LOGIN“Nggak semudah itu kami percaya,” kata Diniati melengos, malu sekali pada keluarga Aksara yang baru saja pergi sembari mengomel panjang dan mencaci makinya itu.
Abimana memahami perasaan Diniati, kedatangannya memang mendadak, apalagi ia tidak pernah mengenal orang tua Raniya dulu. “Dengan apa saya bisa membuat anda berdua percaya?” tanya Abimana yang kini duduk tepat di depan orang tua Raniya, perempuan itu berada di sampingnya. “Mas─” Raniya gelagapan. “Nggak apa, biar aku yang urus!” kata Abimana tanpa memberikan kesempatan pada Raniya untuk bersuara, ia menatap wajah orang tua Raniya lagi. “Ibu mertua, saya harus apa?” Diniati bersungut mendengar panggilan Abimana untuknya, dengan wajah memerah wanita itu menjawab, “Nikahi Raniya sekarang!” Raniya nyaris menendang meja kaca di depannya, kepalanya sontak berdenyut hebat, alih-alih terbebas dari segala macam ancaman dan tekanan, ia justru mendapatkan masalah baru. “Menikah?” Abimana tersenyum tipis sekali. “Kalau itu yang anda berdua inginkan, baiklah!” Raniya jantungan, wajah perempuan itu berubah pucat. “Ayo, menikah, Raniya!” ajak Abimana yang terang-terangan dan tak tahu malu mencium tangan Raniya di depan calon mertua. Abimana tampak begitu santai menanggapi permintaan gila ibunya, seakan tidak ada beban sama sekali. Ia dengan kematangannya tampak sangat berwibawa dan tidak bisa diragukan, berbeda dengan isi hati Raniya yang ingin sekali memukul kepala pria itu. “Buktikan kalau begitu!” kata Diniati angkuh. *** Tangan yang tadi banyak digenggam sampai basah, diciumi sampai membekas bibir. Kini, berulang kali ditepis oleh Raniya yang sama sekali tidak ingin disentuh oleh Abimana. Setelah bersepakat dengan orang tua Raniya, Abimana mengajak perempuan yang dilamarnya mendadak itu pergi, lebih tepatnya untuk meluluhkan Raniya yang tampak kesal dan terus menghindarinya. “Kamu kenapa?” tanya Abimana memaksa Raniya untuk menoleh, melihatnya. “Ada yang salah?” “Om nggak tau salahnya atau pura-pura nggak tau?” balasnya menepis tangan Abimana yang berada di pundaknya, matanya melirik tajam pada Abimana, tampak benci sekali seperti pagi itu setelah menghabiskan malam panas bersama. “Katakan coba!” Abimana melepaskan sabuk pengamannya supaya lebih leluasa memandang Raniya. Raniya mendengus. “Aku nggak minta Om buat nikahin aku ya, bisa-bisanya Om setuju dan langsung ngomong kayak gitu ke mamaku! Om mikir nggak kalau mama bakal menganggap perkataan dan janji Om itu serius, mama bakal nagih Om buat segera nikahin aku!” “Masalahnya di mana?” Abimana ringan sekali. “Aku nggak mau nikah sama kamu!” jawab Raniya tampak aslinya. Semua yang dikatakannya waktu itu ketika mereka bertemu adalah kebohongan, ia tidak benar-benar menginginkan Abimana hadir dalam hidupnya lagi, tetapi sebatas untuk membantunya terbebas dari tekanan dan ancaman ibunya yang terus memaksa menikah. Sekalipun Abimana telah merenggut mahkotanya, Raniya tidak mau menuntut itu, menikah dengan Abimana tidak pernah ada dalam daftar tujuan hidupnya. “Maksudmu apa, Raniya?” Abimana mengerutkan keningnya, tak lagi terlihat santai meskipun tetap bersuara tenang. “Aku nggak mau nikah, nggak mikir buat nikah juga! Om tadi cukup dateng dan buat mereka percaya kalau kita ada hubungan, Om ikutin aku, bukan seenaknya bikin skenario sendiri kayak tadi!” Raniya bersungut. “Om harusnya bisa nyari jawaban lain, bukan malah mancing mama buat minta aneh-aneh, apalagi sampe minta kita cepetan nikah. Kalau kayak gini, terus gimana? Untung nggak disuruh nikah siri dadakan!” Abimana terdiam, kepalanya sontak berisik sekali. Raniya yang ada di depannya sekarang sangat amat berbeda dengan Raniya sore itu usai menelponnya dengan nada suara yang penuh harap dan berbicara di depannya dengan rendah hati juga sangat mendambanya. Hati Abimana sempat berbunga dan dilema, tetapi ia yang berpikir telah