Beranda / Romansa / Tergoda Teman Papa / Masa Lalu Andrew

Share

Masa Lalu Andrew

Penulis: ORI GAMII
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 21:01:05

Di bawah lampu merah, Andrew menatap gelang kecil di tangannya dengan raut geli. Ia menemukannya di bawah kursi penumpang—entah terjatuh saat pertama kali ia menolong Bricia atau baru saja ketika mengantarnya pulang.

Ia tidak peduli. Yang ia tahu, ini seperti isyarat kecil yang memaksa mereka bertemu lagi.

“Menarik sekali kamu, Bri,” gumamnya pelan.

Lampu berubah hijau. Andrew kembali menggenggam setir, memasukkan gelang itu ke saku kemejanya, dan menarik gas mobil.

Ia melaju menuju rumah yang memang sejak awal ingin ia kunjungi. Rumah tempat seseorang menunggunya.

Hampir lima belas menit setelahnya, mobil Andrew masuk ke dalam pagar tinggi yang baru saja terbuka. Begitu mobil terparkir, ia langsung turun dan menuju pintu utama.

Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dan masuk. Dari arah taman belakang, ia melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk santai sambil menyeruput teh.

"Hallo, Mom," sapa Andrew sambil mencondongkan badan dan mencium kepala wanita itu.

Wanita itu terkekeh, lalu menepuk tempat di sebelahnya dan menyuruh Andrew duduk di dekatnya.

"Akhirnya kamu datang juga, anak nakal."

Andrew tertawa kecil. "Aku baru tiba di Indonesia kemarin lusa. Kamu tahu aku lagi buka club baru, jadi sibuk urus ini-itu." Selama hampir sepuluh tahun, Andrew menetap di Australia. Baru beberapa hari ini ia kembali ke Indonesia.

"Alasan saja, Drew. Dari dulu kamu paling jago ngeles."

Andrew mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Tapi kali ini benar.”

“Hmm… begitu?” Annette Marshall mengerling curiga. “Atau jangan-jangan kamu sibuk urus perempuan?”

Annette Marshall adalah adik dari ibunya. Satu-satunya dari keluarga ibu Andrew yang masih hidup. Sedang kedua orang tuanya sudah meninggal beberapa tahun silam.

Andrew hanya tersenyum samar. Senyum yang membuat Annette langsung menyipitkan matanya.

“Andrew Darwis?"tanyanya pelan, “kau sedang dekat dengan seseorang?”

Andrew menggeleng, meski rautnya sendiri tak sepenuhnya yakin. “Nggak ada, Mom. I’m single now.”

Ekspresi Annette langsung meredup. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Andrew dengan lembut, gerakannya penuh kasih sayang seorang tante yang sudah seperti ibu sendiri.

“Carilah wanita lagi, Drew. Kamu nggak bisa selamanya begini.” Suara Annette melembut. “Laura sudah tenang di atas sana.”

Andrew terdiam. Rahangnya mengeras sesaat, lalu ia mengalihkan tatapan ke taman untuk menyembunyikan sorot matanya yang berubah.

Laura Mirella bukan gadis yang lahir dengan luka. Ia dan Andrew bahkan saling kenal sejak sekolah dasar. Laura kecil adalah gadis ceria yang mudah tertawa, yang membuat Andrew selalu senang berada di dekatnya.

Namun segalanya berubah ketika ibunya menikah lagi. Sejak remaja, Laura hidup bersama seorang ayah tiri yang diam-diam sering menyentuhnya, mengancamnya, dan memaksanya dalam diam. Laura tak pernah berani bercerita. Semua ia simpan, sampai tubuh dan pikirannya tak sanggup lagi menahannya.

Luka itu menumpuk selama bertahun-tahun. Trauma itu kemudian berkembang menjadi gangguan mental yang membuat Laura sering melukai dirinya sendiri. Bukan karena ia ingin mati, tetapi karena itu satu-satunya cara ia merasa bisa mengendalikan rasa sakitnya.

Beberapa kali Andrew menemukannya dalam keadaan kacau. Ia membawa Laura ke rumah sakit berulang kali, selalu berharap ada yang bisa menyembuhkan sesuatu yang tak terlihat itu.

Dan ketika Andrew cukup dewasa, ia menikahi Laura dan membawanya tinggal bersama. Tapi gangguan itu sudah terlalu dalam. Yang paling menghancurkan bagi Andrew adalah ketika Laura selalu merasa dirinya kotor dan tidak pantas dicintai, padahal bagi Andrew, Laura adalah segalanya.

Lalu hingga hari itu tiba, ketika Andrew hanya keluar sebentar. Mungkin sekitar sepuluh menit saja.

