共有

Bab 02

作者: Olivia Yoyet
last update 公開日: 2026-07-31 08:44:48

02

Atalaric membaca biodata Harvitha, yang telah diselidiki tim rahasia PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, yang menjadi rekanannya sejak puluhan tahun silam.

Atalaric dan keluarganya, menjadi salah satu klien pertama PBK dan PB. Kedua perusahaan itu berada dalam 1 grup yang sama, dengan pemilik yang sama pula. Perbedaannya hanya di jenis layanan. PBK menyediakan tenaga bodyguard terlatih dan bersertifikat nasional serta internasional. Sementara PB menangani penyediaan tenaga sekuriti, yang juga terlatih dan bersertifikat nasional. 

Selain di tanah air, kedua perusahaan itu juga memiliki cabang di banyak negara, tempat di mana kesepuluh komisaris utamanya berbisnis. 

"Masih ada lagi orang yang perlu diselidiki, Mas?" tanya Daegal Jihadi, ketua tim rahasia 11.

"Ehm, nggak ada. Ini sudah cukup," jawab Atalaric. "Makasih, Da," lanjutnya. 

"Sama-sama, Mas. Kalau gitu, aku mau balik kerja." 

"Lagi nyelidikin siapa?" 

"Pacarnya Sandrina." 

"Kastara?" 

"Betul." 

Atalaric terdiam sejenak. "Anak-anak cepat sekali besarnya. Padahal, waktu pertama ketemu itu, Sandrina masih SD." 

"Sekarang sudah kuliah, dan punya pacar." 

"Berapa umurnya dia?' 

"20. Pacarnya, 29." 

"What?" 

"Sebab itu, Pak Andra panik. Apalagi cowok itu bukan dari kalangan pengusaha." 

"Kerja apa dia?" 

"Pemain band. Bagian drum." 

"Hmm, pantas Mas Andra cemas. Apalagi Sandrina anak pertama. Cowok yang dekat sama dia mesti diteliti benar-benar. Supaya nggak terjerumus ke pergaulan yang salah." 

"Betul, Mas. Kayak Pak Heru. Cowok yang lagi pendekatan ke Tania, diajak diskusi sampai 1 jam full." 

"Bukan diskusi, tapi interogasi. Parah memang Mas Heru." 

Daegal tersenyum. "Wajar itu, Mas. Semua Papa pasti ingin yang terbaik buat anaknya." 

"Itu, alasan pertama. Alasan kedua, Mas Heru dan Mas Baskara pengen besanan. Tapi Riza dan Tania sudah sepakat, kalau mereka cuma sahabat. Bahkan mereka masing-masing sudah punya gebetan." 

"Banyak yang mendoakan Riza dan Tania beneran jodoh. Termasuk aku. Mereka cocok sekali kalau jadi pasangan." 

"Kita boleh berharap, Da. Tapi, semuanya tergantung keputusan mereka. Mas Heru dan Mas Baskara nggak bisa maksa. Cukuplah drama perjodohan di keluargaku. Karena yang beruntung cuma Mas Heru. Sedangkan aku dan Mbak Sekar, gagal total." 

***

Harvitha menghitung uang tabungannya di dua rekening. Sudut bibirnya terangkat ke atas membingkai senyuman, karena jumlahnya sudah mencukupi untuk membeli motor secara lunas. 

Harvitha sangat menghindari apa pun yang berbentuk cicilan. Pengalaman hidup kedua orang tuanya yang pernah terlilit pinjaman, menjadikan Harvitha bertekad mengupayakan pembelian apa pun secara tunai. 

Ponselnya yang berdering mengagetkan Harvitha. Dia mengambil telepon genggam dari kasur dan mengecek nama penelepon. Mata Harvitha membulat sesaat, sebelum dia menerima panggilan itu. 

"Assalamualaikum," sapa Harvitha. 

"Waalailumsalam," jawab pria di seberang telepon. "Aku ganggu, nggak?" tanyanya. 

"Enggak, Pak. Ada yang bisa dibantu?" 

"Besok, bisa ketemu?" 

"Di mana, dan jam berapa?" 

"Tempatnya, aku belum nentuin. Waktunya, sebelum jam makan siang." 

"Oh, Bapak mau traktir saya?" 

"Ya." 

"Oke, bisa." 

"Sip. Nanti kamu pakai taksi aja. Aku yang bayar biayanya. Ajak Arfan juga. Aku kangen." 

Harvitha belum sempat menyahut, tetapi panggilan itu telah diputus Atalaric. Harvitha masih termangu sembari memegangi ponselnya, meskipun percakapan itu telah berakhir. 

