LOGIN02
Atalaric membaca biodata Harvitha, yang telah diselidiki tim rahasia PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, yang menjadi rekanannya sejak puluhan tahun silam.
Atalaric dan keluarganya, menjadi salah satu klien pertama PBK dan PB. Kedua perusahaan itu berada dalam 1 grup yang sama, dengan pemilik yang sama pula. Perbedaannya hanya di jenis layanan. PBK menyediakan tenaga bodyguard terlatih dan bersertifikat nasional serta internasional. Sementara PB menangani penyediaan tenaga sekuriti, yang juga terlatih dan bersertifikat nasional.
Selain di tanah air, kedua perusahaan itu juga memiliki cabang di banyak negara, tempat di mana kesepuluh komisaris utamanya berbisnis.
"Masih ada lagi orang yang perlu diselidiki, Mas?" tanya Daegal Jihadi, ketua tim rahasia 11.
"Ehm, nggak ada. Ini sudah cukup," jawab Atalaric. "Makasih, Da," lanjutnya.
"Sama-sama, Mas. Kalau gitu, aku mau balik kerja."
"Lagi nyelidikin siapa?"
"Pacarnya Sandrina."
"Kastara?"
"Betul."
Atalaric terdiam sejenak. "Anak-anak cepat sekali besarnya. Padahal, waktu pertama ketemu itu, Sandrina masih SD."
"Sekarang sudah kuliah, dan punya pacar."
"Berapa umurnya dia?'
"20. Pacarnya, 29."
"What?"
"Sebab itu, Pak Andra panik. Apalagi cowok itu bukan dari kalangan pengusaha."
"Kerja apa dia?"
"Pemain band. Bagian drum."
"Hmm, pantas Mas Andra cemas. Apalagi Sandrina anak pertama. Cowok yang dekat sama dia mesti diteliti benar-benar. Supaya nggak terjerumus ke pergaulan yang salah."
"Betul, Mas. Kayak Pak Heru. Cowok yang lagi pendekatan ke Tania, diajak diskusi sampai 1 jam full."
"Bukan diskusi, tapi interogasi. Parah memang Mas Heru."
Daegal tersenyum. "Wajar itu, Mas. Semua Papa pasti ingin yang terbaik buat anaknya."
"Itu, alasan pertama. Alasan kedua, Mas Heru dan Mas Baskara pengen besanan. Tapi Riza dan Tania sudah sepakat, kalau mereka cuma sahabat. Bahkan mereka masing-masing sudah punya gebetan."
"Banyak yang mendoakan Riza dan Tania beneran jodoh. Termasuk aku. Mereka cocok sekali kalau jadi pasangan."
"Kita boleh berharap, Da. Tapi, semuanya tergantung keputusan mereka. Mas Heru dan Mas Baskara nggak bisa maksa. Cukuplah drama perjodohan di keluargaku. Karena yang beruntung cuma Mas Heru. Sedangkan aku dan Mbak Sekar, gagal total."
***
Harvitha menghitung uang tabungannya di dua rekening. Sudut bibirnya terangkat ke atas membingkai senyuman, karena jumlahnya sudah mencukupi untuk membeli motor secara lunas.
Harvitha sangat menghindari apa pun yang berbentuk cicilan. Pengalaman hidup kedua orang tuanya yang pernah terlilit pinjaman, menjadikan Harvitha bertekad mengupayakan pembelian apa pun secara tunai.
Ponselnya yang berdering mengagetkan Harvitha. Dia mengambil telepon genggam dari kasur dan mengecek nama penelepon. Mata Harvitha membulat sesaat, sebelum dia menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum," sapa Harvitha.
"Waalailumsalam," jawab pria di seberang telepon. "Aku ganggu, nggak?" tanyanya.
"Enggak, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
"Besok, bisa ketemu?"
"Di mana, dan jam berapa?"
"Tempatnya, aku belum nentuin. Waktunya, sebelum jam makan siang."
"Oh, Bapak mau traktir saya?"
"Ya."
"Oke, bisa."
"Sip. Nanti kamu pakai taksi aja. Aku yang bayar biayanya. Ajak Arfan juga. Aku kangen."
