MasukDi kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya.
"Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.
Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy.
"Itu sofa desainer, bukan tempat untuk tidur. Dan ibuku punya kebiasaan buruk memeriksa kamar anaknya di pagi buta. Kamu tetap tidur di ranjang."
"Berdua denganmu? Jangan harap!"
"Ranjang ini ukurannya King Size, Lexy. Kita bahkan bisa meletakkan pembatas di tengahnya dan tidak akan bersentuhan," Dante melempar jam tangannya ke atas nakas dengan bunyi klunting yang mahal.
"Kecuali jika dirimu tidak bisa menahan diri untuk menyentuhku."
Lexy mendengus, melempar bantal hias ke arah Dante.
"Dalam mimpimu, Maverick! Aku lebih memilih menyentuh kaktus daripada kau."
"Baguslah. Simpan tenaga ejekanmu itu untuk besok pagi. Ibuku akan menginterogasimu seperti agen CIA."
Dante berjalan menuju walk-in closet dan keluar dengan kaos hitam polos.
"Sisi kiri milikmu. Jangan melewati batas tengah, atau aku akan menganggapnya sebagai pelanggaran kontrak." Ucap Dante.
Lexy menyambar piyama sutra yang sudah disiapkan di kamar mandi. Lima menit kemudian, dia keluar dan mendapati Dante sudah berbaring di sisi kanan, membaca dokumen di tabletnya.
Ia merangkak naik ke sisi kiri, menarik selimut hingga ke dagu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena situasi gila ini.
"Dante?"
"Hm."
"Ibumu... apa dia selalu semengerikan itu?"
Dante mematikan tabletnya. Ruangan itu menjadi remang, hanya menyisakan lampu tidur yang redup.
"Dia tidak mengerikan. Dia hanya memastikan investasinya, yaitu aku, tidak rusak karena faktor eksternal."
"Faktor eksternal itu maksudnya aku?"
"Tepat sekali."
"Menyenangkan sekali jika diriku dianggap sebagai kerusakan disini" gumam Lexy sinis.
"Kenapa kau tidak memilih wanita dari kalanganmu saja? Model atau anak pengusaha?"
Dante berbalik menyamping, menatap Lexy dalam kegelapan.
“Karena mereka mudah dikendalikan oleh ibuku. Tapi kau? Kau punya rahasia yang bisa menghancurkanku, itu artinya kau punya kepentingan yang sama besar denganku untuk tutup mulut. Itu jauh lebih aman daripada cinta."
"Kau benar-benar tidak percaya pada siapapun, Dante?"
"Percaya adalah kemewahan yang tidak bisa aku beli, Alexandra. Sekarang tidurlah. Besok jam tujuh tepat, kita harus sudah di meja makan."
***
Pagi hari, di ruang makan…
Victoria sudah duduk dengan secangkir teh earl grey di tangannya. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Dante dan Lexy yang berjalan mendekat. Dante melingkarkan tangannya di pinggang Lexy, menariknya mendekat.
"Selamat pagi, Ibu," ucap Dante datar.
"Pagi, Nyonya," sapa Lexy dengan senyum yang dipaksakan.
"Duduklah. Aku sudah memesankan sarapan sehat untuk kalian. Lemak trans tidak baik untuk kulit calon pengantin," ujar Victoria tanpa basa-basi.
Seorang pelayan meletakkan piring berisi avocado toast dan telur apung di depan Lexy.
"Jadi, Alexandra," Victoria memulai interogasi sambil mengoles mentega ke rotinya.
"Dante bilang kau adalah seorang fotografer. Jenis apa? Pernikahan? Bayi? Atau... objek yang lebih menguntungkan?"
Lexy melirik Dante sekilas sebelum menjawab.
"Saya adalah fotografer jalanan dan dokumenter, Nyonya. Saya lebih suka menangkap momen yang jujur daripada yang diatur."
"Jujur?" Victoria tertawa kecil, suara tawanya kering.
"Sangat ironis, mengingat betapa cepatnya hubungan kalian ini terjadi. Dimana kalian bertemu?"
"Di Astoria, Bu. Aku sedang menghadiri pertemuan, dan dia sedang mengambil foto untuk proyeknya," sahut Dante cepat.
"Aku bertanya pada Alexandra, Dante. Biarkan dia bicara." Victoria menatap Lexy lekat-lekat.
"Lalu, apa yang membuatmu jatuh cinta pada putraku? Selain saldo banknya yang tidak terbatas itu, tentu saja."
Lexy meletakkan garpunya. Dia menatap balik Victoria, membuang rasa takutnya.
"Sejujurnya, awalnya saya pikir dia pria paling menyebalkan yang pernah saya temui. Dia angkuh, kaku, dan merasa bisa membeli dunia."
Dante menoleh, alisnya terangkat sebelah.
"Lalu?" desak Victoria.
