Mag-log in“Jadi ingat ya, Pak,” kata Lumi sambil menandatangani map kuning. “Tiga hari. Dua kali makan bareng keluarga. Satu foto couple. Dan Bapak jangan manggil saya ‘Mbak’ di depan ibu.”
Pak Rudi mengangguk cepat. “Kalau kepeleset?”
“Denda seratus ribu.”
Pak Rudi menelan ludah. “Baik, Bu Istri.”
Klien pertama: Tiga hari.
Di meja makan keluarga besar.
“Lumi, kamu masaknya apa?” tanya tante kepo.
“Kesabaran, Tante,” jawab Lumi manis.
Semua tertawa. Kontrak aman.
Klien kedua: Satu minggu.
Seorang pria muda, gugup, berkacamata.
“Kita… harus pegangan tangan ya?” tanyanya pelan.
“Kalau orang tua kamu lihat, iya. Kalau nggak, enggak,” jawab Lumi sambil ngopi.
“Oh. Kalau saya keringetan?”
“Normal. Banyak suami sah juga begitu.”
Klien ketiga: Satu bulan.
Pria mapan. Terlalu percaya diri.
“Kamu kan istri saya, harus nurut dong.”
Lumi menatap datar. “Pak, ini kontrak. Bukan reinkarnasi patriarki.”
Malam itu juga, kliennya minta maaf lewat chat panjang tiga paragraf.
Di sebuah kafe kecil, Lumi duduk berhadapan dengan klien-kliennya—mantan suami kontrak, versi sementara.
“Baik,” kata Lumi profesional. “Kita masuk tahap penutupan.”
“Cepat juga ya,” gumam salah satu dari mereka.
“Justru harus cepat,” jawab Lumi. “Kalau kelamaan, nanti kebiasaan.”
Ia membuka laptop.
“Langkah satu: unggah foto perpisahan ke keluarga. Caption-nya netral. Contoh:
‘Kami berpisah secara baik-baik dan tetap saling mendoakan.’ Dilarang pakai emot nangis.”“Saya boleh pakai titik tiga?” tanya klien.
“Boleh. Tapi maksimal satu.”
“Langkah dua,” lanjut Lumi, “hapus foto couple dari status. Jangan langsung. Tunggu seminggu biar dramanya natural.”
“Langkah tiga?”
“Kalau ditanya kenapa cerai—jawaban aman:
‘Kami berbeda visi.’ Jangan pernah bilang, ‘Kami nggak cocok.’ Itu terlalu malas.”Salah satu klien mengangkat tangan. “Kalau ibu saya nanya, ‘Kamu masih cinta?’”
Lumi berpikir sebentar. “Jawab, ‘Cinta itu bentuknya banyak, Bu.’ Lalu alihkan ke topik kesehatan.”
Semua mengangguk, mencatat serius.
Sebelum pergi, Lumi berdiri. “Terima kasih sudah memakai jasa saya. Semoga pernikahan berikutnya—yang asli—lebih sederhana.”
“Amin,” jawab mereka serempak.
Lumi tersenyum, mengambil tasnya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh. Baginya, semua selalu selesai rapi. Masuk, berperan, keluar. Tidak ada yang tertinggal.
~
Di apartemennya yang rapi tapi minimalis, Lumi duduk di sofa, laptop di pangkuan, secangkir kopi dingin di samping.
Pagi itu ia membuka email rutin—klien baru, request harian, beberapa pertanyaan absurd, dan tentunya… spam.
“Sepertinya hari ini normal,” gumamnya sambil men-scroll.
Email pertama: seorang pria minta istri sewaan untuk nemenin acara reuni SMA. Lumi batuk tipis. “Reuni… serius?”
Email kedua: ada yang minta pura-pura hamil supaya mertua tenang. Lumi menahan tawa. “Oke, ini gila, tapi bisa di-handle.”
Email ketiga: “Boleh kasih testimoni palsu?” Lumi nyengir. “Ah, anak-anak muda… kreatif tapi salah jalan.”
Ia menutup satu per satu email, menghela napas, dan hampir menyerah untuk bikin list siapa yang cocok hari ini.
Lalu… satu email baru muncul. Subjeknya sederhana:
“Kontrak 6 Bulan – Tarif Fantastis”
Lumi klik, dan membaca:
Nama: Kira Mahesa Durasi: 6 bulan penuh Tugas: Semua peran istri profesional, sesuai SOP Lumi Savira Tarif: Rp 10.000.000 per hari × 180 hari (transfer di muka) Catatan: Harus dimulai bulan depan, keluarga besar, perjalanan luar kota, acara sosial mingguan. Tolong konfirmasi segera.
