Share

Pertemuan Pertama

Author: AlunaSweet
last update Last Updated: 2026-02-10 22:26:27

Lumi Savira duduk di restoran minimalis, memilih meja dekat jendela. Ia menyesap teh hangat sambil menunggu.

Tak lama, seorang pria masuk. Tinggi, tegap, bersih, dengan jaket blazer gelap yang pas di bahu. Rambutnya hitam, rapi, tapi tidak terlalu kaku; matanya tajam, menatap dunia seperti selalu menimbang setiap gerakan.

Lumi menelan ludah. Oke, ini… bisa bikin kontrak jadi mudah atau bikin kepala gue meledak.

Pria itu duduk tanpa banyak bicara. Hanya menatap menu sebentar, lalu menutupnya dan menatap Lumi.

“Lumi Savira?” suaranya rendah, tenang, tapi berat.

“Ya, Pak… eh, Pak Kira,” jawab Lumi, tetap profesional, sambil menaruh tangan di atas meja.

Kira mengangguk singkat. Tidak senyum. Tidak basa-basi. Lumi menarik napas pelan, sambil diam-diam mencatat mental: badan tinggi, postur rapi, aura dingin tapi tidak menakutkan. Bibir tipis, alis rapi, mata tajam. Profesional banget… tapi lumayan enak dipandang. Fokus ke kontrak, jangan baper, Lumi.

Ia memulai, menulis beberapa poin di buku catatannya:

“Baik, Pak. Saya senang bertemu. Sebelum kita mulai, ada beberapa hal yang harus jelas:”

Kira mengangkat satu alis, menunggu.

“Pertama,” Lumi mulai cepat, “ini kontrak enam bulan. Semua peran istri profesional. Dua kali makan keluarga per minggu, beberapa acara sosial, perjalanan sesekali. Saya akan selalu menjaga batas—tidak ada hubungan fisik, tidak ada keterlibatan perasaan, tidak ada komunikasi di luar kontrak kecuali kebutuhan mendesak.”

Kira menatapnya datar. “Noted.”

“Dua,” Lumi melanjutkan, “nama saya tidak boleh disebut ke siapa pun setelah kontrak selesai. Privasi mutlak. Dan saya boleh cabut kapan saja kalau terjadi hal berbahaya atau perilaku yang tidak sesuai kesepakatan.”

Sekali lagi, Kira hanya mengangguk. Nada bicaranya tetap sama, nyaris monolog.

“Baik, Pak. Untuk bayaran,” Lumi membuka catatan, “setengah di transfer di muka. Sisanya dibayar paling lambat satu bulan sebelum kontrak selesai. Transparan dan profesional.”

Kira menatap Lumi, menimbang, lalu mengangkat tangan sedikit. “Jumlah? Sesuai kesepakatan email?”

“Ya, Rp 10.000.000 per hari,” jawab Lumi datar, tapi di dalam hati… Wow, ini gila, tapi worth it.

Kira hanya mengangguk. Tidak komentar. Tidak senyum. Hanya ketenangan yang bikin Lumi lega sekaligus tegang.

Lumi menarik napas panjang. “Bagus. Kalau semuanya sudah jelas, kita tanda tangan kontrak, dan saya mulai sesuai jadwal yang disepakati.”

Kira mengeluarkan dokumen dari tas kulitnya, meletakkan di meja, dan menunggu Lumi menandatangani. Lumi menandatangani, lalu menatap Kira. Ia tersenyum tipis, merasa lega: oke, profesional, batas jelas, klien disiplin, tidak banyak drama… ini… bisa ditangani.

Di dalam hati, Lumi menyimpulkan:

“Tidak salah pilih kontrak. Kira Mahesa, suami enam bulan ini, ternyata… jauh lebih gampang di-handle daripada Pak Rudi.”

Kira menutup dokumen. “Mulai minggu depan. Jadwal sudah dikirim ke asisten saya.”

“Baik, Pak.” Lumi menutup buku catatannya, meneguk teh. Senyumnya kecil, tapi puas.

Ini kontrak enam bulan. Drama akan datang, tentu saja… tapi setidaknya, ini bukan bencana dari menit pertama.

Mereka duduk beberapa saat, tenang. Tidak perlu banyak bicara. Dan Lumi sadar satu hal lagi:

diamnya Kira Mahesa… justru lebih menenangkan daripada perkataan semua klien sebelumnya.

Setelah kedua dokumen ditandatangani, Kira menatap Lumi sebentar, seperti menimbang sesuatu yang tidak tertulis.

“Masih ada beberapa hal,” katanya, pelan tapi tegas. “Aturan ini tidak tertulis di kontrak, tapi… penting.”

Lumi mencondongkan badan, menahan napas. Uh-oh… pasti bakal absurd.

