INICIAR SESIÓN[Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]
Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana. “O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?” Raniya meremas lututnya, mengabaikan luka di telapak tangannya itu. “Aku mau ajak ketemuan kalau bisa,” imbuhnya. [Bisa, Raniya. Kapanpun kamu mau ketemu bakal aku usahakan. Bilang aja kamu mau ketemu kapan! Untuk kamu, selalu aku usahakan!] Buaya! Baru saja ingin mencabut julukan brengsek pada Abimana, dibuat kesal lagi. Nada bicara khas Abimana yang mampu membuat para wanita terpikat, kecuali dirinya. “Oke, besok aku kabari lagi ya, Om. Makasi banyak ya!” kata Raniya jauh lebih lega, setidaknya tahap awal mengajak Abimana itu berhasil. [Sama-sama, Raniya. Aku simpan ya nomor barumu, sampai ketemu lagi!] Raniya hanya bergumam sebelum mengakhiri panggilan itu lebih dulu, ia meraba dadanya yang berdegup kencang sekali. Seumur hidup, Raniya tidak pernah menyusun rencana gila, terlebih untuk menolak dan mengecewakan orang tuanya. Akan tetapi, segalanya rumit sekarang dan tidak ada solusi lain, kecuali dirinya siap melihat orang tuanya dipermalukan yang bukan karena penolakan biasa, melainkan dirinya yang terbukti tak gadis lagi. Mungkin bagi sebagian orang itu wajar mengingat pergaulan jaman sekarang, tetapi sebagian besar masih sangat menganggap hal itu sangat sakral. *** “Kayaknya, bakalan ujan badai nih!” celetuk Ronal disusul kekehan. “Cewek mana yang udah bikin lo gini, heh?” Abimana mendecakkan lidah. “Nggak usah ikut campur, urus aja saham yang lagi ancur itu!” “Mati botak gue kalau ngurus itu terus, Bi!” sahut Ronal seraya menarik kursi dan duduk di depan Abimana. “Gue udah kenal lo lama, habis ditinggal si cewek masa pertumbuhan itu, muka lo nggak ada seger-segernya, ke club juga malah jadi patung. Apa jangan-jangan kemarin lo ketemu cewek yang cocok waktu datengin undangan Reza di club, hah? Ngaku!” “Nggak ada!” jawab Abimana tak acuh. “Mana bisa nggak ada! Reza bilang lo nggak sampe acara selesai, ngilang aja. Lo ke mana? Bawa cewek mana?” Ronal masih saja mendesak, pria itu bisa ribut kalau Abimana tidak kunjung menjawab. Namun, Abimana memilih bungkam untuk sekarang. Dua hari setelah Raniya menelpon Abimana, akhirnya wanita itu mengirimkan pesan baru berisikan alamat tempat untuk pertemuan mereka. Hal yang paling kedua tunggu meskipun diam-diam tujuannya berbeda. Raniya memakai kemeja lengan panjang vest warna coklat dan celana loose pants coklat senada dengan vest-nya. Rambut panjang dengan sedikit bergelombang itu dibiarkan tergerai bebas, hanya ada jepit di poni depan supaya tak mengganggu pandangan. Abimana: Maaf terlambat, baru selesai meeting. Sepuluh menit lagi ya! Raniya menghela nafasnya sambil melihat sekitar, berharap tak ada yang mengenalinya di sana, ia memilih cafe yang cukup jauh dari kantor dan rumah. Tetapi, terbilang dekat dari kantor Abimana. Raniya memesan lebih dulu, lalu duduk di meja paling ujung, memilih di indoor nya. “Kamu … Raniya Prabeswari, kan?” Suara salah seorang pria menegur Raniya dari lamunannya, wanita itu lantas menoleh, memiringkan kepalanya tak mengenali. “Ah, bener ternyata! Kamu nggak ngenalin aku? Padahal, aku aja udah liat foto kamu loh dari mamiku!” Raniya masih belum menangkap jelas, memilah satu per satu di kepalanya seraya mengingat-ingat. Pria itu berdiri, meninggalkan meja dan dua teman yang juga ikut memperhatikan Raniya. Ia datang ke depan Raniya sambil mengulurkan tangannya. “Bagas Aksara, cowok yang mau dikenalin ke kamu sama para ibu-ibu itu!” katanya memperkenalkan diri. Raniya mengerjap mata, lalu segera membalas uluran tangan itu, bersalaman singkat