Share

Bab 7. Diam-Diam

Auteur: Moonlight
last update Date de publication: 2026-04-04 17:56:24

“Bodoh!” Raniya memukul kepalanya.

Malam itu juga, Raniya pergi seorang diri untuk menemui Abimana di apartemennya. Raniya memakai setelan piyama pendek berbahan kaos dan rambutnya diikat tinggi sehingga leher putihnya terlihat menggoda, ditambah lagi perempuan itu tak sadar piyamanya cukup ketat untuk menampakkan lekuk tubuhnya.

“Om Abi!” panggil Raniya sambil menekan bel berulang kali saking jengkelnya dan menendang pintu sekuat tenaga. “Om Abimana!”

“Om Abi!”

Raniya terperanjat sampai terhuyung mundur begitu pintu yang tadi ia tendang terbuka, pria yang nyaris membuat ia mati ketakutan itu muncul dengan kaos singlet dan celana kain pendek berwarna abu-abu yang tak elak menampakkan bagian menonjol di antara dua paha besar.

Mata gelap dengan sorot tajam itu seakan mengulitinya, Raniya tak berkedip sama sekali, tatapannya berpindah-pindah dari wajah Abimana kemudian benda menonjol di bawah sana, keduanya sama-sama beraura kuat.

“Enggak!” Raniya menggelengkan kepalanya, membuang pikiran kotor yang sialnya datang diwaktu yang tidak tepat. “Om, jangan aneh-aneh ya!” katanya berkacak pinggang, pria itu benar-benar menyebalkan.

Abimana mengangkat sebelah alisnya, menunggu santai sembari mengamati wajah Raniya yang memerah.

“Jangan kayak ibu-ibu yang sukanya ngancem!” Ia mendengus geli, memalingkan wajahnya. “Bisa-bisanya pasang CCTV di kamar! Hapus nggak!”

“Nggak!” sahut Abimana cepat.

Raniya terbelalak, mengendalikan emosinya yang bercampur malu itu, terbayang video itu diputar ulang dengan dirinya yang agresif dibandingkan si tukang sewa hotel di depannya itu. Suara desahan, lenguhan, rintihan dan semua ekspresinya yang memalukan, ditambah dengan suara dan perkasanya Abimana. Wajah Raniya semakin memerah karena mengingatnya.

“Hapus, Om Abi! Kamu nggak malu apa?”

“Nggak juga.”

Setan!

Tangan Raniya terkepal kuat, wajahnya yang berpaling tadi sudah kembali menatap Abimana dan menyiratkan kebencian meskipun masih merah malu.

“Kalau kamu bisa seenaknya, aku juga bisa seenaknya, Raniya,” kata Abimana tak mampu menahan kekesalannya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga wajahnya tepat berada di depan wajah Raniya yang spontan mundur. “Kamu egois, hanya memikirkan kepentinganmu sendiri. Padahal, aku sepenuhnya bertanggung jawab, tapi sikapmu malah seenaknya, nggak memikirkan gimana perasaanku, dari dulu meskipun aku buruk, aku tulus ke kamu. Jadi, kalau kamu mau bermain-main, aku juga bisa. Mau besok pagi atau siang aja videonya aku kasih ke orang tuamu, hm? Atau kamu mau malam ini aja aku kasih supaya mereka tau kalau anak mereka yang─”

“Jangan!” Raniya membekap mulut Abimana dengan kedua tangannya yang dingin dan sedikit basah. “Maksudku ... iya aku salah, tapi nggak gini juga solusinya!” katanya sembari menjauhkan tangannya.

Abimana bisa merasakan bagaimana Raniya gugup dan gemetaran, perempuan itu tak cukup berani untuk melawannya. Akan tetapi, iba di hatinya malam itu tengah lelap sehingga yang tersisa hanya kecewa yang ingin sekali Raniya patuh kepadanya, mengunci perempuan itu dalam alur hidupnya yang entah nanti berakhir seperti apa. Egonya sebagai pria terluka atas sandiwara yang Raniya ciptakan, apalagi sejak dulu bersama Raniya begitu tulus, kenakalannya pun sudah berlalu.

“Terserah, Raniya! Pilihanmu cuman ada dua ... setuju melanjutkan rencana pernikahan ini atau kita selesai dan mereka tau video kita. Kamu pilih yang mana?” Abimana menggedikan bahunya, tampak enggan sekali.

Raniya meremat jemarinya, tubuhnya tidak hanya gemetaran, tetapi Raniya juga banjir keringat sehingga lehernya terlihat mengkilap dan semakin menggoda. Bahkan, semua yang ada pada Raniya tak luput dari perhatian Abimana, Raniya yang indah.

