LOGINLampu hias di langit-langit penthouse masih menyala terang di kediaman Maverick. Usai acara amal yang terasa mencekik, Lexy menendang heels-nya ke sembarang arah. Kakinya lecet, dan kepalanya berdenyut karena akting senyum selama empat jam di depan kamera.
"Tolong buka resleting ini, Dante. Aku tidak bisa bernafas," gerutu Lexy, membelakangi pria itu yang baru saja meletakkan kunci mobilnya di meja marmer.
Dante meliriknya sekilas, lalu berjalan mendekat. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit punggung Lexy saat ia menarik perlahan resleting gaun merah itu.
Lexy menahan napas, bukan karena romantis, tapi karena aura dominan Dante yang selalu terasa mencekik baginya.
"Satu malam selesai. Sisa tujuh ratus dua puluh sembilan malam lagi," gumam Dante di dekat telinganya.
"Jangan mengingatkanku! Aku butuh mandi dan tidur sekarang."
Tepat saat gaun itu melonggar di bahu Lexy, suara denting lift pribadi terdengar.
Ting!
Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan gaun couture berwarna krem dan tatanan rambut yang sangat rapi. Di belakangnya, Marcus—asisten Dante—tampak pucat pasi.
"Dante, kau tidak menjawab telepon Ibu seharian!"
Dante membeku.
Sementara Lexy refleks menarik gaunnya agar tidak merosot, lalu berbalik dengan wajah panik.
"Ibu? Kenapa Ibu di sini?" Suara Dante berubah datar, lebih dingin dari biasanya.
Wanita itu, Victoria Maverick, menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam bak elang memindai Lexy dari ujung rambut yang sedikit berantakan hingga gaun yang setengah terbuka.
"Oh? Jadi rumor itu benar?" Victoria mendekat, mengabaikan Dante dan langsung berdiri di depan Lexy.
"Ini fotografer yang kau sebut tunanganmu itu?"
Lexy berdehem, mencoba mengumpulkan sisa harga dirinya.
"Halo, Nyonya Maverick. Saya Lexy."
"Alexandra," Dante mengoreksi dengan cepat, melangkah maju dan merangkul bahu Lexy secara protektif.
"Ibu seharusnya memberitahu jika ingin datang."
"Jika Ibu memberitahu akan datang kemari, Ibu tidak akan melihat pemandangan intim ini, bukan?" Victoria tersenyum tipis, tapi matanya tetap memperhatikan Lexy.
"Marcus, bawa tasku ke kamar tamu. Aku akan menginap disini seminggu."
"Apa?" Dante dan Lexy berseru
bersamaan.
"Kenapa? Ini penthouse anakku," Victoria duduk di sofa beludru, menyilangkan kakinya dengan gerakan yang elegan.
"Dan aku ingin mengenal calon menantuku lebih dekat. Mengingat kalian bertunangan dengan sangat mendadak, aku perlu memastikan kau bukan sekedar... wanita yang gila harta."
Lexy merasakan rahangnya mengeras.
"Saya bukan wanita seperti itu, Nyonya."
"Buktikan padaku dalam tujuh hari ke depan, Alexandra," tantang Victoria. Ia beralih menatap Dante.
"Dan karena kalian tunangan yang saling mencintai, tentu saja kalian sudah tinggal di kamar yang sama, kan? Aku tidak ingin melihat salah satu dari kalian ada yang tidur di sofa."
Dante terdiam sesaat. Lexy bisa merasakan otot lengan Dante mengencang di bahunya.
"Tentu saja," jawab Dante tenang.
"Lexy baru saja akan masuk ke kamarku."
Lexy melotot ke arah Dante.
Kamar yang sama? Yang benar saja!
"Bagus," Victoria berdiri.
"Selamat malam, anak-anak. Jangan biarkan kehadiranku mengganggu gairah muda kalian."
Begitu Victoria menghilang ke koridor arah kamar tamu bersama Marcus, Lexy menyentak tangan Dante.
"Kau sudah gila? Aku tidak mau tidur di kamarmu!" bisik Lexy setengah berteriak.
"Victoria tidak bodoh, Lexy. Jika dia melihatmu tidur di kamar sebelah, dia akan tahu ini adalah hubungan kontrak dalam lima menit. Dan jika dia tahu, dewan komisaris akan tahu."
