Home / Mafia / Terikat Cincin Sang Mafia / Alessia menyesal?

Share

Alessia menyesal?

last update publish date: 2026-06-28 16:06:02

Satu bulan kemudian...

Di sebuah apartemen sederhana di kawasan Navigli, Milan, suasana tampak berantakan.

Botol minuman, pakaian, dan beberapa koper berserakan di lantai, seolah pemiliknya sudah tidak lagi peduli dengan keadaan sekeliling.

Di sudut ruang tamu, seorang wanita berambut panjang terduduk lemas sambil memeluk kedua lututnya.

Ia adalah Alessia Rossi.

Wajahnya yang dulu selalu terawat kini tampak pucat. Matanya sembap akibat menangis hampir sepanjang malam.

Di tangannya, sebuah ponsel masih menyala.

Layar itu menampilkan sebuah video yang baru saja dikirim oleh nomor tak dikenal.

Video yang menghancurkan seluruh harapannya.

Di dalamnya, Matteo Ricci, pria yang selama ini ia cintai dan demi siapa ia rela meninggalkan keluarganya, terlihat tengah bermesraan dengan wanita lain di sebuah kamar hotel.

Tidak hanya berciuman.

Mereka bahkan menghabiskan malam bersama.

Ponsel itu terlepas dari genggaman Alessia.

Air matanya kembali mengalir tanpa mampu ia bendung.

"Matteo..."

Suaranya bergetar.

"Kenapa... kenapa kau malah pergi?"

Ia menangis tersedu-sedu.

"Aku sudah mengorbankan semuanya demi dirimu."

"Aku meninggalkan Daddy, Mommy..."

"Bahkan..."

Tangisnya semakin pecah.

"...aku mengorbankan adikku."

Alessia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Seharusnya yang menikah dengan Dante Moretti adalah aku."

"Tapi karena ingin bersamamu... aku kabur."

"Dan sekarang..."

Ia tertawa lirih di sela tangisnya.

"...Elina yang harus menjalani hidup bersama pria yang bahkan tidak pernah ia pilih."

Rasa bersalah mulai menghantam dadanya.

Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri dari rumah, Alessia menyadari bahwa keputusan yang ia anggap sebagai jalan menuju kebahagiaan justru menghancurkan kehidupan adiknya.

Sementara dirinya...

ditinggalkan begitu saja oleh pria yang selama ini bersumpah akan menikahinya.

********************

Sementara itu, di mansion megah milik keluarga Moretti...

Sejak hari ketika tanpa sengaja mendengar tangisan Elina di balik pintu kamarnya, ada sesuatu yang berubah dalam diri Dante.

Perubahan itu memang tidak mencolok.

Ia masih pria yang dingin.

Masih sedikit bicara.

Masih sulit mengekspresikan perasaannya.

Namun perlahan, ia mulai mengubah kebiasaannya.

Wanita-wanita yang dulu kerap datang untuk urusan bisnis maupun sekadar menghadiri pesta bersama Dante, kini tak pernah lagi terlihat berada di dekatnya.

Undangan makan malam dengan para sosialita selalu ia tolak.

Bahkan James menyadari, sang tuan mulai membatasi setiap interaksi yang tidak perlu dengan wanita lain.

Semua itu dilakukan Dante tanpa pernah menjelaskan alasannya kepada siapa pun.

"Elina..."

Suara berat Dante terdengar dari ruang tengah.

Elina yang baru saja menuruni anak tangga menghentikan langkahnya.

"Iya?"

Dante berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

Ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Ada yang ingin kubicarakan."

Elina berjalan mendekat.

"Ada apa, Tuan Moretti?"

Dante menatapnya beberapa detik.

Untuk pria yang terbiasa memberi perintah, mengutarakan isi hati ternyata jauh lebih sulit daripada menghadapi puluhan musuh bersenjata.

"Aku..."

Ia terdiam.

Mencari kata yang tepat.

"Kau tidak perlu memikirkan rumor yang beredar di luar."

Elina mengernyit.

"Maksudmu?"

Dante mengembuskan napas pelan.

"Aku sudah menghentikan semua hubungan yang tidak penting dengan wanita lain."

Elina terkejut sesaat.

Namun wajahnya segera kembali datar.

"Lalu?"

"Aku hanya ingin kau tahu..."

Dante kembali berhenti.

Kalimat itu terasa begitu asing di lidahnya.

"...di mansion ini, tidak ada wanita lain selain kau."

Hening.

Elina memandang Dante beberapa saat.