Namun ketika ia kembali dan membuka pintu apartemen, ia menemukan Laura duduk menyandar di tembok ruang tamu. Kepalanya lunglai, matanya masih basah. Di sampingnya tergeletak selembar kertas kusut yang bahkan tak sempat selesai ia tulis. Di bawah tangannya, darah menggenang di lantai. Dan istrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Dokter menyebutnya relapse berat, yaitu kondisi ketika gejala gangguan mental kembali muncul dengan intensitas lebih kuat dari sebelumnya. Dan Andrew menyebutnya hari paling hancur dalam hidupnya.

Sejak itu, ia menyimpan rasa bersalah yang tak pernah selesai dan itulah alasan ia masih belum bisa mencintai perempuan lain, sampai kemunculan Bricia perlahan mengusik kembali ruang di dalam hatinya.

“Aku hanya akan mengikuti alur hidupku, Mom. Kalau masih ada jodoh yang datang… tentu aku buka lebar-lebar tanganku.”

Annette mendengus kecil. “Justru kamu yang harus menyambutnya, Drew. Wanita itu suka diperjuangkan. Mereka merasa dihargai kalau kamu juga menunjukkan effort dan perasaanmu, bukan cuma diam dan menunggu.”

Andrew terkekeh, lalu merangkul pundak Annette dengan lembut. “Oke, Mom. Kalau nanti dadaku sudah berdebar lagi karena seorang wanita, aku janji akan berjuang.”

“Begitu baru benar, anak nakal!” Annette mencubit pelan pinggang Andrew sebelum akhirnya memeluknya erat. Pelukan seorang wanita yang sudah terlalu sering melihat keponakannya memendam lukanya seorang diri.

Di pelukan itu, Annette hanya punya satu harapan kecil yang ia simpan di dalam hati. Ia berharap, sebelum Tuhan menjemputnya, ia ingin sempat menyaksikan Andrew berdiri di pelaminan, tersenyum tanpa beban di samping wanita yang benar-benar ia cintai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Ayruw
ternyata... om. drew udah duda.. dan kisah cintanya pun tragis.... huwaaaaaaaa
goodnovel comment avatar
Elly Julita
sesakit itu trauma yg Laura alami,nyeseknya sampe berasa banget kk,, nah itu baru bener drew wanita suka di perjuangkan dan di ratukan, kuyyyy ratukan aq ehhhh maksudnya bricia hehe
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
kisah masa lalu Andrew ternyata sangat menyedihkan ditinggal orang yg dicintainya karena merasa tidak pantas untuk Andrew...yg jahat bapak tirinya Laura tuh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tergoda Teman Papa    Beban yang luruh

    “Ibu?” Suara Feli hampir seperti bisikan. Tubuhnya mendadak kaku. Bukan karena rasa nyeri di perutnya, melainkan karena perasaan yang campur aduk menyerangnya sekaligus. Kaget, rindu, dan luka lama yang belum sembuh. Retno hanya mampu menahan tangis di tempatnya berdiri. Tangannya gemetar, dipenuhi rasa bersalah dan getir yang selama ini ia simpan. Ia ingin memeluk putrinya yang kini terbaring lemah, ingin menghapus semua jarak yang pernah tercipta. Tapi ia juga sadar, kesalahannya tak kecil. Bricia yang berdiri di belakang Retno perlahan memegang bahu wanita itu. Dengan dorongan lembut, ia membimbingnya mendekat ke ranjang Feli. “Ayo, Tante…” suara Bricia lirih, seolah memberi kekuatan. Retno akhirnya melangkah. Meski ia ingin berlari, namun ia hanya bisa berjalan perlahan. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di sisi ranjang dan cukup dekat untuk melihat jelas wajah Feli yang pucat namun tetap menatapnya tanpa berpaling. “Fe–li,” ucapnya terbata. Tangannya mengusap kasar air ma

  • Tergoda Teman Papa    "Ibu?"

    Feli membuka matanya perlahan. Cahaya di atasnya sedikit redup, sehingga tak membuat silau langsung menyerang retinanya. Pandangannya buram beberapa detik, lalu dengan pelan ia menutup matanya dan membukanya kembali. Setelah itu pandangan di atasnya sedikit lebih jelas. Terdapat langit-langit kamar berwarna putih. Bau antiseptik terasa menyengat di indera penciumannya. Dan suara monitor berbunyi pelan di sampingnya. Ia mencoba menarik napas. Ada selang oksigen di hidungnya. Tangannya pun terasa berat karena selang infus masih terpasang di sana. Perutnya juga terasa nyeri, membuat alisnya sedikit berkerut. “Sudah sadar, Kak?” suara perempuan terdengar lembut. Feli memutar bola matanya pelan. Seorang perawat berdiri di sampingnya, dan memperhatikan monitor di samping ranjangnya. “Kalau dengar saya, coba kedip dua kali.” Feli menurut, meski gerakannya lambat. “Bagus. Operasinya sudah selesai. Dan bersyukur semua berjalan dengan lancar,” jelas perawat itu singkat. Kata

