แชร์

Bab 6. Menikah?

ผู้เขียน: Moonlight
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-02 06:58:11

“Nggak semudah itu kami percaya,” kata Diniati melengos, malu sekali pada keluarga Aksara yang baru saja pergi sembari mengomel panjang dan mencaci makinya itu.

Abimana memahami perasaan Diniati, kedatangannya memang mendadak, apalagi ia tidak pernah mengenal orang tua Raniya dulu.

“Dengan apa saya bisa membuat anda berdua percaya?” tanya Abimana yang kini duduk tepat di depan orang tua Raniya, perempuan itu berada di sampingnya.

“Mas─” Raniya gelagapan.

“Nggak apa, biar aku yang urus!” kata Abimana tanpa memberikan kesempatan pada Raniya untuk bersuara, ia menatap wajah orang tua Raniya lagi. “Ibu mertua, saya harus apa?”

Diniati bersungut mendengar panggilan Abimana untuknya, dengan wajah memerah wanita itu menjawab, “Nikahi Raniya sekarang!”

Raniya nyaris menendang meja kaca di depannya, kepalanya sontak berdenyut hebat, alih-alih terbebas dari segala macam ancaman dan tekanan, ia justru mendapatkan masalah baru.

“Menikah?” Abimana tersenyum tipis sekali. “Kalau itu yang anda berdua inginkan, baiklah!”

Raniya jantungan, wajah perempuan itu berubah pucat.

“Ayo, menikah, Raniya!” ajak Abimana yang terang-terangan dan tak tahu malu mencium tangan Raniya di depan calon mertua.

Abimana tampak begitu santai menanggapi permintaan gila ibunya, seakan tidak ada beban sama sekali. Ia dengan kematangannya tampak sangat berwibawa dan tidak bisa diragukan, berbeda dengan isi hati Raniya yang ingin sekali memukul kepala pria itu.

“Buktikan kalau begitu!” kata Diniati angkuh.

***

Tangan yang tadi banyak digenggam sampai basah, diciumi sampai membekas bibir. Kini, berulang kali ditepis oleh Raniya yang sama sekali tidak ingin disentuh oleh Abimana. Setelah bersepakat dengan orang tua Raniya, Abimana mengajak perempuan yang dilamarnya mendadak itu pergi, lebih tepatnya untuk meluluhkan Raniya yang tampak kesal dan terus menghindarinya.

“Kamu kenapa?” tanya Abimana memaksa Raniya untuk menoleh, melihatnya. “Ada yang salah?”

“Om nggak tau salahnya atau pura-pura nggak tau?” balasnya menepis tangan Abimana yang berada di pundaknya, matanya melirik tajam pada Abimana, tampak benci sekali seperti pagi itu setelah menghabiskan malam panas bersama.

“Katakan coba!” Abimana melepaskan sabuk pengamannya supaya lebih leluasa memandang Raniya.

Raniya mendengus. “Aku nggak minta Om buat nikahin aku ya, bisa-bisanya Om setuju dan langsung ngomong kayak gitu ke mamaku! Om mikir nggak kalau mama bakal menganggap perkataan dan janji Om itu serius, mama bakal nagih Om buat segera nikahin aku!”

“Masalahnya di mana?” Abimana ringan sekali.

“Aku nggak mau nikah sama kamu!” jawab Raniya tampak aslinya.

Semua yang dikatakannya waktu itu ketika mereka bertemu adalah kebohongan, ia tidak benar-benar menginginkan Abimana hadir dalam hidupnya lagi, tetapi sebatas untuk membantunya terbebas dari tekanan dan ancaman ibunya yang terus memaksa menikah. Sekalipun Abimana telah merenggut mahkotanya, Raniya tidak mau menuntut itu, menikah dengan Abimana tidak pernah ada dalam daftar tujuan hidupnya.

“Maksudmu apa, Raniya?” Abimana mengerutkan keningnya, tak lagi terlihat santai meskipun tetap bersuara tenang.

“Aku nggak mau nikah, nggak mikir buat nikah juga! Om tadi cukup dateng dan buat mereka percaya kalau kita ada hubungan, Om ikutin aku, bukan seenaknya bikin skenario sendiri kayak tadi!” Raniya bersungut. “Om harusnya bisa nyari jawaban lain, bukan malah mancing mama buat minta aneh-aneh, apalagi sampe minta kita cepetan nikah. Kalau kayak gini, terus gimana? Untung nggak disuruh nikah siri dadakan!”

Abimana terdiam, kepalanya sontak berisik sekali. Raniya yang ada di depannya sekarang sangat amat berbeda dengan Raniya sore itu usai menelponnya dengan nada suara yang penuh harap dan berbicara di depannya dengan rendah hati juga sangat mendambanya.

Hati Abimana sempat berbunga dan dilema, tetapi ia yang berpikir telah mengenal Raniya dengan baik, ternyata salah. Perempuan itu tidak sama dengannya, Raniya menginginkan hal lain yang tak terbaca olehnya. Parahnya, Raniya semakin membencinya sekarang.

“Cih!” Abimana meraup wajahnya. “Membuat mereka percaya kalau kita ada hubungan, artinya kamu hanya ingin aku berpura-pura begitu? Kedatanganku ke rumahmu hanya sebatas sandiwara, Raniya? Lalu, setelah itu kita say good bye atau mesra waktu dibutuhkan?”

Pria itu tertawa getir, ia bisa membaca maksud Raniya sekarang. Dan, Abimana kecewa pada Raniya juga dirinya sendiri, sebodoh itu.

“Terus, kamu mau apa sekarang?” Abimana meloloskan desah sesal panjangnya.

Raniya memalingkan wajahnya. “Batalin!” jawabnya.

“Apa?”

“Bilang ke mama kalau rencana pernikahan kita batal!” Raniya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali, bahkan rasa bersalah telah membohongi Abimana pun tidak.

“Kalau aku nggak mau?” Abimana tersenyum sekaligus menyeringai tipis, kedua tangannya terlipat ke depan dada sambil bersandar punggung.

Raniya melotot, detik itu juga Abimana menertawakannya. Pria itu diam-diam menghanyutkan dan ia seperti terjebak seakan tak bisa lepas.

“Pokoknya, aku nggak mau nikah sama kamu dan batalin semua!” kata Raniya tegas, suaranya seakan memecahkan langit-langit mobil itu. “Sekarang, kita kembali ke rumahku atau kapan terserah Om maunya, Om harus bilang ke mereka kalau pernikahan ini batal, entah mau pake alasan apa, aku nggak mau tau. Pernikahan itu harus batal, aku nggak mau!”

“Nggak perlu mikir nanti aku ada masalah apa lagi, aku bisa pikir sendiri. Salah banget udah mikir kamu, malah bikin susah! Lagian, siapa yang mau nikah sama tukang check in!” tambah Raniya pedas sekali.

Abimana tidak berniat menjawab, pria itu langsung mengubah posisi duduknya tanpa banyak bicara sehingga Raniya pun mengikutinya, mobil itu melaju kembali dengan keheningan sampai tujuan. Bahkan, sesampainya di depan rumah Raniya, Abimana pergi begitu saja setelah menurunkan Raniya tanpa menunggu atau berpamitan.

Raniya mendengus, meledek Abimana dengan menjulurkan lidahnya. Hidupnya dalam beberapa hari itu kacau sekali, kepalanya terasa berat dan berharap semuanya segera selesai. Namun, lagi dan lagi ketenangan itu tak serta merta Raniya dapatkan, sebab tengah malam sebuah pesan dari Abimana membuat kantuknya lenyap.

Abimana: Raniya, gimana kalau orang tua kamu tau kejadian malam itu? Rekamannya ada loh!

Sebuah file video terlampirkan pada pesan itu, malam panas yang tampak sekali dirinya merayu Abimana untuk memuaskan diri bersamanya.

Abimana: Yakin mau batalin pernikahan kita? Nggak mau coba lagi sama aku atau aku kirim aja videonya ke mamamu, hm? Besok pagi?

