MasukRuang servis sepi. Hanya suara kipas angin tua yang berderit, menemani Nasrul yang duduk terpaku menatap monitor komputer rakitannya. Aplikasi tersembunyi yang ditanam pada ponsel Arum berhasil menyadap percakapan pribadi sepasang pengantin baru itu. “Sekarang aku bisa memasuki kehidupan pribadimu, Arum”. Ayo mulailah bercakap dengan suamimu!”. Kaki nasrul menghentak-hentak pelan ke lantai tanda tak sabar.
Jari-jarinya gemetar memegang mouse, tapi bukan karena takut ketahuan. Tapi perasaan yang tidak sederhana untuk dijelaskan. Merasa bersalah dengan Arum, Deni, lebih-lebih Ningsih istrinya, tapi nafsu terlanjur menguasai. “Seberapa besarkah dosaku melakukan ini?” batin Nasrul senang bercampur bimbang.
Ia mulai menggulir dengan sabar, menelusuri semua riwayat percakapan yang pernah terjadi antara Arum dan suaminya, sejak masa pacaran-tunangan-sampai setelah sah menjadi pasangan suami istri. Ketika sampai di lini masa pascapernikahan, Nasrul membuka pesan suara dari Deni. Dengan napas ditahan, ia menekan tombol play.
“Maafin aku ya sayang, cuma bisa sebentar di rumah untuk nemenin kamu. Aku janji ini kepergianku yang terakhir kali. Nanti kita akan selalu bersama… anggap saja aku sedang membangun bahtera yang megah untuk kita berlayar bahagia.”
Suara itu berat, penuh nada membujuk. Suara seorang pria yang berusaha terdengar gagah, meski di baliknya ada keraguan.
Nasrul mendengarkan sampai habis, lalu memejam. Tanpa sadar, ia sudah membayangkan apa yang terjadi sebelum sang suami mengirim pesan itu dari negeri jiran.
Sepekan lalu. Dua sejoli itu berbaring di ranjang pengantin mereka. Kotak-kotak kado masih menumpuk di sudut kamar, aroma bunga melati dari pelaminan bahkan masih samar-samar menempel di pakaian.
Arum merapatkan wajahnya ke dada Deni. “Berapa lama, Yang?” tanyanya lirih, penuh cemas.
“Tiga tahun,” jawab Deni, menelan ludah. “Sesuai kontrak kerja.”
“Tiga tahun?” Arum menatapnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca, jemarinya menggenggam lengan suaminya erat-erat. “Kamu tega ninggalin aku selama itu?”
“Kalau melanggar kontrak, bisa kena denda, Yang. Puluhan juta.”
“Berapa?” suara Arum meninggi. “Kalau cuma tiga puluh juta, biar aku yang bayar! Tabunganku masih ada. Kalau kurang, motorku jual!”
Deni menghela napas. “Bukan cuma soal denda. Gajinya besar, Yang. Dua puluh juta per bulan, belum lembur. Aku cuma mikir masa depan kita. Nanti kamu juga yang merasakan hasilnya.”
“Tapi apa gunanya uang banyak kalau aku ditinggal sendirian?!” Arum menangis. “Kita bahkan belum sempat malam pertama. Kamu nggak takut kehilangan aku?”
Deni terdiam. Lalu, sambil berusaha tersenyum, ia menciumi pipi Arum. “Ya semoga besok haidmu berhenti. Kita masih bisa malam pertama sebelum aku berangkat.”
“Lalu kamu ninggalin aku begitu aja setelah merenggut kehormatanku?” Arum mencubit lengan dan pinggang suaminya berkali-kali, setengah marah setengah manja.
Deni hanya terkekeh, meski matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahan.
Nasrul membuka matanya. Nafasnya tersengal, bukan karena larut dalam kesedihan Arum, tapi karena amarah bercampur hasrat yang makin menyesakkan dada.
“Bodoh sekali Deni. Wanita secantik itu kau tinggalkan hanya demi segepok uang”.
Ia menggulir mouse lagi, menemukan pesan teks lain.
“Maafin aku ya, sayang. Kita belum bisa malam pertama. Kamu sabar ya. Nanti kalau aku pulang, aku ajak kamu bulan madu ke Bali. Atau kemana aja kamu mau.”
Mata Nasrul membara. Bayangan Arum menangis di pelukan suaminya membanjiri pikirannya. Wajah cantik itu, tubuh yang hanya bisa ia lihat dari foto-foto terlarang di galeri tadi… semua seolah makin nyata.
“Aku bisa jadi tempatmu bersandar, Arum,” gumamnya pelan. “Aku yang seharusnya ada di sana, bukan dia.”
Ia merebahkan punggung di kursi, menatap langit-langit ruang servis yang mulai mengelupas. Detak jantungnya berdentum keras, seolah menyusun irama bagi sebuah rencana terlarang.
“Suaminya pergi tiga tahun. Tiga tahun! Itu bukan waktu sebentar. Dan dia meninggalkan Arum dalam keadaan seperti ini, penuh kecewa, penuh kesepian”.
Senyum tipis merayap di wajah Nasrul. Senyum yang lebih mirip seringai licik.
“Pintu itu terbuka lebar,” bisiknya. “Dan aku… siap melangkah masuk.”
Ia menyudahi mengintip percakapan dua sejoli yang dipisahkan jarak itu, Nasrul sekarang lebih leluasa mengakses semua fitur ponsel Arum dari komputernya berkat aplikasi setan yang sudah ditanamnya. “Maafkan aku Arum, aku mengobok-obok properti pribadimu, aku tak kuasa menahan gejolak di dada ini, bisa gila kalau tak kulampiaskan”. Batin nasrul coba mencari pembenaran.
Dengan aplikasi setan, Nasrul mulai uji coba mengakses satu persatu fitur, dimulai dari mengaktifkan kamera depan dan belakang tanpa bisa disadari oleh si pemilik ponsel. Tentu itu adalah aplikasi dan teknik terlarang yang hanya dikuasi oleh segelintir orang.
“Ooh.. Arum wajahmu dari dekat sangat cantik dan mulus sekali, tanpa ada cacat sedikitpun” gumam Nasrul saat memandangi wajah Arum dari jarak kurang dari 10 senti dengan cara mengaktifkan kamera depan, sementara si pemilik HP sibuk skrol video tiktok sambil rebahan di kasur.
“Bodoh sekali kau Deni! Wajah secantik dan semulus ini kau tinggal pergi, kalau aku jadi kau sudah kuciumi dari malam sampai pagi”, gumam Nasrul
Tak henti-hentinya mata tukang servis ponsel itu memandangi wajah Arum di monitor komputer jumbonya, tiba-tiba kamera menangkap pemandangan yang begitu indah bagi Nasrul. Arum mengubah posisi rebahannya jadi miring, baju tidur model chemise yang longgar tak mampu menyembunyikan isinya yang seketika mengintip keluar.
Nasrul kembali menggeleng-gelengkan kepalanya menahan hasrat yang sudah membuncah.
“Aku tak mengerti apa yang ada di dalam batok kepalamu Den! Kenapa tergesa-gesa untuk mengunjungi menara kembar di negeri sebarang, sementara ada menara kembar di rumahmu yang lebih indah, lebih hangat, dan sudah pasti halal".
Ia membanting punggung ke kursi. Nafas terengah, urat di leher menegang. Satu klik lagi, pikirnya. Satu klik, dan ia akan melangkah ke jurang yang dalam.
Tangannya menggantung di atas mouse. Cling! Notifikasi masuk di layar. Pesan baru dari Arum kepada suaminya muncul.
Nasrul mematung. Kalimat pertama muncul. Matanya melebar, jantungnya berdetak lebih kencang. Malam sepi itu terasa menahan napas bersamanya.
“Sekarang… aku tidak bisa mundur,” gumamnya, tangan gemetar, menatap layar, menunggu langkah selanjutnya yang bisa mengubah segalanya.
Arum berdiri di depan cermin kamar di rumah kosong miliknya, rambut basah menempel di bahu putihnya, hanya handuk putih tipis yang melilit tubuh dari dada hingga paha atas. Senyumnya manja, matanya menatap kamera dengan pandangan menggoda, dan..CEKREK! CEKREK!Foto hasil jepretan itu pun langsung melayang secepat cahaya, dari galeri ponsel Arum berpindah ke ponsel Nasrul via chat.“Aku habis mandi nih Mas, hati-hati di jalan ya…, nggak usah ngebut.”Entah apa maksudnya, Arum tiba-tiba tanpa ragu mengirim beberapa swafoto seksinya itu ke Nasrul. Jantung Nasrul berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kota sebelah yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari kota “K”. Pesan terakhir dari Arum masih terngiang, ditambah foto selfie yang membuat napasnya tersengal sesaat.“Tunggu aku ya, Rum. Sebentar lagi.” balasnya singkat.Setiap putaran roda motornya terasa seperti kocokan dadu yang menyiratkan pertaruhan antara hasrat dan logika. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah tak bisa boho
Arum berdiri di bawah guyuran shower, kulit putih bersih yang tanpa cacat memendar di balik buliran air yang mengalir dari ujung rambutnya. Payudara montoknya tegak sempurna, putingnya menjulang menantang. Pinggang rampingnya, paha panjang yang mulus, dan bokong bulat yang seolah menantang gravitasi, nampak semakin sensual seiring gerakan jemarinya yang bergerilya menyusuri tubuhnya sendiri.Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu kamar mandi membuat jantungnya berhenti sesaat. "Siapa?" tanyanya lirih, tapi tak ada jawaban. Arum membuka pintu sedikit, dan Nasrul muncul di ambang pintu. Mata coklatnya langsung mendarat pada tubuh telanjang Arum. Tak ada kata. Hanya pandangan yang membara. “Aku mau mandi bareng kamu, Rum” Nasrul berkata tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi. Pria 34 tahun itu melepas kaosnya tanpa ragu, memperlihatkan dada bidang berotot coklat sawo matang yang berkilau keringat tipis, lengan berurat, jambang dan kumis t