“Pertama,” Kira melanjutkan, “di depan umum atau keluarga saya, Anda harus memanggil saya ‘suami’.”

Lumi menelan ludah. Suami… di depan umum? Ia tersenyum tipis. “Oke… profesional. Bisa diatur.”

“Dan sebaliknya,” tambah Kira, “Anda tetap dipanggil ‘istri’, bukan Mbak Lumi atau sebutan lain, saat bersama keluarga saya.”

Lumi mengangkat alis. Lumayan strict, tapi masuk akal… kalau ini mau terlihat nyata.

Kira menarik napas panjang. “Kedua… Anda akan tinggal di rumah saya. Alasan? Orang tua saya bisa datang kapan saja. Jadi agar semua terlihat natural, kita perlu satu alamat tetap.”

Lumi nyaris tersedak minuman. Tinggal satu rumah?! Bibirnya menegang, tapi ia menahan diri. “Satu rumah… selama enam bulan?”

“Ya,” jawab Kira singkat. “Privasi dijaga sesuai kontrak. Tidak ada tamu kecuali sudah disepakati.”

Lumi menunduk sebentar, menghitung mental stamina. Oke, ini lebih dari yang gue bayangkan. Tapi… bayaran gila tadi… worth it.

Kira menatap Lumi lagi. “Dan terakhir… karena keluarga saya ingin semuanya terlihat resmi, akan ada prosesi ijab kabul sederhana. Hanya formalitas, tidak ada konsekuensi hukum. Tapi itu bagian dari kesepakatan.”

Lumi menelan ludah, menatap kopi. “Ijab kabul… formalitas… six-month marriage… oke… this is officially insane.

Di dalam hati, Lumi menghitung:

Panggilan harus konsisten di depan umum → bisa di-handle.

Tinggal satu rumah → oke, mental siap, tapi… bawa banyak snack.

Ijab kabul → loh… serius, tapi kalau formalitas… fine.

Ia menghela napas panjang. “Baik, Pak. Semua terdengar jelas. Saya bisa lakukan.”

Kira menatapnya sekali, anggukan singkat. Sunyi sebentar, lalu ia tersenyum tipis—untuk pertama kalinya hari itu. Lumi menatapnya balik, tersenyum juga, tapi di dalam hati… oke, ini bakal panjang, tapi… kalau Kira Mahesa se-profesional ini… mungkin gue nggak salah ambil kontrak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Canggung yang Sangat Terasa

    Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Arisan

    Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Nama itu!

    Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Siapa Anggi?

    Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Kekacauan ini!

    Gedung Mahesa Pratama Group berdiri dengan fasad kaca gelap setinggi dua puluh lantai di kawasan bisnis Sudirman. Logo perak bertuliskan PT. MPG terpasang sederhana tapi mencolok di lobi. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal.Kira melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Satpam langsung berdiri tegak.“Selamat pagi, Pak Kira.”Ia hanya mengangguk tipis. Begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah lebih datar. Tidak ada sisa kekacauan pagi tadi. Tidak ada jejak Lumi jatuh menimpanya. Tidak ada memori tatapan canggung. Seolah itu hanya glitch dalam sistem hidupnya.Begitu keluar di lantai 20, sekretarisnya, Raline, langsung berdiri.“Pak, meeting dengan investor Surabaya dipercepat jadi jam sebelas. Dan laporan progres proyek Mahesa Residence tahap dua sudah saya taruh di meja Anda. Tapi ada sedikit kendala di pembebasan lahan.”“Kendala atau penolakan?” tanya Kira tanpa berhenti berjalan.“Penolakan, Pak. Salah satu pemilik

  • Terima Jasa Sewa Sebagai Istri   Kebetulan atau?

    Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di meja makan. Lumi berusaha terlihat segar meski rambutnya masih terasa menyimpan jejak “sidak”, sementara Kira kembali ke mode tenang yang nyaris menyebalkan karena terlalu stabil.Akila dan Nayla duduk berhadapan dengan mereka, ekspresi keduanya seperti dua reporter infotainment yang baru saja mendapatkan bahan headline.“Kak Kira nggak kerja?” tanya Nayla polos tapi jelas penuh muatan.Kira menuang air ke gelasnya sebelum menjawab dengan nada santai, “Saya atur jadwal sendiri hari ini. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.”“Wah, fleksibel sekali,” komentar Akila sambil membuka tas besar yang ia bawa. Ia mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan satu per satu dengan bangga. “Kita bawain sarapan dari rumah. Ini Mama yang masak. Katanya kasihan kalau menantu barunya cuma makan roti tawar atau sereal instan.”Lumi langsung menegakkan badan. “Astaga, Ibu Indah masak langsung? Aku jadi merasa bersalah.”“Bersalah kenapa?” tanya Nay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status