“Om, kamu itu udah berumur, harusnya lebih bijak!” kata Raniya mencoba mengulur waktu.

“Kamu pilih yang mana?” Abimana tidak ingin memberikan kesempatan, ia menunjukkan waktu yang berjalan pada ponselnya. “Sekali klik, sudah terkirim ke nomor ibumu. Pilih!”

Raniya terbelalak, ternyata Abimana mendapatkan nomor ponsel ibunya, ia kecolongan.

“Om, kita bisa cari solusi lain!”

“Pilih!” Abimana mulai menghitung. “Satu, du─”

“OKE, IYA, KITA MENIKAH!” teriak Raniya sampai berjengit sendiri karena suaranya yang menggema.

Abimana mundur, membuka pintu lebih lebar agar Raniya ikut masuk bersamanya.

***

“Kontrak?” Abimana menekuk kedua alisnya, mau mengomel protes dan memberikan ancaman lagi. “Raniya─”

“Kan, yang penting kita menikah loh!” potong Raniya menguras kesabaran seorang Abimana, hanya perempuan itu yang berbeda dan berani. “Lagian juga kamu itu suka ganti-ganti cewek’kan sejarahnya, jadi pasti nggak cukup sama satu aja, bakal susah cocok. Jadi, daripada kamu nggak nikah-nikah sampe ubanan, yaudah nggak apa sementara sama aku!”

Abimana tidak habis pikir dengan isi kepala Raniya, tetapi daripada pusing memprotes perempuan itu, Abimana memilih untuk meladeninya. Egonya sebagai pria tertarik untuk membuat perempuan seperti Raniya itu tunduk, rasanya akan lebih seru nanti meskipun menjengkelkan sekarang.

“Oke, aku setuju. Mau berapa lama kamu jadi istriku?” Abimana menyanggupi.

Kening Raniya mengerut bersamaan dengan bibirnya yang maju mundur sedang bergumam bingung, menghitung tidak jelas.

“Satu atau dua tahun?” tanyanya.

“Terserah!” jawab Abimana cepat.

“Eum, satu tahun aja ya ... males banget lama-lama sama kamu!” putus Raniya yang tak disangka akan diangguki cepat oleh Abimana. “Harusnya sih enam bulan aja, ada juga yang sebulan nikah langsung cerai. Tapi, biar nggak malu banget aja sih nanti!”

Abimana menyingkirkan kesalnya yang nyaris meluap, perempuan yang sedang asik membuat surat kontrak pernikahan mereka beserta poin-poin penting sebagai aturan di depannya itu menguji kesabarannya. Raniya dengan segala keegoisan yang ada, di kepala perempuan itu hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Abimana cukup mengerti jika dirinya tidak dipikirkan, tetapi Raniya seolah lupa kalau Abimana juga mempunyai keluarga yang harus dijaga nama baiknya.

Hal itu membuat Abimana kesal, kagum dan sisa rasanya pada Raniya seketika tertutupi oleh kesalnya. Maka, Abimana merebut kertas yang sejak tadi sibuk di tangan Raniya dan menambahkan isinya.

“Aku juga punya aturan dan syarat yang harus kamu patuhi,” katanya.

Raniya mengintip penasaran. “Apa?”

Beberapa poin yang tadi sudah Raniya rinci, mulai dari tanpa cinta, tidak bersentuhan atau sekamar dan tidak boleh ikut campur. Ada beberapa yang Abimana coret tidak setuju dan tambahkan, terutama pada urusan hak sebagai suami istri.

“Mau pernikahan ini dengan dan ada cinta atau nggak, poin kedua ini aku nggak setuju. Terserah kamu mau sekamar atau enggak, tapi kebutuhan biologisku sebagai pria dan suami harus kamu berikan!” kata Abimana menunjuk poin kedua setelah urusan cinta yang tak penting menurutnya.

“Om, aku nggak mau ngelakuin itu sama kamu!"

“Seminggu tiga kali!” cetusnya.

Raniya menganga lebar, memukul lengan Abimana cukup kencang seakan semua tenaganya dikerahkan.

“Mesum! Aku nggak mau!” katanya.

Abimana tidak peduli, ia pun berkata, “Kalau kamu nggak setuju, kita batal aja!” Ia menggeser kertas perjanjian itu. "Tiga kali dalam seminggu kamu harus izinin aku mainin tubuhmu tanpa harus memasukimu, aku butuh itu sebagai pria, kamu puaskan dengan cara-cara lain!"

"Mau lanjut atau batal?"

Lebih kacau lagi, sudah susah payah Raniya meluluhkan pria di sampingnya itu, salah sedikit saja semuanya akan hancur dan habis, Raniya tidak bisa membayangkan bagaimana orang tuanya melihat video itu, akan jauh lebih baik dirinya gagal menikah dan tidak dianggap keluarga lagi daripada video itu tersebar.

