Lumi Savira duduk di restoran minimalis, memilih meja dekat jendela. Ia menyesap teh hangat sambil menunggu.Tak lama, seorang pria masuk. Tinggi, tegap, bersih, dengan jaket blazer gelap yang pas di bahu. Rambutnya hitam, rapi, tapi tidak terlalu kaku; matanya tajam, menatap dunia seperti selalu menimbang setiap gerakan.Lumi menelan ludah. Oke, ini… bisa bikin kontrak jadi mudah atau bikin kepala gue meledak.Pria itu duduk tanpa banyak bicara. Hanya menatap menu sebentar, lalu menutupnya dan menatap Lumi.“Lumi Savira?” suaranya rendah, tenang, tapi berat.“Ya, Pak… eh, Pak Kira,” jawab Lumi, tetap profesional, sambil menaruh tangan di atas meja.Kira mengangguk singkat. Tidak senyum. Tidak basa-basi. Lumi menarik napas pelan, sambil diam-diam mencatat mental: badan tinggi, postur rapi, aura dingin tapi tidak menakutkan. Bibir tipis, alis rapi, mata tajam. Profesional banget… tapi lumayan enak dipandang. Fokus ke kontrak, jangan baper, Lumi.Ia memulai, menulis beberapa poin di buk
Last Updated : 2026-02-10 Read more