mengenal Raniya dengan baik, ternyata salah. Perempuan itu tidak sama dengannya, Raniya menginginkan hal lain yang tak terbaca olehnya. Parahnya, Raniya semakin membencinya sekarang. “Cih!” Abimana meraup wajahnya. “Membuat mereka percaya kalau kita ada hubungan, artinya kamu hanya ingin aku berpura-pura begitu? Kedatanganku ke rumahmu hanya sebatas sandiwara, Raniya? Lalu, setelah itu kita say good bye atau mesra waktu dibutuhkan?” Pria itu tertawa getir, ia bisa membaca maksud Raniya sekarang. Dan, Abimana kecewa pada Raniya juga dirinya sendiri, sebodoh itu. “Terus, kamu mau apa sekarang?” Abimana meloloskan desah sesal panjangnya. Raniya memalingkan wajahnya. “Batalin!” jawabnya. “Apa?” “Bilang ke mama kalau rencana pernikahan kita batal!” Raniya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali, bahkan rasa bersalah telah membohongi Abimana pun tidak. “Kalau aku nggak mau?” Abimana tersenyum sekaligus menyeringai tipis, kedua tangannya terlipat ke depan dada sambil bersandar punggung. Raniya melotot, detik itu juga Abimana menertawakannya. Pria itu diam-diam menghanyutkan dan ia seperti terjebak seakan tak bisa lepas. “Pokoknya, aku nggak mau nikah sama kamu dan batalin semua!” kata Raniya tegas, suaranya seakan memecahkan langit-langit mobil itu. “Sekarang, kita kembali ke rumahku atau kapan terserah Om maunya, Om harus bilang ke mereka kalau pernikahan ini batal, entah mau pake alasan apa, aku nggak mau tau. Pernikahan itu harus batal, aku nggak mau!” “Nggak perlu mikir nanti aku ada masalah apa lagi, aku bisa pikir sendiri. Salah banget udah mikir kamu, malah bikin susah! Lagian, siapa yang mau nikah sama tukang check in!” tambah Raniya pedas sekali. Abimana tidak berniat menjawab, pria itu langsung mengubah posisi duduknya tanpa banyak bicara sehingga Raniya pun mengikutinya, mobil itu melaju kembali dengan keheningan sampai tujuan. Bahkan, sesampainya di depan rumah Raniya, Abimana pergi begitu saja setelah menurunkan Raniya tanpa menunggu atau berpamitan. Raniya mendengus, meledek Abimana dengan menjulurkan lidahnya. Hidupnya dalam beberapa hari itu kacau sekali, kepalanya terasa berat dan berharap semuanya segera selesai. Namun, lagi dan lagi ketenangan itu tak serta merta Raniya dapatkan, sebab tengah malam sebuah pesan dari Abimana membuat kantuknya lenyap. Abimana: Raniya, gimana kalau orang tua kamu tau kejadian malam itu? Rekamannya ada loh! Sebuah file video terlampirkan pada pesan itu, malam panas yang tampak sekali dirinya merayu Abimana untuk memuaskan diri bersamanya. Abimana: Yakin mau batalin pernikahan kita? Nggak mau coba lagi sama aku atau aku kirim aja videonya ke mamamu, hm? Besok pagi? Raniya gemetaran, ia pun bergegas menelpon Abimana, tetapi berulang kali panggilan itu ditolak. Raniya frustrasi hingga terlintas di pikirannya, haruskah ia datang ke apartemen Abimana sekarang juga?Senggol kanan, senggol kiri. Saling lirik-lirik sebelum akhirnya duduk berhadapan dengan tante Sena yang pernah marah sekali karena Abimana dianggap memanfaatkan perempuan tidak berdaya, apalagi baru saja direnggut keperawanannya dalam kondisi mabuk. Abimana menegakkan punggungnya, berdeham gugup, berbeda dengan Raniya yang datang lagi mendapatkan pelukan hangat, lebih disayang dibandingkan dirinya. “Mau apa?” tanya tante Sena memicing. “Tentu saja yang tidak jauh-jauh dari perempuan yang sekarang Tante peluk itu,” jawab Abimana menunjuk Raniya dengan segala centilnya meledek, bahkan jual mahal sekali. “Aku meminta restu untuk kami, Te. Kali ini dan yang terakhir, izinkan dan restui kami memulai kehidupan baru. Izinkan aku menikahi Raniya dengan segala kesungguhan dan segenap hati, bukan semata karena kejadian malam itu, tapi karena aku sangat mencintainya. Te, kenalan-kenalan itu aku tolak karena aku menunggunya kembali,” katanya sedikit mengadu. Tante Sena menghela nafasnya.