Harvitha belum sempat menyahut, tetapi panggilan itu telah diputus Atalaric. Harvitha masih termangu sembari memegangi ponselnya, meskipun percakapan itu telah berakhir.
Harvitha meletakkan ponsel ke tempat semula. Dia memegangi dada yang berdegub kencang, sebelum menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya, ampun. Dia ngajak ketemuan. Aku jadi deg-degan," gumam Harvitha bermonolog. "Aduh! Aku mesti nyiapin bajunya," lanjutnya sebelum bangkit berdiri.
Sekian menit terlewati. Harvitha tengah mematut diri di depan cermin, ketika ponselnya kembali berbunyi. Harvitha menyambar benda itu guna menerima panggilan dari papanya Arfan.
"Ya, Mas," sapa Harvitha.
"Ada Arfan di situ, Ta? Mas mau bicara," pinta Afzal Ayman.
"Enggak ada. Dia ikut sama Ibu ke pengajian."
"Oh, begitu. Ya, udah, nanti Mas telepon lagi."
"Hu um."
"Sampai lupa. Kamu, sehat, Ta?"
"Alhamdulillah. Mas, gimana?"
"Aku lagi flu. Minta cuti dan turun dari kapal."
"Sudah ke dokter?"
"Sudah. Ini baru pulang dari klinik."
"Semoga lekas membaik."
"Aamin." Adzal berdiam diri sejenak untuk menyusun kalimat dalam benak. "Ta, tentang permintaan orang tuaku, apa sudah ada keputusan?" tanyanya.
Paras Harvitha seketika berubah tegang. "Ehm, belum ada, Mas. Aku masih butuh waktu untuk berpikir."
"Okay. Never mind."
"Maaf."
"No problem, Ta. Aku paham banget. Itu keputusan yang berat."
"Ehm, ya."
"Kamu tenang aja. Aku nggak akan maksa. Apa pun keputusanmu, akan kuterima dengan ikhlas."
***
Harvitha menikmati hidangan sembari memerhatikan sekeliling restoran yang ramai, karena saat itu bertepatan dengan jam makan siang. Harvitha menyukai makanan yang dipesannya, yang sangat lezat.
Harvitha mengalihkan pandangan ke kanan, lalu membantu memotongkan sosis buat anaknya. Harvitha menengadah ketika dipanggil Atalaric.
"Enggak ada, Pak. Aku nggak ada kerjaan sampai beberapa hari ke depan," terang Harvitha.
"Kalau weekend, gimana?' tanya Atalaric.
"Minggu ini, full. Sabtu depannya, ada. Minggunya, kosong."
"Mau ikut aku?"
"Ke mana?"
"Kebetulan, temanku ngadain wedding anniversary. Aku malas datang sendiri, karena pasti digodain mereka."
"Digodain?"
"Iya. Julukanku, Raja Bujang Lapuk."
Harvitha spontan tersenyum. "Julukannya, lucu."
"Iya, tapi bikin kesal."
"Ehm, Bapak beneran bujangan?"
"Apa aku kelihatan kayak duda?"
Harvitha menggeleng. "Enggak. Bapak masih muda, nggak mungkin duda."
"Umurku sudah tua, Vit. 39."
"Ehm, serius?"
"Iya. Kamu, umurnya berapa?' Atalaric berpura-pura bertanya, padahal dia sudah melihat biodata Harvitha.
"29."
"Kalau suamimu?"
Harvitha tercenung, lalu dia menggeleng. "Papanya Arfan bukan suami saya. Dia suami almarhumah Kakak saya. Ibu kandung Arfan."
"Sorry. Aku turut berduka."
"Makasih."
"Berarti usia kita cuma beda 10 tahun. Bisa, dong, jadi teman."
"Ehm, bisa."
"Pacarmu, nggak marah kalau kamu temenan sama Bapak ganteng ini?"
"Saya nggak punya pacar."
"Beneran?'
"Iya."
"Kenapa?"
"Kapok. Dulu pernah diselingkuhin. Jadi ngeri buat pacaran lagi."
Atalaric manggut-manggut. "Jadi korban selingkuhan memang menyakitkan. Apalagi kalau sudah sangat sayang."