Harvitha meletakkan ponsel ke tempat semula. Dia memegangi dada yang berdegub kencang, sebelum menutupi wajahnya dengan kedua tangan. 

"Ya, ampun. Dia ngajak ketemuan. Aku jadi deg-degan," gumam Harvitha bermonolog. "Aduh! Aku mesti nyiapin bajunya," lanjutnya sebelum bangkit berdiri.

Sekian menit terlewati. Harvitha tengah mematut diri di depan cermin, ketika ponselnya kembali berbunyi. Harvitha menyambar benda itu guna menerima panggilan dari papanya Arfan. 

"Ya, Mas," sapa Harvitha. 

"Ada Arfan di situ, Ta? Mas mau bicara," pinta Afzal Ayman. 

"Enggak ada. Dia ikut sama Ibu ke pengajian." 

"Oh, begitu. Ya, udah, nanti Mas telepon lagi." 

"Hu um." 

"Sampai lupa. Kamu, sehat, Ta?" 

"Alhamdulillah. Mas, gimana?" 

"Aku lagi flu. Minta cuti dan turun dari kapal." 

"Sudah ke dokter?" 

"Sudah. Ini baru pulang dari klinik." 

"Semoga lekas membaik." 

"Aamin." Adzal berdiam diri sejenak untuk menyusun kalimat dalam benak. "Ta, tentang permintaan orang tuaku, apa sudah ada keputusan?" tanyanya. 

Paras Harvitha seketika berubah tegang. "Ehm, belum ada, Mas. Aku masih butuh waktu untuk berpikir." 

"Okay. Never mind." 

"Maaf." 

"No problem, Ta. Aku paham banget. Itu keputusan yang berat." 

"Ehm, ya." 

"Kamu tenang aja. Aku nggak akan maksa. Apa pun keputusanmu, akan kuterima dengan ikhlas." 

*** 

Harvitha menikmati hidangan sembari memerhatikan sekeliling restoran yang ramai, karena saat itu bertepatan dengan jam makan siang. Harvitha menyukai makanan yang dipesannya, yang sangat lezat. 

Harvitha mengalihkan pandangan ke kanan, lalu membantu memotongkan sosis buat anaknya. Harvitha menengadah ketika dipanggil Atalaric. 

"Enggak ada, Pak. Aku nggak ada kerjaan sampai beberapa hari ke depan," terang Harvitha. 

"Kalau weekend, gimana?' tanya Atalaric. 

"Minggu ini, full. Sabtu depannya, ada. Minggunya, kosong." 

"Mau ikut aku?" 

"Ke mana?" 

"Kebetulan, temanku ngadain wedding anniversary. Aku malas datang sendiri, karena pasti digodain mereka." 

"Digodain?" 

"Iya. Julukanku, Raja Bujang Lapuk." 

Harvitha spontan tersenyum. "Julukannya, lucu." 

"Iya, tapi bikin kesal." 

"Ehm, Bapak beneran bujangan?" 

"Apa aku kelihatan kayak duda?" 

Harvitha menggeleng. "Enggak. Bapak masih muda, nggak mungkin duda." 

"Umurku sudah tua, Vit. 39." 

"Ehm, serius?" 

"Iya. Kamu, umurnya berapa?' Atalaric berpura-pura bertanya, padahal dia sudah melihat biodata Harvitha. 

"29." 

"Kalau suamimu?" 

Harvitha tercenung, lalu dia menggeleng. "Papanya Arfan bukan suami saya. Dia suami almarhumah Kakak saya. Ibu kandung Arfan." 

"Sorry. Aku turut berduka." 

"Makasih." 

"Berarti usia kita cuma beda 10 tahun. Bisa, dong, jadi teman." 

"Ehm, bisa." 

"Pacarmu, nggak marah kalau kamu temenan sama Bapak ganteng ini?" 

"Saya nggak punya pacar." 

"Beneran?' 

"Iya." 

"Kenapa?" 

"Kapok. Dulu pernah diselingkuhin. Jadi ngeri buat pacaran lagi." 

Atalaric manggut-manggut. "Jadi korban selingkuhan memang menyakitkan. Apalagi kalau sudah sangat sayang." 

"Hu um." 

"Tapi, aku tipe setia. Tunanganku yang selingkuh, dan ninggalin aku, beberapa hari sebelum hari pernikahan." 

Harvitha tercengang. Dia cepat-cepat merapatkan bibirnya, lalu mengangguk mengerti. Harvitha turut prihatin dengan nasib Atalaric. Dia menduga, jika peristiwa pahit itulah yang menyebabkan Atalaric masih bertahan sendiri. 

