Home / Romansa / Tergoda dengan Tetangga Daun Muda / 6. SELANGKAH LAGI MENUJU PENGHIANATAN?

Share

6. SELANGKAH LAGI MENUJU PENGHIANATAN?

Author: LUFI
last update Last Updated: 2025-09-08 01:00:04

Malam ketiga datang lebih cepat dari yang dibayangkan Nasrul. Seharian ia sudah gelisah, bayangan Arum di layar komputer masih menari-nari di kepalanya.

“Aku harus berhenti. Ini salah,” katanya berkali-kali sambil mengetuk-ngetuk meja kerja. Namun suara lain dalam dirinya justru membisik, “Sekali lagi saja… hanya melihat. Tidak lebih.”

Begitu jam menunjukkan pukul sembilan malam, ia duduk di kursi kerjanya, menyalakan komputer. Aplikasi rahasia itu langsung terbuka, layar menyala dengan tampilan ponsel Arum.

“Bismillah…” gumamnya, jemarinya bergetar menekan mouse.

Ia membuka dashboard aplikasi, lalu matanya terbelalak. Ada menu baru yang sebelumnya belum pernah ia sentuh: akses CCTV. Rupanya dari ponsel Arum ia bisa menjebol akun keamanan rumah yang terhubung ke kamera-kamera.

“Ya Allah… jadi bukan cuma HP-nya, tapi semua CCTV rumah juga bisa aku lihat?” suaranya tercekat. Ia menggigit bibir, mencoba menahan rasa bersalah. Namun rasa penasaran lebih kuat.

Klik!

Layar komputer berubah, menampilkan tiga panel: ruang tamu, dapur, dan halaman depan.

“Gila… ini kayak nonton TV kabel. Semua sudut bisa kelihatan jelas,” desisnya.

Ruang tamu tampak kosong. Kursi panjang, meja kayu besar, dan pintu utama yang setengah terbuka.

“Sepi sekali… rumah sebesar ini, penghuninya cuma satu orang malam ini,” gumamnya.

Ia berpindah ke CCTV dapur. Hanya ada piring kotor di bak cuci.

“Dia makan sendirian…”

Lalu halaman depan. Lampu taman remang, angin menggerakkan tirai jendela.

“Kalau begini terus, gampang saja orang luar masuk. Dan dia benar-benar nggak punya teman ngobrol,” pikir Nasrul, merasa semakin iba.

Namun pandangannya terpaku saat ia beralih ke menu kamera HP. Dari situ, ia bisa melihat langsung kamar Arum. Kebetulan malam itu, HP Arum sedang diletakkan di atas dudukan charger berbentuk tegak di meja samping ranjang. Posisi kamera depan otomatis menghadap ke arah tempat tidur, membuat semua gerak-gerik di kamar terekam jelas.

Arum baru keluar dari kamar mandi, rambut basah terurai, hanya mengenakan gaun tidur tipis. Ia berjalan ke ranjang, lalu duduk sambil mengusap rambut dengan handuk kecil. Matanya terlihat letih, wajahnya memerah, bibirnya menggumam pelan, seolah menahan rasa rindu yang membuncah.

“Ah… sepi banget malam ini…” terdengar lirih gumamnya.

Tiba-tiba, Arum meraih ponselnya, dengan tergesa-gesa mengetik pesan untuk suaminya yang ada di negeri jiran:

“Mas… rumah sepi lagi malam ini…”

“Ini salah… aku harus berhenti,” gumam Nasrul, mencoba meyakinkan diri. Namun jemarinya tetap menggenggam mouse.

Arum menarik nafas panjang, lalu mengetik di ponselnya. Suaranya terdengar samar dari mikrofon:

“Mas… aku… ingin kau cepat pulang…”

Hati Nasrul mencelos. Hanya ia yang bisa melihat dan mendengar ini malam itu. Semua aman di layar komputer, tapi perasaannya… kacau.

