Beranda / Semua / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 4. Pertemuan Tak Terduga

Share

Bab 4. Pertemuan Tak Terduga

Penulis: Moonlight
last update Tanggal publikasi: 2026-03-31 12:26:51

[Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]

Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana.

“O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?” Raniya meremas lututnya, mengabaikan luka di telapak tangannya itu. “Aku mau ajak ketemuan kalau bisa,” imbuhnya.

[Bisa, Raniya. Kapanpun kamu mau ketemu bakal aku usahakan. Bilang aja kamu mau ketemu kapan! Untuk kamu, selalu aku usahakan!]

Buaya!

Baru saja ingin mencabut julukan brengsek pada Abimana, dibuat kesal lagi. Nada bicara khas Abimana yang mampu membuat para wanita terpikat, kecuali dirinya.

“Oke, besok aku kabari lagi ya, Om. Makasi banyak ya!” kata Raniya jauh lebih lega, setidaknya tahap awal mengajak Abimana itu berhasil.

[Sama-sama, Raniya. Aku simpan ya nomor barumu, sampai ketemu lagi!]

Raniya hanya bergumam sebelum mengakhiri panggilan itu lebih dulu, ia meraba dadanya yang berdegup kencang sekali.

Seumur hidup, Raniya tidak pernah menyusun rencana gila, terlebih untuk menolak dan mengecewakan orang tuanya. Akan tetapi, segalanya rumit sekarang dan tidak ada solusi lain, kecuali dirinya siap melihat orang tuanya dipermalukan yang bukan karena penolakan biasa, melainkan dirinya yang terbukti tak gadis lagi.

Mungkin bagi sebagian orang itu wajar mengingat pergaulan jaman sekarang, tetapi sebagian besar masih sangat menganggap hal itu sangat sakral.

***

“Kayaknya, bakalan ujan badai nih!” celetuk Ronal disusul kekehan. “Cewek mana yang udah bikin lo gini, heh?”

Abimana mendecakkan lidah. “Nggak usah ikut campur, urus aja saham yang lagi ancur itu!”

“Mati botak gue kalau ngurus itu terus, Bi!” sahut Ronal seraya menarik kursi dan duduk di depan Abimana. “Gue udah kenal lo lama, habis ditinggal si cewek masa pertumbuhan itu, muka lo nggak ada seger-segernya, ke club juga malah jadi patung. Apa jangan-jangan kemarin lo ketemu cewek yang cocok waktu datengin undangan Reza di club, hah? Ngaku!”

“Nggak ada!” jawab Abimana tak acuh.

“Mana bisa nggak ada! Reza bilang lo nggak sampe acara selesai, ngilang aja. Lo ke mana? Bawa cewek mana?” Ronal masih saja mendesak, pria itu bisa ribut kalau Abimana tidak kunjung menjawab.

Namun, Abimana memilih bungkam untuk sekarang.

Dua hari setelah Raniya menelpon Abimana, akhirnya wanita itu mengirimkan pesan baru berisikan alamat tempat untuk pertemuan mereka. Hal yang paling kedua tunggu meskipun diam-diam tujuannya berbeda.

Raniya memakai kemeja lengan panjang vest warna coklat dan celana loose pants coklat senada dengan vest-nya. Rambut panjang dengan sedikit bergelombang itu dibiarkan tergerai bebas, hanya ada jepit di poni depan supaya tak mengganggu pandangan.

Abimana: Maaf terlambat, baru selesai meeting. Sepuluh menit lagi ya!

Raniya menghela nafasnya sambil melihat sekitar, berharap tak ada yang mengenalinya di sana, ia memilih cafe yang cukup jauh dari kantor dan rumah. Tetapi, terbilang dekat dari kantor Abimana. Raniya memesan lebih dulu, lalu duduk di meja paling ujung, memilih di indoor nya.

“Kamu … Raniya Prabeswari, kan?” Suara salah seorang pria menegur Raniya dari lamunannya, wanita itu lantas menoleh, memiringkan kepalanya tak mengenali. “Ah, bener ternyata! Kamu nggak ngenalin aku? Padahal, aku aja udah liat foto kamu loh dari mamiku!”

Raniya masih belum menangkap jelas, memilah satu per satu di kepalanya seraya mengingat-ingat.

Pria itu berdiri, meninggalkan meja dan dua teman yang juga ikut memperhatikan Raniya. Ia datang ke depan Raniya sambil mengulurkan tangannya.

