Partager

13. LANGIT TERASA RUNTUH

Auteur: LUFI
last update Date de publication: 2025-10-03 23:24:54
Pagi itu, suasana di gerai ponsel terbesar di kota “K” terasa lebih ramai dari biasanya. Nasrul datang dengan wajah yang masih letih. Malamnya ia hampir tidak tidur, pikirannya penuh dengan bayangan Arum dan panasnya obrolan semalam. Ia berusaha mengalihkan, menata kemeja, lalu masuk ke ruang servis.

Belum sempat ia menyalakan solder, pintu ruangannya terbanting keras. Samsul, anak pemilik toko, masuk dengan wajah merah padam. Di tangannya ada sebuah ponsel mewah berwarna hitam mengilap.

Samsul:
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   40. KECEWA NAMUN LEGA..

    Jantung Arum masih dagdigdug tak karuan saat Deni menunjuk batangnya yang tegang pake jari telunjuk, senyumnya penuh bangga. Batang itu berdiri kokoh di antara dua lututnya, urat-uratnya keliatan jelas di bawah lampu tidur yang redup. Arum menelan ludah. Dia sudah siap menerima hujaman yang ditakutinya. Tapi yang keluar dari mulut suaminya malah kalimat yang membuatnya terkesiap.“Sayang… sebelum kumasukin, kamu emutin dulu ya?” suara Deni serak, nafsunya hampir meledak. “Aku pengen rasain mulutmu. Pelan-pelan aja. Nanti aku ajarin.”Arum diam sejenak. Napas yang semula sesak karena panik sekarang berubah jadi lega yang samar-samar. Lagi-lagi dapat jeda. Lagi-lagi ada waktu. Dia mengangguk pelan, pura-pura ragu, seolah kata “emut” itu baru pertama kali dia dengar.“Aku… nggak ngerti caranya, Yang,” bisiknya kecil, suara sengaja dibuat lugu dan agak gemeter. “Takut salah…”Deni senyum lebar. Dia meraih tangan Arum, memandunya ke arah simbol kejantanannya yang sudah panas dan berdenyut.

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   39. JEDA MANIS DI TENGAH KETAKUTAN

    “Aaaakh………!!...”Desahan itu tiba-tiba pecah dari mulut Arum hampir bersamaan dengan tubuhnya yang menegang hebat. Kedua pahanya yang sudah dibuka lebar oleh Deni langsung mencoba menutup secara refleks, tapi tangan suaminya menahannya dengan lembut namun tegas. Jantung Arum berdetak dengan irama lebih cepat dari sebelumnya. Ia sudah membayangkan rasa sakit yang seharusnya ada jika selaputnya masih utuh, atau justru kemudahan yang terlalu mencurigakan–bukti gamblang bahwa tirai kesuciannya sudah lama robek direnggut oleh pria yang kini mungkin juga sedang menyetubuhi istri sahnya di sebelah rumah. Napasnya tersengal. Keringat dingin sudah mulai muncul dari pori-poi kulit pelipisnya. Dalam sekejap, bayangan wajah Nasrul, rumah kosong, dan semburan panas yang pernah muncrat berhamburan di dadanya, semuanya berputar kacau di kepalanya.Tapi yang terjadi bukan penetrasi.Kejantanan Deni tidak bersarang di vaginanyaSuaminya justru menunduk lebih dalam, kepalanya terbenam di antara kedua p

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   38. PENGAKUAN ARUM…

    “Yang… sebenarnya aku…”Arum menelan ludah. Suaranya nyaris tenggelam di antara napas yang memburu. Ia menatap mata Deni dalam gelap temaram kamar, jari-jarinya mencengkeram ujung seprei sampai tertarik sedikit.“Aku… sering… main sendiri. Selama kamu di Malaysia.”Kalimat itu jatuh seperti batu di genangan air tenang.Deni terdiam terpaku. Matanya membelalak. Mulutnya sedikit terbuka, seolah tak percaya apa yang baru saja didengar dari istri yang selama ini ia anggap lugu dan polos. Hening menggantung beberapa detik. Tiba-tiba Arum merasa seolah dunia di sekelilingnya membisu, kecuali hanya detak jarum jam yang terus menggema. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia sudah siap mendengar marah, kejijikan, atau bahkan pertanyaan yang lebih dalam.Tapi Deni justru menghela napas panjang, lalu menarik tubuh Arum lebih erat ke dadanya.“Aah aku kira apa, Yang,” bisiknya cepat, suaranya lembut tapi sedikit serak karena kaget. “Aku nggak marah. Beneran. Aku cuma… kaget aja. Kamu ya