"Itu masalahmu, bukan masalahku!"
"Ini masalah kita. Ingat perjanjiannya? Tidak ada rahasia. Dan sekarang, ibuku adalah ujian pertamamu." Dante berjalan menuju kamarnya yang berpintu ganda besar.
"Ambil bantalmu. Kita tidak punya pilihan."
Lexy menatap pintu lift yang tertutup, lalu menatap koridor tempat Victoria pergi. Dirinya benar-benar terjebak di antara singa jantan dan induk singa yang lebih lapar.
"Aku akan membunuhmu dalam tidurmu, Dante," desis Lexy sambil memungut sepatunya.
"Lakukan saja, tapi pastikan kau sudah menandatangani asuransi atas namaku sebelumnya," sahut Dante tanpa menoleh.
Jet pribadi milik Maverick Corp mendarat di Terminal Changi dengan keheningan yang mengancam.Dante melangkah turun dari tangga pesawat. Di belakangnya, Silas membawa koper berisi peralatan peretas tingkat militer, sementara tim Alpha sudah menyebar di lapangan, menyamar sebagai turis."Di mana Liam?" tanya Dante saat mereka memasuki mobil yang sudah menunggu."Dia berada di The Sapphire Vault, kasino bawah tanah miliknya di bawah Marina South," jawab Silas, jemarinya menari di atas tablet. "Sistem keamanannya menggunakan pengenalan pola nadi. Sangat sulit ditembus secara remote.""Aku ingin menatap matanya saat aku menghancurkan dunianya, Silas. Temukan dia."Sementara itu, di sebuah bunker mewah berlapis emas di bawah kasino, Liam Henderson sedang menuangkan sampanye. Ia tampak puas. Di layar monitornya, ia melihat laporan tentang kerugian finansial yang dialami Dante, meskipun ia tahu itu hanya sementara."Kau terlihat sangat bangga pada dirimu sendiri, Liam," ucap wanita dengan mi
Dante masuk dengan langkah yang sangat tenang. Ia telah melepaskan kemejanya, menyisakan kaus dalam hitam yang memamerkan otot-otot lengannya yang tegang. "Kau tahu, Ghost…" Dante memulai, suaranya terdengar sangat tenang. "Manusia normal memiliki sekitar empat puluh lima saraf yang tersebar di seluruh tubuhnya. Itu adalah jalinan yang sangat panjang untuk disiksa satu per satu."Ghost mencoba mendongak, matanya yang bengkak menatap Dante dengan sisa-sisa keberaniannya. "Kau... tidak akan mendapatkan apa pun dariku. Aku sudah mati saat aku mengambil misi ini."Dante mengambil sebuah botol kecil berisi cairan hijau neon. "Kematian adalah hadiah yang harus kau beli dariku, dan harganya sangat mahal… Kau tau? Ini adalah Neuro-Enhancer. Cairan ini akan meningkatkan sensitivitas ujung sarafmu hingga sepuluh kali lipat. Satu sentuhan jari saja akan terasa seperti tusukan pedang yang sangat panas."Dante menyuntikkan cairan itu langsung ke pembuluh darah di leher Ghost. Pria itu tersedak,
Aroma antiseptik menyengat di lorong VIP rumah sakit ternama di London. Dante duduk di depan pintu ruang operasi, masih mengenakan kemeja putih yang kini telah mengering dengan noda darah.Ia menolak untuk berganti pakaian. Ia menolak untuk makan. Ia hanya duduk diam, matanya menatap kosong ke lantai. Marcus berdiri beberapa meter darinya, tampak seperti patung yang berjaga, sementara Silas terus memantau tabletnya di sudut lain, mencoba memberikan ruang bagi sang penguasa London yang sedang hancur itu.Tak berselang lama, pintu ruang operasi itu terbuka. Dr. Arvidsson keluar dengan wajah lelah, melepaskan masker bedahnya. "Bagaimana dia?" Tanya Dante.Arvidsson menghela nafas panjang. "Secara fisik, kami sudah menghentikan pendarahannya. Luka di pipinya sudah dijahit dengan teknik bedah plastik terbaik, meskipun mungkin akan menyisakan bekas luka tipis. Tapi, Daniel..."“Tapi apa?” Tanya Dante tak sabaran."Janin itu... baru berusia enam minggu. Tendangan di perutnya menyebabkan
