Share

2. RENCANA NAKAL

Author: LUFI
last update Last Updated: 2025-08-30 02:26:13

Layar ponsel Arum menyala cerah seolah memberi permisi agar mulai dijamah, dan Nasrul seakan kehilangan napas. Awalnya niat hanya mengecek kerusakan aplikasi, tapi jemarinya malah berlabuh pada ikon galeri.

“Buka sebentar saja nggak apa-apa, kan?” batinnya merayu pikirannya, atau malah sebaliknya batinnya yang justru digoda oleh pikiran nakalnya, ia mencoba bersikap tenang meski jantungnya sudah berpacu kencang.

Gambar di awal biasa saja—makanan, artis K-Pop, screenshot baju-baju di marketplace–khas isi galeri ponsel para wanita. Ia hendak menutup, tapi rasa penasaran lebih kuat. Jempolnya menggulir cepat menyelam lebih dalam dan dalam lagi entah berharap menemukan apa.

Lalu muncullah ratusan swafoto Arum. Senyum manis dengan jilbab rapi, gaya polos tanpa make-up. Hanya itu saja sudah cukup membuat dada Nasrul hangat. Namun makin digeser, foto-foto itu berubah. Arum tanpa jilbab, rambut hitamnya terurai panjang, kaos ketat membalut tubuh semampainya. Senyum tipis itu membuat Nasrul tak sadar menelan ludahnya sendiri beberapa kali.

“Ya Allah… kau benar-benar jelmaan bidadari, Arum” gumamnya lirih, kepalanya reflek menggeleng-geleng seolah tak percaya.

Ia mendekatkan layar ke wajah, seolah bisa merasakan kehadiran idola barunya itu. Padahal hanya foto, tapi debaran dadanya tak bisa ia kendalikan.

Tangannya gemetar ketika menemukan folder lain. Klik. Foto Arum dengan suaminya. Pipi Arum dicium, tubuhnya disandarkan manja di dada lelaki yang baru sepekan lalu resmi menikahinya.

“Harusnya aku yang ada di posisi itu, merengkuh setiap jengkal tubuh indahmu… gumam Nasrul dalam hati, wajahnya memanas menahan rasa iri bercampur nafsu.

Matanya lalu menangkap ikon tempat sampah. Ada file tersimpan di sana. Penasarannya tak terbendung. Klik.

Seketika, sebuah video singkat terbuka. Arum baru selesai mandi, tubuhnya hanya terbalut handuk. Dari angle, jelas suaminya yang merekam sebelum Arum merebut ponsel itu. Video terhenti hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Nasrul hampir kehilangan akal.

“Arum…” bisiknya, matanya tak berkedip. Ia mendekatkan layar seakan bisa menghirup aroma tubuh Arum yang menguap dari pori-pori kulitnya yang begitu halus.

Deg. Deg. Deg. Jantungnya berdentum lebih keras dari sebelumnya. Tangannya berkeringat, keringat dingin menetes dari pelipis.

Tiba-tiba—tok tok tok!

“Mas, makan dulu! Nasi gorengnya keburu dingin nanti,” suara Ningsih terdengar memanggil dari balik pintu.

Nasrul terlonjak kaget, ponsel hampir meluncur jatuh ke lantai karena sesaat terlepas dari genggamannya. Panik, ia buru-buru mengunci layar dan menyelipkan HP itu di bawah tumpukan buku servis.

“Iya, bentar dek!” sahutnya tergesa.

Ia menepuk dadanya, berusaha menenangkan diri. “Gila… aku benar-benar tenggelam dalam samudera pesona wanita itu, sesaat aku melupakan istriku yang sedari tadi sibuk menyiapkan makan untukku”.

Pelan-pelan ia buka pintu ruang servis. Ningsih berdiri sambil melipat tangan di dada, wajahnya sedikit curiga.

“Mas kok lama banget? Dari tadi aku panggil nggak ngrespon blas.”

Nasrul terkekeh canggung. “Hehe, fokus banget tadi dek nyervisnya. Pake headset untuk ngecek speaker HP yang mota-mati.”

“Ya udah, cepetan makan. Aku udah bikinin nasi goreng kesukaanmu.”

“Iya, iya.”

Mereka duduk di meja makan. Ningsih menyendokkan nasi ke piringnya. “HP Arum itu kenapa sih?” tanyanya santai.

“Sepertinya sistem error. Paling 2 jam an lagi udah kelar, nanti biar kamu aja yang anterin balik,” jawab Nasrul cepat.

“Lho, kenapa nggak kamu aja? Nanti aku nggak paham kalau ditanya kenapa-kenapa”

“Aku mau bongkar hp lainnya masih numpuk. Bilang aja kalau update software nya”

Ningsih mengangguk tanpa curiga. “Ya sudah, nanti aku yang anterin.”