"Tapi di balik itu semua, dia ternyata punya cara unik untuk... melindungi apa yang menurutnya penting," lanjut Lexy, teringat bagaimana Dante diam-diam mengurus pemindahan adiknya ke rumah sakit terbaik semalam saat pria itu berkutat dengan tabletnya.
"Dia tidak menggunakan kata-kata manis. Dia menggunakan tindakan. Dan itu jauh lebih berharga bagi saya daripada rayuan gombal."
Hening sejenak di meja makan. Victoria tampak menimbang jawaban itu.
"Jawaban yang cerdas," gumam Victoria.
"Tapi tindakan tanpa status yang jelas hanya akan menjadi skandal. Dante, kapan rencana pernikahan ini?"
"Dua bulan lagi. Kami ingin pesta privat," jawab Dante.
"Tidak. Tidak ada pesta privat untuk pewaris Maverick," potong Victoria tegas.
"Kita akan mengadakan pesta pertunangan besar akhir pekan ini. Aku akan mengundang seluruh dewan komisaris dan pers."
Lexy tersedak kopinya.
"Akhir pekan ini? Itu adalah lusa!"
"Kecepatan adalah ciri khas keluarga Maverick, Alexandra," Victoria berdiri, merapikan serbetnya.
"Persiapkan dirimu. Jika kau gagal memukau di hadapan mereka lusa, jangan harap aku akan merestui hubungan kalian."
Victoria berlalu pergi, meninggalkan suasana yang mencekam.
Lexy menoleh ke Dante.
"Lusa? Kau bercanda?"
Dante mengusap wajahnya, tampak frustasi.
"Sial. Dia benar-benar ingin menguji kita di depan publik lebih cepat."
"Aku belum siap, Dante! Aku tidak tahu cara bersikap di depan dewan komisaris!"
Dante berdiri, menarik napas panjang.
"Mulai sekarang sampai lusa, kau tidak akan lepas dari pengawasanku. Marcus! Batalkan semua rapatku sore ini. Kita punya pelatihan pengantin yang harus dilakukan."
"Pelatihan?" Lexy mendelik.
"Apa kau akan mengajariku cara bernafas juga?"
"Kalau itu perlu agar kau tidak terlihat seperti amatir di depan kamera, mungkin iya.”
Jet pribadi milik Maverick Corp mendarat di Terminal Changi dengan keheningan yang mengancam.Dante melangkah turun dari tangga pesawat. Di belakangnya, Silas membawa koper berisi peralatan peretas tingkat militer, sementara tim Alpha sudah menyebar di lapangan, menyamar sebagai turis."Di mana Liam?" tanya Dante saat mereka memasuki mobil yang sudah menunggu."Dia berada di The Sapphire Vault, kasino bawah tanah miliknya di bawah Marina South," jawab Silas, jemarinya menari di atas tablet. "Sistem keamanannya menggunakan pengenalan pola nadi. Sangat sulit ditembus secara remote.""Aku ingin menatap matanya saat aku menghancurkan dunianya, Silas. Temukan dia."Sementara itu, di sebuah bunker mewah berlapis emas di bawah kasino, Liam Henderson sedang menuangkan sampanye. Ia tampak puas. Di layar monitornya, ia melihat laporan tentang kerugian finansial yang dialami Dante, meskipun ia tahu itu hanya sementara."Kau terlihat sangat bangga pada dirimu sendiri, Liam," ucap wanita dengan mi
Dante masuk dengan langkah yang sangat tenang. Ia telah melepaskan kemejanya, menyisakan kaus dalam hitam yang memamerkan otot-otot lengannya yang tegang. "Kau tahu, Ghost…" Dante memulai, suaranya terdengar sangat tenang. "Manusia normal memiliki sekitar empat puluh lima saraf yang tersebar di seluruh tubuhnya. Itu adalah jalinan yang sangat panjang untuk disiksa satu per satu."Ghost mencoba mendongak, matanya yang bengkak menatap Dante dengan sisa-sisa keberaniannya. "Kau... tidak akan mendapatkan apa pun dariku. Aku sudah mati saat aku mengambil misi ini."Dante mengambil sebuah botol kecil berisi cairan hijau neon. "Kematian adalah hadiah yang harus kau beli dariku, dan harganya sangat mahal… Kau tau? Ini adalah Neuro-Enhancer. Cairan ini akan meningkatkan sensitivitas ujung sarafmu hingga sepuluh kali lipat. Satu sentuhan jari saja akan terasa seperti tusukan pedang yang sangat panas."Dante menyuntikkan cairan itu langsung ke pembuluh darah di leher Ghost. Pria itu tersedak,
