LOGIN
01
"Papa!" teriak seorang anak laki-laki sembari berjalan cepat menuju sekumpulan orang. "Papa!" jeritnya, sambil memeluk kaki kiri pria bersetelan jas biru tua.
Atalaric Pradipta Dewawarman, menunduk. Dia kaget, karena dipanggil Papa oleh bocah yang tidak dikenalinya. Atalaric menatap lelaki kecil yang balas memandanginya penuh kerinduan, dan hal itu menyebabkan hatinya mencelos.
Alih-alih menjauh, Atalaric justru berjongkok agar bisa melihat jelas anak tersebut. Sudut bibir Atalaric mengukir senyuman, kala sang bocah memegangi pipi kirinya.
"Halo. Namamu, siapa?" tanya Atalaric dengan ramah.
"Arfan," jawab anak laki-laki tersebut. "Papa, kumisnya, mana?" tanyanya saat menyadari bila pria itu tidak memiliki kumis.
"Dicukur." Atalaric berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau es krim?" desaknya.
Arfan Mubarak menganguk semangat. Dia menggenggam jemari pria tersebut dan mengikuti langkah Atalaric, menuju stand di ujung kanan. Seorang pria berbadan tinggi, bergegas mendahului guna mengambilkan es krim.
Pria berkemeja batik biru itu memberikan satu cup es krim pada Arfan yang menerimanya dengan sukacita. Alzam Jovan, ajudan Atalaric, memberikan cup lain pada bosnya, yang kemudian mengajak Arfan berpindah duduk ke kursi terdekat.
"Zam, kita mesti nyari orang tuanya," bisik Atalaric.
Alzam mengamati Arfan yang terlihat serius melahap desert itu. "Kupikir dia bukan anak tamu," jawabnya.
"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?"
"Bajunya, Pak. Standar. Bukan yang mahal."
Atalaric memerhatikan Arfan. "Aku nggak ngeh."
Alzam mengulum senyuman. "Bapak nggak pernah belanja baju yang murah. Jadinya nggak tahu."
"Memang kamu beli yang murah?"
"Hu um."
"Malu-maluin."
Senyuman Alzam melebar. "Dulu, Pak. Waktu belum jadi ajudan Bapak. Sekarang, bajuku bermerk semua."
"Belagu."
Alzam terkekeh. Namun, tawanya lenyap saat seorang perempuan menghampiri mereka, sambil memasang raut wajah tegang. Perempuan berambut panjang itu langsung memeluk Arfan, lalu dia mengomeli lelaki kecil tersebut, yang telah pergi dari tempat semula.
"Kamu, mamanya Arfan?" tanya Atalaric.
"Ya, Pak," sahut Harvitha Urfi Amani. "Maaf, anak saya sudah merepotkan Bapak," ucapnya sembari mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
"Enggak apa-apa. Arfan nggak ngerepotin." Atalaric mengusap rambut lebat bocah itu.
"Ehm, kami harus kembali. Saya masih belum selesai bekerja."
"Kerja?"
"Ya." Harvitha menunjuk tim band. "Saya, penyanyi," jelasnya.
"Oh, oke. Silakan lanjutkan."
"Ayo, Fan," ajak Harvitha.
"Aku mau sama Papa," tolak Arfan yang mengejutkan mamanya.
"Bapak ini bukan Papa," cetus Harvitha.
"Papa!" kukuh Arfan.
"Papa itu berkumis, dan lebih pendek dari Bapak. Rambut, hidung, dan matanya juga beda."
Arfan mengawasi pria di sebelah kiri. Dia baru menyadari jika wajah Atalaric memang berbeda dengan papanya. Namun, Arfan benar-benar tidak mau mengikuti mamanya, dan dia malah menggelendot ke tangan kanan Atalaric.
"Aku mau Papa," lontar Arfan.
Harvitha mendengkus pelan. "Mama harus kerja, Fan. Yuk, kita ke sana."
"Biar dia tetap di sini. Aku yang jagain," sela Atalaric yang mengagetkan Harvitha.
"Ehm, apa tidak mengganggu, Pak?" tanya Harvitha.
"Enggak. Aku cuma tamu. Santai," cakap Atalaric.
Harvitha terlihat ragu-ragu. Namun, akhirnya dia mengalah dan membiarkan anaknya tetap di sana. Harvitha merunduk dan mengusap bibir Arfan dengan tisu.
"Jangan jauh-jauh dari Bapak, oke?" desak Harvitha yang dibalas anggukan Arfan. "Jangan nakal. Nanti Mama ke sini lagi," sambungnya sembari menegakkan badan.
"Maaf, saya merepotkan Bapak lagi," tukas Harvitha.
"Enggak apa-apa," balas Atalaric.
Harvita mengulaskan senyuman yang membuat tampilan wajahnya kian ayu. Atalaric terpana dan terus memandangi saat Harvitha jalan ke tempat kelompok band.
Selama puluhan menit berikutnya, Atalaric menonton Harvitha yang bergantian bernyanyi dengan rekannya. Suara Harvitha yang lembut dan merdu, menjadikan Atalaric memuji kepiawaian perempuan tersebut dalam mendendangkan lagu.
Harvitha melantunkan banyak lagu berbahasa Inggris dengan fasih. Nada-nada tinggi yang sanggup dicapai perempuan itu membuat penonton menyukainya. Bahkan, banyak yang mengajukan rekues lagu, yang dilaksanakan perempuan bergaun hijau itu dengan apik.
Seusai pertunjukan, Harvitha segera menyambangi anaknya, yang ternyata telah terlelap di pangkuan Atalaric. Harvitha tidak bisa menolak, kala pria itu memaksanya untuk diantarkan pulang.
Atalaric menggendong Arfan dengan tangkas. Dia jalan beriringan dengan Harvitha. Sementara Alzam telah melesat lebih dulu untuk mengambil mobil di tempat parkir.
"Kita belum kenalan," ucap Atalaric sambil mengulurkan tangan kanannya. "Atalaric," tukasnya.
"Harvitha," jawab perempuan berdagu lancip, sembari bersalaman, lalu dia menarik tangannya.
"Aku boleh nanya?"
"Silakan."
"Papanya Arfan, di mana?"
"Beliau kerja di kapal pesiar."
"Bagian apa?"
"Koki, di salah satu restoran western."
Atalaric mengangguk paham. "Apa wajah kami benar-benar mirip?"
"Sekilas, iya. Tapi Bapak lebih tinggi dan tampan."
"Terima kasih pujiannya."
Harvitha menyunggingkan senyuman. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ditunda, karena seunit mobil sedan mewah telah berhenti di depan.
Harvitha membukakan pintu belakang dan Atalaric segera masuk. Harvitha menutup pintu dan hendak berpindah ke depan, ketika Alzam memanggilnya sembari membukakan pintu kanan belakang.
Tidak berselang lama, mobil sedan hitam mengilat itu melaju keluar area gedung pertemuan di kawasan Kelapa Gading. Alzam menanyakan alamat pada Harvitha yang menerangkannya dengan lugas.
"Tadi aku dengar kamu nyanyi. Suaramu bagus, dan bahasa inggrisnya juga keren," puji Atalaric.
Harvitha tercenung sesaat, sebelum dia tersenyum malu-malu. "Makasih atas pujiannya."
"Kamu nyebut makasihnya sudah 3 kali. Aku nggak punya receh."
"Saya terima QRIS, Pak."
Keduanya serentak tersenyum. Begitu pula dengan Alzam. Percakapan itu terus berlanjut hingga mereka tiba di perumahan padat penduduk, di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat.
Harvitha mengarahkan Alzam melintasi jalan sempit berkelok-kelok, hingga mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Harvitha hendak menggendong Arfan, tetapi dicegah Atalaric.
Harvitha akhirnya keluar dan menutup pintu mobil dengan pelan. Dia memutari kendaraan, lalu mendahului memasuki pekarangan yang pagarnya dalam kondisi terbuka.
Harvitha membuka pintu depan sambil mengucapkan salam. Atalaric menyusul sambil menggendong Arfan, sedangkan Alzam meneruskan mengemudi untuk mencari tempat buat memutar mobil.
"Arfan lagi tidur?" tanya seorang perempuan tua, yang keluar dari kamar terdepan.
"Ya, Bu. Dari tadi dia bobok, dan nggak ada bangun sama sekali," jelas Harvitha. Dia berbalik untuk mengambil Arfan. "Sini, Pak. Mau kupindahkan ke kamar," ungkapnya.