“Bagas Aksara, cowok yang mau dikenalin ke kamu sama para ibu-ibu itu!” katanya memperkenalkan diri.

Raniya mengerjap mata, lalu segera membalas uluran tangan itu, bersalaman singkat sembari berdiri menghormati Aksara.

“Ma-maaf, aku nggak ngenalin kamu soalnya baru lihat sekali di foto itu!” kata Raniya malu parah.

Aksara terkekeh, matanya jelalatan melihat Raniya dari ujung rambut sampai kaki, kebetulan Raniya memakai sandal teplek krem yang memperlihatkan kuku-kuku pendeknya tanpa kutek. Raniya sampai mencengkeram sandalnya, mudah sekali insecure.

“Kamu sendirian?” tanya pria itu.

Raniya mengangguk. “Iya, lagi ada janji sama temen di sini, tapi dia belum datang,” jawabnya bingung sekaligus cemas kalau Abimana mendadak muncul, sedangkan idenya belum terlalu matang.

“Pantes sih!” celetuk Aksara.

“Pantes apa maksud kamu?” Raniya bertambah bingung karena dua teman Aksara ikut tertawa sambil melihatnya.

“Pantes kamu ditinggal selingkuh, model pakaianmu kayak gini, nggak menarik!” jelas Aksara disusul gelak tawa dua temannya bergantian. “Cantik sih cantik, cuman bikin sepet mata! Ini kalau diajak jalan, nggak ada seru-serunya, udah keliatan bosenin!”

“Kam—”

“Aku jujur aja ya, Raniya. Tapi, nggak apa sih! Nanti, kalau kamu jadi sama aku bakal diubah semua, nggak mau aku penampilanmu gini. Ibarat udah capek kerja, liatin data banyak banget, debat sama orang-orang, taunya kamu nggak seger, makin capek nggak sih, hah!” Aksara seakan tak memberikan kesempatan pada Raniya untuk membalas.

“Jabatan aku keren. Nggak lucu kalau bawa cewek atau istri outfit nya kayak gini! Yang seksi dong, ini kayak orang mau nengokin orang sakit! Terus, kemana-mana cuman gandengan doang lagi!” Pria itu menertawakannya, sepertinya sang ibu menceritakan semua.

Raniya mengepalkan kedua tangannya, dirinya diam agar nama baik orang tuanya terjaga, Raniya tidak mau menambah beban pada orang tuanya dan rencananya untuk membatalkan perjodohan itu gagal. Alasan seperti tadi tidak akan diterima dengan mudah oleh orang tuanya, terutama sang ibu. Maka, Raniya tetap teguh dengan rencana awalnya, yakni memanfaatkan Abimana sebagai alasannya.

Raniya mengulum senyum. “Maaf ya, tapi aku akan berubah kok!” katanya menelan pahit sendiri.

Tidak mantan calon suami, ibu, si mantan dan calon barunya, semuanya hanya bisa membuat Raniya semakin insecure.

“Sampai ketemu lagi nanti di undangan keluarga kita ya, Raniya. Jangan lupa buat tampil cantik di sana!” kata Aksara. “Yang cantik kayak yang aku jelasin tadi, oke! Aku nggak mau kalau sampe kamu cupu—”

“Siapa yang cupu?” sahut Abimana yang entah sejak kapan berada di sana, tiba-tiba saja menyahuti ucapan Aksara yang pedas. Ia berjalan mendekat, berdiri ke samping Raniya yang terkejut dengan kehadirannya. “Perempuan ini yang kamu bilang cupu? Asal kamu tau aja ya, cantik nggak harus pakai baju terbuka!”

“Waaaah! Siapa lo pake segala belain dia?” Aksara mendorong bahu Abimana, melihat itu Raniya mengkerut, sebab Abimana lebih tua dari Aksara, bisa-bisa habis calon kenalannya itu.

Tangan itu ditangkap dan dicengkeram kuat oleh Abimana sampai Aksara mengadu kesakitan.

“Om—” lirih suara Raniya.

“Diem, Raniya!” ucap Abimana seraya menarik Raniya berpindah posisi ke belakang punggungnya. Lalu, kembali menatap Aksara yang masih mengadu meskipun tangannya sudah dilepaskan.

“Saya nggak asal belain dia, tapi sekalian ngasih tau modelan cacing pita kayak kamu itu nggak usah sok! Jabatan keren apa yang nuntut pasangan pake baju seksi, kamu pikir pasanganmu itu barang pajangan yang mau ditawarkan, hah? Kalau nggak mau, bilang aja nggak mau, nggak perlu ngehina atau nilai orang!”

Raniya menegakkan kepalanya menatap Abimana yang tengah melindunginya, kata-katanya membuat hati Raniya menghangat meskipun masih kesal. Tetapi, kehadiran Abimana yang mengejutkan itu memang sangat diharapkan tadi, di sana semua orang hanya melihat tanpa berniat membantu.

Raniya semakin percaya diri jika rencananya akan berjalan mulus.

“Dari perusahaan mana kamu?” tanya Abimana mengeluarkan ponselnya, ia bisa mencari dengan cepat.

Mendengar itu, dua teman Aksara langsung berdiri dan menghampiri, mengajak Aksara menyudahi semua daripada urusannya menjadi panjang.

“Udah, lagian malu dikira rebutin cewek modelan gini!” kata salah seorang teman Aksara.

Aksara menatap tajam Abimana yang tak kalah tajamnya, terlebih masih tinggi dan besar Abimana.

“Saya bisa nyari data kalian—”

“Om, udah, Om!” pinta Raniya berucap pelan di belakang Abimana.

Abimana memutar tubuhnya usai memastikan tiga pria itu meninggalkan cafe, kedua tangannya mencengkeram lembut lengan Raniya.

“Siapa pria tadi?” tanyanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 13. Pelukan Hangat

    Kini, setelah beberapa acara terlewati maka sampailah Raniya di apartemen yang akan menjadi saksi hidupnya selama satu tahun ke depan. Senyumnya spontan lenyap. Suka tidak suka, mau tidak mau, rela tidak rela. Dirinya paham tidak hanya soal saling memberikan kepuasan sesuai kontrak, melainkan banyak hal rumit yang mungkin akan baru ia temukan setelahnya bersama pria yang tak diinginkan itu. “Ibu mertua menelpon, katanya ponselmu nggak bisa dihubungi, Raniya,” kata Abimana sembari menarik koper istrinya itu masuk ke kamar. Raniya menoleh, tersenyum kecut. “Emangnya, peduli apa? Yang dia mau udah terlaksana, mau apa lagi?” Kedua bahu Abimana melorot mendengar itu, hubungan ibu dan anak perempuan yang kurang baik nyatanya ada di depan mata, sedangkan dirinya yang sudah se tua itu merindukan sang ibu dan ingin bergelayut manja, tetapi tidak bisa. Abimana tidak menghakimi Raniya seperti yang perempuan itu bayangkan usai menjawab dengan melempar balik beberapa pertanyaan.

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 12. Loh, Masuk!

    Abimana mengadu masing-masing kening berkeringat mereka, sorot matanya mengunci pupil lemah Raniya menerima setiap hentakannya di bawah sana. Di atas tubuh Raniya yang patuh, Abimana bergerak serampangan, menggesekan miliknya pada kewanitaan Raniya sesukanya. Rintihan Raniya seakan menjadi pemacu gairahnya yang sulit surut tak sesuai dengan gertakannya diawal yang tidak akan hanyut pada Raniya. “Bagaimana?” Abimana menekan hidung Raniya, mencuri kecup di bibir tipis itu. “Enak? Suka? Mau lebih?” Raniya nyaris mengangguk jika tidak teringat siapa Abimana dan betapa menyebalkannya pria itu. Maka, disisa kendalinya itu Raniya menampakkan ekspresi datarnya sekalipun ingin berteriak dan miliknya di bawah sana telah terbuka menganga menginginkan lebih. “Kamu bohong!” Terluka oleh ekspresi datar Raniya yang berlawanan, Abimana semakin meliarkan gerakannya, melangitkan desah perempuan itu sampai putihnya tuntas. “Agh, Raniya, agh!” Kuku-kuku tangan Raniya menancap sempurna di pungg