Aroma antiseptik menyengat di lorong VIP rumah sakit ternama di London. Dante duduk di depan pintu ruang operasi, masih mengenakan kemeja putih yang kini telah mengering dengan noda darah.Ia menolak untuk berganti pakaian. Ia menolak untuk makan. Ia hanya duduk diam, matanya menatap kosong ke lantai. Marcus berdiri beberapa meter darinya, tampak seperti patung yang berjaga, sementara Silas terus memantau tabletnya di sudut lain, mencoba memberikan ruang bagi sang penguasa London yang sedang hancur itu.Tak berselang lama, pintu ruang operasi itu terbuka. Dr. Arvidsson keluar dengan wajah lelah, melepaskan masker bedahnya. "Bagaimana dia?" Tanya Dante.Arvidsson menghela nafas panjang. "Secara fisik, kami sudah menghentikan pendarahannya. Luka di pipinya sudah dijahit dengan teknik bedah plastik terbaik, meskipun mungkin akan menyisakan bekas luka tipis. Tapi, Daniel..."“Tapi apa?” Tanya Dante tak sabaran."Janin itu... baru berusia enam minggu. Tendangan di perutnya menyebabkan
Kegelapan yang diciptakan Silas di area dermaga benar-benar membuat dermaga itu tampak seperti tak berpenghuni. Dante mendarat di atap Gudang. Di belakangnya, Marcus dan tiga anggota tim Alpha bergerak dengan lincah."Tuan, sensor gerak di setiap sudut sudah dilumpuhkan. Ada enam penjaga di lantai atas dan sepuluh di area utama," ucap Marcus.Dante mengangguk, memberikan isyarat untuk membagi tim. Ia berjalan ke arah lubang ventilasi. Tangannya mencengkram jeruji besi, dan dengan satu sentakan, ia mencabutnya hingga baut-bautnya terlempar berserakan."Tuan, bahu Anda—" Marcus memperingatkan."Diamlah," desis Dante. Rasa sakit di bahunya tidak ada artinya dibandingkan bayangan darah di pipi Lexy.Dante meluncur turun menggunakan kabel ke dalam kegelapan gudang. Di bawah, dua penjaga sedang berdiri di dekat tumpukan peti kayu, memegang senter yang sinarnya menari-nari di dinding."Siapa di sana?!" teriak salah satu penjaga.Dante mendarat tepat di antara mereka. Sebelum mereka sempat
Dante masuk ke ruangan bawah tanah itu tanpa suara. Di tangannya, ia menjinjing kotak hitam berlabel Black Death."Kau membuang waktu, Dante. Sudah kubilang aku tidak tau di mana mereka membawa pelacurmu itu."Dante tidak menjawab. Ia meletakkan kotak itu di atas meja, lalu membukanya perlahan. Di dalamnya, berjajar rapi instrumen bedah, penjepit saraf, dan beberapa botol cairan kimia."Kau tahu, Viktor…" suara Dante terdengar sangat tenang. "Dulu, aku sangat benci dengan apa yang dilakukan Thomas Thorne pada tubuhku. Dia memodifikasi sarafku agar aku tidak bisa merasakan sakit yang normal."Dante mengambil sebuah penjepit, lalu memutarnya perlahan."Tapi sekarang, aku menyadari kegunaan riset itu. Bukan untuk diriku, tapi untuk orang-orang sepertimu. Aku tahu persis di mana letak saraf di tanganmu yang mengirimkan sinyal rasa sakit paling murni ke otak tanpa membuatmu pingsan.""Kau... kau gila," desis Viktor, matanya mulai membelalak ketakutan melihat ketenangan Dante.Dante maju s
Ting!Ponsel Dante kembali bergetar. Menampilkan pesan kedua dari seseorang itu."Buka file-nya, Silas," perintah Dante."Tuan... mungkin sebaiknya—""KUBILANG BUKA FILENYA!" raung Dante.Tak lama kemudian, layar itu menampilkan sebuah rekaman video berdurasi sepuluh detik. Di sana, tampak Lexy yang terikat di sebuah kursi. Wajahnya yang biasanya memancarkan kehangatan kini pucat pasi. Rambutnya ditarik ke belakang oleh tangan kasar yang mengenakan sarung tangan.Dan tiba-tiba, sebuah pisau yang berkilau muncul di depan kamera. Ujung pisau itu ditempelkan tepat ke pipi Lexy."Lihatlah kecantikan yang kau puja ini, Maverick. Setiap inci kulit ini akan menjadi saksi bisu atas kesombonganmu."Sreett!Pisau itu menarik garis lurus dari bawah mata hingga ke rahang Lexy. Darah segar seketika merembes keluar, mengalir jatuh ke gaunnya yang sudah lebih dulu ternoda darah. Lexy menjerit tertahan, tubuhnya mengejang, namun mulutnya yang disumpal kain hanya bisa mengeluarkan suara erangan yang
Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya
Limosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu. Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong
"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat ny
Ruang kerja Dante yang luas kini disulap berubah menjadi medan tempur. Di atas meja jati yang mahal, bertumpuk berkas profil anggota dewan komisaris Maverick Corp. Dante berdiri di depan jendela besar, sementara Lexy duduk dengan gelisah, membolak-balik foto-foto pria tua berjas formal."Hafalkan







