Share

Alessia Kembali

Penulis: Selly Aurelline
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 17:31:05

Alessia terduduk lemas di tepi ranjang apartemennya.

Tatapannya kosong menembus jendela, sementara pikirannya kembali pada peristiwa yang mengubah seluruh hidupnya.

Sehari sebelum pernikahannya dengan Dante Moretti.

Sore itu, Alessia baru saja pulang berbelanja bersama Isabella Rossi.

Sesampainya di kamar, ia meletakkan beberapa kantong belanja di atas sofa.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Alessia mengernyitkan dahi.

"Siapa ini?"

Dengan rasa penasaran, ia membuka pesan tersebut.

Detik berikutnya, wajahnya mendadak pucat.

Sebuah video memperlihatkan dirinya berjalan memasuki sebuah hotel bersama Matteo Ricci.

Video itu berlanjut hingga keduanya memasuki kamar.

Meskipun tidak memperlihatkan apa yang terjadi di dalam kamar, itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan reputasinya.

Belum sempat Alessia menguasai diri, beberapa foto lain bermunculan.

Dalam salah satunya, ia terlihat berada dalam pelukan Matteo.

Jantungnya berdegup semakin kencang.

Tak lama kemudian, sebuah pesan kembali muncul di layar.

"Apa jadinya jika semua ini sampai ke tangan Dante dan Tuan Damian Moretti?"

"Sudah bisa dipastikan mereka tidak akan mengampunimu."

"Apalagi Dante Moretti dikenal sebagai pria yang tidak suka jika sesuatu yang menjadi miliknya telah lebih dulu dimiliki orang lain."

"Lihatlah dirimu..."

"Betapa menjijikkannya dirimu saat ini, Nona Rossi."

Napas Alessia tercekat.

Tangannya gemetar hebat hingga ponsel itu hampir terjatuh.

"Tidak..."

"Ini tidak boleh terjadi."

Ia membayangkan wajah dingin Dante.

Lalu sosok Damian Moretti yang terkenal tegas dalam menjaga kehormatan keluarga.

Jika foto dan video itu benar-benar sampai ke tangan mereka...

Bukan hanya pernikahannya yang batal.

Nama baik keluarga Rossi juga akan hancur.

Air mata mulai mengalir di pipinya.

Di tengah kepanikan itu, hanya ada satu nama yang terlintas di benaknya.

Matteo.

Malam harinya, Alessia diam-diam keluar dari rumah dan menemui pria yang dicintainya.

"Matteo..."

Begitu bertemu, ia langsung memeluk pria itu sambil menangis.

"Ada apa, Sayang?" tanya Matteo, berpura-pura terkejut.

"Ada seseorang yang mengetahui hubungan kita."

Alessia memperlihatkan isi pesan di ponselnya.

"Aku takut..."

"Kalau Dante mengetahui semuanya, dia tidak akan pernah melepaskanku."

Matteo berpura-pura berpikir sejenak, lalu menggenggam kedua tangan Alessia.

"Kalau begitu..."

"Kita pergi dari sini."

Alessia mengangkat wajahnya.

"Pergi?"

"Ya."

"Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria lain."

"Aku janji akan menikahimu."

Kalimat itu menjadi satu-satunya harapan yang dimiliki Alessia saat itu.

---

Alessia menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan.

Tatapannya kembali tertuju pada layar ponsel yang kini telah gelap.

Matteo telah menghancurkan seluruh impian yang dulu ia perjuangkan.

Tak ada lagi alasan baginya untuk tetap bersembunyi.

"Aku harus kembali ke rumah..."

Suaranya lirih memenuhi apartemen yang sunyi.

"Aku harus meminta maaf kepada Daddy, Mommy... juga kepada Dante dan Tuan Damian."

Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa.

"Aku harus melanjutkan perjodohan ini."

Meski di sudut hatinya masih tersimpan rasa takut, Alessia meyakinkan dirinya bahwa semuanya belum terlambat.

Bagaimanapun, ia adalah wanita yang sejak awal dipilih keluarga Moretti.

Ia percaya Dante masih akan menerimanya.

Tanpa membuang waktu lagi, Alessia segera berkemas.

Ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper berukuran sedang, mengambil paspor, dompet, dan semua barang penting miliknya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, ia telah bersiap.

Alessia mengenakan gaun midi berbahan satin berwarna krem dengan lengan panjang, dipadukan blazer putih gading, sepatu hak tinggi nude, serta tas tangan kulit berwarna cokelat muda. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan terurai rapi, sementara riasan wajahnya dibuat natural untuk menonjolkan kecantikan alaminya.

Ia berdiri di depan cermin besar.

Tatapannya mengamati pantulan dirinya dari ujung kepala hingga kaki.

