Share

Dugaan Louisa

Author: ORI GAMII
last update Last Updated: 2026-01-05 11:29:11

Pukul sebelas malam, Feli tiba di kediaman Eric. Ia diantar Andrew dan Harry.

Sejak di perjalanan, Feli sudah berulang kali mewanti-wanti Andrew agar menjaga sikap. Ia yakin Eric belum tahu hubungan Andrew dan Bricia sejauh apa, dan di situasi seperti ini, Feli tak ingin suasana justru makin rumit.

Feli mengetuk pintu. Tak lama, Eric membukanya dari dalam. Namun saat pandangannya bergeser ke belakang tubuh Feli, rautnya sedikit berubah, Eric cukup terkejut melihat Andrew dan Harry ikut datang.

“Aku nganter Feli,” ujar Andrew cepat, seolah tak ingin memberi ruang Eric untuk bertanya. “Nggak mungkin aku biarin dia datang sendiri ke sini malam-malam begini.” Wajahnya dibuat tenang dan meyakinkan.

Eric menatap Andrew beberapa detik.

“Ngapain capek-capek ke sini, Ndrew? Kan ada Harry. Bisa dia yang nganter.”

“Nggak apa-apa. Sekalian,” jawab Andrew singkat.

Dalam hati, Andrew mendengus. Alih-alih dipersilakan masuk, ia malah seperti sedang diinterogasi di ambang pintu.

“Bri gimana,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
ketahuan ,,, lou mengetahuinya ,, dan bakal direstui gak yaa
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Restuin aja Loui, Bricia bahagia sama Andrew gpp lah ya Andrew lebih tua daripada bricia wkwk
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
please y Lou biarin aja mereka ada hubungan.. jangan beri tahu Eric dulu.. biarin Andrew yg berjuang nantinya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Grace

    Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu. Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Bricia untuk fokus menenangkan mentalnya terlebih dahulu. Trauma lama yang tersentuh ulang membuat sistem pertahanannya goyah, dan itu tak bisa dianggap sepele. Namun, di tengah semua itu, peran Andrew terasa jauh lebih besar dari yang Bricia duga. Lelaki itu hampir tak pernah absen. Menelepon sekadar memastikan Bricia sudah makan, mengirim bunga ke rumah, juga makanan, dan itu selalu makanan yang Bricia suka. Andrew tak pernah memaksa dan bertanya terlalu jauh. Ia hanya hadir dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan diam-diam menguatkan Bricia. Sedangkan rencana Bricia dan Feli untuk menyelidiki video serta paket misterius itu sementara harus ditunda. Kondisi Bricia belum memungkinka

  • Tergoda Teman Papa    Leo... keponakan Om Andrew

    “Ehem!” Suara deheman dari ambang pintu terdengar jelas. Andrew sejenak memejamkan mata. Ia tahu, ia tertangkap basah. Namun kali ini, ia tak berniat berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Jika harus, ia akan jujur pada Louisa. Sementara itu, Feli langsung menunduk. Matanya terpejam erat, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah. Ia menyesal tak berjaga di depan pintu. Ia benar-benar tak menyangka Louisa kembali secepat ini. “Lanjutkan saja, Ndrew…” Louisa melangkah masuk dengan tenang. Ia menuju meja rias Bricia, mencolokkan charger, lalu menghubungkannya ke ponsel yang masih mati. Setelah itu, ia duduk di kursi kayu di depan meja rias. Tatapannya lurus. Mengarah pada Andrew yang masih menggenggam tangan Bricia. Andrew menarik napas dalam-dalam. Perlahan, ia mencium punggung tangan Bricia sekali lagi, lalu meletakkannya kembali di tempat semula dengan hati-hati. Setelah itu, ia memiringkan tubuhnya dan duduk menghadap Louisa. Udara di kamar itu mendadak terasa jauh lebih be

  • Tergoda Teman Papa    Dugaan Louisa

    Pukul sebelas malam, Feli tiba di kediaman Eric. Ia diantar Andrew dan Harry. Sejak di perjalanan, Feli sudah berulang kali mewanti-wanti Andrew agar menjaga sikap. Ia yakin Eric belum tahu hubungan Andrew dan Bricia sejauh apa, dan di situasi seperti ini, Feli tak ingin suasana justru makin rumit. Feli mengetuk pintu. Tak lama, Eric membukanya dari dalam. Namun saat pandangannya bergeser ke belakang tubuh Feli, rautnya sedikit berubah, Eric cukup terkejut melihat Andrew dan Harry ikut datang. “Aku nganter Feli,” ujar Andrew cepat, seolah tak ingin memberi ruang Eric untuk bertanya. “Nggak mungkin aku biarin dia datang sendiri ke sini malam-malam begini.” Wajahnya dibuat tenang dan meyakinkan. Eric menatap Andrew beberapa detik. “Ngapain capek-capek ke sini, Ndrew? Kan ada Harry. Bisa dia yang nganter.” “Nggak apa-apa. Sekalian,” jawab Andrew singkat. Dalam hati, Andrew mendengus. Alih-alih dipersilakan masuk, ia malah seperti sedang diinterogasi di ambang pintu. “Bri gimana,