Nasrul mengunyah nasi gorengnya, tapi pikirannya sudah melayang entah ke mana. Bayangan wajah Arum dalam foto-foto itu terus menari di pelupuk mata, apalagi video yang lumayan vulgar tadi terus menggelayuti pikirannya, membuat nasi goreng terasa hambar di lidahnya.

Ini baru permulaan, batinnya. Kalau aku bisa pegang HP ini lebih lama, aku bisa tahu lebih banyak tentang dia. Bahkan… mungkin bisa lebih dekat dengannya.

Ia menyeringai kecil, menahan tawa agar tidak mencurigakan.

“Arum kasihan banget ya mas, manten baru tapi harus pisah sama lama sama suaminya” Ningsih berbagi kabar aktual dengan suaminya.

“Lhoh! emang kemana suaminya?” Nasrul tercekat karena memang benar-benar tak tahu.

“Balik lagi merantau lah, kalau nggak salah ke Malaysia” terang Ningsih.

“Lhoh kok bisa gitu? Masa belum ada sebulan nikah mau pisah lagi?” Nasrul masih belum bisa mencerna kabar yang di luar dugaannya itu.

“Ya nggak tahu mas, mungkin mau nguber duit gede sampai rela mengorbankan masa-masa bulan madunya. Kalau aku sih ogah? Mending hidup ala kadarnya saja selama nggak jauh dari keluarga”.  Jawab Ningsih sambil menggeser segalas teh hangat lebih dekat ke piring Nasrul.

“Betul dek, mas juga berfikir begitu, ngapaian berlimpah harta kalau tak bisa menikmati waktu bersama keluarga”. Nasrul memandangi wajah istrinya dengan perasaan campur aduk.

Selesai makan, Nasrul kembali ke ruang servis. Ia duduk, menatap ponsel Arum yang tergeletak di meja. Jemarinya gatal ingin mengulik lebih banyak lagi.

“Rencana harus disusun. Kalau hanya lihat-lihat, rasanya kurang. Aku harus punya alasan untuk lebih sering berhubungan dengan Arum. Suaminya lagu di tanah rantau, gerbang terbuka lebar di depan mata”.

Ia menarik napas panjang. Senyum licik kembali muncul.

“HP ini… tiketku,” gumamnya pelan sambil reflek mengangguk-angguk.

Degup jantungnya meningkat, seakan malam nanti bukan sekadar mengembalikan HP Arum dalam keadaan normal, tapi awal dari sesuatu yang melewati batas-batas kenormalan.

Dan Nasrul tidak sabar mengeksekusinya, ia pun me….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   35. HABIS MANIS SEPAH DIBUANG?

    Arum berdiri di depan cermin kamar di rumah kosong miliknya, rambut basah menempel di bahu putihnya, hanya handuk putih tipis yang melilit tubuh dari dada hingga paha atas. Senyumnya manja, matanya menatap kamera dengan pandangan menggoda, dan..CEKREK! CEKREK!Foto hasil jepretan itu pun langsung melayang secepat cahaya, dari galeri ponsel Arum berpindah ke ponsel Nasrul via chat.“Aku habis mandi nih Mas, hati-hati di jalan ya…, nggak usah ngebut.”Entah apa maksudnya, Arum tiba-tiba tanpa ragu mengirim beberapa swafoto seksinya itu ke Nasrul. Jantung Nasrul berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kota sebelah yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari kota “K”. Pesan terakhir dari Arum masih terngiang, ditambah foto selfie yang membuat napasnya tersengal sesaat.“Tunggu aku ya, Rum. Sebentar lagi.” balasnya singkat.Setiap putaran roda motornya terasa seperti kocokan dadu yang menyiratkan pertaruhan antara hasrat dan logika. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah tak bisa boho

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   34. HASRAT YANG HARUS DITUNTASKAN

    Arum berdiri di bawah guyuran shower, kulit putih bersih yang tanpa cacat memendar di balik buliran air yang mengalir dari ujung rambutnya. Payudara montoknya tegak sempurna, putingnya menjulang menantang. Pinggang rampingnya, paha panjang yang mulus, dan bokong bulat yang seolah menantang gravitasi, nampak semakin sensual seiring gerakan jemarinya yang bergerilya menyusuri tubuhnya sendiri.Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu kamar mandi membuat jantungnya berhenti sesaat. "Siapa?" tanyanya lirih, tapi tak ada jawaban. Arum membuka pintu sedikit, dan Nasrul muncul di ambang pintu. Mata coklatnya langsung mendarat pada tubuh telanjang Arum. Tak ada kata. Hanya pandangan yang membara. “Aku mau mandi bareng kamu, Rum” Nasrul berkata tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi. Pria 34 tahun itu melepas kaosnya tanpa ragu, memperlihatkan dada bidang berotot coklat sawo matang yang berkilau keringat tipis, lengan berurat, jambang dan kumis t

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   33. BERCINTA DALAM DILEMA