Kegelapan yang diciptakan Silas di area dermaga benar-benar membuat dermaga itu tampak seperti tak berpenghuni. Dante mendarat di atap Gudang. Di belakangnya, Marcus dan tiga anggota tim Alpha bergerak dengan lincah."Tuan, sensor gerak di setiap sudut sudah dilumpuhkan. Ada enam penjaga di lantai atas dan sepuluh di area utama," ucap Marcus.Dante mengangguk, memberikan isyarat untuk membagi tim. Ia berjalan ke arah lubang ventilasi. Tangannya mencengkram jeruji besi, dan dengan satu sentakan, ia mencabutnya hingga baut-bautnya terlempar berserakan."Tuan, bahu Anda—" Marcus memperingatkan."Diamlah," desis Dante. Rasa sakit di bahunya tidak ada artinya dibandingkan bayangan darah di pipi Lexy.Dante meluncur turun menggunakan kabel ke dalam kegelapan gudang. Di bawah, dua penjaga sedang berdiri di dekat tumpukan peti kayu, memegang senter yang sinarnya menari-nari di dinding."Siapa di sana?!" teriak salah satu penjaga.Dante mendarat tepat di antara mereka. Sebelum mereka sempat
Dante masuk ke ruangan bawah tanah itu tanpa suara. Di tangannya, ia menjinjing kotak hitam berlabel Black Death."Kau membuang waktu, Dante. Sudah kubilang aku tidak tau di mana mereka membawa pelacurmu itu."Dante tidak menjawab. Ia meletakkan kotak itu di atas meja, lalu membukanya perlahan. Di dalamnya, berjajar rapi instrumen bedah, penjepit saraf, dan beberapa botol cairan kimia."Kau tahu, Viktor…" suara Dante terdengar sangat tenang. "Dulu, aku sangat benci dengan apa yang dilakukan Thomas Thorne pada tubuhku. Dia memodifikasi sarafku agar aku tidak bisa merasakan sakit yang normal."Dante mengambil sebuah penjepit, lalu memutarnya perlahan."Tapi sekarang, aku menyadari kegunaan riset itu. Bukan untuk diriku, tapi untuk orang-orang sepertimu. Aku tahu persis di mana letak saraf di tanganmu yang mengirimkan sinyal rasa sakit paling murni ke otak tanpa membuatmu pingsan.""Kau... kau gila," desis Viktor, matanya mulai membelalak ketakutan melihat ketenangan Dante.Dante maju s
Ting!Ponsel Dante kembali bergetar. Menampilkan pesan kedua dari seseorang itu."Buka file-nya, Silas," perintah Dante."Tuan... mungkin sebaiknya—""KUBILANG BUKA FILENYA!" raung Dante.Tak lama kemudian, layar itu menampilkan sebuah rekaman video berdurasi sepuluh detik. Di sana, tampak Lexy yang terikat di sebuah kursi. Wajahnya yang biasanya memancarkan kehangatan kini pucat pasi. Rambutnya ditarik ke belakang oleh tangan kasar yang mengenakan sarung tangan.Dan tiba-tiba, sebuah pisau yang berkilau muncul di depan kamera. Ujung pisau itu ditempelkan tepat ke pipi Lexy."Lihatlah kecantikan yang kau puja ini, Maverick. Setiap inci kulit ini akan menjadi saksi bisu atas kesombonganmu."Sreett!Pisau itu menarik garis lurus dari bawah mata hingga ke rahang Lexy. Darah segar seketika merembes keluar, mengalir jatuh ke gaunnya yang sudah lebih dulu ternoda darah. Lexy menjerit tertahan, tubuhnya mengejang, namun mulutnya yang disumpal kain hanya bisa mengeluarkan suara erangan yang
Ruang kerja Dante yang luas kini disulap berubah menjadi medan tempur. Di atas meja jati yang mahal, bertumpuk berkas profil anggota dewan komisaris Maverick Corp. Dante berdiri di depan jendela besar, sementara Lexy duduk dengan gelisah, membolak-balik foto-foto pria tua berjas formal."Hafalkan
Di kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya."Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy. "Itu sofa
Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya
Limosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu. Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong