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 11. Mau Lagi

    “Cukup?” Abimana merendahkan tubuhnya. Raniya mendongak, menggigit bibir bawahnya sembari menatap wajah Abimana yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. “Aku lanjut!” putus Abimana mengartikan sorot mata Raniya. Jari-jari panjang itu memberi tekanan tepat di depan kewanitaan Raniya, memainkan yang basah untuk membuka celah tersembunyi. Abimana memejamkan matanya sekilas, titik basah dan hangat itu mendentumkan dadanya, bagian dari diri Raniya yang teramat dirindukan dan susah dilupakan. Bagaimana perempuan itu menjepitnya kuat seakan nyaris patah, tetapi candu. Dan betapa berharganya ia menjadi yang pertama bagi Raniya seakan-akan jiwanya bisa saja tunduk pada perempuan itu jika diinginkan. “Om!” Raniya melemparkan kepalanya ke belakang begitu jari panjang Abimana mencoba memasukinya. Perih, sakit, tetapi menyebalkan untuk dilepas. “Apa, hm?” Abimana menarik ulur jarinya, bibirnya menciumi telinga Raniya yang terengah-engah. “Rasakan dulu, Raniya! Kenikmatan ya

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 10. Sudah Siap?

    “Kamu udah siap?” Abimana terkekeh melihat wajah masam Raniya yang terus berulang mendapatkan pertanyaan tentang hak dan kewajiban setelah menikah darinya, tetapi Raniya juga cukup pandai menutupi dengan tetap tenang selama acara pernikahan berlangsung dan harus menuruti permintaan foto dari banyaknya anggota keluarga. “Aku cuman ngelakuin itu atas dasar perjanjian, nggak pake hati, inget itu!” kata Raniya seraya melirik sinis. “Yakin?” “Yakin! Nggak akan aku tergoda sama kamu, amit-amit!” Raniya melengos. Namun, alih-alih repot tersakiti dengan ucapan Raniya, Abimana justru penasaran sekali dan tidak sabar acara mereka selesai, lalu mengungkung perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu sepanjang malam. *** “Kamu pulang ke rumah Raniya?” Tante Sena memastikan ulang sebelum keluarga yang lain pulang, mereka masih berkumpul di rumah keluarga besar sampai besok. Abimana mengangguk, ia masih menunggu Raniya melepaskan aksesoris kepala yang terasa berat. “Besok baru kami ke ap

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 9. Sah

    Kepala Raniya berdenyut membayangkan nanti hari-harinya usai menikah sibuk dengan kewajiban-kewajiban sebagai istri, walaupun mereka terikat kontrak diam-diam, tetapi poin-poin yang telah disepakati tentunya harus dipatuhi selama dirinya menjadi istri Abimana, jika tidak maka ancaman Abimana akan berlaku. Satu bulan terasa sangat cepat, setiap hari Raniya sibuk mengurus segala persiapan untuk pernikahannya yang dibantu kerabat Abimana. Komunikasinya dengan Abimana pun hanya sekadarnya, ia terlalu lelah, tetapi tak ada ruang untuk istirahat sejenak. Lusa, ia menikah. “Pakai lulur yang Mama kasih kemarin, terus ikut Mama nanti malem buat cukur bulu!” Diniati lebih antusias daripada Raniya, pernikahan itu harus berhasil. Mata Raniya melebar. “Cukur bulu?” tanyanya heran. “Iya, nggak cuman baju-bajumu aja yang diganti, tapi dalemnya harus lebih terawat. Lulur dan sabunmu udah Mama upgrade, tinggal bersihin bulu-bulu aja, atas sama bawah, semua!” terang Diniati sambil menunjuk ketiak d

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 8. Bertemu Keluarga

    “Kita belum menikah,” kata Raniya terdengar seperti bisikan, pupilnya tampak mengecil. “Kenapa kalau belum?” Abimana ikut memelankan suaranya. Dada Raniya kian sesak, terlebih saat nafas hangat beraroma mint Abimana menabrak lembut wajahnya yang memerah. Bibir pria itu hanya berjarak satu ruas jari dari bibir Raniya yang mengerut, tampak manyun tanpa sengaja. Semakin dekat wajah Abimana, semakin kencang detak jantung Raniya yang siap meledak. “Kamu gugup?” Raniya mengangguk, bibirnya sempat terbuka hendak menjawab, tetapi Abimana seakan tak memberikan kesempatan, sebab bibir tipis milik Raniya yang sejak tadi mengerut manyun begitu sayang untuk dilewatkan. Raniya terdiam kaku, hangat dan basah bibir Abimana mengikis kewarasannya. Abimana tersenyum ditengah ciuman yang dimulainya itu, melihat Raniya yang perlahan memejamkan mata menikmati pagutan lembutnya meskipun perempuan itu belum bisa membalas. Ia lanjutkan sebentar sampai tubuh Raniya tidak tegang lagi kemudian pelan-pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status