Se connecterRaniya langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga dengan Abimana berada di sampingnya, menggenggam tangan Raniya yang terasa basah dan tegang. Beberapa kali perempuan itu mengeluh kesakitan, sekian kali juga Abimana merasa bersalah sekali karena Raniya tidak mungkin merasakan itu jika bukan atas dirinya. “Sayang, sabar ya,” katanya. Raniya mengangguk. “Mas Abi, aku sabar loh!” balasnya protes, sebab sejak tadi dia sudah meredam keluhnya. Namun, si calon ayah yang sedang cemas campur aduk itu tidak bisa tenang, pikirannya ke mana-mana. Bahkan, daripada Raniya lebih keras pikiran Abimana sampai sekujur tubuhnya sakit semua dan tidak bisa berpikir jernih. Sesampainya di rumah sakit, ketenangan yang biasanya selalu unggul dalam diri Abimana hilang entah ke mana. Mulai dari memanggil petugas sampai menunggu Raniya diperiksa, Abimana mondar-mandir untuk memastikan Raniya mendapatkan pelayanannya yang cepat. “Tante, Mas Abi jangan boleh muter-muter gitu!” kata Raniya di tengah le
Terlepas dari semua masalah yang ada, perang batin dengan harapan bersama orang tua, Raniya berusaha untuk tetap fokus pada kandungannya yang sebentar lagi menemui titik akhir. Dia dan bayinya akan segera bertemu, beberapa rutinitas persiapan untuk kelancaran persalinannya mulai intens Raniya lakukan. Tak lupa saran dari para orang tua di keluarga suaminya, dia lakukan semampunya dan sesuai arahan. “Seorang ibu itu katanya masih butuh ibu loh, Mas Abi. Nggak kebayang ya dulu atau sekarang mereka yang jauh dari orang tua atau mungkin udah nggak ada ibu, gimana mereka lewatin hari-harinya. Nggak semua bisa dekat dengan keluarga besar dan aku masih sangat beruntung mempunyai suami dengan keluarga besar yang rukun,” katanya yang tengah bersandar pada dada Abimana, pria itu bertelanjang dada. “Tiap kali aku down, aku selalu inget kalau masih banyak yang lebih dan aku punya, walaupun nggak sempurna dan mungkin dianggap nggak cukup, tapi itu masih untung ya, kan?” Abimana mengangguk, mere
Ngilu menjalar ke seluruh permukaan perut itu, ditambah efek dari ucapan Diniati yang kembali menghadirkan luka lama Raniya, sakitnya lebih tajam sampai mengeluh pun suaranya tidak keluar. “Raniya,” ucap Abimana mengepalkan tangannya, dia datang terlambat meskipun tak lewat dari rencananya. Perempuan itu diam dengan satu tangan menyentuh perut besarnya, ngilu di sana sudah mereda, tetapi ucapan dan sikap Diniati masih membekas, pun membangkitkan insecure yang mati-matian dilawan. “Mas, Mas Abi ganti baju, terus makan ya!” katanya tak membahas yang tadi. “Iya, setelah kamu peluk aku!” kata Abimana mencoba memahami, saat ini Raniya sedang tidak ingin banyak ditanya, maka dia tunjukkan kepatuhan sebagai bentuk penghargaan pada perempuan itu. Raniya lantas bergerak maju, semenjak perutnya membesar memang cukup sulit menempel pada suaminya, posisi menyamping begini dirasa lebih aman dan nyaman. Terdengar helaan berat di sana, Abimana terpejam singkat, berupaya untuk tak bertany