sembari berdiri menghormati Aksara. “Ma-maaf, aku nggak ngenalin kamu soalnya baru lihat sekali di foto itu!” kata Raniya malu parah. Aksara terkekeh, matanya jelalatan melihat Raniya dari ujung rambut sampai kaki, kebetulan Raniya memakai sandal teplek krem yang memperlihatkan kuku-kuku pendeknya tanpa kutek. Raniya sampai mencengkeram sandalnya, mudah sekali insecure. “Kamu sendirian?” tanya pria itu. Raniya mengangguk. “Iya, lagi ada janji sama temen di sini, tapi dia belum datang,” jawabnya bingung sekaligus cemas kalau Abimana mendadak muncul, sedangkan idenya belum terlalu matang. “Pantes sih!” celetuk Aksara. “Pantes apa maksud kamu?” Raniya bertambah bingung karena dua teman Aksara ikut tertawa sambil melihatnya. “Pantes kamu ditinggal selingkuh, model pakaianmu kayak gini, nggak menarik!” jelas Aksara disusul gelak tawa dua temannya bergantian. “Cantik sih cantik, cuman bikin sepet mata! Ini kalau diajak jalan, nggak ada seru-serunya, udah keliatan bosenin!” “Kam—” “Aku jujur aja ya, Raniya. Tapi, nggak apa sih! Nanti, kalau kamu jadi sama aku bakal diubah semua, nggak mau aku penampilanmu gini. Ibarat udah capek kerja, liatin data banyak banget, debat sama orang-orang, taunya kamu nggak seger, makin capek nggak sih, hah!” Aksara seakan tak memberikan kesempatan pada Raniya untuk membalas. “Jabatan aku keren. Nggak lucu kalau bawa cewek atau istri outfit nya kayak gini! Yang seksi dong, ini kayak orang mau nengokin orang sakit! Terus, kemana-mana cuman gandengan doang lagi!” Pria itu menertawakannya, sepertinya sang ibu menceritakan semua. Raniya mengepalkan kedua tangannya, dirinya diam agar nama baik orang tuanya terjaga, Raniya tidak mau menambah beban pada orang tuanya dan rencananya untuk membatalkan perjodohan itu gagal. Alasan seperti tadi tidak akan diterima dengan mudah oleh orang tuanya, terutama sang ibu. Maka, Raniya tetap teguh dengan rencana awalnya, yakni memanfaatkan Abimana sebagai alasannya. Raniya mengulum senyum. “Maaf ya, tapi aku akan berubah kok!” katanya menelan pahit sendiri. Tidak mantan calon suami, ibu, si mantan dan calon barunya, semuanya hanya bisa membuat Raniya semakin insecure. “Sampai ketemu lagi nanti di undangan keluarga kita ya, Raniya. Jangan lupa buat tampil cantik di sana!” kata Aksara. “Yang cantik kayak yang aku jelasin tadi, oke! Aku nggak mau kalau sampe kamu cupu—” “Siapa yang cupu?” sahut Abimana yang entah sejak kapan berada di sana, tiba-tiba saja menyahuti ucapan Aksara yang pedas. Ia berjalan mendekat, berdiri ke samping Raniya yang terkejut dengan kehadirannya. “Perempuan ini yang kamu bilang cupu? Asal kamu tau aja ya, cantik nggak harus pakai baju terbuka!” “Waaaah! Siapa lo pake segala belain dia?” Aksara mendorong bahu Abimana, melihat itu Raniya mengkerut, sebab Abimana lebih tua dari Aksara, bisa-bisa habis calon kenalannya itu. Tangan itu ditangkap dan dicengkeram kuat oleh Abimana sampai Aksara mengadu kesakitan. “Om—” lirih suara Raniya. “Diem, Raniya!” ucap Abimana seraya menarik Raniya berpindah posisi ke belakang punggungnya. Lalu, kembali menatap Aksara yang masih mengadu meskipun tangannya sudah dilepaskan. “Saya nggak asal belain dia, tapi sekalian ngasih tau modelan cacing pita kayak kamu itu nggak usah sok! Jabatan keren apa yang nuntut pasangan pake baju seksi, kamu pikir pasanganmu itu barang pajangan yang mau ditawarkan, hah? Kalau nggak mau, bilang aja nggak mau, nggak perlu ngehina atau nilai orang!” Raniya menegakkan kepalanya menatap Abimana yang tengah melindunginya, kata-katanya membuat hati Raniya menghangat meskipun masih kesal. Tetapi, kehadiran Abimana yang mengejutkan itu memang sangat diharapkan tadi, di sana semua