Share

Keluarga utuh

Author: ORI GAMII
last update publish date: 2026-03-09 20:25:58

Setelah empat hari dirawat, akhirnya Feli diperbolehkan pulang. Kondisi perutnya sudah jauh membaik, meski ia masih harus kontrol satu minggu ke depan.

Retno tampak sibuk membereskan barang-barang, Harry sedang meminjam kursi roda ke bagian nurse station, dan Andrew duduk di dekat ranjang Feli.

Bricia sendiri tidak ikut menjemput karena harus bekerja, dan kepala timnya tak mengizinkan ia cuti hari ini karena ada deadline yang harus dikejar.

"Aku bersyukur kamu yang menjadi jodoh Harry, Fel.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Marimar
pasti Fely makin cinta sama Harry
goodnovel comment avatar
Marimar
Fely dan bu Retno bisa memulai hidup baru sama Harry
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
Harry so sweet... gimana Feli gk makin cinta coba klo diperlakukan kayak gini.. buruan sah y..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Kebahagiaan yang utuh. ~TAMAT~

    “Daddy…” Alodie dan Aldric berlari kencang memasuki area kafe. Kedua bocah itu langsung mencari keberadaan Daddy-nya, sementara Bricia berjalan santai di belakang mereka. “Daddy…” Sekali lagi suara itu melengking, dan Andrew langsung keluar dari area pantry. “Wah… wah… siapa ini yang datang?” Andrew berjongkok di depan kedua anaknya, lalu membuka tangan lebar. “Hug Daddy dulu…” Alodie dan Aldric langsung masuk ke dalam pelukannya bersamaan. Setelah itu, Andrew menunjuk kedua pipinya. “Kiss juga dong pipi Daddy.” Keduanya menurut, mencium pipi kanan dan kiri Andrew tanpa ragu. “Anak pintar,” ucap Andrew, tersenyum lebar. “Daddy… Daddy, Alodie mau kasih tahu. Tugas berhitung Alodie dapat seratus.” Alodie menunjukkan lembar kertas dengan bangga. “Wah… pintar sekali jagoan Daddy,” puji Andrew, matanya ikut berbinar. “Tapi Aldric nggak dapat seratus,” tambah Alodie polos. Andrew menoleh ke arah putranya. Aldric langsung menunduk, wajahnya sedikit berubah. “Dapat berapa, hm?”

  • Tergoda Teman Papa    Sederhana yang istimewa

    “Ya ampun… Aldric!” Pekikan kaget Andrew justru disambut gelak tawa Bricia. Perempuan itu tertawa lepas sampai memukul sisi ranjang di sampingnya. Retno yang berada di luar kamar langsung panik. Ia bergegas masuk, takut terjadi sesuatu. “Ada apa ini?” tanyanya cepat. Ia berdiri kaku sambil memegang sutil di tangannya. Bricia masih belum menjawab. Ia masih terbahak, tangannya menunjuk ke arah Andrew yang kini diam mematung. Wajah pria itu basah, bukan oleh keringat, melainkan karena kencing Aldric. “Astaga…” gumam Retno, antara kaget dan menahan tawa. Andrew menutup mata sebentar, menghela napas panjang, lalu menatap bayi laki-lakinya yang tampak tak berdosa. “Kamu ya…” ucapnya pasrah. Bricia semakin keras tertawa. “Makanya, jangan sok jago. Tadi yang pengen Aldric siapa?” “Nggak ada yang pengen, tadi kamu yang nyuruh suit, Baby,” balas Andrew, masih dengan wajah basah. Sebulan sudah berlalu sejak perjuangan panjang Bricia siang itu. Kini rumah mereka selalu dipenuhi tang

  • Tergoda Teman Papa    Alodie dan Aldric

    Perawat itu segera keluar memanggil dokter. Tak lama, dokter kandungan Bricia kembali masuk ke dalam ruangan, langkahnya tenang namun sigap. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Bricia dan Andrew bergantian. “Bu Bricia, Pak Andrew… saya ingin memastikan sekali lagi,” ujarnya hati-hati. “Apakah keputusan untuk operasi sesar ini sudah dipertimbangkan dengan matang?” Bricia menatap Andrew sekilas, lalu kembali pada dokter. Meski wajahnya pucat dan dipenuhi rasa lelah, anggukannya kali ini tegas. “Iya, Dok… saya mau operasi saja.” Andrew mengusap punggung tangan Bricia pelan, lalu ikut mengangguk. “Kami sepakat, Dok.” Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Baik. Kami akan segera siapkan tindakan. Mohon tetap tenang, ya. Tim kami akan menangani sebaik mungkin.” Beberapa perawat langsung bergerak cepat. Alat-alat mulai disiapkan, suasana ruangan berubah menjadi lebih sibuk dan terarah. Andrew masih di sisi Bricia, tak melepaskan genggamannya sedikit pun. Karena sed

  • Tergoda Teman Papa    Operasi

    Andrew berlari kencang dari arah parkiran rumah sakit. Harry yang masih berada di balik kemudi hanya bisa melihatnya pergi tanpa sempat mencegah. Ia tahu, kepanikan itu tak bisa ditahan, Andrew pasti sudah tak sabar ingin sampai ke ruang persalinan, memastikan keadaan Bricia. Sebelumnya, Andrew ada janji temu dengan rekan bisnisnya di sebuah hotel. Namun, rencana itu berubah. Ia memilih memindahkan pertemuan ke kafe miliknya karena ada beberapa dokumen penting yang tertinggal di sana. Beruntung, rekan bisnisnya tidak keberatan. Mereka sepakat untuk bertemu di kafe tersebut. Namun, baru saja Andrew tiba dan belum sempat duduk, ponselnya berdering. Nama Feli muncul di layar. Dan dari sanalah semuanya berubah. Feli mengabarkan bahwa Bricia sudah dibawa ke rumah sakit. Andrew tak membuang waktu. Begitu melewati pintu utama rumah sakit, langkahnya langsung berbelok menuju area lift. Jarum penunjuk lantai masih berada di atas, dan perlahan turun satu per satu. Itu terasa terlalu lama

  • Tergoda Teman Papa    Kepanikan kecil

    Beberapa purnama telah terlewati. Hari demi hari dijalani Bricia dengan penuh perjuangan dalam kehamilan kembarnya.Bulan ini memasuki masa HPL kehamilan Bricia. Tak ada yang pasti, bisa pagi, siang, atau malam, kapan kedua buah hatinya akan hadir ke dunia.Berbagai keluhan mulai ia rasakan. Wajah dan kakinya sesekali membengkak, perutnya terasa begah karena mengandung dua bayi sekaligus, hingga malam-malam yang sering ia lalui tanpa bisa tidur dengan nyenyak.Namun, di tengah semua itu, Andrew selalu ada. Menjadi suami siaga yang tak pernah absen, hadir kapan pun Bricia membutuhkan.“Bri… mau makan buah mangga?” suara Feli terdengar dari dapur. Ia sedang bersama Retno di sana.Sudah dua hari terakhir Feli dan Retno menginap di rumah Andrew. Tentu saja, Harry ikut serta. Semua itu atas permintaan Bricia yang mulai diliputi rasa takut menjelang persalinan.Rencananya, siang ini Eric, Louisa, dan Erlio juga akan menyusul, membuat rumah itu semakin ramai.“Nggak mau mangga, Fel,” seru Br

  • Tergoda Teman Papa    "Aku mau sekarang, Bang... "

    Setelah menghabiskan waktu seharian, Feli dan Harry kembali ke kamar hotelnya. Sudah waktunya mereka beristirahat, atau mungkin justru melakukan kegiatan lain. “Abang yang bersih-bersih dulu, ya.” Feli menyodorkan pakaian ganti Harry yang ia ambil dari dalam lemari. Tak ada penolakan, Harry menerima baju itu lalu mengangguk. Ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah tenang. Setelah Harry masuk, Feli kembali membuka lemarinya. Ia mengambil baju yang sudah dibelikan Bricia, sebuah lingerie berwarna merah menyala. Feli memejamkan mata sejenak. Ia geli sendiri melihat betapa minimnya pakaian itu. Bahkan terlihat sedikit transparan. Lalu, bagaimana jika nanti ia mengenakannya? Bisa saja hampir seluruh tubuhnya terekspos. Namun, Feli mencoba meyakinkan dirinya. Bukankah sebagai seorang istri, ia juga ingin menyenangkan suaminya? Pada akhirnya, ia tetap mengambilnya. Dipeluknya pakaian itu, lalu ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu Harry keluar. Di detik-detik itu, Feli menarik na

  • Tergoda Teman Papa    Dadaku sakit

    Sepeda motor Harry memasuki gerbang rumah Andrew setelah hampir lima belas menit melaju. Sepanjang perjalanan, tangannya tak pernah lepas dari tangan Feli yang melingkar di perutnya. Tangan yang ia sadari terus gemetar. Hingga motor berhenti pun, Feli tak kunjung turun. Pelukannya masih erat, seo

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tergoda Teman Papa    "Sama aku... kamu aman, Fel."

    “Ayo, Fel.” Saat semburat senja mulai menghilang di ufuk barat, Harry membuka pintu ruangan Feli di kafe. Keduanya memang sudah berjanji akan datang ke rumah Andrew untuk menjemput Bricia. Harry sengaja mengajak Feli berangkat ketika malam tiba. Sekali lagi, ia membuktikan diri sebagai manusia

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tergoda Teman Papa    Lelucon

    Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Andrew diizinkan pulang. Meski begitu, dokter masih berpesan agar ia benar-benar beristirahat dan tidak memforsir tubuhnya dulu. Namun, meski sudah dibolehkan pulang hari ini, rupanya Andrew tetap tak bisa lepas dari kebiasaannya membuat drama. B

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tergoda Teman Papa    Di kamar mandi?

    Di kantin, dengan segelas kopi dalam cup kertas di atas meja, Harry melirik Eric sekilas. Tadi pagi, sebelum Eric dan Bricia datang, Andrew sudah menceritakan kesalahpahaman yang terjadi. Mau tak mau, Harry ikut merasa bertanggung jawab membantu Andrew, lelaki yang sudah ia anggap seperti kakakny

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status