LOGINDi sela rasa haru itu, suara pintu utama tiba-tiba terbuka. Disusul suara seorang wanita yang langsung mengomel tanpa jeda.
Annette hanya berdecak, bahkan tak menoleh atau berusaha mencari tahu. “Itu pasti dia,” gumamnya. Dan benar saja, seorang wanita berambut sebahu muncul sambil menenteng tas jinjing, wajah kesal dan nada suaranya tinggi. “Mom sudah bilang berkali-kali, Leo! Kamu itu sudah dewasa. Sudah waktunya mikirin pekerjaan. Daddy bahkan sudah siapin posisi buat kamu, tapi kamu malah tetap mikirin main-main!” Andrew mengangkat kedua alis, menatap Annette seperti bertanya siapa yang datang dengan suara berisik begitu. “Selena,” jelas Annette sambil memutar bola matanya. “Sepupumu.” Selena akhirnya tiba di halaman belakang dan baru sadar ada Andrew di situ. Ia langsung berhenti mengomel, matanya membesar, dan senyum lebarnya terbit begitu saja. “Oh. Kamu pulang rupanya,” ujarnya, nada marahnya hilang total berganti antusias. Andrew tersenyum tipis. “Halo, Sel. Iya, sudah lama sekali kita nggak ketemu." “Aku pikir kamu betah di Australia. Kenapa tiba-tiba pulang? Jangan bilang bule-bule di sana sudah membosankan?” Andrew tertawa kecil. Namun tatapannya bergeser ke sosok pemuda yang berdiri beberapa langkah di belakang Selena. “Itu… putramu?” Selena sontak menoleh, lalu menarik si pemuda agar berdiri sejajar dengannya. “Ya. Ini Leo. Keponakanmu yang dulu kamu gendong terus waktu kecil.” Andrew berdiri, ia berjalan mendekat, lalu langsung merangkul Leo singkat seperti saudara lama yang akhirnya bertemu lagi. “Astaga… kamu sudah sebesar ini sekarang?” Andrew tertawa, nada suaranya terdengar renyah. "Apa kau sudah bekerja?" “Bulan depan dia baru wisuda. Habis itu, dia harus masuk ke perusahaan keluarga Daddy-nya," jawab Selena. Leo tetap diam. Mulutnya terkunci, tapi bola matanya bergerak ke atas, tanda ia sudah mulai jengah dengan rentetan omelan Mommy-nya yang tak ada habisnya. Andrew terkekeh pelan. Ia paham betul jiwa muda Leo yang masih ingin berpetualang, bukan duduk diam di balik meja kantor. Andrew mencondongkan badan, suaranya dibuat cukup pelan agar hanya Leo yang mendengarnya. “Tenang aja, Le. Semua anak muda pernah mengalami fase dikejar-kejar ambisi orang tua,” ujarnya sambil mengangkat sebelah alis. “Tapi kalau kamu masih pengin kabur keliling dunia dulu… Uncle bisa bantu.” Leo langsung melirik tajam. “Jangan gitu, Uncle, kalau Mommy denger, tamat hidupku.” Andrew tertawa, lalu kembali berdiri di samping kursi Annette. “Oke, Mom. Aku pulang dulu. Masih ada beberapa hal yang harus aku urus.” Sebagai tanda pamit, ia menunduk mengecup kening Annette. Setelah itu ia beralih ke Selena dan tanpa ampun mengacak rambut sepupunya itu. “Hentikan, Drew! Aku bukan anak remaja lagi!” protes Selena sambil merapikan rambutnya. Andrew hanya tersenyum tipis, sama sekali tak terlihat menyesal. “Uncle cabut duluan ya, Leo. Dua atau tiga hari lagi club Uncle mungkin sudah buka. Datanglah.” “Free kan, Uncle?” goda Leo dengan senyum penuh arti. “Untuk kamu? Free. Minumlah sepuas mu,” balas Andrew santai. “Asal kamu siap saja dengan omelan Mommy-mu setelahnya.” Leo mendesah, Selena melotot, dan Andrew hanya terkekeh sebelum akhirnya benar-benar melangkah keluar dari rumah itu. Begitu pintu utama tertutup di belakangnya, Andrew mengembuskan napas panjang. Udara sore yang sedikit dingin menyapu wajahnya, membuat kepalanya terasa lebih ringan. Ia menuruni tiga anak tangga teras sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Tepat saat itu, ponsel di sakunya bergetar. Andrew mengambilnya dan