Share

Bertemu lagi?

Penulis: ORI GAMII
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 20:59:00

Tak ingin berlama-lama di rumah Andrew, Bricia memutuskan pulang. Awalnya ia berniat memesan taksi, tapi Andrew langsung menolak.

“Aku antar,” katanya tanpa memberi ruang untuk berdebat.

Akhirnya, Andrew benar-benar mengantar Bricia sampai depan gerbang rumahnya.

“Thanks, Om. Lain kali aku traktir kopi,” ujar Bricia sebelum turun. Nada suaranya dibuat santai, meski hatinya masih terasa kacau. Entah kacau karena lukanya, atau justru tatapan Andrew yang selalu menguncinya.

Andrew menyandarkan tangan di kemudi. “Boleh. Aku tunggu.”

Tak lama setelah itu, mobil Andrew melesat pergi, meninggalkan Bricia berdiri sendiri di depan gerbang.

Tak ada pembicaraan lanjutan tentang luka di lehernya. Andrew tidak memaksa. Dan Bricia memilih membiarkannya begitu. Biarlah luka itu jadi rahasianya sendiri, untuk sekarang.

Begitu melangkah masuk ke pintu utama, aroma masakan langsung menerobos hidungnya. Ia menghela napas panjang. Tentu saja ia tahu siapa yang berkutat di dapur di jam-jam seperti ini.

Telapak kaki Bricia menyeret malas ke ruang makan, lalu ia melihat Louisa berdiri sambil memotong sesuatu.

“Bri?” Louisa menoleh, wajahnya langsung berbinar. “Kamu baru pulang?”

Bricia hanya mengangguk kecil, mencoba tersenyum. Ia duduk di stoolbar dapur, menatap setiap gerakan Louisa yang cekatan memotong sayur dan mengaduk wajan.

Beberapa detik hening. Hanya suara minyak yang berdesis terdengar di telinga Bricia.

“Kenapa kamu nggak minta dinikahi Papa?” tanya Bricia tiba-tiba, suaranya datar tapi jelas. “Apa yang kamu inginkan dari hubungan tanpa status ini?”

Gerakan tangan Louisa langsung terhenti. Sesaat ia hanya berdiri diam dengan punggungnya yang sedikit menegang.

“Sedang bicara apa kamu, Bri?” Louisa akhirnya menjawab tanpa menoleh. Suaranya lembut tapi jelas terdengar menghindar.

Bricia menyandarkan siku di meja, dagunya bertumpu di punggung tangan. “Aku cuma tanya. Kamu sudah di sini bertahun-tahun. Masak buat Papa. Urus rumah. Kamu peduli sama dia. Tapi… tetap aja hubungan kalian nggak jelas.”

Louisa memejamkan mata sejenak sebelum berbalik menghadap Bricia. Wajahnya tetap tersenyum, tapi senyum yang lemah seperti ditahan.

“Hubungan orang dewasa itu… kadang tidak sesederhana itu, Bri.”

“Sesederhana apa?” Bricia menatap balik, nada suaranya sedikit sinis. “Papa takut komitmen? Atau kamu yang nggak mau?”

Louisa menelan ludah. Ada sesuatu yang mirip luka di mata wanita itu.

“Papa kamu… masih belum selesai dengan masa lalunya, Bri. Dan aku nggak mau memaksanya.”

Bricia mengerutkan kening. “Masa lalunya? Mama?”

Louisa tersenyum kecil dan pahit. “Iya. Termasuk itu.”

Bricia menahan diri untuk tidak menembuskan napas keras. “Kalau kamu capek dengan hubungan ini, tinggal bilang kalau kamu mau pergi. Jangan bertahan di hubungan yang menggantung seperti ini… Papa nggak punya hak buat taruh kamu di posisi kayak gini.”

Louisa mendekat, menepuk kepala Bricia pelan. “Kamu manis sekali, tahu? Terima kasih sudah perhatian padaku."

“Aku bukan manis,” bantah Bricia cepat. “Aku realistis.”

Louisa tertawa tipis. “Percayalah… ada hal yang nggak perlu kamu tahu. Dan aku nggak apa-apa. Selama Papa kamu butuh seseorang, aku di sini.”

Hela napas kasar keluar dari mulut Bricia. “Padahal kamu pantas dapat yang lebih jelas daripada ini. Lagian, Papa sudah tua, harusnya kamu lepasin aja. Cari yang lebih muda."

Louisa tertawa pelan. "Boleh juga. Tapi kadang hati kita memilih bukan yang paling tepat, Bri, tapi yang paling kita sayang.”

Kata-kata itu membuat dada Bricia terasa berat.

Entah kenapa, bayangan wajah Leo tiba-tiba melintas. Lihatlah, mulutnya begitu mudah memberi nasihat pada Louisa, tapi bahkan ia sendiri tak bisa lepas dari bayang-bayang Leo selama ini.

"Bagaimana pendapatmu kalau aku tinggalkan Eric dan beralih pada Andrew?" tiba-tiba Louisa terlihat seperti meracau. Tapi wajahnya berbinar cerah.