Lumi menatap layar, bibirnya menganga.
“Serius… ini serius?” gumamnya. Tangan Lumi gemetar sedikit, tapi bukan karena takut—melainkan karena… uangnya gila. Fantastis. Lebih tinggi dari tarif normalnya. Dan… lama. Terlalu lama. Ia menatap kopi di samping, seperti berharap caffeine bisa bikin keputusan lebih mudah. Tapi kopi cuma… kopi.
Dena, yang sedang video call di ponsel sebelahnya, muncul di layar. “Lu kenapa mukanya kayak liat hantu?”
Lumi menunjuk laptop. “Lihat ini.”
Dena membaca cepat, lalu menatap Lumi. Matanya melebar. “Enam bulan?! Bayaran… ini… wow. Lebih dari yang biasa lu tawarkan!”
Lumi mengangguk, menelan ludah. “Masalahnya… enam bulan. Itu terlalu lama. Aku nggak bisa terus-terusan jadi ‘istri kontrak’ orang lain tanpa jeda. Mental gue…”
Dena tersenyum tipis tapi nakal. “Mental lu bisa dibeli, duitnya nggak masuk akal. Kalau gue, langsung klik accept.”
Lumi menutup laptop pelan. “Ini bukan cuma soal uang, Den. Ini… personal. Risiko reputasi, jadwal gila, drama keluarga nonstop… dan…” bibirnya tersenyum kecil. “…gue mulai mikir, apa gue siap ngadepin Kira Mahesa selama enam bulan?”
Dena tertawa keras. “Kira Mahesa? Siapa itu? Kenapa terdengar kayak karakter drama Korea?”
Lumi mengangkat bahu, mata menatap layar. “Itu nama dia. Dan… kalau gue bilang ya… gue shock. Parah.”
Ia menarik napas panjang, menatap kota dari jendela apartemen. Cahaya matahari sore menembus kaca, menimbulkan bayangan panjang.
Enam bulan.
Fakta bahwa bayaran lebih tinggi dari biasanya.Dan satu nama yang bikin jantungnya aneh.Lumi menatap email itu lagi. “Ini… gila. Tapi… gue rasa, ini pekerjaan yang nggak boleh gue tolak.”
Di layar, mouse bergerak menekan tombol Reply.
Bersambung…
Pagi hari di rumah Kira berjalan lebih tenang dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang besar. Meja sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana yang disiapkan oleh pembantu rumah. Lumi baru saja duduk ketika Kira sudah lebih dulu berada di sana.Ia mengenakan kemeja kerja, lengan bajunya digulung sedikit. Di depannya ada laptop yang terbuka dan secangkir kopi hitam yang hampir habis. Begitu Lumi duduk, Kira mengangkat pandangannya sebentar.“Duduk.”Nada suaranya datar seperti biasa. Lumi sebenarnya sudah duduk, tapi tetap mengangguk kecil.“Iya…”Ia mengambil sendok, tapi gerakannya sedikit kaku. Bayangan semalam muncul lagi di kepalanya. Kira di kamarnya menyentuh dahinya dan berdiri terlalu dekat. Lumi buru-buru fokus pada piringnya. Namun sebelum ia sempat makan, suara ponsel Kira berdering di atas meja.Kira langsung mengangkatnya.“Ya.”Lumi mencoba terlihat biasa saja sambil mulai makan. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar nama itu.“Anggi?”Se
POV Kira Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan. Suasana langsung menjadi lebih sunyi. Lumi turun lebih dulu dari mobil. Ia menggumamkan sesuatu seperti ucapan terima kasih yang terdengar terburu-buru, lalu hampir setengah berlari masuk ke dalam rumah.Pintu tertutup. Kira masih duduk di dalam mobil. Tangannya tetap berada di atas setir, matanya menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan ia menyandarkan punggung ke kursi. Sunyi. Namun pikirannya tidak setenang wajahnya. Bayangan Lumi di mobil tadi muncul lagi tanpa diminta. Wajahnya yang tiba-tiba memerah. Cara perempuan itu langsung membeku saat ia mengangkat tangan. Kira menghela napas pendek. Ia bahkan tidak berpikir panjang waktu itu. Hanya refleks. Ketika melihat noda sambal di pelipis Lumi, tangannya langsung bergerak membersihkannya. Sesederhana itu. Namun reaksi Lumi seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang besar. Kira menutup mata sejenak. Hal lain juga kembali
