ホーム / Romansa / Terima Jasa Sewa Sebagai Istri / Iklan yang Tidak Seharusnya Viral

共有

Iklan yang Tidak Seharusnya Viral

作者: AlunaSweet
last update 公開日: 2026-02-10 21:53:21

Iklan yang Tidak Seharusnya Viral

“Lu yakin mau upload gini?” Dena menatap layar ponsel Lumi dengan ekspresi antara khawatir dan penasaran.

Lumi membaca ulang caption-nya dengan wajah datar.

TERIMA JASA SEWA ISTRI

Harian / Mingguan / Bulanan

Profesional. Beretika. Tanpa Drama.

Cocok untuk acara keluarga, tekanan orang tua, dan pertanyaan ‘kapan nikah’.

Tarif mulai 5 juta / hari

Serius tapi santai.

“Apa bagian serius tapi santai itu perlu?” tanya Dena.

“Itu branding,” jawab Lumi tenang. “Biar kelihatan manusiawi.”

“Lu yakin nggak ditangkep polisi?”

“Ini bukan kriminal,” Lumi menekan tombol unggah. “Ini kapitalisme.”

Tiga detik.

Sepuluh detik.

Notifikasi pertama masuk.

Dena mendekat. “Siapa?”

Lumi membaca. “Ini bercanda atau beneran?”

“Balas apa?”

Lumi mengetik cepat. “Beneran. Dengan kontrak.”

Notifikasi kedua.

Ketiga.

Keempat.

Dena membelalak. “Lumi… DM lu gerak sendiri.”

Lumi melirik layar. “Normal.”

“Ini nggak normal! Ini chaos!”

Ia membaca beberapa pesan keras-keras:

“Kalau cuma nemenin ke kondangan, bisa?”

“Saya duda, ibu saya bawel.”

“Bisa pura-pura hamil?”

“Yang itu jangan dibalas,” kata Lumi cepat.

“Ini juga ada,” Dena menyipitkan mata. “Boleh refund kalau jatuh cinta?”

Lumi menutup mata. “Tuhan, beri aku kesabaran.”

Ia mulai membalas satu per satu, profesional, rapi, dingin.

“Yang jelas niat → lanjut.”

“Yang nanya aneh-aneh → di-skip.”

“Yang nawar harga → ditolak mentah-mentah.”

“Lu nggak takut?” tanya Dena pelan.

Lumi berhenti mengetik. “Takut. Tapi lapar.”

Notifikasi terakhir masuk.

Unknown:

Tiga hari. Keluarga besar. Saya gugup. Bisa ketemu dulu?

Lumi menghela napas. “Oke.”

“Yang ini?” tanya Dena.

“Yang ini,” kata Lumi, “kayaknya manusia.”

~

Klien Pertama. Mereka bertemu di kafe kecil dekat kantor kelurahan.

Pria di depannya berkemeja rapi, duduk terlalu tegak, dan terus meremas tisu.

“Saya Rudi,” katanya. “Calon… suami.”

Lumi tersenyum tipis. “Lumi. Istri sementara.”

Rudi tersedak. “Iya. Maksud saya—iya.”

Lumi membuka map. “Kita mulai dari ekspektasi. Tiga hari. Saya ikut acara keluarga. Pegangan tangan, foto, senyum. Tidak lebih.”

Rudi mengangguk terlalu cepat. “Saya nggak mau macam-macam.”

“Bagus,” kata Lumi. “Saya juga nggak.”

“Kalau ibu saya nanya, kita ketemu di mana?”

“Jawaban aman,” kata Lumi cepat. “Dikenalin teman.”

“Nama temannya?”

“Dena,” jawab Lumi refleks.

Dena yang duduk dua meja jauhnya langsung batuk keras.

Rudi mencatat. “Terus… saya harus manggil kamu apa?”

“Istri,” jawab Lumi.

Rudi memucat. “Langsung?”

“Langsung,” kata Lumi. “Kalau Bapak manggil saya ‘Mbak’, kontrak batal.”

Rudi menelan ludah. “Baik, Istri.”

“Natural,” koreksi Lumi. “Santai.”

“Baik… istriku?”

“Itu terlalu intens.”

Rudi menutup buku catatannya. “Ini lebih susah dari skripsi.”

Lumi tersenyum kecil. “Makanya lima juta per hari.”

Rudi mengangguk pasrah. “Saya transfer sekarang.”

Ponsel Lumi berbunyi.

Transfer masuk: Rp15.000.000

Lumi berdiri. “Deal.”

Rudi ikut berdiri. “Kita… pegangan tangan sekarang?”

Lumi menatap sekeliling. “Belum. Tunggu ibu Anda datang.”

“Oh.” Rudi menghela napas lega. “Syukurlah.”

Lumi melangkah pergi, lalu berhenti sebentar.

“Oh ya, Pak Rudi?”

“Iya?”

“Kalau nanti ada yang tanya kenapa kita cerai—”

Rudi langsung panik. “Kita cerai?!”

“Tiga hari lagi,” jawab Lumi santai. “Tapi tenang. Saya sudah punya prosedurnya.”

Rudi terduduk kembali. “Saya harusnya sewa pacar.”

Lumi tersenyum. “Pacar itu murah. Istri itu mahal—dan ribet.”

Dan sejak hari itu, Lumi Savira resmi menjadi sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu harus disebut apa. Yang jelas—iklannya viral, kliennya datang,dan hidupnya nggak akan pernah normal lagi.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Ada Tamu

    Pagi hari di rumah Kira berjalan lebih tenang dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang besar. Meja sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana yang disiapkan oleh pembantu rumah. Lumi baru saja duduk ketika Kira sudah lebih dulu berada di sana.Ia mengenakan kemeja kerja, lengan bajunya digulung sedikit. Di depannya ada laptop yang terbuka dan secangkir kopi hitam yang hampir habis. Begitu Lumi duduk, Kira mengangkat pandangannya sebentar.“Duduk.”Nada suaranya datar seperti biasa. Lumi sebenarnya sudah duduk, tapi tetap mengangguk kecil.“Iya…”Ia mengambil sendok, tapi gerakannya sedikit kaku. Bayangan semalam muncul lagi di kepalanya. Kira di kamarnya menyentuh dahinya dan berdiri terlalu dekat. Lumi buru-buru fokus pada piringnya. Namun sebelum ia sempat makan, suara ponsel Kira berdering di atas meja.Kira langsung mengangkatnya.“Ya.”Lumi mencoba terlihat biasa saja sambil mulai makan. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar nama itu.“Anggi?”Se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Sentuhan itu Lagi

    POV Kira Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan. Suasana langsung menjadi lebih sunyi. Lumi turun lebih dulu dari mobil. Ia menggumamkan sesuatu seperti ucapan terima kasih yang terdengar terburu-buru, lalu hampir setengah berlari masuk ke dalam rumah.Pintu tertutup. Kira masih duduk di dalam mobil. Tangannya tetap berada di atas setir, matanya menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan ia menyandarkan punggung ke kursi. Sunyi. Namun pikirannya tidak setenang wajahnya. Bayangan Lumi di mobil tadi muncul lagi tanpa diminta. Wajahnya yang tiba-tiba memerah. Cara perempuan itu langsung membeku saat ia mengangkat tangan. Kira menghela napas pendek. Ia bahkan tidak berpikir panjang waktu itu. Hanya refleks. Ketika melihat noda sambal di pelipis Lumi, tangannya langsung bergerak membersihkannya. Sesederhana itu. Namun reaksi Lumi seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang besar. Kira menutup mata sejenak. Hal lain juga kembali

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Wahai Jantung

    Aroma makanan mulai memenuhi dapur. Udang saus mentega, sup seafood, dan beberapa hidangan lain sudah tertata rapi di atas meja panjang. Lumi membantu Bu Rini dan Sari memindahkan piring-piring ke ruang makan. “Bagus sekali,” kata Ibu Indah sambil melihat meja yang sudah hampir penuh. “Sudah lama rumah ini tidak seramai ini. Sayang Alika dan Nayla mereka masih belum pulang." Lumi tersenyum kecil. Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka dari ruang tengah. Klik. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Lumi yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti di tempat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Sepertinya Kira sudah pulang,” kata Ibu Indah santai dari belakangnya. Kalimat itu membuat Lumi makin kaku. Beberapa detik kemudian langkah kaki itu semakin mendekat. Dan benar saja—Kira muncul di ambang pintu ruang makan. Masih dengan setelan kerja, jasnya tersampir di lengan. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi ekspresinya tetap se

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Memasak bersama Mertua

    Hari ini Lumi tidak keluar sama sekali dari kamarnya, setelah kejadian kemaren ia merasa malu bertemu Kira. Bayangan ia memeluk Kira karena ketakutan dan ia bersandar di bahu Kira karena demam membuatnya malu. Berani sekali dirinya melakukan itu. Beruntung Kira tidak marah. Lumi duduk di sofa dalam kamar, televisi menyala menyiarkan berita gosip. Tapi matanya tidak benar-benar menyimak acara itu. Khayalannya melayang ke kejadia kemaren. "Aaaaaa aku maluuuu!" teriaknya frustasi, Lumi mengambil susu dingin yang di buat oleh Kira. Saat ia sedang memindah-mindah chanel telponnya berdering. Dan ada nama Ibu Indah di layar telponnya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo, Bu?” “Lumi, kamu lagi di rumah dan nggak sibuk?” “Iya, Bu.” "Temenin ibu masak yuk buat kita makan malem bareng. Ibu banyak beli seafood nih." "Seakarang bu kerumahnya?" "Iya dong. Masa besok." kelakar ibu Indah di telpon membuat Lumi tersenyum. Setelah berpikir sejenak Lumi mengiyakan permintaan Ibu Indah

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Pertanyaan demi Pertanyaan.