orang hanya melihat tanpa berniat membantu. Raniya semakin percaya diri jika rencananya akan berjalan mulus. “Dari perusahaan mana kamu?” tanya Abimana mengeluarkan ponselnya, ia bisa mencari dengan cepat. Mendengar itu, dua teman Aksara langsung berdiri dan menghampiri, mengajak Aksara menyudahi semua daripada urusannya menjadi panjang. “Udah, lagian malu dikira rebutin cewek modelan gini!” kata salah seorang teman Aksara. Aksara menatap tajam Abimana yang tak kalah tajamnya, terlebih masih tinggi dan besar Abimana. “Saya bisa nyari data kalian—” “Om, udah, Om!” pinta Raniya berucap pelan di belakang Abimana. Abimana memutar tubuhnya usai memastikan tiga pria itu meninggalkan cafe, kedua tangannya mencengkeram lembut lengan Raniya. “Siapa pria tadi?” tanyanya.Pertama kali keluar bersama mertua, Ziya agak canggung dan gugup tadi, beruntung ibu mertuanya itu ramah dan hangat sekali, dia merasa tidak hanya menjadi menantu di sini, melainkan anak perempuan. “Kamu nanti duduk-duduk aja, nggak usah pake banyak gerak dulu, biar badannya pulih!” kata Raniya menuturkan pada menantunya yang sudah banyak gerak itu, padahal baru saja pulang dari rumah sakit. Ziya mengangguk, sebenarnya juga dia merasa ingin berbaring dan meluruskan kaki, tetapi hal seperti ini jarang sekali, bahkan tidak pernah dia pergi berbelanja bersama seorang ibu, Ziya seperti tidak mau membuang kesempatan. “Tan—” “Mama!” Raniya meralatnya, Ziya sudah menjadi anaknya sekarang. “Panggilannya diganti, nanti papamu juga ngambek kalau dipanggil om-om ya!” katanya tertawa, mengingat momen dulu ketika dia suka sekali memanggil sang suami dengan panggilan Om karena selisih umur mereka yang cukup jauh. “Iya, Mama … jangan marah ya, hehehe!” Melihat itu, bagaimana Raniya tidak gem
“Kak Zayn!” Ziya berucap lirih usai ciuman dengan penuh kerinduan itu selesai, bibirnya yang tadi lembab dan berwarna, kini hanya tersisa warna tipis juga agak bengkak. “Ganas sekali!” celetuknya. Zayn tergelak, menahan diri setelah sekian lama dan dengan Ziya yang menggemaskan begitu, rasanya tak bisa lagi. Zayn tidak hanya mengandalkan nafsunya sebagai pria dewasa, tetapi perasaan besarnya yang tak ingin menunda lagi kebersamaan mereka, memutus jarak yang memisahkan mereka dengan status sah seperti Kia dan Ghana. Dia ingin perempuan itu segera menjadi istrinya, Zayn akan menunjukan istana yang tepat untuk Ziya tanpa perlu bersusah payah lagi. “Aku jadi takut,” kata Ziya kepikiran. “Takut apa?” “Kak Zayn hanya ingin melampiaskan nafsu saja denganku, lalu aku dibu—” Ziya dibungkam lagi, kali ini lebih keras hisapannya, tetapi singkat. “Sekali lagi menuduhku begitu, aku cium di depan mama papa!” ancam pria itu. Ziya mengkerut takut, lalu bergeser mendekat memeluk raga besar
Malam itu, faktanya ada saksi yang melihat kebersamaan Zayn dan Ziya. Usianya mungkin sudah tua, tetapi dia tetap seorang ayah dan pengusaha ulung yang tidak bisa semudah itu melepaskan tanggung jawab, apalagi yang berurusan dengan anaknya. “Papa sudah mencari tau soal keluarganya, Zayn. Kepikiran memang iya, tanyakan saja pada Mamamu! Tapi, tanpa melihat latar belakangnya, Ziya tak mempunyai kesalahan selain dia mengiyakan untuk lahir di sana, di keluarga yang sama sekali tidak menghargainya. Kalau kamu perlu bantuan, Papa bisa. Ghana?” Ghana reflek menegakkan punggungnya. “Saya sudah berbicara dengan Kia dan ini tidak ada masalah sama sekali. Saya siap membantu,” jawabnya. Abimana tersenyum mendengar itu, tak salah dia memberikan restu putrinya untuk menikah dengan Ghana, selain mempunyai taktik yang hebat dalam usaha, pria itu sangat bisa diandalkan. “Kita bisa berunding caranya, tapi kamu nggak mau ajak gadis itu ke rumah, Zayn?” Abimana menoleh pada istrinya. “Kita kan juga m