"Hu um."
"Tapi, aku tipe setia. Tunanganku yang selingkuh, dan ninggalin aku, beberapa hari sebelum hari pernikahan."
Harvitha tercengang. Dia cepat-cepat merapatkan bibirnya, lalu mengangguk mengerti. Harvitha turut prihatin dengan nasib Atalaric. Dia menduga, jika peristiwa pahit itulah yang menyebabkan Atalaric masih bertahan sendiri.
Seusai bersantap, ketiganya melangkah ke meja kasir. Atalaric menyelesaikan pembayaran, kemudian dia dan Harvitha kembali jalan sembari memegangi tangan kanan serta kiri Arfan.
Alzam yang menempati meja terdekat dengan pintu, segera berdiri dan jalan lebih dulu ke tempat parkir. Disusul Atalaric dan Harvitha, serta Arfan.
"Mas," panggil seseorang yang membuat Atalaric dan Harvitha kompak menoleh ke belakang.
"Hmm. Jen. Apa kabar?" tanya Atalaric berbasa-basi.
"Kabarku baik." Jenna Mafaza memandangi perempuan di samping kiri Atalaric. "Hai, aku Jenna," sapanya sembari mengulurkan tangan kanan.
"Halo. Saya, Harvitha," jawab perempuan berambut panjang sambil bersalaman, lalu dia menarik tangan.
"Ini, siapa?" Jenna menunjuk Arfan.
"Keponakanku," terang Harvitha.
"Sorry, Jane. Kami buru-buru," sela Atalaric, sembari membuka pintu belakang mobilnya. "Masuk, Vit, Fan," pintanya yang segera dikerjakan keduanya.
"Mas, aku perlu bicara berdua dengan Mas," cakap Jenna, sesaat setelah Atalaric menutup pintu mobil.
"Kita bicarakan nanti," pungkas Atalaric, kemudian dia membuka pintu depan kiri dan langsung memasuki kendaraan.
Atalaric menutup pintu. Alzam yang telah menyalakan mesin sejak tadi, memundurkan mobil sedikit, lalu melaju keluar area parkir.
Jenna memandangi mobil itu sembari menyipitkan mata. Dia penasaran dengan sosok Harvitha dan berniat mencari tahu tentang perempuan itu.
05Selama beberapa hari berikutnya, Harvitha gelisah, karena Atalaric sama sekali tidak mengirimkan pesan, atau pun menelepon. Padahal sebelumnya, setiap pagi pria itu akan menyapanya dalam pesan, dan menelepon di malam hari. Harvitha khawatir jika Atalaric tersinggung dengan penolakanjya Minggu sore kemarin. Padahal sebelumnya Harvitha ingin menerima ajakan pria tersebut untuk menjalin hubungan serius, tetapi dia malu dan tidak percaya diri menjadi pendamping Atalaric. Jumat malam itu, Harvitha bekerja dengan separuh hati. Dia beralasan tengah sakit perut akibat datang bulan, Harvitha menolak ajakan bosnya guna berbincang berdua.Harvitha khawatir jika Felix Arion akan kembali berusaha menciuminya secara paksa, seperti yang pernah dilakukan sang bos pada bulan lalu. Mira yang telah mengetahui peristiwa itu, berusaha untuk melindungi Harvitha. Namun, sebelum acara usai, kakaknya Mira menelepon dan meminta perempuan itu untuk segera pulang, karena Ibu mereka masuk rumah sakit akibat
04Beberapa lagu romantis berbahasa Inggris, mengalun merdu dari bibir Harvitha. Dia menutup pertunjukan singkat itu dengan lagu dangdut, sembari memancing penonton untuk bergoyang. Sekelompok pria maju dan berjoget dengan gaya heboh, yang membuat hadirin tertawa. Suasana kian meriah, ketika Atalaric mengajak Arfan bergoyang, dan bocah itu joget dengan semangat. "Lagi! Lagi! Lagi!" seru penonton, kala lagu itu usai. "Mau lagu apa?" tanya Harvitha. "Dangdut lagi aja. Aku masih pengen joget," seloroh Benigno Griffin Janitra, presiden komisaris Janitra Grup, sekaligus dokter pemilik salah satu rumah sakit terkenal, di Jakarta Selatan dan Bandung. Harvitha berdiskusi dengan Trevor Aryeswara, sang pemain keyboard. Pria bertubuh tinggi besar itu merupakan presiden direktur Aryeswara Grup, sekaligus Adik sepupu Benigno. "Turunin 1 nadanya, Pak. Nggak nyampe suara saya kalau ikut penyanyi asli," ungkap Harvitha dengan jujur. "Begini?" Trevor menekan tuts keyboard."Ya, segitu." "Sip."