  • Tergoda Teman Papa    Janji Harry

    Mobil yang Andrew kendarai berhenti dengan suara decitan panjang di depan Instalasi Gawat Darurat. Lampu putih rumah sakit langsung terasa menyilaukan mata, kontras dengan gelapnya malam yang baru saja mereka lewati. Harry tidak menunggu Andrew mematikan mesin sepenuhnya. Ia sudah membuka pintu belakang dan kembali membopong tubuh Feli ke dalam pelukannya. Hangat darah yang merembes menembus gaun Feli membuat dadanya terasa sesak. Belati itu masih menancap di perut kiri bawah perempuan itu. Darahnya merembes di sekeliling gagang dan membasahi gaun putih yang kini berwarna merah di beberapa bagian. “Tolong! Pasien luka tusuk! Senjatanya masih tertancap!” teriak Andrew berharap perawat segera mendekat. Harry sudah meletakkan tubuh Feli di salah satu brankar yang kosong. Para tenaga medis langsung mendekat dan bergerak cepat. Ekspresi mereka berubah serius begitu melihat kondisi Feli. “Jangan dicabut!” tegas salah satu perawat ketika Harry refleks hendak menyentuh gagang belati

  • Tergoda Teman Papa    Bertahanlah...

    Sementara di luar, mobil Andrew berhenti tepat di depan pagar kos. Harry sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk, wajahnya terlihat tegang dan napasnya memburu. Andai saja bukan karena Eric menyuruhnya menunggu, mungkin ia sudah mendobrak pintu kamar itu tanpa pikir panjang. “Apa ada pergerakan?” tanya Eric cepat begitu keluar dari mobil. Ia sempat menoleh pada Louisa yang masih duduk di tempatnya. “Kamu tetap di dalam, jangan keluar dulu.” Louisa mengangguk patuh meski wajahnya pucat. “Nggak ada, Pak Eric,” jawab Harry dengan suara tertahan. “Sepi. Nggak ada gerakan mencurigakan.” Mata Eric langsung tertuju pada pintu kamar Feli. Lampunya masih menyala. Rahangnya lagi-lagi mengeras. Ia punya firasat buruk. “Aku yakin Feli lagi dalam kondisi freeze,” ucap Eric serius. Harry menoleh cepat. “Freeze?” “Itu respons tubuh terhadap trauma,” lanjut Eric. “Selain fight atau flight, ada satu lagi yaitu freeze. Tubuh bisa kaku, suara hilang, bahkan tidak bisa berteriak atau bergerak wa

  • Tergoda Teman Papa    "Kalau begitu... lakukan saja!"

    “Om, STOP!” Suara Bricia memekik tajam di dalam kabin mobil. Mereka baru saja hendak pulang ke rumah setelah urusan di hotel selesai. Andrew yang berada di balik kemudi refleks menginjak rem mendadak. Ban berdecit keras beradu dengan aspal, diikuti klakson panjang dari mobil di belakang mereka. Beruntung jarak kendaraan di belakang mobil mereka tak terlalu dekat, sehingga tak menyebabkan kecelakaan beruntun. “Kenapa, Bri?” tanya Eric cepat. Tangannya langsung menahan bahu Louisa untuk memastikan istrinya tidak terbentur. “Kamu nggak apa-apa, Sayang?” “Aku nggak apa-apa,” jawab Louisa, masih sedikit terkejut. “Om… Om, ayo cepat ke kosan Feli!” Bricia sudah hampir menangis. Wajahnya memerah, napasnya terputus-putus karena panik. Tak ingin menyebabkan kemacetan, Andrew kembali melajukan mobilnya lalu menepi di bahu jalan. Ia mematikan lampu sein dan menoleh ke samping dengan wajah serius. “Tenang dulu, Bri. Ada apa? Coba bilang yang jelas.” Bricia justru menoleh ke belakang d

  • Tergoda Teman Papa    Mengakhiri semuanya

    Dering ponsel itu berbunyi nyaring di dalam mobil. Getarannya membuat dashboard ikut bergetar, memantulkan suara kecil yang berulang-ulang di ruang kosong kendaraan tersebut. Namun sang pemilik tak ada di sana. Harry baru saja turun dan melangkah masuk ke sebuah toko kue. Andrew sudah memesan beberapa kotak untuk pegawai kafenya, sebuah rutinitas bulanan yang tak pernah terlewat. Harry hanya berniat mengambil pesanan itu sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya. Sementara itu, di kamar kos yang terasa semakin sempit, Feli menunggu dengan napas tak teratur. Layar ponsel di sampingnya menunjukkan panggilan yang masih mencoba tersambung tapi masih belum diangkat. Jantungnya seperti ditahan agar tak bernapas menunggu detik-detik itu. Tangannya kembali beralih ke aplikasi perbankan sambil menunggu panggilan itu tersambung. Ia mengetik nominal dengan penglihatan yang bergetar. Angka-angka di layar ponselnya terasa seperti menghimpit napasnya. Dari sudut matanya, ia melihat Yosi s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status