“Ziya?” Kening Ghana mengerut begitu mengulang nama itu. Kia mengangguk. “Keluarganya terkenal sangat problematik, sejak lama dan sampai sekarang soal statusnya sebagai anak seorang simpanan terus diperbincangkan tanpa mau mendengar juga mengenal bagaimana Ziya sebenarnya. Dia dihakimi, pernah dijual, dilecehkan, lalu dinikahkan tanpa status jelas kemudian ditinggalkan demi kepentingan pribadi keluarganya. Dia ada di sana hanya untuk dimanfaatkan, pribadinya yang polos dan terbentuk dari tekanan memudahkan orang lain menjebaknya,” jelasnya ikut merasakan sakit. Ghana terdiam, ia banyak mendengar kebejatan orang-orang di luar sana, tetapi kali ini jauh lebih dari sekadar bejat, terlebih keluarga. Dia pernah nakal, menjadi pribadi yang susah sekali diatur, hanya lagi dan lagi Ghana tak percaya ada keluarga yang memperlakukan anak perempuannya seperti binatang meskipun terlahir dari wanita simpanan, tetap saja Ziya darah daging mereka, di dalam diri Ziya mengalir kuat gen mereka yan
Ziya masih sangat canggung dengan hubungan mendadaknya bersama Zayn itu, walaupun Zayn tidak memburunya seperti diawal sebelum dia akhirnya menerima di rumah makan itu, tetapi perhatian yang Zayn berikan ketika pria itu tidak sibuk cukup membuatnya cemas. “Tapi, kalau nggak dikabarin akunya juga waswas,” gumamnya tak keluar rumah seperti yang Zayn katakan. Ziya melorotkan kedua bahunya, cidera mental sejak kecil dengan lingkungan keluarga yang sangat beracun menjadikannya selalu sangat bergantung pada orang baru. Ziya sudah mencoba memberikan batasan, tetapi kesungguhan Zayn hari itu cukup menggoyahkannya sehingga hubungan mereka langsung diberi status. Dia bagaikan daun kering yang terbawa angin, setiap kali raganya menemukan tempat berhenti, begitu kuat bertahan, walau akhirnya tempat itu membiarkan dia pergi lagi terbawa angin. “Semoga dia tidak,” ucap Ziya kesekian kalinya, putus asa mulai menyerang. Zayn: Bisa aku telpon? Mata Ziya mengerjap, pria itu seperti dekat sekali sa
“Iya, iya, nggak ada! Aku cuman bercanda, sumpah!” kata Ziya daripada masalahnya semakin melebar, menghadapi Zayn seorang diri sama saja mempersiapkan diri untuk mati. “Kita di sini, aku nggak ada janji—” “Pakaian itu?” Ziya menunduk melihat pakaian yang tadi dia banggakan untuk bertemu yang lain. “Hahaha, ini jelas aku persiapkan buat … ketemu kamu, kan malu kalau nggak sepadan,” cicitnya. Sorot tajam Zayn reflek berubah teduh, ada senyum tipis di mata itu mendengarkan pengakuan dari Ziya yang sesuai dengan prasangkanya tadi, perempuan itu memang mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin meskipun pengakuannya sekarang hanya agar tidak malu saja. “Memangnya, aku menuntut kamu untuk sepadan? Kita berbeda?” Zayn mencapit dagu Ziya sehingga mendongak menatapnya. “Kita sepadan, Zi. Soal bagaimana hidupmu, aku tau dan menerima itu tanpa kamu minta. Jadi, bisakah kita mencoba berjalan?” “Jalan?” Ziya mengerjap bingung. Zayn menganggukkan kepala, dirinya kembali duduk di temp
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan ka
Abimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain. “Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, ba
“Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya. Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum ka
“Dia ganteng, pinter, baik, mapan, sayang keluarga … pilihan Mama nggak mungkin salah, Raniya. Lihat baik-baik!” terang Diniati sambil menunjuk kelima foto pria tampan itu bergantian dengan gaya yang berbeda. “Namanya Aksara, seganteng wajah dan sifatnya!” “Memangnya, Mama udah kenal banget sampe







