Masuk“Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.
“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan kami tempati setelah menikah. Nggak hanya aku, orang tuaku terpukul dan malu juga. Akhirnya, mamaku nyari solusi lain dengan jodohin aku sama pria tadi, Aksara namanya, anak temen lama mama,” terang Raniya sebentar-sebentar membalas tatapan penuh selidik milik Abimana. “Jadi, kamu mabuk malam itu karena batal nikah?” “Iya.” Raniya menipiskan bibirnya, malu. Abimana terdengar mendesah sembari meraup wajahnya, berpikir pantas saja Raniya sangat berbeda. “Om, aku nggak punya tempat pulang lagi … bahkan, mama juga ikutan nyalahin aku, jadi aku lari ke sana dan kita nggak sengaja ketemu lagi,” ujar Raniya terlihat kesal dan frustrasi sekali. “Sekarang, mama malah minta aku buat mau sama Aksara, padahal aku—” “Sshhh …!” Abimana mencondongkan tubuhnya ke depan, menenangkan Raniya dengan menyeka air mata di pipi wanita itu. “Aku punya pilihan hidup sendiri, kalaupun aku harus punya pasangan dan calon lagi, itu kamu orangnya!” sambung Raniya menangkap tangan Abimana, menggenggam hangat dan penuh harap. “Oke, aku kesel waktu itu kamu boongin aku, tapi gimana-gimana aku cinta sama kamu, cuman aku ya kesel! Dan sekarang, kita ketemu lagi kayak gini … lagi-lagi, kamu yang selalu ada dan siap belain aku, gimana aku nggak luluh dan mau sama kamu, hm? Kalau mau nikah lagi, aku maunya sama kamu aja!” tambahnya berbicara banyak, menunjukkan kesedihannya yang panjang. Abimana tidak bisa melihat Raniya seperti itu, tetapi mengingat waktu itu Raniya menolaknya membuat Abimana bimbang. Maka, yang dilakukannya hari itu hanya menenangkan Raniya dengan menemaninya cukup lama, memberikan pelukan yang Raniya butuhkan seluas mungkin. “Minggu depan di rumahku, jam 4 sore. Aku beneran berharap kamu dateng kalau kamu beneran mau tanggung jawab dan hubungan kita kembali lagi seperti dulu!” kata Raniya sebelum turun dari mobil Abimana, tepat di depan rumahnya. Abimana menoleh. “Raniya, kamu begini serius karena ingin kita bersama lagi atau hanya ingin perjodohan itu batal aja?” Akhirnya yang tertahan dan membuat dilema itu keluar dari mulutnya. “Om, ngeraguin aku?” balas Raniya tercekik, ia harus bisa meluluhkan Abimana. “Nggak, bukan begitu. Aku—” “Oke, aku marah dan kesel emang kemarin sama kamu. Tapi, itu reaksi wajar, apalagi aku baru batal nikah, terus mabuk dan bangun udah nggak perawan lagi. Kaget dan macem-macem rasanya. Cuman, asal kamu tau aja … kalau aku bersyukur yang sama aku itu kamu, bukan cowok lain.” Raniya membuka pintu mobil itu, lalu keluar. Abimana mendesah seraya menyandarkan kepalanya, dilema. Namun, sejujurnya ia cukup senang mendengar alasan Raniya dan menganggap sikap Raniya kemarin sangat wajar untuk yang baru pertama kali juga mabuk. Dan tadi, Raniya berkata bahwa sebenarnya sangat amat bersyukur? Abimana tersenyum mengingat itu. *** Waktu seakan berjalan lebih cepat dari biasanya, sedangkan sampai sekarang belum juga ada kepastian dari Abimana, bahkan mereka tidak bertukar pesan sama sekali seperti pasangan yang sedang bertengkar. “Kemarin aku berlebihan ya?” Raniya menggelengkan kepalanya. “Atau alesanku nggak masuk akal banget? Payah!” Raniya semakin putus asa, jika besok Abimana tidak datang maka habislah dirinya. Mau tidak mau harus tetap menikah dan menjadi orang lain seperti yang Aksara inginkan atau benar-benar pergi meninggalkan semua, termasuk orang tuanya seperti ancaman yang Diniati katakan. “Apa aku samperin aja ke kantor atau apartemennya? Aku ajak dia tidur lagi?” Ide gila mulai bermain di kepala Raniya, ia tak lagi memikirkan untung atau rugi. “Dia makin curiga nanti!” imbuhnya. Raniya mengambil ponselnya, berniat mengirim satu atau dua pesan, tetapi ia urungkan dan lebih memilih membuat story galau di kontaknya. “Orang sibuk kayak