Masuk
Satu-satunya penunjuk waktu yang dipercayai Maorielle saat ini hanyalah jam di pergelangan kirinya yang terus berdetak tanpa ampun. Detaknya beradu dengan suara napasnya yang memburu. Maorielle masuk ke ruang kelas mata kuliah umum bahasa Indonesia dengan langkah berat. Rambutnya yang tadi pagi rapi kini sudah sedikit berantakan.
Matanya menyapu deretan mahasiswa, mencari seseorang. Di barisan tengah, seorang gadis mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat 'aku ada di sini'.
"Aku hampir menyerah menjaganya untukmu," Erina menyeringai, lalu menyodorkan susu cokelat pada temannya yang sudah duduk di sampingnya. "Ini mata kuliah terakhir. Semangat, semangat!"
Maorielle menerima susu coklat dan segera meminumnya. "Aku harus bertahan," gumamnya pelan lalu menyedot isinya hingga tandas.
Erina terkekeh melihat wajah sahabatnya. "Lagian kamu aneh. Kenapa nekat ambil empat mata kuliah maraton di hari Senin? Kamu mau menguji batas kesabaran nyawamu?"
Maorielle mengembuskan napas panjang, terdengar sangat menderita. "Kamu pikir aku mau? Waktu aku mau ambil kelas yang sama denganmu, kuotanya sudah penuh. Aku terpaksa ambil mata kuliah ketiga hari ini. Jadinya ya begini, terjebak di kampus dari pagi sampai sore tanpa jeda."
Maorielle melirik Erina dengan tatapan iri. "Kamu sih enak bisa pulang ke kos lebih dulu," sindir Maorielle lemas. Ia kemudian teringat sesuatu dan meraih lengan Erina dengan sisa tenaga yang ada. "Mana burger yang aku pesan?" rengek Maorielle.
Sang penyelamat, Erina, akhirnya menyodorkan bungkusan burger hangat yang dipesan. "Cepat dimakan. Kelas dimulai dalam waktu lima menit lagi"
Maorielle menyambar burger itu seolah nyawanya bergantung pada asupan karbohidrat tersebut. "Aku harus makan kalau tidak mau pingsan," gumam Maorielle lemas. Ia segera membuka bungkusan burger itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelaparan.
Aroma daging panggang dan saus barbekyu langsung menyeruak, membuat perut Maorielle berbunyi nyaring seolah memberikan tepuk tangan. Tanpa memedulikan citra dirinya sebagai mahasiswi psikologi yang biasanya rapi, ia menggigit burger itu dengan beringas. Pipinya menggembung penuh. Untuk beberapa detik, ia merasa dunianya kembali berwarna.
"Pelan-pelan, Mao. Nanti tersedak," Erina tertawa kecil sambil menyodorkan air mineral.
Erina melihat ke arah jam tangannya. Sudah pukul 13.00 tepat. "Sudah jam satu. Entah kenapa dosennya belum juga datang. Sepertinya terlambat. Aku lihat di SIAKAD sih dosen senior"
"Siapa pun dosennya aku tidak peduli," sahut Maorielle setelah berhasil menelan gigitan pertamanya. Ia bicara dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian mahasiswa lain. "Jam satu siang di hari Senin begini. Siapa pun yang berdiri di depan sana dengan materi tata bahasa adalah musuhku. Aku cuma ingin makan, checklist presensi, dan kalau bisa tidur."
Di sisi kanan Maorielle, sisi yang bukan ditempati Erina, seorang pria dengan hoodie abu-abu sejak tadi duduk diam dalam tudungnya. Dia tiba-tiba menghentikan gerakan pensil di atas buku sketsanya. Pria itu sedikit memiringkan kepala, melirik ke arah tangan Maorielle yang sedang makan dengan nikmat.
"Kalian tahu siapa dosen mata kuliah ini?" tanya pria itu datar.
Suaranya rendah dan tenang, namun cukup untuk membuat Maorielle tersentak hingga nyaris tersedak potongan acar. Maorielle buru-buru menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu menoleh dengan tatapan heran ke arah pria misterius di kanannya.
"Kami tidak tahu, di jadwal KRS ada namanya. Siapa Erina?" Tanya Maorielle pada Erina agar ikut membantu menjawab.
Erina menghentikan aktivitasnya merapikan alat tulis. Ia ikut menoleh pada pria misterius di sebelah Maorielle. "Ehm, kalau tidak salah namanya Pak Bambang. Kenapa, Mas?" tanya Erina dengan nada penasaran yang kental.
Pria berhoodie abu-abu itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap buku sketsanya yang kini tertutup, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Saya dengar dia orangnya cukup detail. Terutama soal ketertiban kelas," jawab pria itu pendek.