    Ruang rapat lantai dua puluh itu dipenuhi cahaya dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Di tengah ruangan, meja panjang sudah dipenuhi berkas kerja sama, tablet, dan beberapa cangkir kopi yang mulai dingin.Kira duduk di sisi kanan meja. Ekspresinya sama seperti biasanya—tenang, datar, sulit dibaca. Di seberangnya, Anggi memegang pulpen sambil membaca dokumen terakhir yang baru saja dipresentasikan oleh tim legal.Beberapa staf dari kedua perusahaan masih berada di ruangan itu. Presentasi hampir selesai.“Kami sudah meninjau revisi pada poin distribusi regional,” kata salah satu manajer dari perusahaan Anggi. “Jika tidak ada perubahan tambahan, tahap implementasi bisa dimulai bulan depan.”Kira mengangguk sedikit.“Itu sesuai dengan timeline yang kami rencanakan.”Anggi menutup dokumen di depannya.“Perusahaan kami juga tidak memiliki keberatan,” katanya dengan nada profesional. “Selama laporan audit tetap transparan seperti yang sudah disepakati.”“Sudah menja

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Hanya Kontrak

    Kira menunggu cukup lama sampai napas Lumi benar-benar teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur lagi setelah minum obat. Wajahnya masih pucat, tapi kerutan di dahinya sudah menghilang. Tidak ada lagi gumaman takut. Tidak ada lagi tubuh yang gelisah.Kira berdiri perlahan dari sisi tempat tidur. Ia menarik selimut Lumi sedikit lebih tinggi, memastikan bahunya tertutup. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di dahi Lumi—mengecek suhu tubuhnya sekali lagi. Masih hangat. Tapi tidak setinggi tadi.“Tidur saja,” gumamnya pelan.Kira keluar dengan langkah hati-hati. Pintu ditutup tanpa suara. Ruang kerja Kira berada di ujung lorong lantai dua. Ruangan itu selalu terasa berbeda dari bagian rumah lain. Lebih sunyi. Lebih… dingin.Di sinilah sebagian besar waktunya dihabiskan. Laptop sudah menyala di atas meja. Beberapa dokumen digital menunggu persetujuan. Rapat pagi sudah ia batalkan, tapi bukan berarti pekerjaannya ikut berhenti.Kira duduk. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Membal

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Simulasi

    Sore itu, rumah Kira sudah berubah total. Foto pernikahan besar di ruang tamu, bunga segar di meja makan, lampu hangat menyinari sofa. Anak buah Kira sudah pergi, meninggalkan Lumi dan Kira sendiri.Lumi menatap Kira, mencoba menenangkan diri, sambil menyesap teh hangat. “Baiklah… Pak Kira, latihan

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Proses Cerai Kilat

    “Jadi ingat ya, Pak,” kata Lumi sambil menandatangani map kuning. “Tiga hari. Dua kali makan bareng keluarga. Satu foto couple. Dan Bapak jangan manggil saya ‘Mbak’ di depan ibu.”Pak Rudi mengangguk cepat. “Kalau kepeleset?”“Denda seratus ribu.”Pak Rudi menelan ludah. “Baik, Bu Istri.”Klien per

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Bab 2

    Awal yang Tidak Masuk Akal“Lu serius, Lumi?”Lumi Savira menyesap es kopi susu di depannya dengan tenang. “Serius.”“Lu barusan bilang apa?” tanya Dena, sahabatnya, sambil mencondongkan badan ke meja. “Coba ulang.”Lumi menghela napas pendek. “Gue mau buka jasa… istri kontrak.”Sendok Dena jatuh.

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Bab 1

    “Lumi.”“Iya, Pak.”“Pegang tangan saya.”Lumi Savira menunduk menatap tangan pria paruh baya di sampingnya. Tangannya kering, sedikit dingin, dan—jujur saja—terasa seperti memegang panci yang lupa dimatikan kompor.“Sekarang juga, Lumi,” bisik pria itu panik. “Nenek lagi nengok ke sini.”“Baik, Pa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status