    "Ini... ini harus berhasil. Aku harus berpura-pura semuanya normal. Demi rahasia ini, demi anak di perutku yang nggak bersalah" Batin Ningsih bergemuruh. Dengan tangan gemetar Ningsih membuka pintu lemari, mengeluarkan baju tidur seksi yang sudah lama tak dipakai: camisole putih tipis dengan dada rendah, dan hotpan yang nyaris tak menutupi paha mulusnya. Di depan cermin, Ningsih memandangi pantulannya sendiri. Tubuhnya masih ramping, payudaranya masih kencang dan montok seperti biasa, pinggang kecil tanpa tonjolan apa pun. "Masih ramping, tak ada yang terlihat. Alhamdulillah, tapi... apa ini benar? Aku hamil, dan bukan dari suamiku. Ya Allah, astaghfirullah... Ini semua karena kebodohanku dengan Bayu," pikirannya bergejolak, tangannya pelan menyentuh perut bawah, menggerayangi kulit halus di sana, merasakan kehangatan yang sekarang terasa asing, seperti ada rahasia hidup di dalamnya yang tak bisa dia bagi siapa pun.Ningsih menarik napas dalam, berusaha tenang. "Ayo, Ning, kamu bisa

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   32. MENGUBUR BANGKAI

    “Hamil?” Bayu mengulang pelan, suaranya serak. “Mbak… beneran?” Bayu serasa dihentak oleh suara halilintar tepat di atas kepalanya.Ningsih masih duduk di tepi kasur tipis di kontrakan Bayu, tangannya memeluk lutut erat-erat. Udara pagi menjelang siang di kamar kecil itu terasa lebih pengap dari seharusnya. Matanya merah, bukan hanya karena menangis, tapi juga karena dilanda kepanikan yang sudah berjam-jam menggerogoti dadanya.Hari itu, pagi-pagi sekali Ningsih mendatangi kontrakan Bayu, masuk dengan kunci duplikat yang selama ini ia pegang, sengaja menunggu sang adik iparnya pulang dari shif malam di hotel, untuk menyampaikan hal penting tersebut.Bayu berdiri membeku, menyandarkan punggungnya di tembok kamar. Wajah yang biasanya penuh senyum nakal kini tampak pucat mendengar pengakuan dari kakak iparnya.“Mbak, jangan nakut-nakutin aku, pliss” Bayu masih tak percaya.Ningsih tak menjawab, tangannya merogoh tas selempang, mengeluarkan test pack yang sudah dibungkus plastik hitam. Du

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   31. KEJUTAN BESAR

    SATU SETENGAH MILIAR RUPIAH.Angka itu seolah terus menari-nari dan melayang di atas ubun-ubun Nasrul pada Minggu pagi itu, seperti mimpi yang tiba-tiba mewujud menjadi realita. Transfer pertama sudah mendarat: Rp 450 juta, sisanya akan menyusul dalam hitungan hari.Nasrul memelototi angka saldo banknya berulang-ulang, jarinya gemetar menyentuh layar, takut kalau-kalau angka itu lenyap begitu dia kedip. Tiga bulan yang penuh begadang, mata merah, dan keheningan di rumah akhirnya berbuah sesuatu seperti yang dia bayangkan sebelumnya, namun baginya itu terlampau besar. Pikirnya, paling besar hanya seratusan juta, itu pun total semua ditambah komisi dan akomodasi, yang nantinya sudah cukup untuk sewa ruko di kota untuk buta servis dan toko ponsel sederhana.“Alhamdulillah…, Terima kasih Tuhan….” Nasrul kebali sujud syukur entah yang ke berapa kali.Selama tiga bulan terakhir, Nasrul hampir tak lagi memperhatikan dinginnya hubungan dengan Ningsih. Dulu setiap malam dia masih berharap ada

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   30. DIABAIKAN…DISEPELEKAN

    Siang itu matahari sudah tergelincir, udara sangat kering, namun di antara paha Ningsih masih terasa ada sesuatu yang lengket saat ia menginjakkan kaki di rumahnya. Keringat menempel di punggungnya, bukan cuma karena panas, tapi juga karena badan masih terasa lemas usai berjam-jam bergumul penuh nafsu dengan adik iparnya.Kakinya terasa berat melangkah masuk ke ruang tamu yang tampak dihinggapi debu, helm nya diletakkan asal di meja tamu.Nasrul langsung muncul dari arah dapur, wajahnya yang sedari tadi tegang langsung mengendur lega begitu melihat istrinya. “Akhirnya… pulang juga. Kemana sih, Dek tadi kamu?”Ningsih cuma mengangguk kecil, tak menatap mata suaminya. “Ke rumah temen, Mas”. Ia langsung melenggang ke kamar, meninggalkan Nasrul yang masih mematung di ambang pintu.Di dalam kamar, Ningsih langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa ganti baju. Badannya terasa lengket, mata memejam, berusaha menghapus bayangan apa yang baru saja terjadi. Tapi setiap kali mata tertutup, mala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status