Share

Proses Cerai Kilat

Penulis: AlunaSweet
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 22:05:44

“Jadi ingat ya, Pak,” kata Lumi sambil menandatangani map kuning. “Tiga hari. Dua kali makan bareng keluarga. Satu foto couple. Dan Bapak jangan manggil saya ‘Mbak’ di depan ibu.”

Pak Rudi mengangguk cepat. “Kalau kepeleset?”

“Denda seratus ribu.”

Pak Rudi menelan ludah. “Baik, Bu Istri.”


Klien pertama: Tiga hari.

Di meja makan keluarga besar.

“Lumi, kamu masaknya apa?” tanya tante kepo.

“Kesabaran, Tante,” jawab Lumi manis.

Semua tertawa. Kontrak aman.

Klien kedua: Satu minggu.

Seorang pria muda, gugup, berkacamata.

“Kita… harus pegangan tangan ya?” tanyanya pelan.

“Kalau orang tua kamu lihat, iya. Kalau nggak, enggak,” jawab Lumi sambil ngopi.

“Oh. Kalau saya keringetan?”

“Normal. Banyak suami sah juga begitu.”


Klien ketiga: Satu bulan.

Pria mapan. Terlalu percaya diri.

“Kamu kan istri saya, harus nurut dong.”

Lumi menatap datar. “Pak, ini kontrak. Bukan reinkarnasi patriarki.”

Malam itu juga, kliennya minta maaf lewat chat panjang tiga paragraf.


Prosedur Cerai Lumi Savira

Di sebuah kafe kecil, Lumi duduk berhadapan dengan klien-kliennya—mantan suami kontrak, versi sementara.

“Baik,” kata Lumi profesional. “Kita masuk tahap penutupan.”

“Cepat juga ya,” gumam salah satu dari mereka.

“Justru harus cepat,” jawab Lumi. “Kalau kelamaan, nanti kebiasaan.”

Ia membuka laptop.

“Langkah satu: unggah foto perpisahan ke keluarga. Caption-nya netral. Contoh:

‘Kami berpisah secara baik-baik dan tetap saling mendoakan.’

Dilarang pakai emot nangis.”

“Saya boleh pakai titik tiga?” tanya klien.

“Boleh. Tapi maksimal satu.”

“Langkah dua,” lanjut Lumi, “hapus foto couple dari status. Jangan langsung. Tunggu seminggu biar dramanya natural.”

“Langkah tiga?”

“Kalau ditanya kenapa cerai—jawaban aman:

‘Kami berbeda visi.’

Jangan pernah bilang, ‘Kami nggak cocok.’ Itu terlalu malas.”

Salah satu klien mengangkat tangan. “Kalau ibu saya nanya, ‘Kamu masih cinta?’”

Lumi berpikir sebentar. “Jawab, ‘Cinta itu bentuknya banyak, Bu.’ Lalu alihkan ke topik kesehatan.”

Semua mengangguk, mencatat serius.

Sebelum pergi, Lumi berdiri. “Terima kasih sudah memakai jasa saya. Semoga pernikahan berikutnya—yang asli—lebih sederhana.”

“Amin,” jawab mereka serempak.

Lumi tersenyum, mengambil tasnya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh. Baginya, semua selalu selesai rapi. Masuk, berperan, keluar. Tidak ada yang tertinggal.

~

Di apartemennya yang rapi tapi minimalis, Lumi duduk di sofa, laptop di pangkuan, secangkir kopi dingin di samping.

Pagi itu ia membuka email rutin—klien baru, request harian, beberapa pertanyaan absurd, dan tentunya… spam.

“Sepertinya hari ini normal,” gumamnya sambil men-scroll.

Email pertama: seorang pria minta istri sewaan untuk nemenin acara reuni SMA. Lumi batuk tipis. “Reuni… serius?”

Email kedua: ada yang minta pura-pura hamil supaya mertua tenang. Lumi menahan tawa. “Oke, ini gila, tapi bisa di-handle.”

Email ketiga: “Boleh kasih testimoni palsu?” Lumi nyengir. “Ah, anak-anak muda… kreatif tapi salah jalan.”

Ia menutup satu per satu email, menghela napas, dan hampir menyerah untuk bikin list siapa yang cocok hari ini.

Lalu… satu email baru muncul. Subjeknya sederhana:

“Kontrak 6 Bulan – Tarif Fantastis”

Lumi klik, dan membaca:

Nama: Kira Mahesa

Durasi: 6 bulan penuh

Tugas: Semua peran istri profesional, sesuai SOP Lumi Savira

Tarif: Rp 10.000.000 per hari × 180 hari (transfer di muka)

Catatan: Harus dimulai bulan depan, keluarga besar, perjalanan luar kota, acara sosial mingguan. Tolong konfirmasi segera.

Lumi menatap layar, bibirnya menganga.

“Serius… ini serius?” gumamnya. Tangan Lumi gemetar sedikit, tapi bukan karena takut—melainkan karena… uangnya gila. Fantastis. Lebih tinggi dari tarif normalnya. Dan… lama. Terlalu lama. Ia menatap kopi di samping, seperti berharap caffeine bisa bikin keputusan lebih mudah. Tapi kopi cuma… kopi.

Dena, yang sedang video call di ponsel sebelahnya, muncul di layar. “Lu kenapa mukanya kayak liat hantu?”

Lumi menunjuk laptop. “Lihat ini.”

Dena membaca cepat, lalu menatap Lumi. Matanya melebar. “Enam bulan?! Bayaran… ini… wow. Lebih dari yang biasa lu tawarkan!”

Lumi mengangguk, menelan ludah. “Masalahnya… enam bulan. Itu terlalu lama. Aku nggak bisa terus-terusan jadi ‘istri kontrak’ orang lain tanpa jeda. Mental gue…”

Dena tersenyum tipis tapi nakal. “Mental lu bisa dibeli, duitnya nggak masuk akal. Kalau gue, langsung klik accept.”

Lumi menutup laptop pelan. “Ini bukan cuma soal uang, Den. Ini… personal. Risiko reputasi, jadwal gila, drama keluarga nonstop… dan…” bibirnya tersenyum kecil. “…gue mulai mikir, apa gue siap ngadepin Kira Mahesa selama enam bulan?”

Dena tertawa keras. “Kira Mahesa? Siapa itu? Kenapa terdengar kayak karakter drama Korea?”

Lumi mengangkat bahu, mata menatap layar. “Itu nama dia. Dan… kalau gue bilang ya… gue shock. Parah.”

Ia menarik napas panjang, menatap kota dari jendela apartemen. Cahaya matahari sore menembus kaca, menimbulkan bayangan panjang.

Enam bulan.

Fakta bahwa bayaran lebih tinggi dari biasanya.

Dan satu nama yang bikin jantungnya aneh.

Lumi menatap email itu lagi. “Ini… gila. Tapi… gue rasa, ini pekerjaan yang nggak boleh gue tolak.”

Di layar, mouse bergerak menekan tombol Reply.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Canggung yang Sangat Terasa

    Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Arisan

    Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Nama itu!

    Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Siapa Anggi?

    Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Kekacauan ini!

    Gedung Mahesa Pratama Group berdiri dengan fasad kaca gelap setinggi dua puluh lantai di kawasan bisnis Sudirman. Logo perak bertuliskan PT. MPG terpasang sederhana tapi mencolok di lobi. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal.Kira melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Satpam langsung berdiri tegak.“Selamat pagi, Pak Kira.”Ia hanya mengangguk tipis. Begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah lebih datar. Tidak ada sisa kekacauan pagi tadi. Tidak ada jejak Lumi jatuh menimpanya. Tidak ada memori tatapan canggung. Seolah itu hanya glitch dalam sistem hidupnya.Begitu keluar di lantai 20, sekretarisnya, Raline, langsung berdiri.“Pak, meeting dengan investor Surabaya dipercepat jadi jam sebelas. Dan laporan progres proyek Mahesa Residence tahap dua sudah saya taruh di meja Anda. Tapi ada sedikit kendala di pembebasan lahan.”“Kendala atau penolakan?” tanya Kira tanpa berhenti berjalan.“Penolakan, Pak. Salah satu pemilik

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Kebetulan atau?

    Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di meja makan. Lumi berusaha terlihat segar meski rambutnya masih terasa menyimpan jejak “sidak”, sementara Kira kembali ke mode tenang yang nyaris menyebalkan karena terlalu stabil.Akila dan Nayla duduk berhadapan dengan mereka, ekspresi keduanya seperti dua reporter infotainment yang baru saja mendapatkan bahan headline.“Kak Kira nggak kerja?” tanya Nayla polos tapi jelas penuh muatan.Kira menuang air ke gelasnya sebelum menjawab dengan nada santai, “Saya atur jadwal sendiri hari ini. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.”“Wah, fleksibel sekali,” komentar Akila sambil membuka tas besar yang ia bawa. Ia mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan satu per satu dengan bangga. “Kita bawain sarapan dari rumah. Ini Mama yang masak. Katanya kasihan kalau menantu barunya cuma makan roti tawar atau sereal instan.”Lumi langsung menegakkan badan. “Astaga, Ibu Indah masak langsung? Aku jadi merasa bersalah.”“Bersalah kenapa?” tanya Nay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status