Ia mengalihkan pandangan ke riwayat bacaan Arum di aplikasi w******l. Sekilas, judulnya sama seperti malam sebelumnya: Selingkuh dengan Tetangga Sebelah. Tubuh Nasrul terasa panas. Ia tahu ini bacaan yang memicu kegelisahan Arum.

Tanpa disadari, Arum kembali membaca novel itu dengan serius. Tampak serius menatap layar ponsel, wajahnya memerah, bibirnya bergetar halus setiap kali membaca kata demi kata. Jemarinya bergerak pelan di layar, menelusuri teks dengan intensitas yang hampir tak sadar.

Nasrul menahan napas. “Astaghfirullah… kenapa aku malah melihat ini… ini salah…” batinnya, jantungnya berdetak cepat.

Mata Arum berkaca-kaca sesaat, seolah setiap kalimat yang dibacanya menyalakan rasa rindu dan kekosongan di dadanya. Tubuhnya menggeliat halus di atas ranjang, setiap gerakan kecilnya seakan mencoba menyalurkan kegelisahan yang menumpuk sejak siang.

Nasrul menepuk pipinya sendiri. “Nasrul… sadar… jangan terusin… cuma lihat, jangan ikut campur…” gumamnya lirih.

Kadang Arum menutup wajah dengan tangan, menekannya ke pipi untuk menahan perasaan yang begitu membuncah, lalu menunduk lagi menatap ponsel. Napaknya menjadi tidak teratur, sesekali terdengar lirih menggumam sendiri.

“Ah… aku benar-benar ingin ada di sini… kenapa kau tak di sini?” gumam Arum lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Tubuh Arum mulai menggeliat sedikit lebih jelas di balik baju tidurnya, jemarinya bergerak di sepanjang lengan dan bahu, memeluk dan menekan dada secara halus. Sesekali ia menutup mata, napasnya tersengal, lalu membuka kembali matanya, fokus pada layar ponsel.

“Kenapa aku… sendirian…” terdengar gumaman pelan dari bibirnya.

Nasrul menahan napas. “Astaghfirullah… jangan terlalu jauh… cukup lihat saja…” batinnya, jantungnya berdebar kencang.

Rambut basah Arum menempel di leher, tubuhnya bergerak perlahan menyesuaikan posisi di ranjang yang terlalu besar. Ia menggumam pelan, terdengar lirih, seperti mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Ah… sepi… ingin ada yang di sini…”

Lama-kelamaan, matanya mulai terpejam, napasnya semakin berat. Tubuhnya lelah setelah beberapa menit, perlahan rebah sepenuhnya ke kasur, masih memeluk ponsel erat di dekat dada, kepala menempel di bantal. Sesekali terdengar gumaman lirih, napas berat menandakan kelelahan fisik dan emosional.

Nasrul menelan ludah, menutup mouse sebentar untuk menenangkan diri. Ia tersadar—dari panel CCTV tadi, pintu rumah Arum belum terkunci, masih terbuka sedikit.

Rasa khawatir menguasai pikirannya. Sebagai tetangga, seharusnya ia menolong agar Arum tidak mengalami bahaya.

Dengan napas berat, ia bangkit dari kursi. “Astaghfirullah… aku nggak boleh cuma diam. Ini untuk keselamatannya, bukan untukku,” gumamnya. Jemarinya bergetar, tapi tekadnya jelas: ia harus mendatangi rumah Arum untuk menutup pintu dan memastikan ia aman.

Di luar jendela ruang servis, gelap malam menyelimuti halaman. Angin dingin berdesir, tapi langkah Nasrul mantap menuju rumah sebelah, meski hatinya penuh konflik dan godaan yang menunggu di dalam.

Dan malam itu, satu hal jelas di benaknya: sekali lagi ia menyeberang batas ini, antara kepedulian tetangga dan rasa ingin tahu yang terlarang, jalan pulangnya akan semakin sulit.