Calon bayi perempuan itu memang menyita perhatian, setelah menikah dengan Raniya ada beberapa waktu yang Abimana ringkas dan pangkas agar pekerjaan tak membuat kebersamaan mereka terganggu. Sekarang, Abimana hendak meringkas kembali agendanya sehingga kelak selepas persalinan dirinya mempunyai waktu yang luang sekali untuk bersama Raniya dan putri kecil mereka. “Waduh, lama-lama ini penuh mejanya sama foto dedek!” celetuk Dani terperangah, banyak salinan foto USG disimpan di bawah kaca meja. “Sudah dapat namanya, Pak?” Abimana terkekeh, selalu bersemangat sekali meskipun jenuh diserang banyak pekerjaan, ketika tentang calon putrinya disebut, ketegangan itu hilang, berganti dengan senyum hangat khas seorang bapak sekali. “Ada beberapa, masih dipertimbangkan Raniya. Kemarin yang terakhir ini, dia senyum loh, Dan. Cantik sekali!” jawabnya menunjukkan foto USG terakhir. Kening Dani mengernyit, dia yang masih awam sekali soal per-bayian tentu tidak terlalu paham senyum cantik yang di
Menahan diri cukup lama demi menjaga kondisi istrinya sekaligus tak ingin Raniya yang tengah menikmati malasnya di masa kehamilan awal. Seperti itu, pahamnya Abimana dan pengertiannya pada Raniya. “Mas!” lenguh Raniya melepaskan pagutan bibirnya. “Hm, apa?” Abimana mendorong pelan, sebisa mungkin tak menyakiti. Namun, gerakan seperti itu malah membuat Raniya gila dan tersiksa. Rasanya ditarik ulur, dibuat tinggi kemudian terhempas begitu saja, mengikis ketenangannya dengan suara-suara yang tak bisa ditahan sama sekali. Di bawah tubuh Abimana yang mengkilap basah nan menggoda, Raniya terkagum pasrah bagai tawanan yang siap melakukan apa saja sekaligus memberontak. “Maas!” Raniya mengalungkan kedua tangannya ke leher Abimana, menatap lekat penuh harap agar segera diselesaikan. “Apa?” Abimana menciumi leher dan telinga Raniya, masih berada di atas istrinya dengan ayunan yang sedikit dipercepat. “Sayang, hm? Apa?” Raniya meringik, dilema antara mau berhenti dan tidak. Otakny
Persiapan untuk acara syukuran pindah rumah sekaligus kehamilan Raniya hampir rampung, dengan dibantu keluarga besar Abimana, segalanya terasa lebih mudah, pun Raniya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. “Ayahnya dateng nggak, Bi? Tante liat dia kayak kecarian gitu.” Tante melirik Raniya yang tengah mencicipi kue kering untuk buah tangan. Abimana merendahkan kepalanya. “Sepertinya, tapi semalam aku sudah ngobrol sama Raniya, Te. Dia udah ngerti dan sempet telpon ayahnya juga,” katanya. “Mungkin nunggu, Bi. Sabar ya!” Abimana mengangguk, lalu menghampiri istrinya itu, merebut kue yang hampir masuk ke mulut kemudian berpindah ke mulutnya sambil memamerkan senyum seolah menang. Sementara, Raniya reflek melongo, tiba-tiba saja kue di tangannya hilang dan ternyata Abimana yang mengambilnya. “Mas, bekas gigitanku loh!” “Memangnya, kenapa?” Abimana meletakkan tangannya ke atas kepala Raniya, mengusapnya lembut. “Jangankan bekas gigitanmu, yang ada di mulutmu saja pernah
“Harus banget dicobain di depan kamu?” Raniya malu-malu, terlebih ia hanya memakai pakaian tipis supaya lebih mudah berganti-ganti. Abimana mengangguk, setelah tadi ia harus menahan diri di toko pakaian, sekarang atas ide dadakannya dengan Raniya yang menggoda. “Cepet-cepet ya, kan banyak!” kata
Mata Raniya tak berhenti melotot sejak keterangan Abimana tadi, bahkan ia berjalan awas di samping pria itu sambil melihat sekita. “Nyari siapa?” Abimana menarik lengan Raniya agar lebih dekat dengannya. “Siapa tau ketemu sama temen deketnya itu,” jawab Raniya melengos lagi. Cemburu? Boleh Abim
“Jadi, apa rencana Bapak selanjutnya?” Dani cukup memikirkan persoalan atasannya itu, satu tahun itu tidak lama dan mereka harus mempersiapkan banyak hal untuk menangani imbasnya. “Bu Sena sudah mulai membahas soal penerus dan tentu saja dari anda, Pak,” ungkapnya. Abimana terpejam mata, kepalany
Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepa







