LOGINArum membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat kekasihnya yang seminggu lagi akan menjadi suaminya, kini sedang bercinta dengan wanita yang juga sangat dia kenal. Suara desahan-desahan yang terdengar menjijikan itu membuat Arum sangat membenci kekasihnya dan bersumpah akan membalas dendam atas rasa sakit yang dia alami saat itu.
View More"Ah.. ah.. ah.. lebih kuat mas.. lebih kuat" Rancau Desi saat tubuhnya di genjot oleh aris. Keduanya begitu menikmati permainan yang mungkin untuk kesekian kalinya mereka lakukan di apartemen pria yang bernama Aris itu.
"Ais... Sshh ahh sshhh..." Pria itu terus mendesah sambil terus menghujam wanita yang tidak memiliki status apapun didalam hidupnya. Desi meremas punggung lebar pria itu ketika aris yang menambah kecepatannya. "Ahh ahh ah.. mas.. a-aku sudah tidak kuat." Lirih Desi sambil memejamkan matanya. Mereka sudah bermain satu jam namun sepertinya Aris belum ingin menyudahi Permainan panas itu karena dia sudah sangat merindukan tubuh wanita yang ada kungkungannya. "M-mas.. ah, ah... " Desahan manja Desi membuat Aris semakin bergairah hingga dia terus saja menghujam tubuh Desi sehingga tempat tidur berdecit karena Permainan panas mereka. Saat keduanya larut dalam permainan mereka, sehingga mereka tidak menyadari jika sudah ada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu menyaksikan permainan gila mereka. Prang! Suara benda yang cukup keras membuat keduanya berhenti sejenak lalu melihat ke sumber suara. "Arum?" Aris segera mencabut miliknya dan segera menutup tubuh Desi dengan selimut. "A-apakah ini mimpi?" Tanya Arum dengan suara yang bergetar karena dia benar-benar sangat terkejut dengan dia yang lihat saat ini. "Sayang..." Aris ingin mendekati kekasihnya saat dirinya sudah menutup tubuhnya dengan bathrobe. "Jangan mendekat! Aku tidak Sudi di sentuh oleh pria seperti mu! Kau menjijikan!" Teriak Arum yang benar-benar sangat syok. Arum melihat kearah Desi yang masih terduduk di atas ranjang dengan tubuhnya yang hanya di tutupi oleh selimut. "Desi.. tega Kamu berbuat seperti ini. Aku membenci kalian!" Teriak Arum yang setelah itu pergi dari apartemen kekasihnya namun saat dia membuka pintu apartemen Aris, dia bertabrakan dengan seorang pria Tampan. "Kau!" Ucap pria itu yang tentu saja mengenal Arum. Arum tidak menghiraukan keberadaan pria itu, dia pergi dari sana dengan derai air mata yang terus keluar dari sumbernya. Pria itu sempat kebingungan namun dia mengabaikannya dan lebih memilih masuk ke apartemen itu namun hal yang mengejutkan terjadi di depan matanya. "Wah.. sepertinya baru saja terjadi pertempuran yang hebat. Pantes aja wanita itu menangis." Ucap pria itu yang melihat Aris dan Desi yang masih berada di posisi yang sama. Pria itu mendekati Aris. "Ternyata kau sama saja seperti ibumu... Sama-sama tidak bisa menjaga perasaan orang lain." "Alfan! Jaga bicara!" Ucap Aris yang tidak terima dengan perkataan pria yang bernama Alfan itu. "Opps, marah? Seharusnya kau sadar akan posisimu.. tadinya aku ke sini untuk membicarakan hal yang penting tapi sepertinya hatimu sedang tidak baik-baik saja karena sepertinya sebentar lagi acara pernikahanmu akan batal dan tentu saja papa akan marah karena kamu sudah membuat malu dengan membatalkan pernikahan itu." Ucapan Alfan membuat Aris terdiam. "Kalau begitu aku pergi dulu.. tapi sebelum aku pergi, Aku ingin berkata sesuatu.." akan mendekat ke telinga Aris lalu berbisik di sana. "Ternyata pilihanmu cukup buruk." Ujar Alfan yang melirik ke arah Desi. Setelah itu Alfan pergi dengan senyum dan penuh arti. "Aaarrgghhh brengsek!" Teriak Aris Desi segera turun dari ranjang lalu menghampiri Aris yang terlihat frustasi. "Mas.. kenapa?" "Kenapa masih bertanya Desi.. tentu saja Ini masalah serius. Arum sudah mengetahui hubungan ini.. pasti dia akan membatalkan pernikahan kamu." "Biarkan saja mas, bukankah itu bagus.. lagi pula bukankah kita capek bermain di belakangnya selama ini." Mendengar perkataan Desi membuat Aris menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku mencintai Arum! Dan aku tidak ingin kehilangan Arum! Aku hanya bersenang-senang denganmu karena aku tidak bisa mendapatkan kesenangan itu pada Arum" Desi mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Aris. "Apa? Bersenang-senang? Adik mah selama ini hanya bersenang-senang denganku tanpa memikirkan aku?" "Tentu saja.. lagi pula selama ini aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan. Barang-barang mewah, tiket liburan.. dan lainnya." "Tapi aku tidak membutuhkan itu semua Mas! Aku bisa mendapatkannya dari papaku.. aku hanya butuh cinta kamu Mas. Pengakuan kamu.. dan kita sudah melangkah sejauh ini. Kita sudah melakukan hubungan itu berkali-kali.. dan bahkan, masih mengambil kesucianku. Aku ingin Mas menikahiku!" "Jangan gila Desi.. itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menikahimu.. aku akan menikahi Arum bagaimanapun caranya. Aku tidak bisa hidup tanpanya.." "Lalu bagaimana dengan aku Mas? Kamu campakan aku begitu saja?" "Bukankah Dari awal kamu sudah tahu. Tapi kenapa malah melanjutkan hubungan ini." "Tapi Arum tidak akan ingin menikah denganmu. Aku sangat yakin itu.. bagaimana bisa diam menerima pria yang sudah berselingkuh di belakangnya apalagi dengan saudaranya sendiri... Aku yakin Arum akan membatalkan pernikahan itu." Ujar Desi yang membuat Aris segera memakai pakaiannya. "Kamu mau ke mana Mas?" Desi menahan Aris yang ingin pergi "Terserah aku.." jawab Aris sambil menghempas kasar tangan lalu dia pergi begitu saja meninggalkan desi. "Mas.." panggilan Desi tidak lagi didengar oleh Aris karena saat ini yang ada di pikiran Aris hanya ingin bertemu Arum dan memohon maaf kepada Arum. Di sebuah taman Arum terduduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon. Dia menangis sambil memukul dadanya yang kerasa sangat sesak. Jadian tadi bagai mimpi buruk yang dialami oleh Arum namun sayangnya itu bukanlah mimpi namun kenyataan. arum benar-benar tidak menyangka jika pria yang akan dia nikahi seminggu lagi berselingkuh dengan saudaranya sendiri. Wanita itu benar-benar sangat terpuruk, dia terus menangis di bawah pohon itu sambil memukul-mukul dadanya. "Hiks hiks hiks kenapa kau begitu tega dengan aku Mas. Kenapa kau melakukan itu semuanya.. dan kenapa harus Desi. Aku sangat membencimu. Sangat membencimu..." Lirih Arum yang begitu terlihat sangat menyedihkan. "Untuk apa menangisi pria seperti itu." Ucapan seseorang membuat arum membalikkan tubuhnya dan dia melihat Alfan yang sudah berdiri di sana. "Kau.. mau apa?" Baru mengusap kasar air matanya ketika melihat pria yang sangat dia kenal. "Untuk melihat keadaanmu." Arum mengurutkan dahinya ketika mendengar ucapan dari Alfan. "Pergilah.. Aku ingin sendiri!" "Aku hanya memastikan saja jika kamu baik-baik dan tidak melakukan kebodohan." "Apa maksudnya?" Alfan mendekat ke arah Arum namun Arum segera berdiri dari duduknya dan Alfan pun duduk di tempat. Alfan menatap ke arah Arum. "Siapa tahu kamu bunuh diri karena melihat kejadian itu.." ujar Alfan "Aku tidak bodoh.. mana mungkin aku bunuh diri." "Bagus jika begitu.. aku tidak menyukai kamu sebenarnya karena kamu adalah calon istri dari saudara tiriku." "Tidak lagi.. Aku tidak akan menikah dengannya." "Benarkah? Kamu yakin itu?" "Tentu saja.. mana mungkin aku ingin menikah dengan pria sepertinya." Jawab Arum dengan suara yang bergetar. "Bagus juga begitu.. tapi hati-hati dengan mulut manisnya. Siapa tahu kamu terpukau dengan mulut manisnya dan akan melanjutkan pernikahan kalian." "Itu tidak akan terjadi.. Aku tidak akan menikah dengannya. Aku membencinya.. sangat membencinya. Aku putuskan, mulai saat ini.. Aris tidak lagi ada di hatiku." Jawab Arum dengan penuh keyakinan dan kebencian di matanya. "Gadis pintar.. baiklah kalau begitu. Aku pergi.." Alfan pun berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Arum namun baru saja beberapa langkah Alfan melangkah, dia mendengar suara yang membuatnya kembali berbalik. "Hei..." Alfan menghampiri arum yang ternyata jatuh pingsan. "Hei bangunlah.." Alfan menepuk-nepuk pipi Arum namun wanita itu tidak bangun yang membuat Alfan segera menggendong tubuh Arum dan membawanya masuk ke dalam mobil mewahnya. Alfan pun melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke mansionnya. Alfan tidak membawa arum ke rumah sakit karena dia ingin dokter pribadinya yang memeriksa keadaan wanita itu saat ini. Di mansion "Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Alfan ketika dokter baru saja memeriksa keadaan Arum. "Kondisinya baik-baik saja hanya saja sepertinya dia mengalami trauma secara mental." "Bagaimana dia tidak trauma, dia melihat calon suaminya melakukan hubungan itu." Gumam pelan Alfan "Maksud Tuan?" "Ah tidak ada apa-apa dokter.. ke dokter Anda boleh pergi dan terima kasih banyak." "Kalau begitu saya permisi." Dokter itu pun keluar dari kamar Alfan meninggalkan Alfan dan Arum yang sedang terbaring di atas ranjang. Alfan menghampiri Arum yang masih terbaring di sana. Dia menatap wajah cantik Arum. "Sejujurnya Dia sangat cantik... Tapi kenapa dia mau dengan pria itu. Itu kelihatannya sangat baik tapi nyatanya dia begitu licik seperti ibunya." Gumam Alfan Saat Alfan memandangi wajah Arum, tiba-tiba saja Arum mulai membuka matanya secara perlahan. "Kau sudah sadar?" Arum sangat syok melihat Alfan yang ada di hadapannya saat ini yang lebih membuat arum sangat terkejut ketika melihat dirinya berada tempat asing. "Di mana aku?" Tanya Arum "Di mansionku." Jawab Alfan "Aku ingin pulang.." Arum menyebalkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu ingin beranjak namun tiba-tiba saja wanita itu terduduk kembali di atas ranjang sambil memegang kepalanya yang sangat sakit. "Istirahat saja dulu.. dokter bilang, tekanan darahmu turun." "Tapi aku tidak bisa berada di tempat ini bersama pria seperti mu." Alfan mengerutkan dahinya. "Pria seperti itu? Maksudnya?" "Kau seorang mafia! Kau suka membunuh! Kau selalu berbuat sesuka hati! Dan...." Arum tidak melanjutkan perkataannya. "Dan apa?! Ayo katakan.." "Dan kau suka bermain wanita." "Ck, apakah itu yang dikatakan Aris?" "Hm." Arum berdeham untuk menjawab pertanyaan dari Alfan. "Memang benar Aku adalah seorang mafia tapi ingat.. Aku tidak suka bermain perempuan." "Aku tidak percaya.." "Jadi kau lebih percaya dengan perkataan pria yang baru saja menghianatimu?" Arum terdiam mendengar perkataan Alfan yang ada benarnya. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat Alfan menoleh ke arah pintu itu. Alfan melirik sebentar ke arah Arum lalu dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Cekleek "Ada apa Jaka?" "Maaf tuan, di bawah ada Tuan Aris. Dia tahu jika calon istrinya ada di sini." Jelas Jaka yang merupakan pengawal pribadi Alfan. "Tidak.. Aku tidak ingin bertemu dengannya." Kata Arum yang mendengar perkataan Jaka dan Alfan "Katakan kepada Aris jika wanita itu tidak ingin bertemu dengannya." "Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi." Alfan kembali menutup pintunya ketika Jaka sudah berdiri. "Kenapa tidak ingin bertemu dengannya?" "Sudah kubilang Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku membencinya.." jawab Arum dengan suara yang bergetar "Tapi pernikahanmu dengannya akan dilangsungkan seminggu lagi.." "Aku akan membatalkannya.." "Kamu pikir Aris akan mau?" "Tentu saja.. jika dia ingin menikah, kenapa dia tidak menikah dengan Desi." "Itu namanya kau kalah.." "Maksudnya?" "Kau tetap harus melangsungkan pernikahan itu.. tapi bukan dengan Aris." "Maksudmu?" "Menikahlah denganku minggu depan.." "Apa? Kau gila?" "Aku tidak gila.. justru kau harus berterima kasih karena aku membantu membalaskan dendam. Dengan pernikahan kita.. Aris merasa sangat sakit hati karena kau bukan menikah dengannya tapi dengan aku, pria yang dia benci." Usulan dari Alfan membuat arum terdiam sejenak untuk memikirkannya. "Ayolah terima tawaranku.. dengan pernikahan ini aku bisa membuat aris merasa hancur... Dan tentu saja harta peninggalan Mama tidak akan jatuh kepadanya karena aku menikah lebih dulu." Batin Alfan "Bagaimana? Mau menerima tawaranku?" Tanya Alfan lagi karena Arum masih saja diam.Setelah berada di butik yang di kelola langsung oleh Arum, mereka pun langsung melakukan fitting baju. Hanya ada beberapa revisi di setelan jas yang akan di gunakan Alfan nantinya.Setelah semuanya selesai, Arum dan Alfan memutuskan untuk makan siang."Kenapa makan disini?" Tanya Alfan saat mobil yang dikendarainya berhenti didepan sebuah rumah makan yang sederhana dan tidak terlihat mewah"Sudah.. ikut saja. Makanan disini, enak-enak." Ujar Arum yang segera menarik kasar lengan jaket AlfaSetelah masuk dan memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang dibawahnya ada kolam ikan, mereka pun memesan beberapa menu makanan best seller yang ada di rumah makan itu."Panas sekali " Alfan membuka jaket yang dia pakai"Kenapa mengajak ku makan disini? Seperti tidak ada restoran mewah lainnya saja." Ucap Alfan"Bukan tidak enakkan berarti enak kan, jika bukan makan di restoran mewah. Lagi pula tempat ini sangat bagus dan nyaman. Sudahlah.. aku ingin makan. Jika kamu tidak suka.. kamu bisa pergi, ak
"haha haha haha."Alfan tiba-tiba saja tertawa yang membuat pak Heru mengerutkan dahinya."Papa papa... Anak papa itu bukan Aris saja.. tapi aku juga. Tapi papa kenapa selalu tidak pernah mendengarkan perkataan ku dulu.. apakah aku terlalu jahat di mata papa?" Tanya Alfan"Al, papa tidak sedang bercanda. Papa hanya ingin tau kenapa kamu merebut Arum. Mereka akan menikah seminggu lagi.. tapi kenapa kamu merebutnya?""Itu karena anak anda yang brengsek!"Ucapan seseorang membuat mereka bertiga mengalihkan atensinya kesumber suara."A-arum..." Lirih ArisArum melangkah tanpa ragu dan saat ini dia berdiri disebelah Alfan."Arum.. tarik kata-kata mu. Kenapa kau mencela calon suami mu sendiri?" Tuan Heru tentu saja tidak menyukai hinaan dari Arum."Om.. aku tidak akan menarik kata-kata ku karena anak anda yang bernama Aris ini lebih dari kata brengsek.""Arum! Berani sekali kamu" Teriak tuan Heru"Aku berkata seperti ini bukan hanya sebuah kata-kata Om melainkan sebuah bukti. Bukankah Om bi
"Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnyaPak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua."Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi.Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum"Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim.Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum."Papa, mama.. a
Arum melirik kearah Alfan yang sedang menunggu jawaban darinya. "Aku tidak mungkin menikah dengan anda! Dan itu bukan cara balas dendam." Jelas Arum"Bukan, lalu apakah harus seperti ini?"Alfan tiba-tiba saja menindih Arum dan menahan tangan Arum."Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Arum yang ingin memberontak namun sayangnya, tenaganya tidak ada apa-apanya bagi alfan."Dia bisa melakukan itu dengan sepupu tapi kenapa tidak denganmu.. bukankah jika kau melakukan yang sama dengan apa yang dia lakukan, pasti pria itu merasa sakit hati." Ujar Alfan yang membuat arum kembali diamSuara dalam langkah kaki semakin mendekat ke arah kamar itu dan Alfan menyadari. Alfan pun tiba-tiba saja mencium dan melumat bibir Arum. arum membulatkan matanya dengan sempurna ketika mendapat serangan menjaga."Apa yang kalian lakukan?" Teriakan dari Aris yang kini sudah berdiri di ambang pintu membuat Alfan melepaskan ciumannya namun dia masih di posisi yang sekarang yaitu di atas tubuh Arum."Tidak sopan se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews