LOGIN“Bodoh!” Raniya memukul kepalanya.
Malam itu juga, Raniya pergi seorang diri untuk menemui Abimana di apartemennya. Raniya memakai setelan piyama pendek berbahan kaos dan rambutnya diikat tinggi sehingga leher putihnya terlihat menggoda, ditambah lagi perempuan itu tak sadar piyamanya cukup ketat untuk menampakkan lekuk tubuhnya. “Om Abi!” panggil Raniya sambil menekan bel berulang kali saking jengkelnya dan menendang pintu sekuat tenaga. “Om Abimana!” “Om Abi!” Raniya terperanjat sampai terhuyung mundur begitu pintu yang tadi ia tendang terbuka, pria yang nyaris membuat ia mati ketakutan itu muncul dengan kaos singlet dan celana kain pendek berwarna abu-abu yang tak elak menampakkan bagian menonjol di antara dua paha besar. Mata gelap dengan sorot tajam itu seakan mengulitinya, Raniya tak berkedip sama sekali, tatapannya berpindah-pindah dari wajah Abimana kemudian benda menonjol di bawah sana, keduanya sama-sama beraura kuat. “Enggak!” Raniya menggelengkan kepalanya, membuang pikiran kotor yang sialnya datang diwaktu yang tidak tepat. “Om, jangan aneh-aneh ya!” katanya berkacak pinggang, pria itu benar-benar menyebalkan. Abimana mengangkat sebelah alisnya, menunggu santai sembari mengamati wajah Raniya yang memerah. “Jangan kayak ibu-ibu yang sukanya ngancem!” Ia mendengus geli, memalingkan wajahnya. “Bisa-bisanya pasang CCTV di kamar! Hapus nggak!” “Nggak!” sahut Abimana cepat. Raniya terbelalak, mengendalikan emosinya yang bercampur malu itu, terbayang video itu diputar ulang dengan dirinya yang agresif dibandingkan si tukang sewa hotel di depannya itu. Suara desahan, lenguhan, rintihan dan semua ekspresinya yang memalukan, ditambah dengan suara dan perkasanya Abimana. Wajah Raniya semakin memerah karena mengingatnya. “Hapus, Om Abi! Kamu nggak malu apa?” “Nggak juga.” Setan! Tangan Raniya terkepal kuat, wajahnya yang berpaling tadi sudah kembali menatap Abimana dan menyiratkan kebencian meskipun masih merah malu. “Kalau kamu bisa seenaknya, aku juga bisa seenaknya, Raniya,” kata Abimana tak mampu menahan kekesalannya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga wajahnya tepat berada di depan wajah Raniya yang spontan mundur. “Kamu egois, hanya memikirkan kepentinganmu sendiri. Padahal, aku sepenuhnya bertanggung jawab, tapi sikapmu malah seenaknya, nggak memikirkan gimana perasaanku, dari dulu meskipun aku buruk, aku tulus ke kamu. Jadi, kalau kamu mau bermain-main, aku juga bisa. Mau besok pagi atau siang aja videonya aku kasih ke orang tuamu, hm? Atau kamu mau malam ini aja aku kasih supaya mereka tau kalau anak mereka yang─” “Jangan!” Raniya membekap mulut Abimana dengan kedua tangannya yang dingin dan sedikit basah. “Maksudku ... iya aku salah, tapi nggak gini juga solusinya!” katanya sembari menjauhkan tangannya. Abimana bisa merasakan bagaimana Raniya gugup dan gemetaran, perempuan itu tak cukup berani untuk melawannya. Akan tetapi, iba di hatinya malam itu tengah lelap sehingga yang tersisa hanya kecewa yang ingin sekali Raniya patuh kepadanya, mengunci perempuan itu dalam alur hidupnya yang entah nanti berakhir seperti apa. Egonya sebagai pria terluka atas sandiwara yang Raniya ciptakan, apalagi sejak dulu bersama Raniya begitu tulus, kenakalannya pun sudah berlalu. “Terserah, Raniya! Pilihanmu cuman ada dua ... setuju melanjutkan rencana pernikahan ini atau kita selesai dan mereka tau video kita. Kamu pilih yang mana?” Abimana menggedikan bahunya, tampak enggan sekali. Raniya meremat jemarinya, tubuhnya tidak hanya gemetaran, tetapi Raniya juga banjir keringat sehingga lehernya terlihat mengkilap dan semakin menggoda. Bahkan, semua yang ada pada Raniya tak luput dari perhatian Abimana, Raniya yang indah. “Om, kamu itu udah berumur, harusnya lebih bijak!” kata Raniya mencoba mengulur waktu. “Kamu pilih yang mana?” Abimana tidak ingin memberikan kesempatan, ia menunjukkan waktu yang berjalan pada ponselnya. “Sekali