LOGINTak terasa, satu minggu telah berlalu. Tak ada teror susulan yang menghampiri Bricia. Semua berjalan seolah kembali ke awal, tenang dan normal. Trauma yang sempat mencengkeramnya perlahan mulai terkendali. Sesekali ia masih tersentak setiap kali notifikasi pesan masuk, tetapi tak lagi disertai gemetar yang melumpuhkannya. Hanya rasa was-was kecil dan itu pun kini mudah ia atasi. Sabtu ini, Bricia sudah meminta izin pada Eric untuk datang ke kafe Andrew. Alasannya menemani Feli, meski sebenarnya itu hanya akal-akalan dua perempuan itu. Karena tujuan jelas Bricia ingin bertemu Andrew. Selama satu minggu terakhir, mereka sama sekali belum bertemu karena kesibukan masing-masing. Terlebih Bricia yang sudah mulai bekerja dan bahkan sempat lembur beberapa hari lalu. Dengan menaiki taksi online, Bricia tiba tepat di jam makan siang. Suasana kafe tampak ramai, baik di lantai bawah maupun atas. Ia melangkah masuk dengan sedikit sungkan, hingga matanya menangkap sosok Feli. Tanpa ragu, B
Suasana restoran keluarga di dekat bengkel milik Gerry malam itu tampak ramai. Bukan restoran mewah, hanya tempat makan sederhana yang biasa dipenuhi keluarga kelas menengah yang ingin menikmati waktu bersama tanpa banyak formalitas. Di antara deretan meja yang terisi, di pojok ruangan terlihat Gerry dan Grace duduk berhadapan dengan kedua orang tua mereka, Romi dan Risa. Meja itu dipenuhi hidangan hangat, tawa kecil, dan obrolan ringan yang sesekali terputus oleh suara sendok dan piring yang beradu. Untuk sesaat, mereka tampak seperti keluarga utuh yang tengah menikmati malam tanpa beban. Setelah lulus kuliah di Bandung, Grace memang kembali ke Jakarta dan mulai tinggal bersama keluarga kecilnya, meski di akhir pekan. Tante yang sejak awal memang tidak memiliki keturunan, akhirnya mengasuh keponakan lain dari pihak suaminya, sehingga Grace pun bisa pulang tanpa rasa bersalah. Ia memandangi satu per satu orang tuanya. Tak ada marah, apalagi benci, karena mereka pernah menitipkanny
Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu. Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Bricia untuk fokus menenangkan mentalnya terlebih dahulu. Trauma lama yang tersentuh ulang membuat sistem pertahanannya goyah, dan itu tak bisa dianggap sepele. Namun, di tengah semua itu, peran Andrew terasa jauh lebih besar dari yang Bricia duga. Lelaki itu hampir tak pernah absen. Menelepon sekadar memastikan Bricia sudah makan, mengirim bunga ke rumah, juga makanan, dan itu selalu makanan yang Bricia suka. Andrew tak pernah memaksa dan bertanya terlalu jauh. Ia hanya hadir dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan diam-diam menguatkan Bricia. Sedangkan rencana Bricia dan Feli untuk menyelidiki video serta paket misterius itu sementara harus ditunda. Kondisi Bricia belum memungkinka
“Ehem!” Suara deheman dari ambang pintu terdengar jelas. Andrew sejenak memejamkan mata. Ia tahu, ia tertangkap basah. Namun kali ini, ia tak berniat berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Jika harus, ia akan jujur pada Louisa. Sementara itu, Feli langsung menunduk. Matanya terpejam erat, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah. Ia menyesal tak berjaga di depan pintu. Ia benar-benar tak menyangka Louisa kembali secepat ini. “Lanjutkan saja, Ndrew…” Louisa melangkah masuk dengan tenang. Ia menuju meja rias Bricia, mencolokkan charger, lalu menghubungkannya ke ponsel yang masih mati. Setelah itu, ia duduk di kursi kayu di depan meja rias. Tatapannya lurus. Mengarah pada Andrew yang masih menggenggam tangan Bricia. Andrew menarik napas dalam-dalam. Perlahan, ia mencium punggung tangan Bricia sekali lagi, lalu meletakkannya kembali di tempat semula dengan hati-hati. Setelah itu, ia memiringkan tubuhnya dan duduk menghadap Louisa. Udara di kamar itu mendadak terasa jauh lebih be
Pukul sebelas malam, Feli tiba di kediaman Eric. Ia diantar Andrew dan Harry. Sejak di perjalanan, Feli sudah berulang kali mewanti-wanti Andrew agar menjaga sikap. Ia yakin Eric belum tahu hubungan Andrew dan Bricia sejauh apa, dan di situasi seperti ini, Feli tak ingin suasana justru makin rumit. Feli mengetuk pintu. Tak lama, Eric membukanya dari dalam. Namun saat pandangannya bergeser ke belakang tubuh Feli, rautnya sedikit berubah, Eric cukup terkejut melihat Andrew dan Harry ikut datang. “Aku nganter Feli,” ujar Andrew cepat, seolah tak ingin memberi ruang Eric untuk bertanya. “Nggak mungkin aku biarin dia datang sendiri ke sini malam-malam begini.” Wajahnya dibuat tenang dan meyakinkan. Eric menatap Andrew beberapa detik. “Ngapain capek-capek ke sini, Ndrew? Kan ada Harry. Bisa dia yang nganter.” “Nggak apa-apa. Sekalian,” jawab Andrew singkat. Dalam hati, Andrew mendengus. Alih-alih dipersilakan masuk, ia malah seperti sedang diinterogasi di ambang pintu. “Bri gimana,
Risa sontak menoleh ke arah dinding. Di sana terpajang fotonya dan Romi bersama kedua anaknya. “Oh, itu putri bungsu saya, Pak Eric,” jelasnya cepat. “Sejak kecil dia ikut tantenya di Bandung. Baru sekitar setahun ini kembali ke Jakarta setelah lulus kuliah.” Alis Eric langsung berkerut. Ada sesuatu yang mengusik nalarnya, meski ia tak bisa dan tak ingin menyampaikannya secara gamblang. “Apa… Pak Eric menuduh putri saya?” tanya Romi hati-hati. Dadanya berdebar hebat saat kalimat itu keluar. “Nggak mungkin, Pak,” sela Risa tergesa, disertai tawa kecil yang terdengar dipaksakan. Ia bahkan sampai menepuk paha Romi. “Anak kita mana tahu soal ini, apalagi alamat rumah Pak Eric. Dia juga hampir setiap hari sibuk bekerja dan sering lembur. Mana sempat mengurusi hal seperti ini.” Gerry ikut mengangguk pelan. Namun di balik diamnya, tangannya meremas celana pendek di sisi paha, sebuah gestur yang tak di sadari semua orang. “Semoga saja memang bukan,” ucap Eric akhirnya. Nada suaranya d







