LOGINBerlanjut yaa cerita asyik ini...!
Sambil terus melempar candaan konyol yang menyerempet bahaya itu, otak taktis Rasman mulai berputar kencang laksana radar spionase.Ia sedang menyusun kalkulasi dan strategi gerilya asmara terbaru, memikirkan cara paling jitu agar sore yang berkabut asap tebal ini bisa berakhir dengan kehangatan yang jauh lebih panas daripada segelas kopi hitam di atas meja.“Ahh kamu bisa ajaaah Mas! Pasti di dalam otakmu itu sekarang sedang mikir lagi, kira-kira isi di balik daster ini lebat atau plontos, iya kaaaan? Hayo mengaku!” tembak Bu Ayu tanpa saringan.Mendengar tembakan frontal yang kelewat berani dari mulut sang guru janda, Rasman seketika dibuat tersentak kaget.Ia tidak menyangka wanita berusia 33 tahun yang penampilannya tampak bersahaja saat menyapu teras tadi, ternyata bisa selepas dan senekat ini kalau sudah diajak bercanda menyerempet.Namun, dasar Rasman memiliki mental baja peninggalan agen lapangan, ia tidak mau kalah taktik. Seringai nakal langsung terukir lebar di wajah tampan
“Aku sih sebenarnya tidak begitu mengenal dekat wanita ini, Mas. Tapi seingatku, dulu almarhumah Bu Salsa pernah cerita sekilas kalau dia memang punya seorang adik tiri satu ibu... Tapi kalau melihat fotonya sekarang, wajah wanita ini kok kelihatan aneh ya? Guratannya kayak orang yang penuh muslihat dan licik,” kata Bu Ayu memberikan penilaian jujurnya berdasarkan insting seorang guru senior.Rasman menarik napas pendek, lalu meluncurkan sebuah pengakuan taktis yang langsung mengubah peta informasi sore itu.“Kebetulan... anak laki-laki yang dilahirkan oleh Bu Salsa belasan tahun lalu itu bernama Irman, dan dia adalah adik kandung satu ayah denganku, Bu Ayu!” sahut Rasman lagi.Deg!Pernyataan Rasman itu sukses membuat Bu Ayu tersentak kaget dengan mata membelalak sempurna di atas kursi tamunya.“Ohh... Jadi begitu ceritanya! Berarti... mantan suami siri dari almarhumah Bu Salsa di masa lalu itu adalah papa kamu? Pantessss banget wajahmu mirip! Dan pastinya, nama marga besar kamu adal
“Terima kasih banyak, Bu Ayu. Baik, saya masuk... Oh ya, kalau boleh tahu, suaminya sedang tidak ada di rumah atau sedang dinas luar?” tanya Rasman berbasa-basi taktis setelah mengambil posisi duduk di kursi tamu jati yang kusam.Posisinya sebagai mantan agen menuntutnya untuk memastikan keamanan sekitar tempat ia menginterogasi.“Aku... sudah janda. Suamiku selingkuh dengan wanita lain!” jawab Bu Ayu dengan kalimat yang singkat, padat, dan sarat akan ketegasan.Dari sorot matanya, Rasman langsung tanggap dan paham agar ia tidak perlu memperpanjang atau menanyakan perihal masa lalu rumah tangga wanita ini lagi.“Ah, maafkan saya, Bu Ayu... saya tidak bermaksud,” sahut Rasman menunduk sejenak untuk menghormati privasinya, sebelum akhirnya menatap lurus kembali ke arah mata Bu Ayu untuk meluncurkan pancingan pertamanya.“Jadi begini, Bu... beberapa belas tahun yang lalu, seingat saya di sekolah ini kan pernah ada seorang guru wanita bernama Bu Salsa yang bertugas mengajar di sini. Apaka
“Begini saja... Bibi bawa dulu uang ongkos yang ada ini. Nanti setelah Irman kembali dari sekolah PAUD, aku sendiri yang akan menyuruhnya menemui Bibi untuk membawakan sisa duit yang Bibi inginkan.""Memangnya... seberapa besar nominal uang yang saat ini sedang Bibi butuhkan?” cecar Rasman tenang, menatap lurus menembus manik mata tamunya.Bibi Arumi menelan ludah pelan, meremas sapu tangannya kian erat sebelum akhirnya meluncurkan angka yang membuat ruang tamu itu seketika diliputi hawa ketegangan baru.“Ee... kalau boleh, Bibi saat ini sangat membutuhkan uang sebesar 350 juta rupiah, Rasman. Bibi... sebenarnya berencana mau menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah kecil agar tidak perlu lagi tinggal membusuk di kos-kosan murah... lalu sisanya akan bibi gunakan sebagai modal untuk membuka usaha sendiri...!” kata Bibi Arumi lagi dengan suara yang tersaput kepanikan tersembunyi.Mendengar tuntutan nominal 350 juta rupiah dengan alasan klise tersebut, otak taktis Rasman langsung
“Adikku... ada apa sebenarnya dengan Irman, Bibi Arumi...?” tanya Rasman dengan kening berkerut. Nada suaranya menyiratkan kebingungan yang mendalam, mencoba mencerna ke mana arah pembicaraan rahasia ini.Bibi Arumi terdiam sesaat. Sepasang matanya tampak berkaca-kaca menahan emosi yang bergejolak, sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat laksana melepaskan beban yang menghimpit dadanya selama belasan tahun.“Dia sebenarnya... adalah anak kandungku, Rasman. Anak hasil hubungan rahasia antara aku dengan... papa kamu, Jenderal Salman.”Deeg!Pengakuan mengejutkan itu meluncur laksana hantaman gada besi yang telak. Di dalam hatinya, Rasman benar-benar tersentak kaget bukan main mendengar plot twist rahasia keluarga besarnya.Namun, di sinilah letak kematangan Rasman. Di usianya yang sudah mendekati 26 tahun, ditambah dengan gemblengan mental yang keras selama bertahun-tahun sebagai mantan agen lapangan FBI, ia mampu menguasai sarafnya dengan sangat luar bia
Tawa Rasman meledak hebat menembus kabut sore. Irman pun ikut terbahak-bahak sangat nyaring hingga kabin SUV mewah itu dipenuhi oleh kegilaan obrolan dewasa kakak-beradik Dewantara.Di tengah deru tawa yang belum usai, mobil mewah mereka terus melaju kencang, membelah batas hutan pedalaman Kalimantan untuk menuju ke rumah besar di Muara Wis sebelum mereka benar-benar terbang kembali ke Jakarta guna menantang takdir konspirasi yang sesungguhnya.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah besar di Muara Wis ini, Arman dan Ratna—kakek dan nenek misan keduanya—sudah berdiri menunggu di ruang tengah.Mereka langsung menyambut kepulangan dua cucu bengal ini dengan senyuman hangat, sementara Wiwi dan Wawan, dua anak mereka yang masih kecil, saat ini sedang tidak ada di rumah karena masih mengikuti kegiatan belajar di sekolah PAUD.“Hebat kalian berdua. Misi di pedalaman sukses besar, bahkan Tungkai Sukililo sekarang benar-benar sudah bertobat total. Kemarin siang dia mendadak meneleponku, bicarany