Lalu tersenyum tipis.

Senyum yang justru dipenuhi kesedihan.

"Itu karena aku istrimu."

"Tentu saja aku tinggal di sini."

"Bukan itu maksudku."

Dante berusaha menjelaskan, tetapi kata-katanya kembali terasa kaku.

Elina menggeleng pelan.

"Tuan Moretti..."

"Aku tahu posisiku."

"Jangan khawatir."

"Aku tidak akan mencampuri kehidupan pribadimu."

Dante mengerutkan dahinya.

"Aku tidak sedang membicarakan itu."

"Tapi aku sedang membicarakannya."

Suara Elina tetap lembut, namun setiap katanya terdengar begitu menusuk.

"Aku tidak pernah lupa kalau seharusnya yang berdiri di altar hari itu adalah Kak Alessia."

Ia tersenyum pahit.

"Aku hanya kebetulan berada di tempat yang kosong."

"Pengganti."

"Itu saja."

Mendengar kata itu kembali keluar dari bibir Elina, dada Dante terasa sesak.

Ia ingin membantah.

Ingin mengatakan bahwa sejak awal bukan karena Alessia ia menerima pernikahan itu.

Namun semua rahasia yang selama ini ia simpan membuatnya tak mampu mengucapkannya.

Elina menatap Dante untuk terakhir kalinya sebelum berkata pelan,

"Jadi... Tuan tidak perlu memaksakan diri untuk bersikap baik kepadaku karena rasa bersalah."

"Aku tidak akan salah paham."

Setelah mengatakan itu, Elina melangkah melewati Dante.

Pria itu tetap berdiri di tempatnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dante Moretti menyadari bahwa menghadapi musuh bersenjata jauh lebih mudah...

daripada meyakinkan seorang wanita yang telanjur percaya bahwa dirinya hanyalah seorang pengganti.

******************

Wanita itu berdiri di depan jendela apartemennya dengan wajah dipenuhi kekesalan.

Sudah hampir sebulan terakhir, Dante Moretti sama sekali tidak pernah menghubunginya.

Pria yang dulu masih bersedia menghadiri pesta-pesta eksklusif kini bahkan menolak setiap undangan yang ia kirim.

"Sejak menikah dengan Elina... kau benar-benar berubah, Dante."

Ia mengepalkan ponselnya erat.

Tatapannya berubah tajam.

"Aku tidak akan membiarkan wanita itu merebutmu dariku."

Ia segera menghubungi seseorang.

"Siapkan semuanya. Malam ini juga."

"Baik, Nona."

Malam harinya, Dante menghadiri sebuah jamuan bisnis yang mempertemukan beberapa pengusaha dan tokoh berpengaruh di Milan.

Saat ia baru saja menyelesaikan pembicaraan dengan salah satu klien, seorang wanita bergaun merah anggun melangkah mendekat sambil membawa dua gelas sampanye.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Dante."

Dante menoleh.

"Aurora Bellini."

Aurora Bellini tersenyum tipis. Wanita cantik itu dikenal sebagai sosialita yang selalu berusaha mendekati Dante sejak beberapa tahun terakhir.

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu."

Ia menyodorkan salah satu gelas.

"Demi hubungan baik kita."

Dante menerima gelas itu sekilas sebagai bentuk sopan santun, namun tidak langsung meminumnya.

Aurora sengaja berdiri lebih dekat, berharap para tamu dan wartawan yang hadir memperhatikan kedekatan mereka.

Kilatan kamera mulai terdengar dari berbagai arah.

Senyum Aurora semakin lebar.

"Itu saja yang kubutuhkan..." gumamnya dalam hati.

Besok pagi, seluruh media akan dipenuhi foto dirinya berdiri begitu dekat dengan Dante Moretti.

Dan itu sudah cukup untuk menimbulkan kesalahpahaman di tengah rumah tangga yang baru saja dimulai.

*******************

Elina menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar.

Sebuah foto memenuhi layar—Dante berdiri bersama seorang wanita di sebuah acara malam. Terlalu dekat. Terlalu intim untuk orang yang baru saja berjanji “tidak akan ada wanita lain”.

Dadanya terasa sesak.

Tanpa menunggu penjelasan apa pun, Elina langsung bangkit dan berjalan cepat menuju kamarnya.

Beberapa jam kemudian…

Suara pintu kamar terbuka.

Dante masuk tanpa mengetuk, langkahnya berat setelah baru kembali dari luar.

Namun begitu ia melangkah masuk, ia langsung berhenti.

Elina berdiri di tengah ruangan.