Raniya gemetaran, ia pun bergegas menelpon Abimana, tetapi berulang kali panggilan itu ditolak. Raniya frustrasi hingga terlintas di pikirannya, haruskah ia datang ke apartemen Abimana sekarang juga?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 91. Berbahagia

    Pertama kali keluar bersama mertua, Ziya agak canggung dan gugup tadi, beruntung ibu mertuanya itu ramah dan hangat sekali, dia merasa tidak hanya menjadi menantu di sini, melainkan anak perempuan. “Kamu nanti duduk-duduk aja, nggak usah pake banyak gerak dulu, biar badannya pulih!” kata Raniya menuturkan pada menantunya yang sudah banyak gerak itu, padahal baru saja pulang dari rumah sakit. Ziya mengangguk, sebenarnya juga dia merasa ingin berbaring dan meluruskan kaki, tetapi hal seperti ini jarang sekali, bahkan tidak pernah dia pergi berbelanja bersama seorang ibu, Ziya seperti tidak mau membuang kesempatan. “Tan—” “Mama!” Raniya meralatnya, Ziya sudah menjadi anaknya sekarang. “Panggilannya diganti, nanti papamu juga ngambek kalau dipanggil om-om ya!” katanya tertawa, mengingat momen dulu ketika dia suka sekali memanggil sang suami dengan panggilan Om karena selisih umur mereka yang cukup jauh. “Iya, Mama … jangan marah ya, hehehe!” Melihat itu, bagaimana Raniya tidak gem

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 90. Diterima

    “Kak Zayn!” Ziya berucap lirih usai ciuman dengan penuh kerinduan itu selesai, bibirnya yang tadi lembab dan berwarna, kini hanya tersisa warna tipis juga agak bengkak. “Ganas sekali!” celetuknya. Zayn tergelak, menahan diri setelah sekian lama dan dengan Ziya yang menggemaskan begitu, rasanya tak bisa lagi. Zayn tidak hanya mengandalkan nafsunya sebagai pria dewasa, tetapi perasaan besarnya yang tak ingin menunda lagi kebersamaan mereka, memutus jarak yang memisahkan mereka dengan status sah seperti Kia dan Ghana. Dia ingin perempuan itu segera menjadi istrinya, Zayn akan menunjukan istana yang tepat untuk Ziya tanpa perlu bersusah payah lagi. “Aku jadi takut,” kata Ziya kepikiran. “Takut apa?” “Kak Zayn hanya ingin melampiaskan nafsu saja denganku, lalu aku dibu—” Ziya dibungkam lagi, kali ini lebih keras hisapannya, tetapi singkat. “Sekali lagi menuduhku begitu, aku cium di depan mama papa!” ancam pria itu. Ziya mengkerut takut, lalu bergeser mendekat memeluk raga besar

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 89. Si Pemilik Hati

    Malam itu, faktanya ada saksi yang melihat kebersamaan Zayn dan Ziya. Usianya mungkin sudah tua, tetapi dia tetap seorang ayah dan pengusaha ulung yang tidak bisa semudah itu melepaskan tanggung jawab, apalagi yang berurusan dengan anaknya. “Papa sudah mencari tau soal keluarganya, Zayn. Kepikiran memang iya, tanyakan saja pada Mamamu! Tapi, tanpa melihat latar belakangnya, Ziya tak mempunyai kesalahan selain dia mengiyakan untuk lahir di sana, di keluarga yang sama sekali tidak menghargainya. Kalau kamu perlu bantuan, Papa bisa. Ghana?” Ghana reflek menegakkan punggungnya. “Saya sudah berbicara dengan Kia dan ini tidak ada masalah sama sekali. Saya siap membantu,” jawabnya. Abimana tersenyum mendengar itu, tak salah dia memberikan restu putrinya untuk menikah dengan Ghana, selain mempunyai taktik yang hebat dalam usaha, pria itu sangat bisa diandalkan. “Kita bisa berunding caranya, tapi kamu nggak mau ajak gadis itu ke rumah, Zayn?” Abimana menoleh pada istrinya. “Kita kan juga m