Tidak mempunyai pengalaman dekat dengan seorang ibu, justru sebaliknya. Tantangan Raniya untuk bisa meluluhkan dan mengambil percaya di hati tante Sena tak serta merta mudah. Akan tetapi, Raniya tidak ingin menyerah lagi demi hubungannya bersama Abimana yang tak melepaskannya begitu saja, pria itu akan selalu menjadi garda terdepan dan menunggunya setiap kali usaha dengan menjamin kenyamanan dan keamanan. “Om segitunya, kayak aku mau ditampar aja!” omel Raniya karena menurutnya Abimana berlebihan. “Kita nggak tau marahnya orang bagaimana, meskipun nggak pernah juga. Saya khawatir,” jawab Abimana hampir saja menelpon perawat untuk bersiaga seperti Raniya sedang berperang. Raniya menepuk lengan kekasihnya itu, om-om yang kelewat khawatir karena saking sayangnya. Demi apapun ia merasa beruntung sekali mendapatkan kesempatan untuk dicintai lagi oleh pria itu meskipun memang jarak usia mereka terbentang jauh. “Aku masuk ya,” kata Raniya sementara Abimana menunggu di ruang tengah sem
“Nggak ada yang tidur sekamar, Te,” ujar Abimana langsung mendapatkan lirikan tajam dari tante Anggun. Wanita itu menoleh pada Raniya yang mendapatkan banyak pelukan tadi, sampai sekarang mereka masih meyakini perceraian itu terjadi karena Abimana selingkuh dan tidak mau Raniya mengalami hal itu lagi meskipun selama tiga tahun terakhir Abimana sudah menyesalinya. “Raniya, beneran nggak kasih rayuan gombal?” Tante Anggun memastikan, tak lupa lirikan penuh curiga ia lemparkan pada Abimana. Raniya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Nggak sama sekali kok, Tante. Kami bertemu lagi di versi yang jauh lebih baik dan perasaan yang jauh lebih besar,” tuturnya. “Kamu secinta itu sama buaya ini, heh? Yakin mau balikan sama dia?” Raniya menoleh pada Abimana yang juga melihat ke arahnya. “Iya, Raniya mau banget memperbaiki semua bareng Mas Abi, Te. Banyak mimpi yang ingin kami wujudkan dan hanya bisa kami raih jika kami bersama. Tiga tahun cukup buat Raniya dan Mas Abi saling
Anggap saja malam itu Abimana tertidur karena faktanya sepanjang malam pria itu terus terjaga memandang wajah pulas sang mantan istri-Raniya. Entah mantan seperti apa mereka, rasanya tak pantas dianggap sebagai mantan jika mengingat bagaimana mereka berciuman kemarin. “Om, masih di kamar ya?” Raniya benar-benar datang pagi itu selepas mandi. Raniya berjalan dengan langkah kecilnya menuju kamar Abimana, melihat pintunya tidak tertutup rapat, ia pun mendorong pintu itu dan tiba-tiba tubuhnya ditarik kemudian didorong hingga terjerembab ke atas ranjang dengan Abimana di atasnya. “Om, ya ampun!” Raniya menekan dadanya, memukul lengan Abimana yang hanya memakai kaos singlet itu. “Udah mandi?” Abimana mengangguk. “Cuddle bentar boleh?” “Hem, sini!” Raniya membiarkan kepala Abimana berada di ceruk lehernya, jika dulu dirinya terganggu sekali, kali ini tidak, justru yang akan menahan Abimana untuk berlama-lama. Cukup lama keduanya diam sambil menikmati kebersamaan yang telah lama d
Raniya meremat dan mengacak rambut Abimana yang rakus menciuminya, seisi rongga mulut Raniya tak luput dari absen pria itu. Namun, tak hanya bibirnya yang dikulum habis, leher sampai tulang selangkanya pun basah dibuat pria itu seiring dengan suara desah yang Raniya suarakan tanpa malu. “Om!” Raniya menggelengkan kepalanya, menahan jari-jari Abimana yang hendak membuka kancing kemejanya. “Tempatnya pak Dani,” katanya sembari menangkup wajah merah tampan yang diliputi gairah itu. Abimana terpejam singkat sebelum menatap dalam mata sendu Raniya yang kini tersenyum tepat di hadapannya. Abimana ikut tersenyum, lalu mengecup bibir tipis basah itu lagi sebelum menurunkan Raniya dengan hati-hati. “Boleh nggak sih baikan langsung dimakan gini?” canda Raniya sambil merapikan kemeja dan rambutnya. “Awas berubah pikiran lagi!” kata Abimana kemudian merengkuh Raniya dan memeluknya lebih wajar. “Berubah pikiran apa nih? Mendadak pengen naik kasur gitu?” Raniya tergelak melihat ekspresi ge
Hanya untuk melihat seberapa serius Raniya menginginkan kebersamaan mereka yang bukan sekadar atas desakan lain kemudian kembali berubah di lain waktu. “Pak Dani!” Raniya menepuk lengan belakang sekretaris pribadi Abimana itu, pulang kerja dia langsung ke kantor Abimana selagi pria itu belum pulang. Dani berjengit, hampir saja sate minuman kaleng di tangannya dilemparkan. Raniya terkekeh. “Om Abi ada, kan?” “Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” Dani mengakrabkan diri, lagipula jarak usianya dengan Raniya itu tidak jauh, mereka seharusnya bisa berteman. “Bapak lagi ada rapat sampe malem, tapi di sini memang. Mau nunggu?” “Lama ya?” Dani mengangguk. “Kalau menurut agenda sih sampe jam delapan malem, tapi kebanyakan bisa lebih. Kalau mau nunggu nggak apa, bisa di ruanganku,” jawabnya memberi solusi, lalu condong sedikit pada Raniya. “Kalau kelamaan di sini, nanti banyak yang curiga loh! Ada beberapa yang penasaran kamu siapanya pak Abi,” bisiknya. Perasaan Raniya reflek dilem