begitu melihat nama pengirimnya, sudut bibirnya otomatis terangkat. Sebuah pesan dari Bricia. [Bagaimana kalau besok, Om? Gelang itu benda keberuntunganku, dan aku nggak bisa berlama-lama menitipkannya pada Om.] Tawa Andrew langsung pecah, bahkan saat ia membuka pintu mobil, dan masuk ke dalamnya, ia masih saja tertawa. Kenapa ia merasa perempuan kecil itu manis sekali. Bahkan kedatangannya yang baru saja, seolah mampu mengisi rasa kosong di hati Andrew yang selama ini tak tersentuh. [Tentu. Di mana?] balas Andrew cepat. [Rosemary Cafe. Besok aku share lokasinya.] Andrew tak langsung membalas, ia tampak menimbang sebelum akhirnya mengetik sesuatu pada layar ponselnya. [Bagaimana kalau bertemu di rumahku?] Butuh beberapa menit, sampai akhirnya balasan Bricia datang lagi. [Big No! Di Rosemary Cafe atau Om datang ke rumah. Titik.] Senyum Andrew terkembang kembali, ia sampai memejamkan matanya menahan rasa geli dan gemas yang muncul di kepalanya. [Oke. Rosemary Cafe.] [Good!] Setelah itu Andrew tak membalas lagi. Ia lebih memilih menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari rumah Annette. Di balik gengsinya untuk membalas pesan Bricia, percayalah, ada rasa tak sabar untuk bertemu dengan perempuan itu esok hari.Proses pemakaman Annette berlangsung khidmat. Peti jenazahnya diturunkan perlahan, diiringi derai air mata yang jatuh tanpa suara. Kehilangan itu nyata, namun sebelum berangkat ke pemakaman, keluarga sudah lebih dulu sepakat untuk belajar mengikhlaskan, meski perih masih tertinggal di benak mereka. Setelah seluruh prosesi selesai, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hingga akhirnya tersisa empat orang saja. Selena duduk bersimpuh di sisi makam, jemarinya sesekali mengusap pipinya yang basah. Suaminya, Glen, berdiri tak jauh darinya, sesekali menepuk bahu Selena dengan lembut. Andrew berdiri tegak, menatap nisan dengan sorot mata sendu. Sementara Leo duduk terdiam di dekat kaki Andrew, pandangannya kosong, seolah sebagian dirinya ikut terkubur bersama nenek yang paling memahaminya. Tak ada kata yang terucap di sana. Hanya angin pelan yang bergerak di antara mereka, menjadi saksi duka yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat apa pun. Andrew menepuk pelan pundak k
Pagi harinya, bahkan sebelum matahari muncul, kediaman Eric sudah diliputi kepanikan. Louisa muntah-muntah sejak pukul empat pagi. Suara muntahnya membuat seisi rumah terbangun. Eric adalah orang yang paling kalang kabut. Namun setiap kali ia mencoba mendekat, Louisa justru semakin mual dan tak segan memarahinya. Bau Eric, gerakan paniknya dan semuanya membuat kondisi Louisa memburuk. Itu membuat Eric frustrasi setengah mati. “Udah,” cegah Bricia sambil menahan langkah Eric yang hendak masuk ke kamar. “Papa diem di ruang tamu aja. Biar aku yang jagain Louisa.” “Tapi, Bri—nggak bisa gitu dong,” Eric membalas dengan nada tertekan. “Papa itu khawatir.” “Aku tahu, Pa. Tapi setiap Papa masuk, Louisa makin parah.” Bricia menatap ayahnya tegas. “Udah, jangan ngeyel. Duduk di ruang tamu, ya.” Eric terdiam. Bahunya turun dan tubuhnya terlihat lesu. Akhirnya ia berbalik dan melangkah ke ruang tamu. Namun setiap dua langkah, ia menoleh ke arah kamar Louisa, bibirnya maju, menyimpan rasa k