Seusai bersantap, ketiganya melangkah ke meja kasir. Atalaric menyelesaikan pembayaran, kemudian dia dan Harvitha kembali jalan sembari memegangi tangan kanan serta kiri Arfan. 

Alzam yang menempati meja terdekat dengan pintu, segera berdiri dan jalan lebih dulu ke tempat parkir. Disusul Atalaric dan Harvitha, serta Arfan. 

"Mas," panggil seseorang yang membuat Atalaric dan Harvitha kompak menoleh ke belakang. 

"Hmm. Jen. Apa kabar?" tanya Atalaric berbasa-basi. 

"Kabarku baik." Jenna Mafaza memandangi perempuan di samping kiri Atalaric. "Hai, aku Jenna," sapanya sembari mengulurkan tangan kanan.

"Halo. Saya, Harvitha," jawab perempuan berambut panjang sambil bersalaman, lalu dia menarik tangan. 

"Ini, siapa?" Jenna menunjuk Arfan. 

"Keponakanku," terang Harvitha. 

"Sorry, Jane. Kami buru-buru," sela Atalaric, sembari membuka pintu belakang mobilnya. "Masuk, Vit, Fan," pintanya yang segera dikerjakan keduanya. 

"Mas, aku perlu bicara berdua dengan Mas," cakap Jenna, sesaat setelah Atalaric menutup pintu mobil. 

"Kita bicarakan nanti," pungkas Atalaric, kemudian dia membuka pintu depan kiri dan langsung memasuki kendaraan. 

Atalaric menutup pintu. Alzam yang telah menyalakan mesin sejak tadi, memundurkan mobil sedikit, lalu melaju keluar area parkir. 

Jenna memandangi mobil itu sembari menyipitkan mata. Dia penasaran dengan sosok Harvitha dan berniat mencari tahu tentang perempuan itu. 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Tergoda Mama Muda   Bab 68

    68Arfan berteriak sesaat setelah pesawat berlogo Baltissen 1 mendarat di landasan. Arfan maju dan menempelkan kedua tangannya ke kaca, sembari memandangi moncong pesawat yang kian mendekat. Sekian menit berlalu. Arfan telah digendong Kairav yang jalan cepat menuju pesawat. Pintu burung besi terbuka dan Jariz keluar lebih dulu sambil menjinjing tas kerjanya. Satu per satu ajudan muda turun. Mereka bergegas mengambil koper para bos dan menyeretnya ke ruang tunggu. Kairav menaiki tangga, lalu menurunkan Arfan guna bisa menjelajahi isi kabin. Arfan menyambangi Atalaric dan beberapa bos yang masih berada di dalam. Alvaro menggenggam tangan kiri Arfan dan mengajaknya memasuki kokpit. Lelaki kecil berkemeja merah itu sempat termangu, memandangi pilot dan kopilor yang merupakan warga negara asing. Namun, kala kopilot menyapanya dengan bahasa Indonesia fasih, Arfan spontan tersenyum. "Om, namanya siapa?" tanya Arfan, sembari memandangi sang kopilot. "Gutierre Benedicto. Aku, Adik sepupu

  • Tergoda Mama Muda   Bab 67

    67 Sidang perdana atas Felix berlangsung secara tertutup. Selain petugas keamanan, banyak polisi yang turut mengamankan sekitar gedung pengadilan. Sebab Felix cukup terkenal di dunia bisnis hiburan tanah air, banyak awak media resmi maupun independen, yang memenuhi area parkir depan gedung. Atalaric tidak hadir dalam sidang itu, karena sedang dinas ke Filipina. Dia diwakili kuasa hukum, dan Caksa, serta Hisyam. Harvitha hadir dengan didampingi Farras, Hasni, dan ketiga sahabatnya. Sebagai pihak penggugat, Harvitha tetap bersikap tenang. Dia duduk di bangku belakang tim kuasa hukum dan nyaris tidak bergerak, hingga persidangan itu usai. Harvitha bangkit dan merapikan gaunnya. Panggilan dari depan membuatnya menengadah, dan memandangi pria berkemeja putih yang tengah berdiri di dekat pagar pembatas. "Terima kasih sudah mau datang," cakap Felix, sesaat setelah Harvitha mendekat."Ya." Harvitha terdiam sejenak, lalu dia bertanya, "Bapak, sehat?" "Lumayan. Ehm, makasih juga atas kir

