

Setelah sadar waktu mereka miliki sangat sempit, Yudha bergegas memberikan desakan manja kepada Wulan. Ia tak mau Sari kembali mengejutkan dan merusak momen penuh kenikmatan itu.

Waktu terasa berjalan begitu cepat, sehingga setiap detik terasa begitu berarti. Yudha terus menari indah, memastikan setiap sentuhan dan desakan memberikan kebahagiaan maksimal bagi Wulan. 

Yudha sama sekali tak memberi waktu kepada Wulan untuk sekadar mengatur tempo nafas. Ia merasa berkejaran dengan suara gemericik air dikamar mandi, tempat Sari sedang membersihkan diri sembari bersenandung riang.

Sepuluh menit telah berlalu, akhirnya Yudha dan Wulan serempak tersenyum setelah meraih apa yang mereka inginkan. Sebagai salam perpisahan sementara, sejenak mereka saling memberi kecupan mesra.

“Kau memang tak mengecewakanku, Yudha!”

Mendengar bisikan Wulan itu, Yudha hanya melempar senyum lalu bangkit menuju ke kamar Sari. Sementara Wulan bergegas menyeka sisa-sisa pergulatan mereka dengan daster yang tergeletak di lantai. Setelah bersih, ia segera mengenakan daster baru dari dalam lemari.

Saat pintu kamar mandi terbuka, Wulan sudah berdiri di depan meja dapur, tangannya dengan lincah mengocok telur untuk sarapan, seolah tak ada badai yang baru saja menerbangkannya ke awang-awang.

“Maaf, Beibs, semalam suaraku mengganggu, ya?” tanya Sari sembari melingkarkan kedua tangannya di perut Wulan.

“Suara apa? Aku langsung tidur semalam,” sahut Wulan sembari menjaga suaranya agar tak mencurigakan.

“Oh… kirain kamu gak bisa tidur gegara aku.”

“Aku tidak mendengar, tapi kurasa kamu memang menjerit-jerit,” goda Wulan sembari tertawa kecil.

Sebenarnya Wulan merasa canggung saat berbicara dengan sahabat karibnya itu. Sebab, pria yang membuat Sari merintih manja semalam merupakan pria yang sama yang memberi kepuasan kepadanya.

Wulan merasakan dosa yang menusuk nuraninya karena ia tak mampu menahan gelora asmara dengan kekasih sahabatnya itu. Dalam hati, ia menyesal karena telah bersikap sok bijak dengan menasehati Sari agar tak mengkhianati suaminya. 

Kini, Wulan merasa jauh lebih kotor ketimbang Sari. Ia bukan hanya mengkhianati Heru, suaminya, melainkan juga menikung sahabat karibnya itu dari belakang. Ia tak pernah membayangkan akan terjebak dalam persoalan yang rumit ini.

“Cepatlah mandi, Wulan!” tegur Sari.

“Wulan!” panggil Sari lagi setelah Wulan tak juga merespon tegurannya.

“A–apa?”

“Masih pagi, sudah melamun saja kamu! Awas! Ada banyak demit disini!”

“Hhh… ma–af! Tiba-tiba keinget Lestari. Kemarin aku belum sempat telpon dia.”

“Mandi dulu. Sudah hampir siang! Buruan! Bau…!”

Wulan segera melangkah mengambil handuk sembari menyerahkan pisau dapur kepada Sari. “Kau bisa melanjutkan ini, kan?” tanya Wulan sembari tersenyum kecil.

“Kau meragukan kehebatanku di dapur?” sahut Sari sembari merapikan handuk yang melilit kepalanya. “Kau benar, aku memang lebih pandai di ranjang ketimbang di dapur.”

Saat melewati lorong sempit yang memisahkan mereka, Wulan menarik nafas panjang. Ia sadar, kebohongan kepada Sari barusan, hanyalah awal dari dusta lain yang akan menyusul

Sebelum masuk ke kamarnya, Wulan sempat menoleh ke arah pintu kamar Sari. Di sana, ia melihat Yudha yang sedang berbaring santai sambil memainkan ponsel seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Setelah menyadari keberadaan Wulan, Yudha menoleh, lalu meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya–sebuah isyarat rahasia yang mengunci janji mereka

Menyaksikan pemandangan itu; rasa sedih, sesal, dan dosa yang baru saja Wulan sadari menguap begitu saja. Di dalam otaknya, ia mulai menanyakan kesempatan untuk kembali jatuh dalam pelukan Yudha, meskipun ia sadar jika jurang kehancuran juga menantinya di kemudian hari.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Tergoda Jerat Manis Sahabatku   Bab 72. Pijat Terus, Wulan!