dia mana liat!” gerutunya menyerah. Di rumah itu, orang tuanya sudah sibuk mempersiapkan jamuan untuk acara pertemuan keluarga besok. Ruang tamu itu didekorasi seindah mungkin seperti bukan hanya pertemuan keluarga jika Raniya lihat, lebih pada acara formal sekali sekelas lamaran. Dan tak lupa, banyak bingkisan entah apa saja, Raniya tidak ikut campur, kesibukannya hanya bekerja dan tidur selama satu minggu itu. Keesokan harinya, Sejak pagi sampai sore, Raniya dipersiapkan dengan sangat baik, mulai dari penampilan, riasan sampai pada latihan tersenyum. “Jangan bikin malu lagi, Raniya!” kata Diniati mengingatkan, tak tertinggal pelototannya itu. “Mama udah nunggu kamu dan ngasih kesempatan kamu buat kasih alesan yang jelas, tapi nyatanya nggak ada, kan? Jadi, jangan sok bikin ulah! Nyari yang mau sama cewek kayak kamu itu susah, bebalnya minta ampun!” Omelan panjang lebar itu tentu saja menyakiti hati Raniya, tetapi dirinya tidak berdaya, mau kabur pun semuanya terkunci, Diniati mempersiapkan semua dengan sangat baik, di luar ekspektasi Raniya. “Gimana kalau aku nggak bahagia?” tanya Raniya getir. “Gimana kalau kamu yang bikin dia nggak bahagia, hm? Jadi perempuan itu harus pinter cari cara, jaman sekarang cowok baik juga bisa jadi nakal kalau perempuannya nyebelin. Contoh Mamamu yang selalu ada aja acaranya sama papa!” jawab Diniati lagi dan lagi tak sejalan dengan pikiran Raniya. Raniya tak sepenuhnya menyalahkan meskipun sakit sekali, sebab kenyataannya banyak yang Diniati tidak tahu tentang dirinya, terutama kejadian malam itu yang sangat menekan jiwa Raniya. “Ayo!” ajak Diniati seraya memberikan tangannya untuk digandeng. Raniya patuh, menggandeng tangan ibunya itu. Keluarga Aksara sudah tiba dan menunggu di ruang tamu, mereka berdiri begitu Raniya keluar. Raniya memakai maxi dress selutut dengan bahan luar brukat yang menampakkan setelan dalam dengan warna sage senada. Kulit Raniya terlihat menyala terang sekali, riasannya juga tak terlalu mencolok. Raniya terlihat cantik sekaligus elegan. Aksara kembali melihat dari atas sampai bawah, tatapan mata yang menggelikan bagi Raniya, terlebih mengingat semua perkataan pria itu minggu lalu. “Raniya, kamu cantik banget!” puji Indah selaku ibu dari Aksara. Raniya tersenyum. “Terima kasih, Tante.” Indah tampak puas sekali. “Kalau kayak gini, Tante jadi nggak mau nunda deh! Gimana kalau langsung lamaran aja? Dekornya juga pas, tinggal nanti cincinnya nyusul! Gimana, Aksa?” Raniya spontan menatap Aksara yang menggelikan itu, tampak manggut-manggut tidak jelas. “Aku terserah Mami aja gimana enaknya, lagian Raniya juga cantik!” jawab Aksara disusul dengan pujian. “Yaudah, kalau gitu … gimana ini, Din? Kamu setuju nggak kalau mereka ini dipercepat aja?” Indah yang paling antusias. Sementara itu, Raniya masih terus berharap ada keajaiban meskipun kemungkinannya kecil sekali. Kedua tangannya saling meremat di pangkuan, matanya melirik ke pintu beberapa kali, Raniya benar-benar berharap Abimana muncul dan menyelamatkannya, menjadi malaikat penolongnya. “Kalau kita sih di sini ngikut aja, lagian niat baik memang harus dipercepat biar nggak kecolongan lagi!” balas Diniati. “Ya, Raniya?” Raniya gelagapan, berusaha menutupi cemasnya. “Em, aku—” “Sayang, aku telat ya?” Sebuah suara dari arah pintu menginterupsi semua orang di ruang tamu itu, termasuk Raniya yang memucat melihat siapa yang datang. Abimana dengan kuda putihnya, seperti itu di mata Raniya. Raniya sontak berdiri, telapak tangan dan kakinya terasa dingin sekali. Namun, ia tidak mempunyai waktu lagi, itu saatnya untuk melepaskan diri selagi malaikat penolongnya datang. “Mas Abimana!” ucapnya kemudian berlari menghampiri Abimana, menabrak dan memeluk tubuh itu. Abimana terbelalak dipeluk seperti itu, merasakan getar tubuh Raniya seperti malam itu, candu sekali. “Mas Abi, ayo … aku kenalin orang tuaku!” ajak Raniya mengurai pelukannya sekaligus menyadarkan Abimana dari lamunan. “Ah, iya, ayo!” balas Abimana kemudian menggandeng tangan Raniya. Semua orang di ruang tamu itu lantas berdiri, menatap tajam sekaligus bingung dengan kehadiran Abimana. Diniati mengangkat tangannya, menunjuk Abimana seakan murka. “Siapa kamu, hah? Berani sekali mengacaukan acara saya!” tanyanya ketus, suasana pun berubah tegang. Abimana mengulum senyum. “Tentu saja saya berani, Ibu mertua. Perkenalkan, nama saya Abimana Hanendra, kekasihnya Raniya!” “Kekasih?” Raniya menoleh kaget, lehernya nyaris patah saking tak percayanya. Abimana menoleh pada Raniya, masih dengan senyum di bibirnya kemudian berkata, “Saya adalah satu-satunya orang yang pantas dengan Raniya, yang akan meratukannya, lebih baik dari semua laki-laki di dunia ini!”“Kak Zayn!” Ziya berucap lirih usai ciuman dengan penuh kerinduan itu selesai, bibirnya yang tadi lembab dan berwarna, kini hanya tersisa warna tipis juga agak bengkak. “Ganas sekali!” celetuknya. Zayn tergelak, menahan diri setelah sekian lama dan dengan Ziya yang menggemaskan begitu, rasanya tak bisa lagi. Zayn tidak hanya mengandalkan nafsunya sebagai pria dewasa, tetapi perasaan besarnya yang tak ingin menunda lagi kebersamaan mereka, memutus jarak yang memisahkan mereka dengan status sah seperti Kia dan Ghana. Dia ingin perempuan itu segera menjadi istrinya, Zayn akan menunjukan istana yang tepat untuk Ziya tanpa perlu bersusah payah lagi. “Aku jadi takut,” kata Ziya kepikiran. “Takut apa?” “Kak Zayn hanya ingin melampiaskan nafsu saja denganku, lalu aku dibu—” Ziya dibungkam lagi, kali ini lebih keras hisapannya, tetapi singkat. “Sekali lagi menuduhku begitu, aku cium di depan mama papa!” ancam pria itu. Ziya mengkerut takut, lalu bergeser mendekat memeluk raga besar
Malam itu, faktanya ada saksi yang melihat kebersamaan Zayn dan Ziya. Usianya mungkin sudah tua, tetapi dia tetap seorang ayah dan pengusaha ulung yang tidak bisa semudah itu melepaskan tanggung jawab, apalagi yang berurusan dengan anaknya. “Papa sudah mencari tau soal keluarganya, Zayn. Kepikiran memang iya, tanyakan saja pada Mamamu! Tapi, tanpa melihat latar belakangnya, Ziya tak mempunyai kesalahan selain dia mengiyakan untuk lahir di sana, di keluarga yang sama sekali tidak menghargainya. Kalau kamu perlu bantuan, Papa bisa. Ghana?” Ghana reflek menegakkan punggungnya. “Saya sudah berbicara dengan Kia dan ini tidak ada masalah sama sekali. Saya siap membantu,” jawabnya. Abimana tersenyum mendengar itu, tak salah dia memberikan restu putrinya untuk menikah dengan Ghana, selain mempunyai taktik yang hebat dalam usaha, pria itu sangat bisa diandalkan. “Kita bisa berunding caranya, tapi kamu nggak mau ajak gadis itu ke rumah, Zayn?” Abimana menoleh pada istrinya. “Kita kan juga m
“Ziya?” Kening Ghana mengerut begitu mengulang nama itu. Kia mengangguk. “Keluarganya terkenal sangat problematik, sejak lama dan sampai sekarang soal statusnya sebagai anak seorang simpanan terus diperbincangkan tanpa mau mendengar juga mengenal bagaimana Ziya sebenarnya. Dia dihakimi, pernah dijual, dilecehkan, lalu dinikahkan tanpa status jelas kemudian ditinggalkan demi kepentingan pribadi keluarganya. Dia ada di sana hanya untuk dimanfaatkan, pribadinya yang polos dan terbentuk dari tekanan memudahkan orang lain menjebaknya,” jelasnya ikut merasakan sakit. Ghana terdiam, ia banyak mendengar kebejatan orang-orang di luar sana, tetapi kali ini jauh lebih dari sekadar bejat, terlebih keluarga. Dia pernah nakal, menjadi pribadi yang susah sekali diatur, hanya lagi dan lagi Ghana tak percaya ada keluarga yang memperlakukan anak perempuannya seperti binatang meskipun terlahir dari wanita simpanan, tetap saja Ziya darah daging mereka, di dalam diri Ziya mengalir kuat gen mereka yan