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   37. MALAM TEMARAM YANG SERAM

    Arum mematung di depan pintu rumahnya dengan tangan yang masih gemetar. Bau sabun mandi dan sisa cairan hasrat Nasrul masih samar-samar menempel di kulitnya meski ia sudah mandi kilat di rumah kosong tadi. Rambutnya masih sedikit kuyup, gestur wajahnya berusaha ia kondisikan agar terlihat normal. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memutar gagang pintu.Suara obrolan samar antara ibu dan suaminya terdengar menggema.“Sayang..…?”Deni berdiri di antara sofa dan meja marmer, masih memakai kemeja lengan panjang yang sedikit kusut karena perjalanan. Koper hitam besar tergeletak di samping sofa. Senyum lebar terpampang di wajahnya, sementara ibu dan ayah Arum seolah sepakat langsung paham situasi, memberi waktu anak dan menantunya itu mencairkan rindu yang berbulan-bulan ini menggumpalkan di dalam kalbu, mereka bergeser ke ruang belakang.“Akhirnya… aku ke rumah!” serunya, langkahnya cepat mendekati Arum. Ia langsung merengkuh istrinya dalam pelukan erat. “Kejutan, ya? Aku sengaja nggak b

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   36. PERCIKAN HASRAT YANG MEMBASUH TUBUH

    Nasrul menatap lelehan air mata Arum di pipi yang meredupkan rona cantiknya, dada pria itu terasa seperti sesak menelan kepulan asap yang memenuhi ruangan. Rasa bersalahnya membuncah, lebih kuat daripada rasa lelah atau pikiran tentang ruko tadi. Ia tak tega. Tak sanggup melihat perempuan yang selama ini selalu memberi segalanya tersiksa perih karena kebodohannya.Tanpa bicara lagi, Nasrul merengkuh bahu Arum dengan kedua tangan, seperti musafir yang ingin segera menyelamatkan mawar yang ditemukannya sekarat dipinggir jalan. Meski ia tahu itu botol air terakhirnya, namun ia tanpa ragu menyirami sang mawar agar tak cepat mati.Nasrul menarik tubuh arum yang masih setengah terbuka ke dalam pelukannya. “Rum… jangan nangis. Aku nggak nolak kamu. Aku cuma… bodoh tadi. Sekarang aku mau kamu. Banget.”Arum menggeleng pelan, wajahnya masih dinaungi mendung yang tersisa meski hujan air mata sudah turun deras. Ia mencoba mendorong dada telanjang Nasrul, suaranya parau karena ngambek. “Nggak us

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   35. HABIS MANIS SEPAH DIBUANG?

    Arum berdiri di depan cermin kamar di rumah kosong miliknya, rambut basah menempel di bahu putihnya, hanya handuk putih tipis yang melilit tubuh dari dada hingga paha atas. Senyumnya manja, matanya menatap kamera dengan pandangan menggoda, dan..CEKREK! CEKREK!Foto hasil jepretan itu pun langsung melayang secepat cahaya, dari galeri ponsel Arum berpindah ke ponsel Nasrul via chat.“Aku habis mandi nih Mas, hati-hati di jalan ya…, nggak usah ngebut.”Entah apa maksudnya, Arum tiba-tiba tanpa ragu mengirim beberapa swafoto seksinya itu ke Nasrul. Jantung Nasrul berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kota sebelah yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari kota “K”. Pesan terakhir dari Arum masih terngiang, ditambah foto selfie yang membuat napasnya tersengal sesaat.“Tunggu aku ya, Rum. Sebentar lagi.” balasnya singkat.Setiap putaran roda motornya terasa seperti kocokan dadu yang menyiratkan pertaruhan antara hasrat dan logika. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah tak bisa boho

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status