"Hah? Siapa tadi?" Wajah Bricia bengong.

“Andrew Darwis,” ulang Louisa sambil menunjuk Bricia dengan sendok kayu. “Lelaki tampan yang datang kemarin itu.” Mata Louisa mengerling genit.

Kini justru mata Bricia langsung melebar. “Nggak! Kalau itu nggak boleh!”

Louisa mengangkat alis. “Eh? Kenapa nggak boleh?”

“Pokoknya nggak boleh!”

Bricia sudah mengambil tasnya dan berdiri dengan terburu-buru.

Louisa berkedip bingung. “Lho, kok heboh sekali? Baru kutanya saja—”

“Sudah, sudah… aku ke kamar!” potong Bricia cepat, ia lari terbirit-birit menuju kamarnya.

Ia lebih memilih kabur daripada memberi Louisa waktu untuk mengamati ekspresi wajahnya dan membaca apa pun yang mungkin tersirat di sana.

Karena jika ada satu orang yang bisa menebak perasaannya dengan mudah, itu Louisa.

Begitu pintu kamarnya tertutup, Bricia bersandar pada dinding, ia menekan dadanya yang berdebar cepat.

“Kenapa sih tadi harus panik gitu…” gumamnya kesal pada diri sendiri.

Tapi bayangan Andrew justru tampak di pelupuk matanya. Tatapan lelaki itu, suaranya yang pelan tapi dominan, cara laki-laki itu menyentuh lehernya dengan hati-hati, semua muncul tanpa izin. Dan membuat jantung Bricia berdegup kencang.

Namun, getaran ponsel di dalam tas membuat Bricia menoleh. Ia mengambilnya dan membuka pesan yang baru masuk.

Dari Andrew.

[Gelangmu jatuh di mobilku.

Apa itu artinya kita harus segera bertemu lagi?]

Sudut bibir Bricia langsung terangkat. Tubuhnya sedikit menunduk dengan pipi yang terasa panas.

"Tentu. Kita memang harus bertemu lagi," gumamnya kecil. Dan senyumnya tak hilang bahkan setelah layar ponsel itu mati.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Donat gemoy
duhhhh langsung bilang gak bolehhh, knp loh bri??
goodnovel comment avatar
Ayruw
ciee yang mau ketemuan... semoga dilancarkan ya briii.... wkwkwk
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
hayoh kenapa BRI Louisa gak boleh Deket2 om andrew...mencurigakan dah hehe
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tergoda Teman Papa    Beban yang luruh

    “Ibu?” Suara Feli hampir seperti bisikan. Tubuhnya mendadak kaku. Bukan karena rasa nyeri di perutnya, melainkan karena perasaan yang campur aduk menyerangnya sekaligus. Kaget, rindu, dan luka lama yang belum sembuh. Retno hanya mampu menahan tangis di tempatnya berdiri. Tangannya gemetar, dipenuhi rasa bersalah dan getir yang selama ini ia simpan. Ia ingin memeluk putrinya yang kini terbaring lemah, ingin menghapus semua jarak yang pernah tercipta. Tapi ia juga sadar, kesalahannya tak kecil. Bricia yang berdiri di belakang Retno perlahan memegang bahu wanita itu. Dengan dorongan lembut, ia membimbingnya mendekat ke ranjang Feli. “Ayo, Tante…” suara Bricia lirih, seolah memberi kekuatan. Retno akhirnya melangkah. Meski ia ingin berlari, namun ia hanya bisa berjalan perlahan. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di sisi ranjang dan cukup dekat untuk melihat jelas wajah Feli yang pucat namun tetap menatapnya tanpa berpaling. “Fe–li,” ucapnya terbata. Tangannya mengusap kasar air ma

  • Tergoda Teman Papa    "Ibu?"

    Feli membuka matanya perlahan. Cahaya di atasnya sedikit redup, sehingga tak membuat silau langsung menyerang retinanya. Pandangannya buram beberapa detik, lalu dengan pelan ia menutup matanya dan membukanya kembali. Setelah itu pandangan di atasnya sedikit lebih jelas. Terdapat langit-langit kamar berwarna putih. Bau antiseptik terasa menyengat di indera penciumannya. Dan suara monitor berbunyi pelan di sampingnya. Ia mencoba menarik napas. Ada selang oksigen di hidungnya. Tangannya pun terasa berat karena selang infus masih terpasang di sana. Perutnya juga terasa nyeri, membuat alisnya sedikit berkerut. “Sudah sadar, Kak?” suara perempuan terdengar lembut. Feli memutar bola matanya pelan. Seorang perawat berdiri di sampingnya, dan memperhatikan monitor di samping ranjangnya. “Kalau dengar saya, coba kedip dua kali.” Feli menurut, meski gerakannya lambat. “Bagus. Operasinya sudah selesai. Dan bersyukur semua berjalan dengan lancar,” jelas perawat itu singkat. Kata