klik, sudah terkirim ke nomor ibumu. Pilih!” Raniya terbelalak, ternyata Abimana mendapatkan nomor ponsel ibunya, ia kecolongan. “Om, kita bisa cari solusi lain!” “Pilih!” Abimana mulai menghitung. “Satu, du─” “OKE, IYA, KITA MENIKAH!” teriak Raniya sampai berjengit sendiri karena suaranya yang menggema. Abimana mundur, membuka pintu lebih lebar agar Raniya ikut masuk bersamanya. *** “Kontrak?” Abimana menekuk kedua alisnya, mau mengomel protes dan memberikan ancaman lagi. “Raniya─” “Kan, yang penting kita menikah loh!” potong Raniya menguras kesabaran seorang Abimana, hanya perempuan itu yang berbeda dan berani. “Lagian juga kamu itu suka ganti-ganti cewek’kan sejarahnya, jadi pasti nggak cukup sama satu aja, bakal susah cocok. Jadi, daripada kamu nggak nikah-nikah sampe ubanan, yaudah nggak apa sementara sama aku!” Abimana tidak habis pikir dengan isi kepala Raniya, tetapi daripada pusing memprotes perempuan itu, Abimana memilih untuk meladeninya. Egonya sebagai pria tertarik untuk membuat perempuan seperti Raniya itu tunduk, rasanya akan lebih seru nanti meskipun menjengkelkan sekarang. “Oke, aku setuju. Mau berapa lama kamu jadi istriku?” Abimana menyanggupi. Kening Raniya mengerut bersamaan dengan bibirnya yang maju mundur sedang bergumam bingung, menghitung tidak jelas. “Satu atau dua tahun?” tanyanya. “Terserah!” jawab Abimana cepat. “Eum, satu tahun aja ya ... males banget lama-lama sama kamu!” putus Raniya yang tak disangka akan diangguki cepat oleh Abimana. “Harusnya sih enam bulan aja, ada juga yang sebulan nikah langsung cerai. Tapi, biar nggak malu banget aja sih nanti!” Abimana menyingkirkan kesalnya yang nyaris meluap, perempuan yang sedang asik membuat surat kontrak pernikahan mereka beserta poin-poin penting sebagai aturan di depannya itu menguji kesabarannya. Raniya dengan segala keegoisan yang ada, di kepala perempuan itu hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Abimana cukup mengerti jika dirinya tidak dipikirkan, tetapi Raniya seolah lupa kalau Abimana juga mempunyai keluarga yang harus dijaga nama baiknya. Hal itu membuat Abimana kesal, kagum dan sisa rasanya pada Raniya seketika tertutupi oleh kesalnya. Maka, Abimana merebut kertas yang sejak tadi sibuk di tangan Raniya dan menambahkan isinya. “Aku juga punya aturan dan syarat yang harus kamu patuhi,” katanya. Raniya mengintip penasaran. “Apa?” Beberapa poin yang tadi sudah Raniya rinci, mulai dari tanpa cinta, tidak bersentuhan atau sekamar dan tidak boleh ikut campur. Ada beberapa yang Abimana coret tidak setuju dan tambahkan, terutama pada urusan hak sebagai suami istri. “Mau pernikahan ini dengan dan ada cinta atau nggak, poin kedua ini aku nggak setuju. Terserah kamu mau sekamar atau enggak, tapi kebutuhan biologisku sebagai pria dan suami harus kamu berikan!” kata Abimana menunjuk poin kedua setelah urusan cinta yang tak penting menurutnya. “Om, aku nggak mau ngelakuin itu sama kamu!" “Seminggu tiga kali!” cetusnya. Raniya menganga lebar, memukul lengan Abimana cukup kencang seakan semua tenaganya dikerahkan. “Mesum! Aku nggak mau!” katanya. Abimana tidak peduli, ia pun berkata, “Kalau kamu nggak setuju, kita batal aja!” Ia menggeser kertas perjanjian itu. "Tiga kali dalam seminggu kamu harus izinin aku mainin tubuhmu tanpa harus memasukimu, aku butuh itu sebagai pria, kamu puaskan dengan cara-cara lain!" "Mau lanjut atau batal?" Lebih kacau lagi, sudah susah payah Raniya meluluhkan pria di sampingnya itu, salah sedikit saja semuanya akan hancur dan habis, Raniya tidak bisa membayangkan bagaimana orang tuanya melihat video itu, akan jauh lebih baik dirinya gagal menikah dan tidak dianggap keluarga lagi daripada video itu tersebar. “Video ini─” “Iya, iya!” Raniya menurunkan tangan Abimana yang hendak mengambil ponsel lagi. “Aku setuju, tapi ... dua kali!” “Tiga itu udah paling normal, Raniya. Bisa kejang-kejang aku kalau nggak dibantu keluar!” tolak Abimana. Raniya mengepalkan tangannya. “Y-ya, oke, iya ... tapi, berjarak! Nggak boleh tiga hari berturut-turut atau barengan!” Ia merasa gila sekali. “Setuju!” kata Abimana kemudian menunjuk poin lainnya. “Semua memang punya urusan masing-masing, tapi selama kamu masih jadi istriku nanti, kamu tanggung jawabku, kabarmu penting. Jadi, kasih aku kabar! Terserah kamu mau tau kabarku atau enggak, aku tetep mau selalu tau soal kamu.” Raniya mengedikan bahunya, lalu melirik pada poin lain yang Abimana tambahkan. “Selama kamu menjadi istriku, nggak boleh ada orang ketiga, baik aku atau kamu, paham?” “Iya,” jawab Raniya sambil melirik malas. Abimana menyalinnya pada komputer dan mencetaknya rapi, memberikan materai di sana sehingga mereka sama-sama kuat meskipun surat itu hanya akan menjadi rahasia mereka saja sampai berpisah. Raniya mempercayakan pada Abimana untuk menyimpan surat itu, ia hanya menyimpan berupa file foto di ponselnya, sebab pria itu mempunyai brankas yang aman. “Udah selesai, kan? Aku mau pulang!” Raniya beranjak dari duduknya, tetapi tubuhnya justru tertarik mundur, ambruk ke atas pangkuan Abimana. “Ma-mau apa?” “Yang satu, aku minta uji coba jatahnya sekarang ya?” bisik Abimana. Reflek, tubuh Raniya menegang.Kalau sudah jodoh, apa memang akan se mudah ini jalannya? Ghana mengemudikan sendiri mobil miliknya itu dengan seorang perempuan yang duduk di sisi kiri tanpa henti membuat dia berkeringat saking gugupnya. “Apa? Mas mengumpat?” Kia menyingkirkan rambut yang menutupi area telinganya. Reflek Ghana menoleh gelagapan. “Iya? Mengumpat? Siapa?” “Oo, bukan Mas yang mengumpat ya? Aku denger tadi, masa iya dari luar mobil, ada pintu yang nggak ketutup rapat apa ya?” Kia memeta sekitar, pun ke pintu di bangku belakangnya. Semakin dicari semakin gusar Ghana di sana, dia benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal apa itu cinta, seperti terlupa yang sudah terlewati sebelum masa tiga tahun sendiri itu. Dia menjulurkan tangannya setengah ke belakang di mana Kia sedikit berputar untuk mencari-cari, merengkuh pundak Kia yang kemudian dia ajak kembali menghadap ke depan. Namun, alih-alih keberanian itu menyudahi kegilaannya, tangan yang bersentuhan tak sengaja dengan pipi Kia justru
Melihat perkembangan asmara putri mereka, Abimana dan Raniya seakan kembali menyelami kisah mereka di masa lalu yang mungkin akan berjalan semulus itu jika tak ada kisah kelam yang membuat Raniya benci juga salah paham tak berujung. “Kenapa tertawa, Sayang?” Abimana memicing, dia agak terganggu dengan sebutan tua yang sejak tadi Zayn katakan. Raniya menggelengkan kepalanya. “Kok bisa setipe sama mamanya sih, Mas! Hahaha … cuman selisih tiga tahun aja loh!” Wajah Abimana semakin mengerut, lagi dan lagi soal umur itu dibahas yang kini dia mempunyai saingannya. Si pria yang menjadi tambatan hati si putri tercinta. “Tapi, yang matang memang memuaskan,” kata Raniya dengan godaannya. Reflek senyum malu di wajah Abimana itu terbit, anggap saja itu keunggulannya sebagai pria matang yang dulu tidak segera menikah. “Memuaskan dalam hal apa?” Abimana masih membalas, belum puas rupanya. Raniya sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping lengan sang suami. “Pemikiran, karakter, uang, t
Apa harus sekarang dan sudah waktunya? Ghana tampak mempertimbangkan berulang kali sebelum hanya untuk sekadar menyimpan nomor telepon Kia di ponselnya. Tak lupa sebelum dan sesudah nama perempuan itu diberikan gambar bunga_bunga sepatu. “Kia,” ucapnya lirih, itu kesekian kalinya. Teringat bagaimana setiap kali tatapan mereka bertemu meskipun singkat tanpa sepatah kata, lalu tadi sedikit berbeda dengan sorot agak tajam yang menunjukkan rasa kesal. “Tapi, dia kesal karena apa?” Ghana menggaruk dagunya, dia harus sepusing itu memikirkan perempuan yang lebih muda 10 tahun darinya, pun dia yang sudah pernah mempunyai beberapa mantan kekasih sekaligus mantan calon istri, rasanya lucu. “Ares atau adiknya mengatakan sesuatu?” Rasanya tidak mungkin karena membahas soal Kia saja masih baru dan selepas mereka bersitatap, Ghana juga percaya Ares tidak akan selancang itu, apalagi adik Ares yang tidak tahu apa-apa. Dia dengar soal ucapan Ares? Calon istri? Ghana menegakkan punggungnya, ke
“Ghana!” panggilan itu menggema sekali sampai ke dalam dada Kia, seseorang datang menghampiri si pria yang dikaguminya. “Aku pikir nggak dateng, Bro! Belum selesai urusin calon istri?” Kali ini, bukan sekadar menggema, tetapi meledak dalam dada Kia. Calon istri, pria bernama Ghana itu yang kabarnya selama tiga tahun tak membawa pasangan sama sekali mendadak sudah merencanakan pernikahan. “Kakak oke?” Zayn menyesal, dia terlewat kabar itu. Kia melipat bibirnya seraya mengangguk, lalu menarik lengan Zayn agar berjalan mengikutinya, meninggalkan tempat awal mereka berdiri dan tidak berlama-lama. Namun, sekilas garis pandangan mereka bertemu, iris Kia bersama Ghana yang berjarak itu, hanya sebentar dengan kesan yang dalam kemudian terpaksa teralihkan karena keramaian. “Aku nggak cemburu ya, Zayn!” katanya. Zayn reflek melipat keningnya. “Siapa yang bilang begitu?” “Ya, ya, siapa tau kamu mikir ke sana.” “Astaga, Kak. Bukan! Justru, aku khawatir kamu kecewa karena fakta yang
Cukup berat untuk mengungkapkannya, apalagi pria itu lebih tua dari mereka dan bisa disebut senior oleh Zayn. Akan tetapi, “Gimanapun juga aku yang papa dan Kakak amanahkan bertanggung jawab di sini, jadi posisiku dan dia bisa sama. Aku cari tau tentang dia dulu.” Itu keputusan Zayn yang tidak bisa Kia nego, berani mengungkapkan juga harus berani dengan segala risikonya, lagipula Zayn melakukan itu semua demi kebaikannya agar tidak berlarut kagum dan meletakkan perasaan pada tempat yang salah. Ghana Abizar Rutono, nama itu sudah Zayn kantongi. Pria yang usianya sepuluh tahun dari kakaknya dengan pengalaman dan rekam jejak bisnis baik tanpa kekalahan yang fatal, selalu mempunyai inovasi baru demi melegakan rekanan bisnis yang bekerja sama dengannya, pun yang terpenting adalah rekam jejak kehidupan percintaannya itu, kening Zayn sampai terlipat dalam untuk membacanya, termasuk hubungan kekeluargaan pria yang kerap disapa Bos Ghan itu. “Kamu nggak berlebihan ke kakakmu begitu?” Abi
Banyak hal yang Kia khawatirkan sepanjang masa menunggu dan mempersiapkan semua sampai pada tahun kelulusannya yang kemudian disusul oleh sang adik, keduanya berhasil untuk meneruskan rencana bersekolah bersama di luar negeri. Rumah besar itu kembali sepi ditinggalkan dua penghuninya, lebih terasa kental pada Raniya yang sepanjang hari lebih banyak di rumah, apalagi ketika sang suami bekerja, dengan Abimana yang masih aktif bekerja itu kerinduannya pada suasana ramai semakin menjadi. “Kakak, adek … ternyata nyawanya rumah ini kalian,” katanya sambil membuatkan kopi untuk sang suami. Abimana menoleh, mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel yang terang di tangannya. “Kita ke sana yuk, Sayang!” ajaknya, soal kesibukan sudah bisa Abimana bagi bersama saudara yang lain, ia telah membaginya. “Mas juga kangen sama anak-anak, minggu depan mau?” Raniya mengerjap. “Beneran? Aku kangen berat ini, Mas. Waktu kamu kerja, kerasa banget gimana sepinya, udah kamu kasih bibik, tapi tetap aja
Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepa
“Kamu nantang aku, Raniya?” ucap Abimana. Apa? Abimana mau meledeknya? Atau pria itu ingin mengintimidasinya di tempat umum dengan status mereka sebagai pengantin baru masih hangat-hangatnya? Jantung Raniya berdetak menggila, terlebih ketika wajah Abimana condong ke depan mengikis jarak bersama
Abimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain. “Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, ba
“Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya. Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum ka