Ziya masih sangat canggung dengan hubungan mendadaknya bersama Zayn itu, walaupun Zayn tidak memburunya seperti diawal sebelum dia akhirnya menerima di rumah makan itu, tetapi perhatian yang Zayn berikan ketika pria itu tidak sibuk cukup membuatnya cemas. “Tapi, kalau nggak dikabarin akunya juga waswas,” gumamnya tak keluar rumah seperti yang Zayn katakan. Ziya melorotkan kedua bahunya, cidera mental sejak kecil dengan lingkungan keluarga yang sangat beracun menjadikannya selalu sangat bergantung pada orang baru. Ziya sudah mencoba memberikan batasan, tetapi kesungguhan Zayn hari itu cukup menggoyahkannya sehingga hubungan mereka langsung diberi status. Dia bagaikan daun kering yang terbawa angin, setiap kali raganya menemukan tempat berhenti, begitu kuat bertahan, walau akhirnya tempat itu membiarkan dia pergi lagi terbawa angin. “Semoga dia tidak,” ucap Ziya kesekian kalinya, putus asa mulai menyerang. Zayn: Bisa aku telpon? Mata Ziya mengerjap, pria itu seperti dekat sekali sa
“Iya, iya, nggak ada! Aku cuman bercanda, sumpah!” kata Ziya daripada masalahnya semakin melebar, menghadapi Zayn seorang diri sama saja mempersiapkan diri untuk mati. “Kita di sini, aku nggak ada janji—” “Pakaian itu?” Ziya menunduk melihat pakaian yang tadi dia banggakan untuk bertemu yang lain. “Hahaha, ini jelas aku persiapkan buat … ketemu kamu, kan malu kalau nggak sepadan,” cicitnya. Sorot tajam Zayn reflek berubah teduh, ada senyum tipis di mata itu mendengarkan pengakuan dari Ziya yang sesuai dengan prasangkanya tadi, perempuan itu memang mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin meskipun pengakuannya sekarang hanya agar tidak malu saja. “Memangnya, aku menuntut kamu untuk sepadan? Kita berbeda?” Zayn mencapit dagu Ziya sehingga mendongak menatapnya. “Kita sepadan, Zi. Soal bagaimana hidupmu, aku tau dan menerima itu tanpa kamu minta. Jadi, bisakah kita mencoba berjalan?” “Jalan?” Ziya mengerjap bingung. Zayn menganggukkan kepala, dirinya kembali duduk di temp
Mau tidak mau, walaupun hanya sebentar Kia dan Ghana tetap bertemu beberapa anggota keluarga yang menginap karena ada yang tidak beristirahat siang sebelum berkeliling hari itu. Kia meringis begitu duduk di mobil, reflek saja seperti itu karena bagian bawahnya tidak nyaman dan terasa kebas juga perih. “Mau mampir beli makan?” Ghana mengusap kepala Kia yang mengangguk, dia tidak mungkin membiarkan Kia beraktivitas dulu agar lebih baik karena ulahnya itu. “Maaf ya, Dek!” Kia mengambil tangan itu dan menciumnya, hal seperti ini tidak akan bisa mereka hindari sebagai seorang wanita yang baru menikah dan menyerahkan diri pada suami. Namun, melihat wajah sumringah Ghana membuat Kia merasa bangga pada dirinya itu, sesuatu yang dia jaga itu akhirnya diberikan pada satu-satunya pria yang dia cintai lagi mencintainya. “Boleh Kia tanya?” “Iya?” Ghana menoleh sekilas, lalu fokus pada kemudinya. “Apa kemarin Mas merasakan kenikmatan? Apa aku enak?” Pertanyaan yang terdengar konyol, tetapi it
“Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya. Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum ka
“Bodoh!” Raniya memukul kepalanya. Malam itu juga, Raniya pergi seorang diri untuk menemui Abimana di apartemennya. Raniya memakai setelan piyama pendek berbahan kaos dan rambutnya diikat tinggi sehingga leher putihnya terlihat menggoda, ditambah lagi perempuan itu tak sadar piyamanya cukup ketat
“Nggak semudah itu kami percaya,” kata Diniati melengos, malu sekali pada keluarga Aksara yang baru saja pergi sembari mengomel panjang dan mencaci makinya itu. Abimana memahami perasaan Diniati, kedatangannya memang mendadak, apalagi ia tidak pernah mengenal orang tua Raniya dulu. “Dengan apa sa
[Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana.“O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?”