03Dua pekan berlalu. Atalaric kembali muncul di kediaman orang tua Harvitha. Pria berhidung mancung itu memberikan mainan yang diterima Arfan dengan gembira. Selain itu pria tersebut juga membawa aneka kue, yang diambil Harvitha dengan senang hati. Kedua orang tua Harvitha, mengajak Atalaric berbincang. Hasni Saifuddin dan Azizah Sadiya, saling melirik, seusai menyaksikan interaksi antara Atalaric dan Arfan yang sangat akrab. Tidak berselang lama, kedua laki-laki berbeda generasi itu dan juga Harvitha, telah berada di mobil SUV putih yang ukurannya lebih ramping dari mobil sedan, yang digunakan Atalaric dua minggu lalu. Pria berkemeja cokelat muda tersebut berbincang dengan Arfan, sembari mengajarkan bocah itu menggambar di ipadnya. Harvitha memerhatikan kedua pria berbeda generasi itu. Dia takjub, karena Arfan bisa cepat akrab dengan Atalaric. Padahal dengan orang dewasa lainnya, Arfan lebih sering menjaga jarak. "Vit, nanti nyumbang nyanyi, ya," pinta Atalaric, lalu dia menunju
02Atalaric membaca biodata Harvitha, yang telah diselidiki tim rahasia PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, yang menjadi rekanannya sejak puluhan tahun silam.Atalaric dan keluarganya, menjadi salah satu klien pertama PBK dan PB. Kedua perusahaan itu berada dalam 1 grup yang sama, dengan pemilik yang sama pula. Perbedaannya hanya di jenis layanan. PBK menyediakan tenaga bodyguard terlatih dan bersertifikat nasional serta internasional. Sementara PB menangani penyediaan tenaga sekuriti, yang juga terlatih dan bersertifikat nasional. Selain di tanah air, kedua perusahaan itu juga memiliki cabang di banyak negara, tempat di mana kesepuluh komisaris utamanya berbisnis. "Masih ada lagi orang yang perlu diselidiki, Mas?" tanya Daegal Jihadi, ketua tim rahasia 11."Ehm, nggak ada. Ini sudah cukup," jawab Atalaric. "Makasih, Da," lanjutnya. "Sama-sama, Mas. Kalau gitu, aku mau balik kerja." "Lagi nyelidikin siapa?" "Pacarnya Sandrina." "Kastara?" "Betul." Atalaric te
01"Papa!" teriak seorang anak laki-laki sembari berjalan cepat menuju sekumpulan orang. "Papa!" jeritnya, sambil memeluk kaki kiri pria bersetelan jas biru tua. Atalaric Pradipta Dewawarman, menunduk. Dia kaget, karena dipanggil Papa oleh bocah yang tidak dikenalinya. Atalaric menatap lelaki kecil yang balas memandanginya penuh kerinduan, dan hal itu menyebabkan hatinya mencelos.Alih-alih menjauh, Atalaric justru berjongkok agar bisa melihat jelas anak tersebut. Sudut bibir Atalaric mengukir senyuman, kala sang bocah memegangi pipi kirinya. "Halo. Namamu, siapa?" tanya Atalaric dengan ramah. "Arfan," jawab anak laki-laki tersebut. "Papa, kumisnya, mana?" tanyanya saat menyadari bila pria itu tidak memiliki kumis. "Dicukur." Atalaric berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau es krim?" desaknya. Arfan Mubarak menganguk semangat. Dia menggenggam jemari pria tersebut dan mengikuti langkah Atalaric, menuju stand di ujung kanan. Seorang pria berbadan tinggi, bergegas mendahului g