    "Nah, sepertinya kamu memang pandai memijat, Wulan!" puji sang bos sambil menengadahkan muka hingga benar-benar menatap Wulan.Pujian tersebut mengingatkan Wulan kepada suaminya. Dulu, ketika keluarga mereka masih baik-baik saja, ia selalu rutin memberi pijatan kepada suaminya tersebut. Ia masih ingat benar jika pijatannya membuat suaminya kecanduan. Sebab, jika ada waktu senggang suaminya selalu meminta untuk dipijat.Baginya, Pak Agus merupakan pria ketiga yang telah menerima pijatannya. Sementara ayahnya merupakan pria pertama yang ia pijat. Kepandaianny

  • Tergoda Jerat Manis Sahabatku   Bab 71. Permintaan Sang Bos

    Kenangan makan malam di lantai dua bersama Pak Agus terus terngiang di kepala Wulan saat menatap tempat itu dari bawah. Perasaannya menjadi campur aduk, antara senang karena mendapat kesempatan untuk berbincang hangat dengan sang bos dan merasa bersalah karena telah lancang duduk di tempat yang semestinya untuk Bu Nana.Malam tadi, sepulang dari tempat tersebut, Wulan berulang kali memikirkan tentang kejadian tersebut. Ia berusaha keras agar dirinya tak merasa bersalah dengan menganggap semua itu hanyalah cara dia untuk menjalankan tugas yang dibebankan oleh sang bos."Sini, Wulan!" panggil Sari dari depan pintu ruangannya.Setelah mendengar panggilan sahabat karibnya, Wulan bergegas mendatangi tempat tersebut. Ia melangkahkan kaki sambil melirik ke kanan dan ke kiri, bukan takut siapa pun, melainkan ia menganggap jika panggilan tersebut tidak biasa. Hal itu karena Sari tak nampak seperti biasanya yang selalu memanggilnya dengan suara lantang, kali ini ia memanggilnya dengan suara yan

  • Tergoda Jerat Manis Sahabatku   Bab 70. Panggilan Mendadak Saat Makan Malam

    "Kawanmu itu lumayan jadi wakil mandor. Nggak buas seperti Indah," bisik Asih ketika membantu Wulan untuk bersih-bersih."Tapi, katanya cuman sementara, Mbak," sahut Wulan sembari menyapu lantai."Ya ndak papa lah, buat selingan, biar gak kemakan binatang buas itu terus," ucap Asih pelan. Keduanya pun tertawa cekikikan sambil menutup mulut mereka.Setelah rutinitas bersih-bersih itu us

  • Tergoda Jerat Manis Sahabatku   Bab 69. Hasrat Wulan Yang Kembali Membara

    Saat Sari bersenang-senang dengan sang bos, Wulan tengah merana karena kesepian di dalam kamarnya. Santoso yang dulu menemaninya melalui pesan-pensan singkat yang menyejukkan jiwa, kini tak pernah lagi berkirim pesan dengan dirinya.Suatu hari, karena merasa sangat rindu kepada pria tersebut, Wulan pernah mengirim pesan; sekadar untuk bertanya kabar. Pada mulanya Santoso menanggapi pesan tersebut dengan biasa. Namun semakin lama, pesan-pesannya terasa garing, tak ada sedikit pun gairah. Malah, Santoso langsung undur diri ketika mereka ba

  • Tergoda Jerat Manis Sahabatku   Bab 68. Gairah Sang Bos

    Riuh rendah para pembeli menelusup melaui celah-celah sempit menuju ke lantai dua Toko Kelontong Agustina. Dari situ, Sari dapat menduga jika pengunjung hari ini begitu padat.Sari sudah paham benar bagaimana para pembeli akan berbelanja gila-gilaan di Toko Kelontong Agustina. Pada tanggal-tanggal muda dan akhir pekan seperti ini, orang-orang memang berbondong-bondong untuk berbelanja. Karena sudah paham benar, maka setiap akhir bulan ia sela

  • Tergoda Jerat Manis Sahabatku   Bab 67. Pria Yang Kesepian

    "Ada apa ya, Pak?" tanya Wulan sambil buru-buru melepaskan pegangan tangan sang bos.Meskipun ia berusaha keras untuk melepaskan genggaman tangan sang bos, namun pria itu sepertinya enggan untuk melepaskannya."Pak!" ronta Wulan dengan raut wajah yang ketakutan. "Lepaskan tangan saya, Pak!""Eh⸺maaf!" sahut Pak Agus sembari buru-buru mele

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status