Alessia memang wanita yang cantik.

Kulitnya yang cerah, mata yang tajam, serta senyum yang mampu memikat banyak pria selama ini membuatnya selalu percaya diri.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Dante..."

"Aku yakin kau belum melupakanku."

"Bagaimanapun juga... akulah wanita yang sejak awal dijodohkan denganmu."

Ia menggenggam erat gagang koper.

Tanpa ia sadari, keyakinan itu hanya hidup di dalam pikirannya sendiri.

Karena di saat Alessia percaya masih memiliki tempat di hati Dante Moretti...

pria itu justru perlahan mulai jatuh cinta kepada wanita yang dulu dianggap hanya sebagai pengganti.

**********************

Sementara itu...

Di lantai tertinggi gedung Moretti Group, suasana ruang CEO dipenuhi keheningan yang menekan.

Dari balik dinding kaca yang membentang luas, hamparan kota Milan terlihat megah di bawah langit sore.

Dante Moretti berdiri membelakangi ruangan.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tatapannya lurus mengarah ke cakrawala kota yang perlahan diselimuti cahaya senja.

Tak lama, James memasuki ruangan sambil membawa sebuah tablet.

"Tuan."

Dante tidak menoleh.

"Jadi... perempuan itu akan kembali ke Milan?" tanyanya dengan sorot mata yang berubah dingin.

"Benar, Tuan."

James membuka laporan yang dibawanya.

"Menurut orang-orang kita yang selama ini mengawasi Nona Alessia, beberapa jam yang lalu ia telah meninggalkan apartemen yang selama ini ia tinggali bersama Matteo Ricci."

Hening sejenak.

"Lalu apa lagi yang kau ketahui, James?"

"Nona Alessia tampaknya sudah mengetahui bahwa Matteo hanya memanfaatkannya. Saya yakin... tujuan kepulangannya bukan hanya menemui keluarga Rossi."

James mengangkat pandangannya.

"Dia kemungkinan besar akan menemui Anda... bahkan Tuan Damian."

Rahang Dante mengeras.

Perlahan, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.

Lalu suara beratnya kembali terdengar.

"Terus awasi perempuan tidak tahu diri itu."

James mengangguk.

"Baik, Tuan."

Dante akhirnya membalikkan tubuh.

Tatapannya begitu tajam hingga membuat James paham bahwa perintah berikutnya bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

"Jangan biarkan dia mendekati mansion."

"Jangan biarkan dia mengganggu istriku."

James sempat terdiam.

Sudah bertahun-tahun ia berada di sisi Dante.

Namun baru kali ini ia mendengar sang tuan mengucapkan kata 'istriku' dengan penekanan seolah itu adalah sesuatu yang harus dilindungi dengan apa pun risikonya.

"Dimengerti, Tuan."

James membungkukkan badan sebelum keluar dari ruangan.

Kini Dante kembali sendirian.

Ia menatap sebuah bingkai foto kecil yang terletak di sudut meja kerjanya.

Bukan foto dirinya.

Melainkan sebuah foto yang diam-diam diambil beberapa tahun lalu.

Seorang gadis sedang duduk di taman sambil tersenyum lembut kepada seorang nenek.

Gadis itu...

adalah Elina Rossi.

Dante mengambil bingkai itu, lalu mengusap permukaannya dengan ibu jari.

"Alessia..."

Suara Dante terdengar begitu pelan.

"Dulu aku membiarkan semua orang percaya bahwa kaulah calon pengantinku."

Tatapannya berubah semakin dalam.

"Tapi sekarang..."

"...aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil Elina dariku."

Ia meletakkan kembali bingkai foto itu dengan hati-hati.

Karena sejak awal...

wanita yang ingin ia lindungi memang bukan Alessia Rossi.

**********************

"Jadi... Dante Moretti sudah menikah dengan Elina?"

Suara Alessia menggema di ruang keluarga kediaman keluarga Rossi.

Sorot matanya dipenuhi keterkejutan sekaligus amarah.

Ia baru beberapa menit tiba di rumah, tetapi kabar yang diterimanya seolah menghantam seluruh keyakinannya.

Isabella menatap putri tirinya dengan wajah penuh penyesalan.

"Benar, Nak..."

Alessia menggeleng pelan.

"Tidak..."

"Ini tidak mungkin."

Tatapannya bergantian mengarah kepada Alexander dan Isabella.

"Tapi kenapa, Mom? Dad?"

"Bukankah aku gadis yang dijodohkan dengan Dante?"

"Bukankah aku yang selama ini dipersiapkan menjadi Nyonya Moretti?"

Nada suaranya semakin meninggi.

"Bukankah... aku wanita yang ia inginkan?"

Ruangan itu mendadak sunyi.

Alexander mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya angkat bicara.

"Maafkan kami, Alessia."

"Saat itu keadaan benar-benar di luar kendali."

"Sehari sebelum pernikahan, kau menghilang tanpa kabar."

"Keluarga Moretti sudah datang."

"Seluruh tamu undangan sudah memenuhi aula."

"Kami benar-benar takut jika keluarga Moretti menganggap keluarga Rossi telah mempermainkan mereka."

Isabella menundukkan kepala.

"Karena itulah... kami meminta Elina menggantikanmu."

Alessia mengepalkan kedua tangannya.

"Tapi bukan dengan cara menjadikan Elina sebagai penggantiku!"

Air matanya jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena harga dirinya terasa diinjak.

"Itu seharusnya hidupku!"

"Itu seharusnya pernikahanku!"

"Itu seharusnya tempatku!"

Alexander menatap putri sulungnya dengan wajah kecewa.

"Alessia."

"Jangan lupa."

"Semua ini terjadi karena keputusanmu sendiri."

"Kau yang memilih pergi."

"Kau juga yang meninggalkan keluarga ini."

Ucapan itu membuat Alessia terdiam beberapa saat.

Namun bukan penyesalan yang muncul.

Melainkan rasa iri yang semakin membesar.

Ia membayangkan Elina kini tinggal di mansion keluarga Moretti.

Menyandang nama belakang Moretti.

Dan setiap hari berada di sisi pria yang dahulu hampir menjadi suaminya.

Perlahan, senyum tipis terbentuk di bibir Alessia.

Senyum yang membuat Isabella merasakan firasat buruk.

"Dante adalah milikku."

Suara Alessia terdengar pelan, tetapi penuh keyakinan.

"Dia memilihku sejak awal."

Tatapannya berubah tajam.

"Elina hanya mengisi tempat yang seharusnya menjadi milikku."

Ia mengangkat dagunya dengan angkuh.

"Dan aku akan merebut kembali apa yang memang seharusnya menjadi milikku."

Alexander langsung berdiri.

"Alessia!"

"Aku tidak mengizinkanmu mengganggu rumah tangga adikmu."

Namun Alessia hanya tersenyum tipis.

"Rumah tangga?"

Ia tertawa pelan.

"Rumah tangga yang dibangun di atas kesalahan tidak akan bertahan lama, Dad."

"Percayalah..."

"Aku akan membuat Dante sadar..."

"...bahwa wanita yang pantas berdiri di sisinya adalah aku, bukan Elina."

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Livia Curiga?

    "Kalian semua bodoh!" "Kenapa menjaga satu wanita saja kalian tidak mampu?" pekik Luciano dengan suara menggelegar. Brak! Pria itu menggebrak meja di hadapannya hingga beberapa berkas di atasnya berhamburan ke lantai. Wajahnya dipenuhi amarah. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi luapan emosi. Keberhasilan Dante membawa Elina pergi benar-benar memantik kemarahannya. Ia merasa telah dipermainkan oleh musuh bebuyutannya. Seluruh ruangan pun mendadak sunyi. Tak seorang pun anak buahnya berani mengangkat kepala. Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu memecah keheningan. "Masuk." Pintu perlahan terbuka. Gabriel Conti melangkah masuk dengan raut wajah hati-hati. "Tuan..." Luciano mendongakkan wajahnya. "Ada apa lagi?" "Maaf, Tuan..." "Nyonya Livia menghubungi saya. Beliau sedang mencari Anda." "Livia?" "Benar, Tuan." "Beliau baru saja tiba di Milan setelah kembali dari Amerika." Mendengar nama istrinya disebut, ekspresi Lucia

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Livia Castellano

    Setelah perjuangan panjang untuk membawa Elina keluar dari apartemen Luciano De Luca, akhirnya Vanessa dan Elina tiba dengan selamat di Mansion Moretti. Begitu mobil berhenti di halaman mansion, Vanessa segera turun dan membukakan pintu untuk sang nyonya. "Nyonya..." "Apa Anda baik-baik saja?" Suara Vanessa terdengar penuh kekhawatiran. Elina tidak langsung menjawab. Begitu kedua kakinya menginjak halaman mansion, air matanya perlahan jatuh membasahi pipi. Tubuhnya terasa lemas. Entah karena kelelahan atau karena beban yang selama ini ia pendam. "Vanessa..." ucapnya lirih. "Iya, Nyonya." "Terima kasih..." "Terima kasih sudah menyelamatkanku." Vanessa tersenyum tipis. "Itu memang tugas saya, Nyonya." "Yang terpenting sekarang, Nyonya sudah kembali dengan selamat." Elina menganggukkan kepala pelan. Namun, pikirannya kembali melayang pada hari-hari yang ia lalui di apartemen Luciano. Luciano memang tidak pernah menyakitinya. Pria itu bahkan memperla

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Penyerangan Apartemen

    Suasana Kota Milan menjelang sore tampak diselimuti langit kelabu. Awan tebal menggantung rendah, sementara embusan angin dingin berembus pelan di antara deretan gedung-gedung tinggi. Luciano De Luca baru saja kembali ke apartemennya setelah menghadiri rapat di markas organisasi. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu baru saja mengakhiri panggilan telepon ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Brak! "Tuan!" Gabriel Conti masuk dengan napas sedikit tersengal, seolah baru saja berlari. Luciano mengernyitkan dahinya. "Ada apa, Gabriel?" Gabriel berusaha mengatur napasnya sebelum akhirnya berkata, "Tuan, saya baru saja mendapat laporan dari orang-orang kita yang berjaga di kawasan Porta Nuova." "Mereka melihat iring-iringan mobil milik Dante Moretti." Luciano langsung berdiri dari kursinya. Sorot matanya berubah tajam. "Ucapkan sekali lagi." Gabriel menundukkan kepala. Ia tahu betul ekspresi tuannya ketika amarah mulai menguasai dirinya. "Tuan..." "Dante Mo

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Perasaan Luciano

    Jadi... Elina hilang?" "Putriku hilang?" Tangis Isabella Rossi pecah seketika. Tubuhnya melemas hingga harus berpegangan pada sandaran kursi. "Iya..." jawab Alexander dengan suara penuh penyesalan. "Semua ini salahku. Seandainya Elina tidak datang menjengukku di rumah sakit, mungkin sekarang dia masih berada di mansion Moretti." "Tidak..." Isabella menggeleng berulang kali. Air matanya terus mengalir. "Semua ini salahku. Seandainya aku tidak menelepon Elina dan memberitahunya kalau Daddy-nya sedang dirawat di rumah sakit, mungkin dia tidak akan menghilang seperti ini." Dante dan James yang sejak tadi berdiri di ruang tamu saling berpandangan. Tatapan Dante perlahan berubah semakin dingin. "Jadi..." ucapnya dengan suara rendah yang membuat suasana seketika membeku. "Kau yang meminta Elina datang ke rumah sakit?" Isabella sontak mendongakkan wajah. Raut wajahnya langsung memucat saat menyadari Dante Moretti berada di sana dan mendengar seluruh pengakuannya. "D-Dant

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Mencari keberadaan Elina

    Elina masih berada di apartemen Luciano de Luca. Ia duduk memeluk kedua lututnya di sudut ranjang, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak. Ia begitu merasa bersalah kepada Dante. Pria itu sudah berulang kali mengingatkannya agar tetap berada di vila sampai dirinya kembali dari Prancis. Namun... Ia justru melanggar permintaan suaminya. "Maafkan aku, Tuan Moretti..." gumam Elina lirih. Belum sempat rasa bersalah itu menghilang, bayangan yang baru saja ia lihat kembali memenuhi pikirannya. Alessia... Kakaknya ternyata berada di apartemen Luciano de Luca. Semakin dipikirkan, semakin Elina tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Perlahan ia memejamkan mata. Pikirannya kembali pada malam saat dirinya meninggalkan vila. Sore itu, ponsel Elina berdering. Nama Alessia Rossi muncul di layar. "Halo, Kak..." "Elina, apa kau tahu kalau saat ini Daddy sedang sakit dan dirawat di rumah sakit?" "Aku tahu, Kak." "Lalu

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Ternyata Luciano...

    Sementara itu, di Markas Kepolisian Marseille, Prancis... Suasana ruang interogasi dipenuhi ketegangan. Dante Moretti duduk dengan tenang di hadapan dua penyidik senior. Jas hitam yang dikenakannya masih tampak rapi, seolah ia sedang menghadiri rapat bisnis, bukan menjalani pemeriksaan. Di atas meja tersusun beberapa berkas, foto-foto gudang yang telah digerebek, serta daftar barang bukti yang berhasil diamankan. Salah satu penyidik membuka map di hadapannya. "Tuan Moretti, gudang di kawasan pelabuhan Marseille itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan logistik yang terhubung dengan grup bisnis Anda." Dante menatap penyidik itu tanpa mengubah ekspresinya. "Perusahaan saya memiliki banyak anak usaha." "Itu bukan berarti saya mengetahui setiap aktivitas operasionalnya." Penyidik lainnya menyodorkan beberapa lembar foto. "Di dalam gudang tersebut kami menemukan puluhan peti berisi senjata api ilegal." "Apa Anda masih ingin mengatakan tidak mengetahui apa pun?" Dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status