  • Tergoda Teman Papa    Trauma Bricia

    Risa sontak menoleh ke arah dinding. Di sana terpajang fotonya dan Romi bersama kedua anaknya. “Oh, itu putri bungsu saya, Pak Eric,” jelasnya cepat. “Sejak kecil dia ikut tantenya di Bandung. Baru sekitar setahun ini kembali ke Jakarta setelah lulus kuliah.” Alis Eric langsung berkerut. Ada sesuatu yang mengusik nalarnya, meski ia tak bisa dan tak ingin menyampaikannya secara gamblang. “Apa… Pak Eric menuduh putri saya?” tanya Romi hati-hati. Dadanya berdebar hebat saat kalimat itu keluar. “Nggak mungkin, Pak,” sela Risa tergesa, disertai tawa kecil yang terdengar dipaksakan. Ia bahkan sampai menepuk paha Romi. “Anak kita mana tahu soal ini, apalagi alamat rumah Pak Eric. Dia juga hampir setiap hari sibuk bekerja dan sering lembur. Mana sempat mengurusi hal seperti ini.” Gerry ikut mengangguk pelan. Namun di balik diamnya, tangannya meremas celana pendek di sisi paha, sebuah gestur yang tak di sadari semua orang. “Semoga saja memang bukan,” ucap Eric akhirnya. Nada suaranya d

  • Tergoda Teman Papa    Perempuan itu, siapa?

    Malam itu juga, Eric pergi menuju rumah pemuda yang dulu terlibat kecelakaan dengan putrinya. Ia harus memastikan bahwa teror berupa paket itu bukan ulah mereka. Ia tak mau berspekulasi, atau menunggu sampai trauma Bricia kembali menghancurkannya. “Aku pergi dulu, Loui,” ucap Eric sambil meraih jaketnya. “Tolong temani Bri. Tunggu di kamarnya. Aku takut dia tiba-tiba terbangun dengan napas tersengal seperti dulu.” Louisa mengangguk mantap. “Iya. Aku masih ingat bagaimana trauma Bri dulu. Aku nggak akan ke mana-mana.” Dulu, Louisa sudah ada di rumah itu saat kejadian itu menimpa Bricia. Ia menyaksikan semuanya, dari tubuh Bricia yang gemetar setiap malam, serangan panik yang datang tanpa aba-aba, hingga proses panjang yang akhirnya membuat gadis itu bisa berdiri lagi, meski dengan bekas trauma yang tak sepenuhnya hilang. Beruntung, Bricia masih bisa menahan traumanya saat mulai berkuliah. Terlebih kedekatannya dengan Feli yang ikut membantu proses pemulihan dan membuat Bricia k

  • Tergoda Teman Papa    Lima tahun lalu...

    "Lalu... ini punya siapa?" tanya Louisa dengan kebingungan yang sama dengan Bricia. Bricia menatap kotak itu lebih lama. Entah kenapa, perutnya tiba-tiba terasa mual, seolah ada yang mengaduk di dalamnya. “Kalau bukan punyamu, mungkin salah kirim?” ucap Louisa ragu. Bricia menggeleng pelan. Ada rasa tak enak yang tiba-tiba muncul, seperti sebuah firasat. Tangannya sedikit gemetar saat ia mendekat dan berdiri di depan kotak itu."Dia nulis nama lengkapmu di sini, Bri. Jadi bisa dipastikan, ini memang untukmu." Suara Louisa kembali terdengar. Setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Bricia membuka lakban penutup dengan perlahan. Meski ada keyakinan ini bukan miliknya, tapi Bricia merasa ada pesan di dalamnya yang sengaja ditujukan untuk dirinya. Ketika semua lakban terbuka, detik berikutnya, napas Bricia langsung tersendat. Di dalam kotak itu ada sebuah boneka kain. Bentuknya kecil, lusuh… dan hanya memiliki satu kaki. Bagian tubuhnya terdapat noda merah kecokelatan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status