Maorielle yang baru saja berhasil menelan potongan terakhir burgernya, mendengus pelan. "Detail itu bahasa halus untuk 'rewel', kan? Duh, Erina, firasatku makin tidak enak. Sudah jam satu siang, dosen rewel, mata kuliah umum pula. Paket lengkap penderitaan hari Senin."
Maorielle kembali melirik pria di sebelahnya dengan tatapan menyelidik. "Bagaimana kamu tahu? Kamu kenal dosennya?"
Pria itu hanya memberikan gumaman samar yang tidak bisa diartikan sebagai ya atau tidak. Ia kemudian memasukkan buku sketsanya ke dalam tas ranselnya, lalu berdiri. Kursi lipatnya berdentang pelan, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
"Mau ke mana? Dosennya sebentar lagi masuk, lho," Erina mengingatkan, mengira pria itu ingin bolos sebelum kelas dimulai.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru melangkah tenang ke depan kelas. Maorielle mengawasinya dengan alis bertaut, memperhatikan punggung berbalut hoodie abu-abu itu yang berjalan lurus menuju meja dosen di depan sana.
Begitu sampai depan, pria itu bukan hanya meletakkan tas, tapi juga melepas jaket hoodie-nya dan menyampirkannya di kursi dosen, menyisakan kemeja gelap yang membungkus tubuh tegapnya. Maorielle dan Erina kompak menahan napas.
Ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap seolah oksigen di sana baru saja ditarik paksa. Beberapa orang mengamati apa yang dilakukan pria itu, termasuk Maorielle dan Erina. Mereka penasaran apa yang dilakukannya.
Pria itu melirik jam tangannya dengan gerakan presisi, lalu mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru kelas.
"Sudah pukul 13.05," ujarnya dengan suara rendah yang menggema di ruang yang hening.
"Bisakah kita mulai kelas sekarang, atau masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusan pribadi?" lanjutnya.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang bisa diartikan persetujuan untuk memulai kelas. Dia terlihat mengambil spidol hitam, lalu menuliskan satu nama dengan karakter tegas dan besar di papan putih: KHAI.
Dia membalikkan badan, menumpu kedua tangannya di pinggir meja dosen sambil menatap ke arah kerumunan mahasiswa. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan pada satu titik di barisan tengah.
"Selamat siang semuanya," suara rendah dan tenang itu kini bergema melalui pengeras suara ruangan, terdengar jauh lebih berwibawa.
"Saya Khairen, kalian bisa memanggilku Khai. Dosen yang menggantikan pak Bambang mengajar kalian mata kuliah Bahasa Indonesia selama satu semester ke depan."
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan keterkejutan menyelimuti kelas itu selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Semua orang berbisik riuh. Memang benar mereka tidak mengenal dosen bernama pak Bambang karena ini mata kuliah umum. Tapi, penggantinya adalah dosen muda yang terlihat tampan dan menarik.
"Saya mencoba berbaur dengan kalian di kelas pertama ini," ujar Khai sambil mengangguk kecil, seolah sedang mengevaluasi hasil eksperimen sosialnya sendiri.
Khai kemudian melipat tangan di depan dada, menatap deretan mahasiswanya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kelas yang unik," tambahnya singkat.
Khai tidak memberikan diskon waktu, jadi kelas berakhir sesuai jam belajar. Ia menunggu sampai semua mahasiswa mulai beranjak keluar. Dia mengawasi pergerakan Maorielle."Maorielle, bisa ke depan sebentar?" ucap Khai datar sambil merapikan kabel laptopnya.Erina mengepalkan tangannya dan menatap Maorielle dengan pandangan 'Semangat, Sahabatku!' sebelum akhirnya terpaksa keluar kelas lebih dulu. Mao menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju meja dosen, tempat Khai menunggunya.Maorielle berdiri di depan meja dengan sikap sesempurna mungkin, berusaha menyembunyikan jemarinya yang saling bertaut di balik punggung. Ruang kelas kini hanya menyisakan suara dengung lampu neon dan langkah kaki mahasiswa yang menjauh di selasar.Khai tidak langsung bicara. Ia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap Maorielle dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah sedang menjalani sesi terapi klinis.
