ANMELDEN“Aaaakh………!!...”Desahan itu tiba-tiba pecah dari mulut Arum hampir bersamaan dengan tubuhnya yang menegang hebat. Kedua pahanya yang sudah dibuka lebar oleh Deni langsung mencoba menutup secara refleks, tapi tangan suaminya menahannya dengan lembut namun tegas. Jantung Arum berdetak dengan irama lebih cepat dari sebelumnya. Ia sudah membayangkan rasa sakit yang seharusnya ada jika selaputnya masih utuh, atau justru kemudahan yang terlalu mencurigakan–bukti gamblang bahwa tirai kesuciannya sudah lama robek direnggut oleh pria yang kini mungkin juga sedang menyetubuhi istri sahnya di sebelah rumah. Napasnya tersengal. Keringat dingin sudah mulai muncul dari pori-poi kulit pelipisnya. Dalam sekejap, bayangan wajah Nasrul, rumah kosong, dan semburan panas yang pernah muncrat berhamburan di dadanya, semuanya berputar kacau di kepalanya.Tapi yang terjadi bukan penetrasi.Kejantanan Deni tidak bersarang di vaginanyaSuaminya justru menunduk lebih dalam, kepalanya terbenam di antara kedua p
“Yang… sebenarnya aku…”Arum menelan ludah. Suaranya nyaris tenggelam di antara napas yang memburu. Ia menatap mata Deni dalam gelap temaram kamar, jari-jarinya mencengkeram ujung seprei sampai tertarik sedikit.“Aku… sering… main sendiri. Selama kamu di Malaysia.”Kalimat itu jatuh seperti batu di genangan air tenang.Deni terdiam terpaku. Matanya membelalak. Mulutnya sedikit terbuka, seolah tak percaya apa yang baru saja didengar dari istri yang selama ini ia anggap lugu dan polos. Hening menggantung beberapa detik. Tiba-tiba Arum merasa seolah dunia di sekelilingnya membisu, kecuali hanya detak jarum jam yang terus menggema. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia sudah siap mendengar marah, kejijikan, atau bahkan pertanyaan yang lebih dalam.Tapi Deni justru menghela napas panjang, lalu menarik tubuh Arum lebih erat ke dadanya.“Aah aku kira apa, Yang,” bisiknya cepat, suaranya lembut tapi sedikit serak karena kaget. “Aku nggak marah. Beneran. Aku cuma… kaget aja. Kamu ya
Arum mematung di depan pintu rumahnya dengan tangan yang masih gemetar. Bau sabun mandi dan sisa cairan hasrat Nasrul masih samar-samar menempel di kulitnya meski ia sudah mandi kilat di rumah kosong tadi. Rambutnya masih sedikit kuyup, gestur wajahnya berusaha ia kondisikan agar terlihat normal. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memutar gagang pintu.Suara obrolan samar antara ibu dan suaminya terdengar menggema.“Sayang..…?”Deni berdiri di antara sofa dan meja marmer, masih memakai kemeja lengan panjang yang sedikit kusut karena perjalanan. Koper hitam besar tergeletak di samping sofa. Senyum lebar terpampang di wajahnya, sementara ibu dan ayah Arum seolah sepakat langsung paham situasi, memberi waktu anak dan menantunya itu mencairkan rindu yang berbulan-bulan ini menggumpalkan di dalam kalbu, mereka bergeser ke ruang belakang.“Akhirnya… aku ke rumah!” serunya, langkahnya cepat mendekati Arum. Ia langsung merengkuh istrinya dalam pelukan erat. “Kejutan, ya? Aku sengaja nggak b
Nasrul menatap lelehan air mata Arum di pipi yang meredupkan rona cantiknya, dada pria itu terasa seperti sesak menelan kepulan asap yang memenuhi ruangan. Rasa bersalahnya membuncah, lebih kuat daripada rasa lelah atau pikiran tentang ruko tadi. Ia tak tega. Tak sanggup melihat perempuan yang selama ini selalu memberi segalanya tersiksa perih karena kebodohannya.Tanpa bicara lagi, Nasrul merengkuh bahu Arum dengan kedua tangan, seperti musafir yang ingin segera menyelamatkan mawar yang ditemukannya sekarat dipinggir jalan. Meski ia tahu itu botol air terakhirnya, namun ia tanpa ragu menyirami sang mawar agar tak cepat mati.Nasrul menarik tubuh arum yang masih setengah terbuka ke dalam pelukannya. “Rum… jangan nangis. Aku nggak nolak kamu. Aku cuma… bodoh tadi. Sekarang aku mau kamu. Banget.”Arum menggeleng pelan, wajahnya masih dinaungi mendung yang tersisa meski hujan air mata sudah turun deras. Ia mencoba mendorong dada telanjang Nasrul, suaranya parau karena ngambek. “Nggak us
Arum berdiri di depan cermin kamar di rumah kosong miliknya, rambut basah menempel di bahu putihnya, hanya handuk putih tipis yang melilit tubuh dari dada hingga paha atas. Senyumnya manja, matanya menatap kamera dengan pandangan menggoda, dan..CEKREK! CEKREK!Foto hasil jepretan itu pun langsung melayang secepat cahaya, dari galeri ponsel Arum berpindah ke ponsel Nasrul via chat.“Aku habis mandi nih Mas, hati-hati di jalan ya…, nggak usah ngebut.”Entah apa maksudnya, Arum tiba-tiba tanpa ragu mengirim beberapa swafoto seksinya itu ke Nasrul. Jantung Nasrul berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kota sebelah yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari kota “K”. Pesan terakhir dari Arum masih terngiang, ditambah foto selfie yang membuat napasnya tersengal sesaat.“Tunggu aku ya, Rum. Sebentar lagi.” balasnya singkat.Setiap putaran roda motornya terasa seperti kocokan dadu yang menyiratkan pertaruhan antara hasrat dan logika. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah tak bisa boho
Arum berdiri di bawah guyuran shower, kulit putih bersih yang tanpa cacat memendar di balik buliran air yang mengalir dari ujung rambutnya. Payudara montoknya tegak sempurna, putingnya menjulang menantang. Pinggang rampingnya, paha panjang yang mulus, dan bokong bulat yang seolah menantang gravitasi, nampak semakin sensual seiring gerakan jemarinya yang bergerilya menyusuri tubuhnya sendiri.Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu kamar mandi membuat jantungnya berhenti sesaat. "Siapa?" tanyanya lirih, tapi tak ada jawaban. Arum membuka pintu sedikit, dan Nasrul muncul di ambang pintu. Mata coklatnya langsung mendarat pada tubuh telanjang Arum. Tak ada kata. Hanya pandangan yang membara. “Aku mau mandi bareng kamu, Rum” Nasrul berkata tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi. Pria 34 tahun itu melepas kaosnya tanpa ragu, memperlihatkan dada bidang berotot coklat sawo matang yang berkilau keringat tipis, lengan berurat, jambang dan kumis t