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 88. Dukungan

    “Ziya?” Kening Ghana mengerut begitu mengulang nama itu. Kia mengangguk. “Keluarganya terkenal sangat problematik, sejak lama dan sampai sekarang soal statusnya sebagai anak seorang simpanan terus diperbincangkan tanpa mau mendengar juga mengenal bagaimana Ziya sebenarnya. Dia dihakimi, pernah dijual, dilecehkan, lalu dinikahkan tanpa status jelas kemudian ditinggalkan demi kepentingan pribadi keluarganya. Dia ada di sana hanya untuk dimanfaatkan, pribadinya yang polos dan terbentuk dari tekanan memudahkan orang lain menjebaknya,” jelasnya ikut merasakan sakit. Ghana terdiam, ia banyak mendengar kebejatan orang-orang di luar sana, tetapi kali ini jauh lebih dari sekadar bejat, terlebih keluarga. Dia pernah nakal, menjadi pribadi yang susah sekali diatur, hanya lagi dan lagi Ghana tak percaya ada keluarga yang memperlakukan anak perempuannya seperti binatang meskipun terlahir dari wanita simpanan, tetap saja Ziya darah daging mereka, di dalam diri Ziya mengalir kuat gen mereka yan

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 87. Bisakah Bersama?

    Ziya masih sangat canggung dengan hubungan mendadaknya bersama Zayn itu, walaupun Zayn tidak memburunya seperti diawal sebelum dia akhirnya menerima di rumah makan itu, tetapi perhatian yang Zayn berikan ketika pria itu tidak sibuk cukup membuatnya cemas. “Tapi, kalau nggak dikabarin akunya juga waswas,” gumamnya tak keluar rumah seperti yang Zayn katakan. Ziya melorotkan kedua bahunya, cidera mental sejak kecil dengan lingkungan keluarga yang sangat beracun menjadikannya selalu sangat bergantung pada orang baru. Ziya sudah mencoba memberikan batasan, tetapi kesungguhan Zayn hari itu cukup menggoyahkannya sehingga hubungan mereka langsung diberi status. Dia bagaikan daun kering yang terbawa angin, setiap kali raganya menemukan tempat berhenti, begitu kuat bertahan, walau akhirnya tempat itu membiarkan dia pergi lagi terbawa angin. “Semoga dia tidak,” ucap Ziya kesekian kalinya, putus asa mulai menyerang. Zayn: Bisa aku telpon? Mata Ziya mengerjap, pria itu seperti dekat sekali sa

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 86. Kesungguhan Zayn

    “Iya, iya, nggak ada! Aku cuman bercanda, sumpah!” kata Ziya daripada masalahnya semakin melebar, menghadapi Zayn seorang diri sama saja mempersiapkan diri untuk mati. “Kita di sini, aku nggak ada janji—” “Pakaian itu?” Ziya menunduk melihat pakaian yang tadi dia banggakan untuk bertemu yang lain. “Hahaha, ini jelas aku persiapkan buat … ketemu kamu, kan malu kalau nggak sepadan,” cicitnya. Sorot tajam Zayn reflek berubah teduh, ada senyum tipis di mata itu mendengarkan pengakuan dari Ziya yang sesuai dengan prasangkanya tadi, perempuan itu memang mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin meskipun pengakuannya sekarang hanya agar tidak malu saja. “Memangnya, aku menuntut kamu untuk sepadan? Kita berbeda?” Zayn mencapit dagu Ziya sehingga mendongak menatapnya. “Kita sepadan, Zi. Soal bagaimana hidupmu, aku tau dan menerima itu tanpa kamu minta. Jadi, bisakah kita mencoba berjalan?” “Jalan?” Ziya mengerjap bingung. Zayn menganggukkan kepala, dirinya kembali duduk di temp

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 7. Diam-Diam

    “Bodoh!” Raniya memukul kepalanya. Malam itu juga, Raniya pergi seorang diri untuk menemui Abimana di apartemennya. Raniya memakai setelan piyama pendek berbahan kaos dan rambutnya diikat tinggi sehingga leher putihnya terlihat menggoda, ditambah lagi perempuan itu tak sadar piyamanya cukup ketat

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 5. Dia Datang!

    “Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan ka

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 4. Pertemuan Tak Terduga

    [Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana.“O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?”

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 3. Dijodohkan?

    “Dia ganteng, pinter, baik, mapan, sayang keluarga … pilihan Mama nggak mungkin salah, Raniya. Lihat baik-baik!” terang Diniati sambil menunjuk kelima foto pria tampan itu bergantian dengan gaya yang berbeda. “Namanya Aksara, seganteng wajah dan sifatnya!” “Memangnya, Mama udah kenal banget sampe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status