“Video ini─”

“Iya, iya!” Raniya menurunkan tangan Abimana yang hendak mengambil ponsel lagi. “Aku setuju, tapi ... dua kali!”

“Tiga itu udah paling normal, Raniya. Bisa kejang-kejang aku kalau nggak dibantu keluar!” tolak Abimana.

Raniya mengepalkan tangannya. “Y-ya, oke, iya ... tapi, berjarak! Nggak boleh tiga hari berturut-turut atau barengan!” Ia merasa gila sekali.

“Setuju!” kata Abimana kemudian menunjuk poin lainnya. “Semua memang punya urusan masing-masing, tapi selama kamu masih jadi istriku nanti, kamu tanggung jawabku, kabarmu penting. Jadi, kasih aku kabar! Terserah kamu mau tau kabarku atau enggak, aku tetep mau selalu tau soal kamu.”

Raniya mengedikan bahunya, lalu melirik pada poin lain yang Abimana tambahkan.

“Selama kamu menjadi istriku, nggak boleh ada orang ketiga, baik aku atau kamu, paham?”

“Iya,” jawab Raniya sambil melirik malas.

Abimana menyalinnya pada komputer dan mencetaknya rapi, memberikan materai di sana sehingga mereka sama-sama kuat meskipun surat itu hanya akan menjadi rahasia mereka saja sampai berpisah. Raniya mempercayakan pada Abimana untuk menyimpan surat itu, ia hanya menyimpan berupa file foto di ponselnya, sebab pria itu mempunyai brankas yang aman.

“Udah selesai, kan? Aku mau pulang!” Raniya beranjak dari duduknya, tetapi tubuhnya justru tertarik mundur, ambruk ke atas pangkuan Abimana. “Ma-mau apa?”

“Yang satu, aku minta uji coba jatahnya sekarang ya?” bisik Abimana.

Reflek, tubuh Raniya menegang.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 13. Pelukan Hangat

    Kini, setelah beberapa acara terlewati maka sampailah Raniya di apartemen yang akan menjadi saksi hidupnya selama satu tahun ke depan. Senyumnya spontan lenyap. Suka tidak suka, mau tidak mau, rela tidak rela. Dirinya paham tidak hanya soal saling memberikan kepuasan sesuai kontrak, melainkan banyak hal rumit yang mungkin akan baru ia temukan setelahnya bersama pria yang tak diinginkan itu. “Ibu mertua menelpon, katanya ponselmu nggak bisa dihubungi, Raniya,” kata Abimana sembari menarik koper istrinya itu masuk ke kamar. Raniya menoleh, tersenyum kecut. “Emangnya, peduli apa? Yang dia mau udah terlaksana, mau apa lagi?” Kedua bahu Abimana melorot mendengar itu, hubungan ibu dan anak perempuan yang kurang baik nyatanya ada di depan mata, sedangkan dirinya yang sudah se tua itu merindukan sang ibu dan ingin bergelayut manja, tetapi tidak bisa. Abimana tidak menghakimi Raniya seperti yang perempuan itu bayangkan usai menjawab dengan melempar balik beberapa pertanyaan.

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 12. Loh, Masuk!

    Abimana mengadu masing-masing kening berkeringat mereka, sorot matanya mengunci pupil lemah Raniya menerima setiap hentakannya di bawah sana. Di atas tubuh Raniya yang patuh, Abimana bergerak serampangan, menggesekan miliknya pada kewanitaan Raniya sesukanya. Rintihan Raniya seakan menjadi pemacu gairahnya yang sulit surut tak sesuai dengan gertakannya diawal yang tidak akan hanyut pada Raniya. “Bagaimana?” Abimana menekan hidung Raniya, mencuri kecup di bibir tipis itu. “Enak? Suka? Mau lebih?” Raniya nyaris mengangguk jika tidak teringat siapa Abimana dan betapa menyebalkannya pria itu. Maka, disisa kendalinya itu Raniya menampakkan ekspresi datarnya sekalipun ingin berteriak dan miliknya di bawah sana telah terbuka menganga menginginkan lebih. “Kamu bohong!” Terluka oleh ekspresi datar Raniya yang berlawanan, Abimana semakin meliarkan gerakannya, melangitkan desah perempuan itu sampai putihnya tuntas. “Agh, Raniya, agh!” Kuku-kuku tangan Raniya menancap sempurna di pungg

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 11. Mau Lagi

    “Cukup?” Abimana merendahkan tubuhnya. Raniya mendongak, menggigit bibir bawahnya sembari menatap wajah Abimana yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. “Aku lanjut!” putus Abimana mengartikan sorot mata Raniya. Jari-jari panjang itu memberi tekanan tepat di depan kewanitaan Raniya, memainkan yang basah untuk membuka celah tersembunyi. Abimana memejamkan matanya sekilas, titik basah dan hangat itu mendentumkan dadanya, bagian dari diri Raniya yang teramat dirindukan dan susah dilupakan. Bagaimana perempuan itu menjepitnya kuat seakan nyaris patah, tetapi candu. Dan betapa berharganya ia menjadi yang pertama bagi Raniya seakan-akan jiwanya bisa saja tunduk pada perempuan itu jika diinginkan. “Om!” Raniya melemparkan kepalanya ke belakang begitu jari panjang Abimana mencoba memasukinya. Perih, sakit, tetapi menyebalkan untuk dilepas. “Apa, hm?” Abimana menarik ulur jarinya, bibirnya menciumi telinga Raniya yang terengah-engah. “Rasakan dulu, Raniya! Kenikmatan ya

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 10. Sudah Siap?

    “Kamu udah siap?” Abimana terkekeh melihat wajah masam Raniya yang terus berulang mendapatkan pertanyaan tentang hak dan kewajiban setelah menikah darinya, tetapi Raniya juga cukup pandai menutupi dengan tetap tenang selama acara pernikahan berlangsung dan harus menuruti permintaan foto dari banyaknya anggota keluarga. “Aku cuman ngelakuin itu atas dasar perjanjian, nggak pake hati, inget itu!” kata Raniya seraya melirik sinis. “Yakin?” “Yakin! Nggak akan aku tergoda sama kamu, amit-amit!” Raniya melengos. Namun, alih-alih repot tersakiti dengan ucapan Raniya, Abimana justru penasaran sekali dan tidak sabar acara mereka selesai, lalu mengungkung perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu sepanjang malam. *** “Kamu pulang ke rumah Raniya?” Tante Sena memastikan ulang sebelum keluarga yang lain pulang, mereka masih berkumpul di rumah keluarga besar sampai besok. Abimana mengangguk, ia masih menunggu Raniya melepaskan aksesoris kepala yang terasa berat. “Besok baru kami ke ap

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 9. Sah

    Kepala Raniya berdenyut membayangkan nanti hari-harinya usai menikah sibuk dengan kewajiban-kewajiban sebagai istri, walaupun mereka terikat kontrak diam-diam, tetapi poin-poin yang telah disepakati tentunya harus dipatuhi selama dirinya menjadi istri Abimana, jika tidak maka ancaman Abimana akan berlaku. Satu bulan terasa sangat cepat, setiap hari Raniya sibuk mengurus segala persiapan untuk pernikahannya yang dibantu kerabat Abimana. Komunikasinya dengan Abimana pun hanya sekadarnya, ia terlalu lelah, tetapi tak ada ruang untuk istirahat sejenak. Lusa, ia menikah. “Pakai lulur yang Mama kasih kemarin, terus ikut Mama nanti malem buat cukur bulu!” Diniati lebih antusias daripada Raniya, pernikahan itu harus berhasil. Mata Raniya melebar. “Cukur bulu?” tanyanya heran. “Iya, nggak cuman baju-bajumu aja yang diganti, tapi dalemnya harus lebih terawat. Lulur dan sabunmu udah Mama upgrade, tinggal bersihin bulu-bulu aja, atas sama bawah, semua!” terang Diniati sambil menunjuk ketiak d

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 8. Bertemu Keluarga

    “Kita belum menikah,” kata Raniya terdengar seperti bisikan, pupilnya tampak mengecil. “Kenapa kalau belum?” Abimana ikut memelankan suaranya. Dada Raniya kian sesak, terlebih saat nafas hangat beraroma mint Abimana menabrak lembut wajahnya yang memerah. Bibir pria itu hanya berjarak satu ruas jari dari bibir Raniya yang mengerut, tampak manyun tanpa sengaja. Semakin dekat wajah Abimana, semakin kencang detak jantung Raniya yang siap meledak. “Kamu gugup?” Raniya mengangguk, bibirnya sempat terbuka hendak menjawab, tetapi Abimana seakan tak memberikan kesempatan, sebab bibir tipis milik Raniya yang sejak tadi mengerut manyun begitu sayang untuk dilewatkan. Raniya terdiam kaku, hangat dan basah bibir Abimana mengikis kewarasannya. Abimana tersenyum ditengah ciuman yang dimulainya itu, melihat Raniya yang perlahan memejamkan mata menikmati pagutan lembutnya meskipun perempuan itu belum bisa membalas. Ia lanjutkan sebentar sampai tubuh Raniya tidak tegang lagi kemudian pelan-pe

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status