Home / All / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 5. Dia Datang!

Share

Bab 5. Dia Datang!

Author: Moonlight
last update publish date: 2026-03-31 12:29:01

“Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.

“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan kami tempati setelah menikah. Nggak hanya aku, orang tuaku terpukul dan malu juga. Akhirnya, mamaku nyari solusi lain dengan jodohin aku sama pria tadi, Aksara namanya, anak temen lama mama,” terang Raniya sebentar-sebentar membalas tatapan penuh selidik milik Abimana.

“Jadi, kamu mabuk malam itu karena batal nikah?”

“Iya.” Raniya menipiskan bibirnya, malu.

Abimana terdengar mendesah sembari meraup wajahnya, berpikir pantas saja Raniya sangat berbeda.

“Om, aku nggak punya tempat pulang lagi … bahkan, mama juga ikutan nyalahin aku, jadi aku lari ke sana dan kita nggak sengaja ketemu lagi,” ujar Raniya terlihat kesal dan frustrasi sekali. “Sekarang, mama malah minta aku buat mau sama Aksara, padahal aku—”

“Sshhh …!” Abimana mencondongkan tubuhnya ke depan, menenangkan Raniya dengan menyeka air mata di pipi wanita itu.

“Aku punya pilihan hidup sendiri, kalaupun aku harus punya pasangan dan calon lagi, itu kamu orangnya!” sambung Raniya menangkap tangan Abimana, menggenggam hangat dan penuh harap.

“Oke, aku kesel waktu itu kamu boongin aku, tapi gimana-gimana aku cinta sama kamu, cuman aku ya kesel! Dan sekarang, kita ketemu lagi kayak gini … lagi-lagi, kamu yang selalu ada dan siap belain aku, gimana aku nggak luluh dan mau sama kamu, hm? Kalau mau nikah lagi, aku maunya sama kamu aja!” tambahnya berbicara banyak, menunjukkan kesedihannya yang panjang.

Abimana tidak bisa melihat Raniya seperti itu, tetapi mengingat waktu itu Raniya menolaknya membuat Abimana bimbang. Maka, yang dilakukannya hari itu hanya menenangkan Raniya dengan menemaninya cukup lama, memberikan pelukan yang Raniya butuhkan seluas mungkin.

“Minggu depan di rumahku, jam 4 sore. Aku beneran berharap kamu dateng kalau kamu beneran mau tanggung jawab dan hubungan kita kembali lagi seperti dulu!” kata Raniya sebelum turun dari mobil Abimana, tepat di depan rumahnya.

Abimana menoleh. “Raniya, kamu begini serius karena ingin kita bersama lagi atau hanya ingin perjodohan itu batal aja?” Akhirnya yang tertahan dan membuat dilema itu keluar dari mulutnya.

“Om, ngeraguin aku?” balas Raniya tercekik, ia harus bisa meluluhkan Abimana.

“Nggak, bukan begitu. Aku—”

“Oke, aku marah dan kesel emang kemarin sama kamu. Tapi, itu reaksi wajar, apalagi aku baru batal nikah, terus mabuk dan bangun udah nggak perawan lagi. Kaget dan macem-macem rasanya. Cuman, asal kamu tau aja … kalau aku bersyukur yang sama aku itu kamu, bukan cowok lain.” Raniya membuka pintu mobil itu, lalu keluar.

Abimana mendesah seraya menyandarkan kepalanya, dilema. Namun, sejujurnya ia cukup senang mendengar alasan Raniya dan menganggap sikap Raniya kemarin sangat wajar untuk yang baru pertama kali juga mabuk.

Dan tadi, Raniya berkata bahwa sebenarnya sangat amat bersyukur?

Abimana tersenyum mengingat itu.

***

Waktu seakan berjalan lebih cepat dari biasanya, sedangkan sampai sekarang belum juga ada kepastian dari Abimana, bahkan mereka tidak bertukar pesan sama sekali seperti pasangan yang sedang bertengkar.

“Kemarin aku berlebihan ya?” Raniya menggelengkan kepalanya. “Atau alesanku nggak masuk akal banget? Payah!”

Raniya semakin putus asa, jika besok Abimana tidak datang maka habislah dirinya. Mau tidak mau harus tetap menikah dan menjadi orang lain seperti yang Aksara inginkan atau benar-benar pergi meninggalkan semua, termasuk orang tuanya seperti ancaman yang Diniati katakan.

“Apa aku samperin aja ke kantor atau apartemennya? Aku ajak dia tidur lagi?” Ide gila mulai bermain di kepala Raniya, ia tak lagi memikirkan untung atau rugi. “Dia makin curiga nanti!” imbuhnya.