Saat Nasrul hampir sampai di pintu rumah Arum, terdengar suara pelan dari dalam kamar:

“…jangan pergi… jangan tinggalkan aku sendirian…”

Gumaman itu terdengar pelan, seperti suara Arum yang masih terbawa mimpinya, setengah sadar dan setengah tidur. Nasrul tercekat, berdiri membeku sejenak. Hatinya hancur antara dorongan kepedulian dan godaan yang mengintai di balik pintu itu. Ia sadar, langkahnya malam itu bisa menentukan segalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   35. HABIS MANIS SEPAH DIBUANG?

    Arum berdiri di depan cermin kamar di rumah kosong miliknya, rambut basah menempel di bahu putihnya, hanya handuk putih tipis yang melilit tubuh dari dada hingga paha atas. Senyumnya manja, matanya menatap kamera dengan pandangan menggoda, dan..CEKREK! CEKREK!Foto hasil jepretan itu pun langsung melayang secepat cahaya, dari galeri ponsel Arum berpindah ke ponsel Nasrul via chat.“Aku habis mandi nih Mas, hati-hati di jalan ya…, nggak usah ngebut.”Entah apa maksudnya, Arum tiba-tiba tanpa ragu mengirim beberapa swafoto seksinya itu ke Nasrul. Jantung Nasrul berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kota sebelah yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari kota “K”. Pesan terakhir dari Arum masih terngiang, ditambah foto selfie yang membuat napasnya tersengal sesaat.“Tunggu aku ya, Rum. Sebentar lagi.” balasnya singkat.Setiap putaran roda motornya terasa seperti kocokan dadu yang menyiratkan pertaruhan antara hasrat dan logika. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah tak bisa boho

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   34. HASRAT YANG HARUS DITUNTASKAN

    Arum berdiri di bawah guyuran shower, kulit putih bersih yang tanpa cacat memendar di balik buliran air yang mengalir dari ujung rambutnya. Payudara montoknya tegak sempurna, putingnya menjulang menantang. Pinggang rampingnya, paha panjang yang mulus, dan bokong bulat yang seolah menantang gravitasi, nampak semakin sensual seiring gerakan jemarinya yang bergerilya menyusuri tubuhnya sendiri.Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu kamar mandi membuat jantungnya berhenti sesaat. "Siapa?" tanyanya lirih, tapi tak ada jawaban. Arum membuka pintu sedikit, dan Nasrul muncul di ambang pintu. Mata coklatnya langsung mendarat pada tubuh telanjang Arum. Tak ada kata. Hanya pandangan yang membara. “Aku mau mandi bareng kamu, Rum” Nasrul berkata tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi. Pria 34 tahun itu melepas kaosnya tanpa ragu, memperlihatkan dada bidang berotot coklat sawo matang yang berkilau keringat tipis, lengan berurat, jambang dan kumis t

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   33. BERCINTA DALAM DILEMA

    "Ini... ini harus berhasil. Aku harus berpura-pura semuanya normal. Demi rahasia ini, demi anak di perutku yang nggak bersalah" Batin Ningsih bergemuruh. Dengan tangan gemetar Ningsih membuka pintu lemari, mengeluarkan baju tidur seksi yang sudah lama tak dipakai: camisole putih tipis dengan dada rendah, dan hotpan yang nyaris tak menutupi paha mulusnya. Di depan cermin, Ningsih memandangi pantulannya sendiri. Tubuhnya masih ramping, payudaranya masih kencang dan montok seperti biasa, pinggang kecil tanpa tonjolan apa pun. "Masih ramping, tak ada yang terlihat. Alhamdulillah, tapi... apa ini benar? Aku hamil, dan bukan dari suamiku. Ya Allah, astaghfirullah... Ini semua karena kebodohanku dengan Bayu," pikirannya bergejolak, tangannya pelan menyentuh perut bawah, menggerayangi kulit halus di sana, merasakan kehangatan yang sekarang terasa asing, seperti ada rahasia hidup di dalamnya yang tak bisa dia bagi siapa pun.Ningsih menarik napas dalam, berusaha tenang. "Ayo, Ning, kamu bisa