"Hati-hati," ujar Atalaric sembari memindahkan Arfan.
"Papa," bisik Arfan sambil mengeratkan pelukannya di leher Atalaric.
Ketiga orang itu terlihat kaget. Mereka saling menatap, sebelum Atalaric duduk di sofa panjang dan membaringkan Arfan dengan hati-hati. Dia mengusap rambut lelaki kecil itu sembari meraih ponselnya yang tengah berdering, dari saku celana.
"Ya, Zam," sapa Atalaric.
"Enggak ada putaran, Pak. Jalannya makin kecil di belakang," jelas Alzam.
"Mundur aja. Nanti mutar di depan masjid depan."
"Oke."
Atalaric memutus sambungan telepon. Dia memberikan ponselnya pada Harvitha yang tampak kebingungan.
"Simpan nomormu, lalu misscall dari ponselku. Supaya nopeku tersimpan di hapemu," ungkap Atalaric.
"Oh, oke," balas Harvitha.
"Kalau Arfan nyariin, kamu bisa chat, biar aku yang nelepon kamu," pungkas Atalaric.
68Arfan berteriak sesaat setelah pesawat berlogo Baltissen 1 mendarat di landasan. Arfan maju dan menempelkan kedua tangannya ke kaca, sembari memandangi moncong pesawat yang kian mendekat. Sekian menit berlalu. Arfan telah digendong Kairav yang jalan cepat menuju pesawat. Pintu burung besi terbuka dan Jariz keluar lebih dulu sambil menjinjing tas kerjanya. Satu per satu ajudan muda turun. Mereka bergegas mengambil koper para bos dan menyeretnya ke ruang tunggu. Kairav menaiki tangga, lalu menurunkan Arfan guna bisa menjelajahi isi kabin. Arfan menyambangi Atalaric dan beberapa bos yang masih berada di dalam. Alvaro menggenggam tangan kiri Arfan dan mengajaknya memasuki kokpit. Lelaki kecil berkemeja merah itu sempat termangu, memandangi pilot dan kopilor yang merupakan warga negara asing. Namun, kala kopilot menyapanya dengan bahasa Indonesia fasih, Arfan spontan tersenyum. "Om, namanya siapa?" tanya Arfan, sembari memandangi sang kopilot. "Gutierre Benedicto. Aku, Adik sepupu
67 Sidang perdana atas Felix berlangsung secara tertutup. Selain petugas keamanan, banyak polisi yang turut mengamankan sekitar gedung pengadilan. Sebab Felix cukup terkenal di dunia bisnis hiburan tanah air, banyak awak media resmi maupun independen, yang memenuhi area parkir depan gedung. Atalaric tidak hadir dalam sidang itu, karena sedang dinas ke Filipina. Dia diwakili kuasa hukum, dan Caksa, serta Hisyam. Harvitha hadir dengan didampingi Farras, Hasni, dan ketiga sahabatnya. Sebagai pihak penggugat, Harvitha tetap bersikap tenang. Dia duduk di bangku belakang tim kuasa hukum dan nyaris tidak bergerak, hingga persidangan itu usai. Harvitha bangkit dan merapikan gaunnya. Panggilan dari depan membuatnya menengadah, dan memandangi pria berkemeja putih yang tengah berdiri di dekat pagar pembatas. "Terima kasih sudah mau datang," cakap Felix, sesaat setelah Harvitha mendekat."Ya." Harvitha terdiam sejenak, lalu dia bertanya, "Bapak, sehat?" "Lumayan. Ehm, makasih juga atas kir
66Harvitha mengusap set perhiasan di tujuh kotak yang dibukakan Zhou Yiran, di meja toko perhiasannya dan Malya (istri Jariz), yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Harvitha bingung hendak memilih yang mana, karena semuanya bagus. Dia meminta pendapat Atalaric yang juga sama bingungnya. Kemudian Atalaric mengusulkan guna mengirimkan semua foto set perhiasan itu pada Sekar, yang dianggap lebih memahami detail perhiasan. Selama beberapa menit Sekar mengamati setiap detail foto. Lalu dia memberi tanda pada tiga set yang menurutnya paling cocok dengan kepribadian Harvitha. Kemudian Sekar mengirimkan ulang foto itu pada calon Adik iparnya. Harvitha berdiskusi dengan Zhou Yiran, yang kemudian menerangkan setiap detail perhiasan buatannya itu, sebagai bahan pertimbangan sang calon pengantin. "Saranku, ini paling pas buat mahar," ujar Zhou Yiran sambil menunjuk kotak perhiasan kedua. "Yang ini, bisa dipakai untuk akad," lanjutnya sembari memajukan kotak pertama