Matanya merah, jelas baru saja menangis.

"Apa yang kau lakukan di sini, Tuan Moretti?" suara Elina terdengar dingin.

Dante mengernyit.

"Elina..."

"Seharusnya malam ini kau menghabiskan waktu dengan wanita itu."

Dante terdiam sejenak.

"Wanita?" ulangnya datar. "Wanita yang mana yang kau maksud?"

Elina tertawa kecil, getir.

"Jangan berpura-pura tidak tahu."

Ia mengangkat ponselnya, menunjukkan foto itu.

"Cukup, Tuan Moretti."

Suaranya mulai bergetar.

"Ingat… aku ini hanya istri pengganti."

Kata-kata itu membuat udara di ruangan terasa lebih dingin.

Dante menatap layar ponsel itu beberapa detik.

Lalu ia menghela napas pelan.

"Jadi ini yang kau lihat."

"Elina, kau benar-benar sedang menguji kesabaranku."

Elina menatapnya tajam, air mata masih tertahan.

"Aku tidak menguji apa pun. Aku hanya mengatakan kenyataan."

Dante melangkah lebih dekat.

Bukan dengan amarah meledak, tapi dengan sesuatu yang lebih sulit dibaca—tegang, terkendali, dan hampir frustrasi.

"Foto itu diambil di acara bisnis."

"Dan wanita itu tidak berarti apa-apa."

Elina menggeleng.

"Aku sudah muak mendengar itu."

Dante berhenti tepat beberapa langkah darinya.

Tangannya terangkat sedikit, seperti ingin menjelaskan lebih jauh, tapi ia menahannya sendiri.

"Aku pulang ke kamar ini," katanya pelan, "bukan karena wanita lain."

Elina menatapnya ragu.

"Kalau begitu kenapa?"

Dante terdiam.

Untuk pertama kalinya, jawabannya tidak keluar dengan mudah.

Karena yang sebenarnya ingin ia katakan terlalu jujur… dan terlalu berbahaya untuk diucapkan pada wanita yang masih percaya bahwa dirinya hanya “pengganti”.

Ruangan itu hening.

Hanya napas mereka yang terdengar saling bertabrakan di udara yang tegang itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Elina mulai melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan Dante Moretti....

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Ketahuan?

    Pagi yang cerah menyelimuti Mansion Moretti. Sinar matahari menembus celah-celah tirai, memancarkan cahaya keemasan yang perlahan memenuhi kamar utama. Elina perlahan membuka kedua matanya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap langit-langit kamar, seolah masih mencoba menyadari bahwa semua yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Perlahan ia memiringkan tubuhnya. Di sampingnya, Dante masih terlelap dalam tidurnya. Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak begitu tenang. Garis wajahnya yang tegas terlihat jauh lebih lembut saat tertidur, membuat Elina tanpa sadar memperhatikannya lebih lama. "Kenapa... bahkan saat tidur pun dia tetap setampan ini?" gumam Elina pelan sambil tersenyum tipis. Perlahan, pandangannya kembali mengingat setiap momen yang mereka lalui semalam. Seketika kedua pipinya memerah. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat saat teringat bagaimana Dante memeluknya begitu erat, seolah tak ingin melepaskannya sedikit pun. Elina segera menggeleng pelan,

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Livia Curiga?

    "Kalian semua bodoh!" "Kenapa menjaga satu wanita saja kalian tidak mampu?" pekik Luciano dengan suara menggelegar. Brak! Pria itu menggebrak meja di hadapannya hingga beberapa berkas di atasnya berhamburan ke lantai. Wajahnya dipenuhi amarah. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi luapan emosi. Keberhasilan Dante membawa Elina pergi benar-benar memantik kemarahannya. Ia merasa telah dipermainkan oleh musuh bebuyutannya. Seluruh ruangan pun mendadak sunyi. Tak seorang pun anak buahnya berani mengangkat kepala. Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu memecah keheningan. "Masuk." Pintu perlahan terbuka. Gabriel Conti melangkah masuk dengan raut wajah hati-hati. "Tuan..." Luciano mendongakkan wajahnya. "Ada apa lagi?" "Maaf, Tuan..." "Nyonya Livia menghubungi saya. Beliau sedang mencari Anda." "Livia?" "Benar, Tuan." "Beliau baru saja tiba di Milan setelah kembali dari Amerika." Mendengar nama istrinya disebut, ekspresi Lucia