  • Tergoda Mama Muda   Bab 66

    66Harvitha mengusap set perhiasan di tujuh kotak yang dibukakan Zhou Yiran, di meja toko perhiasannya dan Malya (istri Jariz), yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Harvitha bingung hendak memilih yang mana, karena semuanya bagus. Dia meminta pendapat Atalaric yang juga sama bingungnya. Kemudian Atalaric mengusulkan guna mengirimkan semua foto set perhiasan itu pada Sekar, yang dianggap lebih memahami detail perhiasan. Selama beberapa menit Sekar mengamati setiap detail foto. Lalu dia memberi tanda pada tiga set yang menurutnya paling cocok dengan kepribadian Harvitha. Kemudian Sekar mengirimkan ulang foto itu pada calon Adik iparnya. Harvitha berdiskusi dengan Zhou Yiran, yang kemudian menerangkan setiap detail perhiasan buatannya itu, sebagai bahan pertimbangan sang calon pengantin. "Saranku, ini paling pas buat mahar," ujar Zhou Yiran sambil menunjuk kotak perhiasan kedua. "Yang ini, bisa dipakai untuk akad," lanjutnya sembari memajukan kotak pertama

  • Tergoda Mama Muda   Bab 65

    65*Tim Sukses VYJA*Alvaro : Sudah ada laporan dari tim China? Deswin : Laporan apa? @Padre. Alvaro : Loh! Kok, kekirim ke sini? Padahal tujuanku ke grup VCAZ. Panji : Sudah kuduga, Padre salah grup. Zulfi : Kumat lagi dia. Dimas : Dari 4 hari lalu, Padre sudah beberapa kali salah kirim. Paling sering, ke grup petinggi. Padahal tujuannya ke grup lain.Dhruvi : Padahal profil grupnya beda-beda. Panglima : Harap dimaklumi. Abangku lagi stres ditinggalin istrinya holiday sama ibu-ibu pejabat. Zhao Yichen : Alasan doang, itu. Madre cuma pergi seminggu, dan dengan pengawalan ketat. Varo lebih sering kabur dari rumah tanpa kabar. Yanuar ; Dan bikin orang se-Jakarta heboh nyariin dia. Bikin emosi!Hendri : Ujung-ujungnya, aku sama Z ditelepon W, supaya bantu nyariin Varo, pake mata batin. Zein : Jadi berasa kayak nyari jurig. Kenzo : Hantu kompeni. Irish : Padre paling cakep waktu jadi penjahat di film kung fu itu, yang bintang utamanya Mamados. Kimora : Benar. Aku masih simpan

  • Tergoda Mama Muda   Bab 64

    64 Seunit bus berhenti di depan lapas kejaksaan. Beberapa tahanan turun dengan didampingi satu petugas per orang. Mereka diarahkan menuju ruangan luas, lalu dipersiapkan duduk.Satu per satu pengacara maju ke dekat meja petugas pencatatan, guna memastikan kelengkapan dokumen klien masing-masing. Kemudian, para lawyer itu mengekori langkah kliennya yang diantarkan petugas ke sel khusus tahanan baru. Felix dan Miko menjadi dua tahanan terakhir yang diarahkan petugas ke area dalam. Namun, mereka tidak ditempatkan di sel yang sama dengan beberapa tahanan sebelumnya. Felix dan Miko diantarkan ke ruangan kecil di sudut kanan lorong panjang. Sekian menit berlalu. Sang petugas dan pengacara telah keluar dari kamar itu. Felix merebahkan tubuh di kasur bawah. Sedangkan Miko tengah memindahkan pakaian dari koper ke lemari kecil di pojok kiri ruangan. "Kayaknya cuma kita yang ditempatkan di kamar kayak gini," ucap Miko, sembari duduk di bangku depan meja kecil. "Ya. Ini ruangan VIP buat taha

  • Tergoda Mama Muda   Bab 63

    63Harvitha menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia meraba kristal swarovsky yang melapisi seluruh bagian kain luar gaun pengantinnya. Sinar ratusan permata itu tampak berkilau di cermin, dari bagian leher sampai lantai yang menutupi kedua kaki perempuan tersebut. Harvitha kaget kala Dahayu menyisiri rambutnya, sebelum digelung sederhana. Risty memasangkan tiara yang dijepit rapi di semua sisi. Kedua desainer itu merapikan kain tile penutup tiara yang menjuntai sampai lantai. Setelahnya, Harvitha duduk di bangku dekat meja rias. Tangan Elma, istri Zhao Yichen, bergerak cepat memoleskan bedak dan kosmetik tipis ke wajah sang calon pengantin. Tawa Elma menguar kala Kayra juga meminta didandani, tetapi diprotes Maheen dan Mira. "Kamu tunggu Lula datang, Kay. Dia yang nangani riasan pengiring pengantin," goda Risty, istri Ferdianto, sembari mengupas kulit jeruk. "Sekalian pasang inai?" tanya Kayra. "Belumlah. Itu H minus 1 baru dipasang. Setelah acara siraman," terang Risty."A

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status