"Ini... ini harus berhasil. Aku harus berpura-pura semuanya normal. Demi rahasia ini, demi anak di perutku yang nggak bersalah" Batin Ningsih bergemuruh. Dengan tangan gemetar Ningsih membuka pintu lemari, mengeluarkan baju tidur seksi yang sudah lama tak dipakai: camisole putih tipis dengan dada rendah, dan hotpan yang nyaris tak menutupi paha mulusnya. Di depan cermin, Ningsih memandangi pantulannya sendiri. Tubuhnya masih ramping, payudaranya masih kencang dan montok seperti biasa, pinggang kecil tanpa tonjolan apa pun. "Masih ramping, tak ada yang terlihat. Alhamdulillah, tapi... apa ini benar? Aku hamil, dan bukan dari suamiku. Ya Allah, astaghfirullah... Ini semua karena kebodohanku dengan Bayu," pikirannya bergejolak, tangannya pelan menyentuh perut bawah, menggerayangi kulit halus di sana, merasakan kehangatan yang sekarang terasa asing, seperti ada rahasia hidup di dalamnya yang tak bisa dia bagi siapa pun.Ningsih menarik napas dalam, berusaha tenang. "Ayo, Ning, kamu bisa
“Hamil?” Bayu mengulang pelan, suaranya serak. “Mbak… beneran?” Bayu serasa dihentak oleh suara halilintar tepat di atas kepalanya.Ningsih masih duduk di tepi kasur tipis di kontrakan Bayu, tangannya memeluk lutut erat-erat. Udara pagi menjelang siang di kamar kecil itu terasa lebih pengap dari seharusnya. Matanya merah, bukan hanya karena menangis, tapi juga karena dilanda kepanikan yang sudah berjam-jam menggerogoti dadanya.Hari itu, pagi-pagi sekali Ningsih mendatangi kontrakan Bayu, masuk dengan kunci duplikat yang selama ini ia pegang, sengaja menunggu sang adik iparnya pulang dari shif malam di hotel, untuk menyampaikan hal penting tersebut.Bayu berdiri membeku, menyandarkan punggungnya di tembok kamar. Wajah yang biasanya penuh senyum nakal kini tampak pucat mendengar pengakuan dari kakak iparnya.“Mbak, jangan nakut-nakutin aku, pliss” Bayu masih tak percaya.Ningsih tak menjawab, tangannya merogoh tas selempang, mengeluarkan test pack yang sudah dibungkus plastik hitam. Du
SATU SETENGAH MILIAR RUPIAH.Angka itu seolah terus menari-nari dan melayang di atas ubun-ubun Nasrul pada Minggu pagi itu, seperti mimpi yang tiba-tiba mewujud menjadi realita. Transfer pertama sudah mendarat: Rp 450 juta, sisanya akan menyusul dalam hitungan hari.Nasrul memelototi angka saldo banknya berulang-ulang, jarinya gemetar menyentuh layar, takut kalau-kalau angka itu lenyap begitu dia kedip. Tiga bulan yang penuh begadang, mata merah, dan keheningan di rumah akhirnya berbuah sesuatu seperti yang dia bayangkan sebelumnya, namun baginya itu terlampau besar. Pikirnya, paling besar hanya seratusan juta, itu pun total semua ditambah komisi dan akomodasi, yang nantinya sudah cukup untuk sewa ruko di kota untuk buta servis dan toko ponsel sederhana.“Alhamdulillah…, Terima kasih Tuhan….” Nasrul kebali sujud syukur entah yang ke berapa kali.Selama tiga bulan terakhir, Nasrul hampir tak lagi memperhatikan dinginnya hubungan dengan Ningsih. Dulu setiap malam dia masih berharap ada
Siang itu matahari sudah tergelincir, udara sangat kering, namun di antara paha Ningsih masih terasa ada sesuatu yang lengket saat ia menginjakkan kaki di rumahnya. Keringat menempel di punggungnya, bukan cuma karena panas, tapi juga karena badan masih terasa lemas usai berjam-jam bergumul penuh nafsu dengan adik iparnya.Kakinya terasa berat melangkah masuk ke ruang tamu yang tampak dihinggapi debu, helm nya diletakkan asal di meja tamu.Nasrul langsung muncul dari arah dapur, wajahnya yang sedari tadi tegang langsung mengendur lega begitu melihat istrinya. “Akhirnya… pulang juga. Kemana sih, Dek tadi kamu?”Ningsih cuma mengangguk kecil, tak menatap mata suaminya. “Ke rumah temen, Mas”. Ia langsung melenggang ke kamar, meninggalkan Nasrul yang masih mematung di ambang pintu.Di dalam kamar, Ningsih langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa ganti baju. Badannya terasa lengket, mata memejam, berusaha menghapus bayangan apa yang baru saja terjadi. Tapi setiap kali mata tertutup, mala