Raniya mengambil ponselnya, berniat mengirim satu atau dua pesan, tetapi ia urungkan dan lebih memilih membuat story galau di kontaknya.

“Orang sibuk kayak dia mana liat!” gerutunya menyerah.

Di rumah itu, orang tuanya sudah sibuk mempersiapkan jamuan untuk acara pertemuan keluarga besok. Ruang tamu itu didekorasi seindah mungkin seperti bukan hanya pertemuan keluarga jika Raniya lihat, lebih pada acara formal sekali sekelas lamaran. Dan tak lupa, banyak bingkisan entah apa saja, Raniya tidak ikut campur, kesibukannya hanya bekerja dan tidur selama satu minggu itu.

Keesokan harinya,

Sejak pagi sampai sore, Raniya dipersiapkan dengan sangat baik, mulai dari penampilan, riasan sampai pada latihan tersenyum.

“Jangan bikin malu lagi, Raniya!” kata Diniati mengingatkan, tak tertinggal pelototannya itu. “Mama udah nunggu kamu dan ngasih kesempatan kamu buat kasih alesan yang jelas, tapi nyatanya nggak ada, kan? Jadi, jangan sok bikin ulah! Nyari yang mau sama cewek kayak kamu itu susah, bebalnya minta ampun!”

Omelan panjang lebar itu tentu saja menyakiti hati Raniya, tetapi dirinya tidak berdaya, mau kabur pun semuanya terkunci, Diniati mempersiapkan semua dengan sangat baik, di luar ekspektasi Raniya.

“Gimana kalau aku nggak bahagia?” tanya Raniya getir.

“Gimana kalau kamu yang bikin dia nggak bahagia, hm? Jadi perempuan itu harus pinter cari cara, jaman sekarang cowok baik juga bisa jadi nakal kalau perempuannya nyebelin. Contoh Mamamu yang selalu ada aja acaranya sama papa!” jawab Diniati lagi dan lagi tak sejalan dengan pikiran Raniya.

Raniya tak sepenuhnya menyalahkan meskipun sakit sekali, sebab kenyataannya banyak yang Diniati tidak tahu tentang dirinya, terutama kejadian malam itu yang sangat menekan jiwa Raniya.

“Ayo!” ajak Diniati seraya memberikan tangannya untuk digandeng.

Raniya patuh, menggandeng tangan ibunya itu.

Keluarga Aksara sudah tiba dan menunggu di ruang tamu, mereka berdiri begitu Raniya keluar. Raniya memakai maxi dress selutut dengan bahan luar brukat yang menampakkan setelan dalam dengan warna sage senada. Kulit Raniya terlihat menyala terang sekali, riasannya juga tak terlalu mencolok. Raniya terlihat cantik sekaligus elegan.

Aksara kembali melihat dari atas sampai bawah, tatapan mata yang menggelikan bagi Raniya, terlebih mengingat semua perkataan pria itu minggu lalu.

“Raniya, kamu cantik banget!” puji Indah selaku ibu dari Aksara.

Raniya tersenyum. “Terima kasih, Tante.”

Indah tampak puas sekali. “Kalau kayak gini, Tante jadi nggak mau nunda deh! Gimana kalau langsung lamaran aja? Dekornya juga pas, tinggal nanti cincinnya nyusul! Gimana, Aksa?”

Raniya spontan menatap Aksara yang menggelikan itu, tampak manggut-manggut tidak jelas.

“Aku terserah Mami aja gimana enaknya, lagian Raniya juga cantik!” jawab Aksara disusul dengan pujian.

“Yaudah, kalau gitu … gimana ini, Din? Kamu setuju nggak kalau mereka ini dipercepat aja?” Indah yang paling antusias.

Sementara itu, Raniya masih terus berharap ada keajaiban meskipun kemungkinannya kecil sekali. Kedua tangannya saling meremat di pangkuan, matanya melirik ke pintu beberapa kali, Raniya benar-benar berharap Abimana muncul dan menyelamatkannya, menjadi malaikat penolongnya.

“Kalau kita sih di sini ngikut aja, lagian niat baik memang harus dipercepat biar nggak kecolongan lagi!” balas Diniati. “Ya, Raniya?”

Raniya gelagapan, berusaha menutupi cemasnya.

“Em, aku—”

“Sayang, aku telat ya?” Sebuah suara dari arah pintu menginterupsi semua orang di ruang tamu itu, termasuk Raniya yang memucat melihat siapa yang datang. Abimana dengan kuda putihnya, seperti itu di mata Raniya.

Raniya sontak berdiri, telapak tangan dan kakinya terasa dingin sekali. Namun, ia tidak mempunyai waktu lagi, itu saatnya untuk melepaskan diri selagi malaikat penolongnya datang.

“Mas Abimana!” ucapnya kemudian berlari menghampiri Abimana, menabrak dan memeluk tubuh itu.

Abimana terbelalak dipeluk seperti itu, merasakan getar tubuh Raniya seperti malam itu, candu sekali.

“Mas Abi, ayo … aku kenalin orang tuaku!” ajak Raniya mengurai pelukannya sekaligus menyadarkan Abimana dari lamunan.

“Ah, iya, ayo!” balas Abimana kemudian menggandeng tangan Raniya.

Semua orang di ruang tamu itu lantas berdiri, menatap tajam sekaligus bingung dengan kehadiran Abimana.

Diniati mengangkat tangannya, menunjuk Abimana seakan murka.

“Siapa kamu, hah? Berani sekali mengacaukan acara saya!” tanyanya ketus, suasana pun berubah tegang.

Abimana mengulum senyum. “Tentu saja saya berani, Ibu mertua. Perkenalkan, nama saya Abimana Hanendra, kekasihnya Raniya!”

“Kekasih?”

Raniya menoleh kaget, lehernya nyaris patah saking tak percayanya.

Abimana menoleh pada Raniya, masih dengan senyum di bibirnya kemudian berkata, “Saya adalah satu-satunya orang yang pantas dengan Raniya, yang akan meratukannya, lebih baik dari semua laki-laki di dunia ini!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 13. Pelukan Hangat

    Kini, setelah beberapa acara terlewati maka sampailah Raniya di apartemen yang akan menjadi saksi hidupnya selama satu tahun ke depan. Senyumnya spontan lenyap. Suka tidak suka, mau tidak mau, rela tidak rela. Dirinya paham tidak hanya soal saling memberikan kepuasan sesuai kontrak, melainkan banyak hal rumit yang mungkin akan baru ia temukan setelahnya bersama pria yang tak diinginkan itu. “Ibu mertua menelpon, katanya ponselmu nggak bisa dihubungi, Raniya,” kata Abimana sembari menarik koper istrinya itu masuk ke kamar. Raniya menoleh, tersenyum kecut. “Emangnya, peduli apa? Yang dia mau udah terlaksana, mau apa lagi?” Kedua bahu Abimana melorot mendengar itu, hubungan ibu dan anak perempuan yang kurang baik nyatanya ada di depan mata, sedangkan dirinya yang sudah se tua itu merindukan sang ibu dan ingin bergelayut manja, tetapi tidak bisa. Abimana tidak menghakimi Raniya seperti yang perempuan itu bayangkan usai menjawab dengan melempar balik beberapa pertanyaan.

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 12. Loh, Masuk!

    Abimana mengadu masing-masing kening berkeringat mereka, sorot matanya mengunci pupil lemah Raniya menerima setiap hentakannya di bawah sana. Di atas tubuh Raniya yang patuh, Abimana bergerak serampangan, menggesekan miliknya pada kewanitaan Raniya sesukanya. Rintihan Raniya seakan menjadi pemacu gairahnya yang sulit surut tak sesuai dengan gertakannya diawal yang tidak akan hanyut pada Raniya. “Bagaimana?” Abimana menekan hidung Raniya, mencuri kecup di bibir tipis itu. “Enak? Suka? Mau lebih?” Raniya nyaris mengangguk jika tidak teringat siapa Abimana dan betapa menyebalkannya pria itu. Maka, disisa kendalinya itu Raniya menampakkan ekspresi datarnya sekalipun ingin berteriak dan miliknya di bawah sana telah terbuka menganga menginginkan lebih. “Kamu bohong!” Terluka oleh ekspresi datar Raniya yang berlawanan, Abimana semakin meliarkan gerakannya, melangitkan desah perempuan itu sampai putihnya tuntas. “Agh, Raniya, agh!” Kuku-kuku tangan Raniya menancap sempurna di pungg

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 11. Mau Lagi

    “Cukup?” Abimana merendahkan tubuhnya. Raniya mendongak, menggigit bibir bawahnya sembari menatap wajah Abimana yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. “Aku lanjut!” putus Abimana mengartikan sorot mata Raniya. Jari-jari panjang itu memberi tekanan tepat di depan kewanitaan Raniya, memainkan yang basah untuk membuka celah tersembunyi. Abimana memejamkan matanya sekilas, titik basah dan hangat itu mendentumkan dadanya, bagian dari diri Raniya yang teramat dirindukan dan susah dilupakan. Bagaimana perempuan itu menjepitnya kuat seakan nyaris patah, tetapi candu. Dan betapa berharganya ia menjadi yang pertama bagi Raniya seakan-akan jiwanya bisa saja tunduk pada perempuan itu jika diinginkan. “Om!” Raniya melemparkan kepalanya ke belakang begitu jari panjang Abimana mencoba memasukinya. Perih, sakit, tetapi menyebalkan untuk dilepas. “Apa, hm?” Abimana menarik ulur jarinya, bibirnya menciumi telinga Raniya yang terengah-engah. “Rasakan dulu, Raniya! Kenikmatan ya

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 10. Sudah Siap?

    “Kamu udah siap?” Abimana terkekeh melihat wajah masam Raniya yang terus berulang mendapatkan pertanyaan tentang hak dan kewajiban setelah menikah darinya, tetapi Raniya juga cukup pandai menutupi dengan tetap tenang selama acara pernikahan berlangsung dan harus menuruti permintaan foto dari banyaknya anggota keluarga. “Aku cuman ngelakuin itu atas dasar perjanjian, nggak pake hati, inget itu!” kata Raniya seraya melirik sinis. “Yakin?” “Yakin! Nggak akan aku tergoda sama kamu, amit-amit!” Raniya melengos. Namun, alih-alih repot tersakiti dengan ucapan Raniya, Abimana justru penasaran sekali dan tidak sabar acara mereka selesai, lalu mengungkung perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu sepanjang malam. *** “Kamu pulang ke rumah Raniya?” Tante Sena memastikan ulang sebelum keluarga yang lain pulang, mereka masih berkumpul di rumah keluarga besar sampai besok. Abimana mengangguk, ia masih menunggu Raniya melepaskan aksesoris kepala yang terasa berat. “Besok baru kami ke ap

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 9. Sah

    Kepala Raniya berdenyut membayangkan nanti hari-harinya usai menikah sibuk dengan kewajiban-kewajiban sebagai istri, walaupun mereka terikat kontrak diam-diam, tetapi poin-poin yang telah disepakati tentunya harus dipatuhi selama dirinya menjadi istri Abimana, jika tidak maka ancaman Abimana akan berlaku. Satu bulan terasa sangat cepat, setiap hari Raniya sibuk mengurus segala persiapan untuk pernikahannya yang dibantu kerabat Abimana. Komunikasinya dengan Abimana pun hanya sekadarnya, ia terlalu lelah, tetapi tak ada ruang untuk istirahat sejenak. Lusa, ia menikah. “Pakai lulur yang Mama kasih kemarin, terus ikut Mama nanti malem buat cukur bulu!” Diniati lebih antusias daripada Raniya, pernikahan itu harus berhasil. Mata Raniya melebar. “Cukur bulu?” tanyanya heran. “Iya, nggak cuman baju-bajumu aja yang diganti, tapi dalemnya harus lebih terawat. Lulur dan sabunmu udah Mama upgrade, tinggal bersihin bulu-bulu aja, atas sama bawah, semua!” terang Diniati sambil menunjuk ketiak d

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 8. Bertemu Keluarga

    “Kita belum menikah,” kata Raniya terdengar seperti bisikan, pupilnya tampak mengecil. “Kenapa kalau belum?” Abimana ikut memelankan suaranya. Dada Raniya kian sesak, terlebih saat nafas hangat beraroma mint Abimana menabrak lembut wajahnya yang memerah. Bibir pria itu hanya berjarak satu ruas jari dari bibir Raniya yang mengerut, tampak manyun tanpa sengaja. Semakin dekat wajah Abimana, semakin kencang detak jantung Raniya yang siap meledak. “Kamu gugup?” Raniya mengangguk, bibirnya sempat terbuka hendak menjawab, tetapi Abimana seakan tak memberikan kesempatan, sebab bibir tipis milik Raniya yang sejak tadi mengerut manyun begitu sayang untuk dilewatkan. Raniya terdiam kaku, hangat dan basah bibir Abimana mengikis kewarasannya. Abimana tersenyum ditengah ciuman yang dimulainya itu, melihat Raniya yang perlahan memejamkan mata menikmati pagutan lembutnya meskipun perempuan itu belum bisa membalas. Ia lanjutkan sebentar sampai tubuh Raniya tidak tegang lagi kemudian pelan-pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status