Aroma makanan mulai memenuhi dapur. Udang saus mentega, sup seafood, dan beberapa hidangan lain sudah tertata rapi di atas meja panjang. Lumi membantu Bu Rini dan Sari memindahkan piring-piring ke ruang makan. “Bagus sekali,” kata Ibu Indah sambil melihat meja yang sudah hampir penuh. “Sudah lama rumah ini tidak seramai ini. Sayang Alika dan Nayla mereka masih belum pulang." Lumi tersenyum kecil. Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka dari ruang tengah. Klik. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Lumi yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti di tempat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Sepertinya Kira sudah pulang,” kata Ibu Indah santai dari belakangnya. Kalimat itu membuat Lumi makin kaku. Beberapa detik kemudian langkah kaki itu semakin mendekat. Dan benar saja—Kira muncul di ambang pintu ruang makan. Masih dengan setelan kerja, jasnya tersampir di lengan. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi ekspresinya tetap se
Hari ini Lumi tidak keluar sama sekali dari kamarnya, setelah kejadian kemaren ia merasa malu bertemu Kira. Bayangan ia memeluk Kira karena ketakutan dan ia bersandar di bahu Kira karena demam membuatnya malu. Berani sekali dirinya melakukan itu. Beruntung Kira tidak marah. Lumi duduk di sofa dalam kamar, televisi menyala menyiarkan berita gosip. Tapi matanya tidak benar-benar menyimak acara itu. Khayalannya melayang ke kejadia kemaren. "Aaaaaa aku maluuuu!" teriaknya frustasi, Lumi mengambil susu dingin yang di buat oleh Kira. Saat ia sedang memindah-mindah chanel telponnya berdering. Dan ada nama Ibu Indah di layar telponnya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo, Bu?” “Lumi, kamu lagi di rumah dan nggak sibuk?” “Iya, Bu.” "Temenin ibu masak yuk buat kita makan malem bareng. Ibu banyak beli seafood nih." "Seakarang bu kerumahnya?" "Iya dong. Masa besok." kelakar ibu Indah di telpon membuat Lumi tersenyum. Setelah berpikir sejenak Lumi mengiyakan permintaan Ibu Indah
Ruang rapat lantai dua puluh itu dipenuhi cahaya dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Di tengah ruangan, meja panjang sudah dipenuhi berkas kerja sama, tablet, dan beberapa cangkir kopi yang mulai dingin.Kira duduk di sisi kanan meja. Ekspresinya sama seperti biasanya—tenang, datar, sulit dibaca. Di seberangnya, Anggi memegang pulpen sambil membaca dokumen terakhir yang baru saja dipresentasikan oleh tim legal.Beberapa staf dari kedua perusahaan masih berada di ruangan itu. Presentasi hampir selesai.“Kami sudah meninjau revisi pada poin distribusi regional,” kata salah satu manajer dari perusahaan Anggi. “Jika tidak ada perubahan tambahan, tahap implementasi bisa dimulai bulan depan.”Kira mengangguk sedikit.“Itu sesuai dengan timeline yang kami rencanakan.”Anggi menutup dokumen di depannya.“Perusahaan kami juga tidak memiliki keberatan,” katanya dengan nada profesional. “Selama laporan audit tetap transparan seperti yang sudah disepakati.”“Sudah menja
Kira menunggu cukup lama sampai napas Lumi benar-benar teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur lagi setelah minum obat. Wajahnya masih pucat, tapi kerutan di dahinya sudah menghilang. Tidak ada lagi gumaman takut. Tidak ada lagi tubuh yang gelisah.Kira berdiri perlahan dari sisi tempat tidur. Ia menarik selimut Lumi sedikit lebih tinggi, memastikan bahunya tertutup. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di dahi Lumi—mengecek suhu tubuhnya sekali lagi. Masih hangat. Tapi tidak setinggi tadi.“Tidur saja,” gumamnya pelan.Kira keluar dengan langkah hati-hati. Pintu ditutup tanpa suara. Ruang kerja Kira berada di ujung lorong lantai dua. Ruangan itu selalu terasa berbeda dari bagian rumah lain. Lebih sunyi. Lebih… dingin.Di sinilah sebagian besar waktunya dihabiskan. Laptop sudah menyala di atas meja. Beberapa dokumen digital menunggu persetujuan. Rapat pagi sudah ia batalkan, tapi bukan berarti pekerjaannya ikut berhenti.Kira duduk. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Membal







