MasukIklan yang Tidak Seharusnya Viral
“Lu yakin mau upload gini?” Dena menatap layar ponsel Lumi dengan ekspresi antara khawatir dan penasaran.
Lumi membaca ulang caption-nya dengan wajah datar.
TERIMA JASA SEWA ISTRI
Harian / Mingguan / Bulanan Profesional. Beretika. Tanpa Drama. Cocok untuk acara keluarga, tekanan orang tua, dan pertanyaan ‘kapan nikah’. Tarif mulai 5 juta / hariSerius tapi santai.
“Apa bagian serius tapi santai itu perlu?” tanya Dena.
“Itu branding,” jawab Lumi tenang. “Biar kelihatan manusiawi.”
“Lu yakin nggak ditangkep polisi?”
“Ini bukan kriminal,” Lumi menekan tombol unggah. “Ini kapitalisme.”
Tiga detik.
Sepuluh detik.
Notifikasi pertama masuk.
Dena mendekat. “Siapa?”
Lumi membaca. “Ini bercanda atau beneran?”
“Balas apa?”
Lumi mengetik cepat. “Beneran. Dengan kontrak.”
Notifikasi kedua.
Ketiga.
Keempat.
Dena membelalak. “Lumi… DM lu gerak sendiri.”
Lumi melirik layar. “Normal.”
“Ini nggak normal! Ini chaos!”
Ia membaca beberapa pesan keras-keras:
“Kalau cuma nemenin ke kondangan, bisa?”
“Saya duda, ibu saya bawel.”
“Bisa pura-pura hamil?”
“Yang itu jangan dibalas,” kata Lumi cepat.
“Ini juga ada,” Dena menyipitkan mata. “Boleh refund kalau jatuh cinta?”
Lumi menutup mata. “Tuhan, beri aku kesabaran.”
Ia mulai membalas satu per satu, profesional, rapi, dingin.
“Yang jelas niat → lanjut.”
“Yang nanya aneh-aneh → di-skip.” “Yang nawar harga → ditolak mentah-mentah.”“Lu nggak takut?” tanya Dena pelan.
Lumi berhenti mengetik. “Takut. Tapi lapar.”
Notifikasi terakhir masuk.
Unknown:
Tiga hari. Keluarga besar. Saya gugup. Bisa ketemu dulu?Lumi menghela napas. “Oke.”
“Yang ini?” tanya Dena.
“Yang ini,” kata Lumi, “kayaknya manusia.”
~
Klien Pertama. Mereka bertemu di kafe kecil dekat kantor kelurahan.
Pria di depannya berkemeja rapi, duduk terlalu tegak, dan terus meremas tisu.
“Saya Rudi,” katanya. “Calon… suami.”
Lumi tersenyum tipis. “Lumi. Istri sementara.”
Rudi tersedak. “Iya. Maksud saya—iya.”
Lumi membuka map. “Kita mulai dari ekspektasi. Tiga hari. Saya ikut acara keluarga. Pegangan tangan, foto, senyum. Tidak lebih.”
Rudi mengangguk terlalu cepat. “Saya nggak mau macam-macam.”
“Bagus,” kata Lumi. “Saya juga nggak.”
“Kalau ibu saya nanya, kita ketemu di mana?”
“Jawaban aman,” kata Lumi cepat. “Dikenalin teman.”
“Nama temannya?”
“Dena,” jawab Lumi refleks.
Dena yang duduk dua meja jauhnya langsung batuk keras.
Rudi mencatat. “Terus… saya harus manggil kamu apa?”
“Istri,” jawab Lumi.
Rudi memucat. “Langsung?”
“Langsung,” kata Lumi. “Kalau Bapak manggil saya ‘Mbak’, kontrak batal.”
Rudi menelan ludah. “Baik, Istri.”
“Natural,” koreksi Lumi. “Santai.”
“Baik… istriku?”
“Itu terlalu intens.”
Rudi menutup buku catatannya. “Ini lebih susah dari skripsi.”
Lumi tersenyum kecil. “Makanya lima juta per hari.”
Rudi mengangguk pasrah. “Saya transfer sekarang.”
Ponsel Lumi berbunyi.
Transfer masuk: Rp15.000.000
Lumi berdiri. “Deal.”
Rudi ikut berdiri. “Kita… pegangan tangan sekarang?”
Lumi menatap sekeliling. “Belum. Tunggu ibu Anda datang.”
“Oh.” Rudi menghela napas lega. “Syukurlah.”
Lumi melangkah pergi, lalu berhenti sebentar.
“Oh ya, Pak Rudi?”
“Iya?”
“Kalau nanti ada yang tanya kenapa kita cerai—”
Rudi langsung panik. “Kita cerai?!”
“Tiga hari lagi,” jawab Lumi santai. “Tapi tenang. Saya sudah punya prosedurnya.”
Rudi terduduk kembali. “Saya harusnya sewa pacar.”
Lumi tersenyum. “Pacar itu murah. Istri itu mahal—dan ribet.”
Dan sejak hari itu, Lumi Savira resmi menjadi sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu harus disebut apa. Yang jelas—iklannya viral, kliennya datang,dan hidupnya nggak akan pernah normal lagi.
Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan
Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set
Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di
Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan
Gedung Mahesa Pratama Group berdiri dengan fasad kaca gelap setinggi dua puluh lantai di kawasan bisnis Sudirman. Logo perak bertuliskan PT. MPG terpasang sederhana tapi mencolok di lobi. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal.Kira melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Satpam langsung berdiri tegak.“Selamat pagi, Pak Kira.”Ia hanya mengangguk tipis. Begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah lebih datar. Tidak ada sisa kekacauan pagi tadi. Tidak ada jejak Lumi jatuh menimpanya. Tidak ada memori tatapan canggung. Seolah itu hanya glitch dalam sistem hidupnya.Begitu keluar di lantai 20, sekretarisnya, Raline, langsung berdiri.“Pak, meeting dengan investor Surabaya dipercepat jadi jam sebelas. Dan laporan progres proyek Mahesa Residence tahap dua sudah saya taruh di meja Anda. Tapi ada sedikit kendala di pembebasan lahan.”“Kendala atau penolakan?” tanya Kira tanpa berhenti berjalan.“Penolakan, Pak. Salah satu pemilik
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di meja makan. Lumi berusaha terlihat segar meski rambutnya masih terasa menyimpan jejak “sidak”, sementara Kira kembali ke mode tenang yang nyaris menyebalkan karena terlalu stabil.Akila dan Nayla duduk berhadapan dengan mereka, ekspresi keduanya seperti dua reporter infotainment yang baru saja mendapatkan bahan headline.“Kak Kira nggak kerja?” tanya Nayla polos tapi jelas penuh muatan.Kira menuang air ke gelasnya sebelum menjawab dengan nada santai, “Saya atur jadwal sendiri hari ini. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.”“Wah, fleksibel sekali,” komentar Akila sambil membuka tas besar yang ia bawa. Ia mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan satu per satu dengan bangga. “Kita bawain sarapan dari rumah. Ini Mama yang masak. Katanya kasihan kalau menantu barunya cuma makan roti tawar atau sereal instan.”Lumi langsung menegakkan badan. “Astaga, Ibu Indah masak langsung? Aku jadi merasa bersalah.”“Bersalah kenapa?” tanya Nay