  • Tergoda Teman Papa    Janji Harry

    Mobil yang Andrew kendarai berhenti dengan suara decitan panjang di depan Instalasi Gawat Darurat. Lampu putih rumah sakit langsung terasa menyilaukan mata, kontras dengan gelapnya malam yang baru saja mereka lewati. Harry tidak menunggu Andrew mematikan mesin sepenuhnya. Ia sudah membuka pintu belakang dan kembali membopong tubuh Feli ke dalam pelukannya. Hangat darah yang merembes menembus gaun Feli membuat dadanya terasa sesak. Belati itu masih menancap di perut kiri bawah perempuan itu. Darahnya merembes di sekeliling gagang dan membasahi gaun putih yang kini berwarna merah di beberapa bagian. “Tolong! Pasien luka tusuk! Senjatanya masih tertancap!” teriak Andrew berharap perawat segera mendekat. Harry sudah meletakkan tubuh Feli di salah satu brankar yang kosong. Para tenaga medis langsung mendekat dan bergerak cepat. Ekspresi mereka berubah serius begitu melihat kondisi Feli. “Jangan dicabut!” tegas salah satu perawat ketika Harry refleks hendak menyentuh gagang belati

  • Tergoda Teman Papa    Bertahanlah...

    Sementara di luar, mobil Andrew berhenti tepat di depan pagar kos. Harry sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk, wajahnya terlihat tegang dan napasnya memburu. Andai saja bukan karena Eric menyuruhnya menunggu, mungkin ia sudah mendobrak pintu kamar itu tanpa pikir panjang. “Apa ada pergerakan?” tanya Eric cepat begitu keluar dari mobil. Ia sempat menoleh pada Louisa yang masih duduk di tempatnya. “Kamu tetap di dalam, jangan keluar dulu.” Louisa mengangguk patuh meski wajahnya pucat. “Nggak ada, Pak Eric,” jawab Harry dengan suara tertahan. “Sepi. Nggak ada gerakan mencurigakan.” Mata Eric langsung tertuju pada pintu kamar Feli. Lampunya masih menyala. Rahangnya lagi-lagi mengeras. Ia punya firasat buruk. “Aku yakin Feli lagi dalam kondisi freeze,” ucap Eric serius. Harry menoleh cepat. “Freeze?” “Itu respons tubuh terhadap trauma,” lanjut Eric. “Selain fight atau flight, ada satu lagi yaitu freeze. Tubuh bisa kaku, suara hilang, bahkan tidak bisa berteriak atau bergerak wa

  • Tergoda Teman Papa    "Kalau begitu... lakukan saja!"

    “Om, STOP!” Suara Bricia memekik tajam di dalam kabin mobil. Mereka baru saja hendak pulang ke rumah setelah urusan di hotel selesai. Andrew yang berada di balik kemudi refleks menginjak rem mendadak. Ban berdecit keras beradu dengan aspal, diikuti klakson panjang dari mobil di belakang mereka. Beruntung jarak kendaraan di belakang mobil mereka tak terlalu dekat, sehingga tak menyebabkan kecelakaan beruntun. “Kenapa, Bri?” tanya Eric cepat. Tangannya langsung menahan bahu Louisa untuk memastikan istrinya tidak terbentur. “Kamu nggak apa-apa, Sayang?” “Aku nggak apa-apa,” jawab Louisa, masih sedikit terkejut. “Om… Om, ayo cepat ke kosan Feli!” Bricia sudah hampir menangis. Wajahnya memerah, napasnya terputus-putus karena panik. Tak ingin menyebabkan kemacetan, Andrew kembali melajukan mobilnya lalu menepi di bahu jalan. Ia mematikan lampu sein dan menoleh ke samping dengan wajah serius. “Tenang dulu, Bri. Ada apa? Coba bilang yang jelas.” Bricia justru menoleh ke belakang d

  • Tergoda Teman Papa    Mengakhiri semuanya

    Dering ponsel itu berbunyi nyaring di dalam mobil. Getarannya membuat dashboard ikut bergetar, memantulkan suara kecil yang berulang-ulang di ruang kosong kendaraan tersebut. Namun sang pemilik tak ada di sana. Harry baru saja turun dan melangkah masuk ke sebuah toko kue. Andrew sudah memesan beberapa kotak untuk pegawai kafenya, sebuah rutinitas bulanan yang tak pernah terlewat. Harry hanya berniat mengambil pesanan itu sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya. Sementara itu, di kamar kos yang terasa semakin sempit, Feli menunggu dengan napas tak teratur. Layar ponsel di sampingnya menunjukkan panggilan yang masih mencoba tersambung tapi masih belum diangkat. Jantungnya seperti ditahan agar tak bernapas menunggu detik-detik itu. Tangannya kembali beralih ke aplikasi perbankan sambil menunggu panggilan itu tersambung. Ia mengetik nominal dengan penglihatan yang bergetar. Angka-angka di layar ponselnya terasa seperti menghimpit napasnya. Dari sudut matanya, ia melihat Yosi s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status