Setelah situasi kembali kondusif, Andrew dan Bricia berpindah. Mereka duduk bersebelahan, dengan Bricia masih memeluk Andrew, dengan wajahnya bersandar di dada lelaki itu. Ada rasa tenang yang akhirnya ia dapatkan. Tenang yang pelan-pelan menenangkan detak jantungnya dan membuatnya enggan beranjak. Apalagi ketika wangi bergamot yang bersih bercampur vetiver dan kayu sandal menguar lembut dari tubuh Andrew. Aroma khas lelaki dewasa yang mahal, rapi, dan menenangkan, menusuk indera penciumannya, membuat Bricia semakin larut dalam pelukan itu. Lengannya mengencang, jemarinya mencengkeram punggung Andrew seolah takut ketenangan itu pergi begitu saja. Andrew menunduk sedikit, dagunya menyentuh puncak kepala Bricia. Tangannya mengusap punggung perempuan itu perlahan dan ritmis, seperti sedang menenangkan anak kecil yang baru saja melewati mimpi buruk. “I’m here, Baby,” bisiknya rendah. “You’re safe with me.” Bricia memejamkan mata. Setelah beberapa hari yang terasa panjang , akhirny
Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Tak ada teror susulan yang menghampiri Bricia. Semua berjalan seolah kembali ke awal, tenang dan normal. Trauma yang sempat mencengkeramnya perlahan mulai terkendali. Sesekali ia masih tersentak setiap kali notifikasi pesan masuk, tetapi tak lagi disertai gemetar yang melumpuhkannya. Hanya rasa was-was kecil dan itu pun kini mudah ia atasi. Sabtu ini, Bricia sudah meminta izin pada Eric untuk datang ke kafe Andrew. Alasannya menemani Feli, meski sebenarnya itu hanya akal-akalan dua perempuan itu. Karena tujuan jelas Bricia ingin bertemu Andrew. Selama satu minggu terakhir, mereka sama sekali belum bertemu karena kesibukan masing-masing. Terlebih Bricia yang sudah mulai bekerja dan bahkan sempat lembur beberapa hari lalu. Dengan menaiki taksi online, Bricia tiba tepat di jam makan siang. Suasana kafe tampak ramai, baik di lantai bawah maupun atas. Ia melangkah masuk dengan sedikit sungkan, hingga matanya menangkap sosok Feli. Tanpa ragu, B
Suasana restoran keluarga di dekat bengkel milik Gerry malam itu tampak ramai. Bukan restoran mewah, hanya tempat makan sederhana yang biasa dipenuhi keluarga kelas menengah yang ingin menikmati waktu bersama tanpa banyak formalitas. Di antara deretan meja yang terisi, di pojok ruangan terlihat Gerry dan Grace duduk berhadapan dengan kedua orang tua mereka, Romi dan Risa. Meja itu dipenuhi hidangan hangat, tawa kecil, dan obrolan ringan yang sesekali terputus oleh suara sendok dan piring yang beradu. Untuk sesaat, mereka tampak seperti keluarga utuh yang tengah menikmati malam tanpa beban. Setelah lulus kuliah di Bandung, Grace memang kembali ke Jakarta dan mulai tinggal bersama keluarga kecilnya, meski di akhir pekan. Tante yang sejak awal memang tidak memiliki keturunan, akhirnya mengasuh keponakan lain dari pihak suaminya, sehingga Grace pun bisa pulang tanpa rasa bersalah. Ia memandangi satu per satu orang tuanya. Tak ada marah, apalagi benci, karena mereka pernah menitipkanny
Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu. Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Bricia untuk fokus menenangkan mentalnya terlebih dahulu. Trauma lama yang tersentuh ulang membuat sistem pertahanannya goyah, dan itu tak bisa dianggap sepele. Namun, di tengah semua itu, peran Andrew terasa jauh lebih besar dari yang Bricia duga. Lelaki itu hampir tak pernah absen. Menelepon sekadar memastikan Bricia sudah makan, mengirim bunga ke rumah, juga makanan, dan itu selalu makanan yang Bricia suka. Andrew tak pernah memaksa dan bertanya terlalu jauh. Ia hanya hadir dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan diam-diam menguatkan Bricia. Sedangkan rencana Bricia dan Feli untuk menyelidiki video serta paket misterius itu sementara harus ditunda. Kondisi Bricia belum memungkinka





![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