65*Tim Sukses VYJA*Alvaro : Sudah ada laporan dari tim China? Deswin : Laporan apa? @Padre. Alvaro : Loh! Kok, kekirim ke sini? Padahal tujuanku ke grup VCAZ. Panji : Sudah kuduga, Padre salah grup. Zulfi : Kumat lagi dia. Dimas : Dari 4 hari lalu, Padre sudah beberapa kali salah kirim. Paling sering, ke grup petinggi. Padahal tujuannya ke grup lain.Dhruvi : Padahal profil grupnya beda-beda. Panglima : Harap dimaklumi. Abangku lagi stres ditinggalin istrinya holiday sama ibu-ibu pejabat. Zhao Yichen : Alasan doang, itu. Madre cuma pergi seminggu, dan dengan pengawalan ketat. Varo lebih sering kabur dari rumah tanpa kabar. Yanuar ; Dan bikin orang se-Jakarta heboh nyariin dia. Bikin emosi!Hendri : Ujung-ujungnya, aku sama Z ditelepon W, supaya bantu nyariin Varo, pake mata batin. Zein : Jadi berasa kayak nyari jurig. Kenzo : Hantu kompeni. Irish : Padre paling cakep waktu jadi penjahat di film kung fu itu, yang bintang utamanya Mamados. Kimora : Benar. Aku masih simpan
64 Seunit bus berhenti di depan lapas kejaksaan. Beberapa tahanan turun dengan didampingi satu petugas per orang. Mereka diarahkan menuju ruangan luas, lalu dipersiapkan duduk.Satu per satu pengacara maju ke dekat meja petugas pencatatan, guna memastikan kelengkapan dokumen klien masing-masing. Kemudian, para lawyer itu mengekori langkah kliennya yang diantarkan petugas ke sel khusus tahanan baru. Felix dan Miko menjadi dua tahanan terakhir yang diarahkan petugas ke area dalam. Namun, mereka tidak ditempatkan di sel yang sama dengan beberapa tahanan sebelumnya. Felix dan Miko diantarkan ke ruangan kecil di sudut kanan lorong panjang. Sekian menit berlalu. Sang petugas dan pengacara telah keluar dari kamar itu. Felix merebahkan tubuh di kasur bawah. Sedangkan Miko tengah memindahkan pakaian dari koper ke lemari kecil di pojok kiri ruangan. "Kayaknya cuma kita yang ditempatkan di kamar kayak gini," ucap Miko, sembari duduk di bangku depan meja kecil. "Ya. Ini ruangan VIP buat taha
63Harvitha menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia meraba kristal swarovsky yang melapisi seluruh bagian kain luar gaun pengantinnya. Sinar ratusan permata itu tampak berkilau di cermin, dari bagian leher sampai lantai yang menutupi kedua kaki perempuan tersebut. Harvitha kaget kala Dahayu menyisiri rambutnya, sebelum digelung sederhana. Risty memasangkan tiara yang dijepit rapi di semua sisi. Kedua desainer itu merapikan kain tile penutup tiara yang menjuntai sampai lantai. Setelahnya, Harvitha duduk di bangku dekat meja rias. Tangan Elma, istri Zhao Yichen, bergerak cepat memoleskan bedak dan kosmetik tipis ke wajah sang calon pengantin. Tawa Elma menguar kala Kayra juga meminta didandani, tetapi diprotes Maheen dan Mira. "Kamu tunggu Lula datang, Kay. Dia yang nangani riasan pengiring pengantin," goda Risty, istri Ferdianto, sembari mengupas kulit jeruk. "Sekalian pasang inai?" tanya Kayra. "Belumlah. Itu H minus 1 baru dipasang. Setelah acara siraman," terang Risty."A