Senin siang ini, langit di atas kampus membentang jernih. Hamparan warna biru yang begitu bersih seolah-olah hujan deras beberapa hari lalu telah mencuci seluruh debu di atap gedung. Sinar matahari menyelinap di antara celah-celah pilar gedung.Maorielle melangkah menyusuri selasar menuju ruang kelas dengan perasaan berbeda. Energi Maorielle hari ini sedikit lebih penuh karena kelas sebelumnya diganti dengan tugas daring. Hal ini membuatnya sempat tidur siang di kamar kos Erina.Setelah insiden cegukan yang memalukan dan pertemuan di kantin yang penuh sindiran. Maorielle harus menyiasati agar ruang kelas tidak terasa seperti medan perang."Mao, kamu cepat sekali. Kita masih punya sepuluh menit," Erina terengah-engah, rambut panjangnya sedikit berantakan. "Jangan bilang kamu mau duduk di baris paling depan?""Tidak!" sahut Mao tanpa menoleh. "Aku mau di sudut yang paling tidak terjangkau radar." Maorielle tidak ingin lagi ada insiden apapun. Ia tidak ingin
Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin. Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakkan nampan makanan mereka.Erina melambai dengan semangat begitu melihat Mao berdiri mematung di pintu masuk."Mao! Sini! Kebetulan banget ini ada Om Angin sama Pak Khai!" teriak Erina tanpa dosa.Khai, yang sedang mengaduk kopinya, perlahan mendongak. Matanya bertemu dengan mata Maorielle, dan ia mengangkat alisnya sedikit. Sebuah ekspresi yang seolah berkata, aku ada di sini juga lho. Maorielletidak punya pilihan. Menarik Erina pergi sekarang hanya akan membuat suasana jadi aneh. Pria itu pasti akan menertawakannya dalam hati. Dengan langkah yang dipaksakan seanggun mungkin, Mao berjalan menghampiri meja pojok itu."Siang, Pak Angin. Siang, Pak Khai," sapa M
Gedung teater mulai berangsur sepi. Suara ruangan diisi oleh dengung rendah pendingin ruangan yang masih menyala. Khai masih di sana, duduk dengan tenang di balik meja dosennya. Jemarinya lincah menari di atas layar ponsel sementara tumpukan makalah di hadapannya telah berpindah rapi ke dalam tas kulit.Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka kembali. Maorielle melangkah masuk dengan napas yang sedikit tidak beraturan. Di tangannya, ia menggenggam botol air mineral baru yang masih sangat dingin. Lengkap dengan embun yang membasahi telapak tangannya.Ia berjalan lurus menuju meja Khai, lalu meletakkan botol itu tepat di tempat botol milik Khai tadi berada."Ini gantinya, Pak," ucap Mao, suaranya kini sudah stabil, meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar. "Terima kasih untuk bantuan... kemanusiaannya tadi."Khai mengangkat pandangannya dari ponsel. Ia menatap botol baru itu, lalu beralih menatap wajah Mao yang tampak berusaha keras mempertahan
Sebuah gelas plastik berisi es kopi yang sudah mencair meninggalkan lingkaran embun yang memudar di atas permukaan meja kayu jati di depan kelas. Di sampingnya terdapat sebuah botol kecil air mineral yang masih tersegel utuh. Ada tumpukan makalah yang masih tercium aroma tinta segar tertata rapi, menunggu untuk segera dibedah.Khai hari ini tampil formal dengan kemeja abu-abu gelap dan celana panjang berwarna putih. Ia berdiri di samping meja dosen, matanya menyapu seisi ruangan yang sudah mulai penuh."Selamat siang semuanya," buka Khai, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang membuat kegaduhan di barisan belakang seketika sirna. "Hari ini adalah waktu untuk membuktikan apakah mata kalian benar-benar jeli, atau kalian hanya sekadar melihat tanpa mengamati."Khai melirik daftar hadir di tangannya. "Kelompok pertama. Silakan maju ke depan untuk mempresentasikan pengamatan kalian."Jantung Maorielle berdegup kencang. Ia merapikan baju dan rambutnya sec
Maorielle mendengus keras, tangannya menekan pulpen ke kertas hingga ujungnya nyaris melubangi buku catatan. Matanya menatap punggung Khai yang kian menjauh di antara kerumunan mahasiswa yang berlari sore."Mao! Mao! Dia memanggil seperti orang dekat!" gerutu Maorielle, suaranya naik satu oktav karena dongkol.Erina yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa tertawa lepas. "Mao, tenang... napas dulu. Lagipula, panggilan 'Mao' itu terdengar... manis kalau dia yang mengucapkannya," Erina terkekeh.Maorielle berdiri dari bangku mulai merasa tidak nyaman berada di sana. Bayangan Khai dengan kaus olahraga hitam dan caranya menatap matanya tadi masih terbayang-bayang di benaknya."Ayo kita pulang. Moodku sudah hancur," ajak Maorielle sambil menyampirkan tasnya dengan kasar."Lho, baru juga dapat tiga subjek. Kurang dua lagi," protes Erina sambil mengekor di belakang sahabatnya."Kita cari subjek lain di jalan saja. Di sini udaranya sudah