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Livia Castellano

    Setelah perjuangan panjang untuk membawa Elina keluar dari apartemen Luciano De Luca, akhirnya Vanessa dan Elina tiba dengan selamat di Mansion Moretti. Begitu mobil berhenti di halaman mansion, Vanessa segera turun dan membukakan pintu untuk sang nyonya. "Nyonya..." "Apa Anda baik-baik saja?" Suara Vanessa terdengar penuh kekhawatiran. Elina tidak langsung menjawab. Begitu kedua kakinya menginjak halaman mansion, air matanya perlahan jatuh membasahi pipi. Tubuhnya terasa lemas. Entah karena kelelahan atau karena beban yang selama ini ia pendam. "Vanessa..." ucapnya lirih. "Iya, Nyonya." "Terima kasih..." "Terima kasih sudah menyelamatkanku." Vanessa tersenyum tipis. "Itu memang tugas saya, Nyonya." "Yang terpenting sekarang, Nyonya sudah kembali dengan selamat." Elina menganggukkan kepala pelan. Namun, pikirannya kembali melayang pada hari-hari yang ia lalui di apartemen Luciano. Luciano memang tidak pernah menyakitinya. Pria itu bahkan memperla

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Penyerangan Apartemen

    Suasana Kota Milan menjelang sore tampak diselimuti langit kelabu. Awan tebal menggantung rendah, sementara embusan angin dingin berembus pelan di antara deretan gedung-gedung tinggi. Luciano De Luca baru saja kembali ke apartemennya setelah menghadiri rapat di markas organisasi. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu baru saja mengakhiri panggilan telepon ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Brak! "Tuan!" Gabriel Conti masuk dengan napas sedikit tersengal, seolah baru saja berlari. Luciano mengernyitkan dahinya. "Ada apa, Gabriel?" Gabriel berusaha mengatur napasnya sebelum akhirnya berkata, "Tuan, saya baru saja mendapat laporan dari orang-orang kita yang berjaga di kawasan Porta Nuova." "Mereka melihat iring-iringan mobil milik Dante Moretti." Luciano langsung berdiri dari kursinya. Sorot matanya berubah tajam. "Ucapkan sekali lagi." Gabriel menundukkan kepala. Ia tahu betul ekspresi tuannya ketika amarah mulai menguasai dirinya. "Tuan..." "Dante Mo

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Perasaan Luciano

    Jadi... Elina hilang?" "Putriku hilang?" Tangis Isabella Rossi pecah seketika. Tubuhnya melemas hingga harus berpegangan pada sandaran kursi. "Iya..." jawab Alexander dengan suara penuh penyesalan. "Semua ini salahku. Seandainya Elina tidak datang menjengukku di rumah sakit, mungkin sekarang dia masih berada di mansion Moretti." "Tidak..." Isabella menggeleng berulang kali. Air matanya terus mengalir. "Semua ini salahku. Seandainya aku tidak menelepon Elina dan memberitahunya kalau Daddy-nya sedang dirawat di rumah sakit, mungkin dia tidak akan menghilang seperti ini." Dante dan James yang sejak tadi berdiri di ruang tamu saling berpandangan. Tatapan Dante perlahan berubah semakin dingin. "Jadi..." ucapnya dengan suara rendah yang membuat suasana seketika membeku. "Kau yang meminta Elina datang ke rumah sakit?" Isabella sontak mendongakkan wajah. Raut wajahnya langsung memucat saat menyadari Dante Moretti berada di sana dan mendengar seluruh pengakuannya. "D-Dant

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Mencari keberadaan Elina

    Elina masih berada di apartemen Luciano de Luca. Ia duduk memeluk kedua lututnya di sudut ranjang, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak. Ia begitu merasa bersalah kepada Dante. Pria itu sudah berulang kali mengingatkannya agar tetap berada di vila sampai dirinya kembali dari Prancis. Namun... Ia justru melanggar permintaan suaminya. "Maafkan aku, Tuan Moretti..." gumam Elina lirih. Belum sempat rasa bersalah itu menghilang, bayangan yang baru saja ia lihat kembali memenuhi pikirannya. Alessia... Kakaknya ternyata berada di apartemen Luciano de Luca. Semakin dipikirkan, semakin Elina tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Perlahan ia memejamkan mata. Pikirannya kembali pada malam saat dirinya meninggalkan vila. Sore itu, ponsel Elina berdering. Nama Alessia Rossi muncul di layar. "Halo, Kak..." "Elina, apa kau tahu kalau saat ini Daddy sedang sakit dan dirawat di rumah sakit?" "Aku tahu, Kak." "Lalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status