LOGINBERSAMBUNG...
Mulut Yola seketika tertahan. Sorot mata wanita high-class itu mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh rahasia."Hmm... sebenarnya aku nggak enak sebut namanya, sebab dia itu bukan pria sembarangan. Tapi, aku percaya penuh kepadamu. Aku minta kamu merahasiakan nama aslinya dari siapapun. Janji? Sumpah?"Tanpa ragu sedikit pun, Mr. El langsung mengangguk mantap. Jari jemarinya tangan yang biasa menjebol enkripsi militer kini terkepal erat, tapi tetap konsen ke setiran.Yola menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik tepat di telinga Mr. El, "Dia... aslinya adalah seorang agen rahasia tingkat tinggi dari Indonesia. Nama aslinya adalah... Mayor Manthis Dewantara!"Deggggg...!Jantung Mr. El serasa dihantam godam raksasa. Efek dari ucapan Yola barusan terasa sejuta kali lebih dahsyat daripada ledakan bom taktis yang pernah ia saksikan. Kepalanya mendadak pening, seolah seluruh sistem di otaknya mengalami crash total akibat overload informasi."Manthis….Dewantara...?" gumam Mr. El d
"Aduuuh, biarpun nggak pernah pake baju dan wajib dilepas semua juga badan remuk di hajar full siang malam, rasanya nggak sia-sia deh, kalau dapat kayak ginian, hehe!" cetus Lea manja dengan gaya bercandanya yang blak-blakan, sambil buru-buru memeluk tumpukan dolarnya.Nancy yang berada di sampingnya tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa renyah, wajahnya memerah penuh kemenangan."Sampai ketemu lagi ya, harem-haremku sayang. Nanti kalau urusanku sudah beres dan ada waktu luang, aku pasti akan meluncur ke tempat kalian lagi," gombal Mr. El dengan nada suara baritonnya yang menggoda.Ia menarik pinggang keduanya secara bergantian, lalu mendaratkan kecupan hangat sampai berbunyi kericupan di bibir ranum mereka sebagai tanda perpisahan.Setelah mengantar kepulangan Lea dan Nancy, raut wajah santai Mr. El langsung lenyap berganti dengan tatapan serius lagi.Aura flamboyan nakalnya seketika menguap, menyisakan insting seorang peretas kakap yang tajam.Ia menginjak pedal gas mobil penyo
Namun, amarah Mr. Ham tidak bertahan lama…Belum sampai setengah hari ia mencak-mencak merencanakan balas dendam, alarm utama markasnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Overload sistem! Semua lampu indikator merah berkedip cepat.Dorr! Dorr! Traattt!Suara rentetan tembakan senapan otomatis membahana dari arah gerbang luar. Mr. Ham langsung kalang kabut.Pintu depan hancur berkeping-keping akibat ledakan granat taktis. Di tengah kepulan asap mesiu, muncul sesosok pria dengan aura membunuh yang luar biasa dingin.Pria itu adalah Masked Man yang asli alias si Codet!Wajahnya yang penuh bekas luka terlihat begitu mengerikan di bawah cahaya lampu darurat yang remang-remang.Dengan gerakan taktis ala komando profesional, Si Codet merangsek maju. Senapan serbu di tangannya menyalak tanpa ampun, memuntahkan timah panas secara presisi ke arah dada dan kepala anak buah Mr. Ham yang mencoba membalas tembakan.Brukk! Jleb! Ahhh!Satu per satu centeng Mr. Ham bertumbangan di koridor, meregang nyawa me
Tempo gerakan semakin cepat. Suara kulit basah saling bertumbukan bercampur dengan erangan dan desahan ketiganya.Nancy berlutut lagi sesekali, menyosor bagian bawah yang tidak terjamah, membuat Mr. El semakin tak terkendali. Beberapa menit kemudian posisi berganti.Kali ini Nancy yang menempel di dinding, satu kaki diangkat, sementara Mr. El menghujamnya dari depan. Lea berdiri di belakang Mr. El, meremas pantatnya, sesekali menyosor punggung kokohnya, lalu meraih ke bawah untuk memijat buah lato-latonya.“Lebih kencang… iyahh, begitu,” desah Nancy, kukunya sampai mencakar bahu Mr. El, hingga meninggalkan bekas goresan di bahunya.Dan permaina aduhai ini terus berlangsung dalam tempo tinggi, seolah mereka sedang berlomba untuk mencapai finish.Mr El benar-benar tak menyangka, kedua gadis cantik ini mampu bermain sangat professional, bahkan tak kalah hotnya dibandingkan Bu Vira, Nona Sen, juga Kristin.“Asoiii geboy daah kalau begini, mau seminggu juga di sini aku jabanin hehe,” batin
Hasrat mudanya bergejolak hebat. Tanpa menimbulkan suara sekecil pun, Mr El melangkah mengendap-endap mendekati pintu kayu kamar mandi.Detak jantungnya berpacu cepat saat ia nekat menundukkan tubuhnya, menempelkan satu matanya ke lubang kunci yang tidak tertutup rapat.Detik itu juga, kedua mata Mr El terbelalak sempurna menembus celah sempit tersebut. Pemandangan di balik pintu benar-benar merusak seluruh fokus logisnya.Di bawah siraman air, dua dara jelita itu sedang asyik membasuh dan menyabuni seluruh lekuk tubuh mereka yang mulus tanpa sekat pembatas.Tanpa disadari oleh pemuda nakal ini, getaran gairah yang begitu bikin jakunnya langsung bangkit di dalam nadinya.Sesuatu yang lain di balik celananya perlahan mulai ikut bangkit dan menegang hebat—sebuah reaksi alami yang mustahil ia bendung setelah menyaksikan mahakarya visual yang begitu aduhail tepat di depan matanya.Lea mencondongkan tubuhnya mendekati telinga Nancy, suaranya hanya terdengar sebagai bisikan pelan di tengah
"Nah, sudah beres. Sekarang ayo kita makan dulu," ajak Mr El, sembari berusaha keras mengendalikan debaran jantungnya yang mendadak berpacu liar.Sial, pemandangan 'segitiga bermuda' yang tidak sengaja tertangkap matanya saat mengobati kaki Lea tadi benar-benar membuat imajinasi liarnya mulai deeh piknik ke mana-mana.Namun, sebagai pemuda yang memiliki darah 'pahlawan' di nadinya, Mr El bukan tipe bajingan yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.Ia segera menepis pikiran kotor itu, lalu membagikan bungkusan makanan agar kedua gadis seumuran dengannya itu bisa makan hingga kenyang.Kini mereka pun makan sampai ludes dan plong, semuanya kenyang dan lega."Lebana... lalu apa Langkah kita selanjutnya?" tanya Nancy di sela-selanya mengunyah, matanya lekat menatap wajah Mr El.Gadis itu seolah baru menyadari bahwa dalam jarak sedekat ini, pemuda jangkung yang menyelamatkan mereka aslinya memiliki paras yang sangat tampan."Kita akan bertahan di sini sampai situasi benar-benar c