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   32. MENGUBUR BANGKAI

    “Hamil?” Bayu mengulang pelan, suaranya serak. “Mbak… beneran?” Bayu serasa dihentak oleh suara halilintar tepat di atas kepalanya.Ningsih masih duduk di tepi kasur tipis di kontrakan Bayu, tangannya memeluk lutut erat-erat. Udara pagi menjelang siang di kamar kecil itu terasa lebih pengap dari seharusnya. Matanya merah, bukan hanya karena menangis, tapi juga karena dilanda kepanikan yang sudah berjam-jam menggerogoti dadanya.Hari itu, pagi-pagi sekali Ningsih mendatangi kontrakan Bayu, masuk dengan kunci duplikat yang selama ini ia pegang, sengaja menunggu sang adik iparnya pulang dari shif malam di hotel, untuk menyampaikan hal penting tersebut.Bayu berdiri membeku, menyandarkan punggungnya di tembok kamar. Wajah yang biasanya penuh senyum nakal kini tampak pucat mendengar pengakuan dari kakak iparnya.“Mbak, jangan nakut-nakutin aku, pliss” Bayu masih tak percaya.Ningsih tak menjawab, tangannya merogoh tas selempang, mengeluarkan test pack yang sudah dibungkus plastik hitam. Du

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   31. KEJUTAN BESAR

    SATU SETENGAH MILIAR RUPIAH.Angka itu seolah terus menari-nari dan melayang di atas ubun-ubun Nasrul pada Minggu pagi itu, seperti mimpi yang tiba-tiba mewujud menjadi realita. Transfer pertama sudah mendarat: Rp 450 juta, sisanya akan menyusul dalam hitungan hari.Nasrul memelototi angka saldo banknya berulang-ulang, jarinya gemetar menyentuh layar, takut kalau-kalau angka itu lenyap begitu dia kedip. Tiga bulan yang penuh begadang, mata merah, dan keheningan di rumah akhirnya berbuah sesuatu seperti yang dia bayangkan sebelumnya, namun baginya itu terlampau besar. Pikirnya, paling besar hanya seratusan juta, itu pun total semua ditambah komisi dan akomodasi, yang nantinya sudah cukup untuk sewa ruko di kota untuk buta servis dan toko ponsel sederhana.“Alhamdulillah…, Terima kasih Tuhan….” Nasrul kebali sujud syukur entah yang ke berapa kali.Selama tiga bulan terakhir, Nasrul hampir tak lagi memperhatikan dinginnya hubungan dengan Ningsih. Dulu setiap malam dia masih berharap ada

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   30. DIABAIKAN…DISEPELEKAN

    Siang itu matahari sudah tergelincir, udara sangat kering, namun di antara paha Ningsih masih terasa ada sesuatu yang lengket saat ia menginjakkan kaki di rumahnya. Keringat menempel di punggungnya, bukan cuma karena panas, tapi juga karena badan masih terasa lemas usai berjam-jam bergumul penuh nafsu dengan adik iparnya.Kakinya terasa berat melangkah masuk ke ruang tamu yang tampak dihinggapi debu, helm nya diletakkan asal di meja tamu.Nasrul langsung muncul dari arah dapur, wajahnya yang sedari tadi tegang langsung mengendur lega begitu melihat istrinya. “Akhirnya… pulang juga. Kemana sih, Dek tadi kamu?”Ningsih cuma mengangguk kecil, tak menatap mata suaminya. “Ke rumah temen, Mas”. Ia langsung melenggang ke kamar, meninggalkan Nasrul yang masih mematung di ambang pintu.Di dalam kamar, Ningsih langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa ganti baju. Badannya terasa lengket, mata memejam, berusaha menghapus bayangan apa yang baru saja terjadi. Tapi setiap kali mata tertutup, mala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status