LOGINLumi Savira duduk di restoran minimalis, memilih meja dekat jendela. Ia menyesap teh hangat sambil menunggu.
Tak lama, seorang pria masuk. Tinggi, tegap, bersih, dengan jaket blazer gelap yang pas di bahu. Rambutnya hitam, rapi, tapi tidak terlalu kaku; matanya tajam, menatap dunia seperti selalu menimbang setiap gerakan.
Lumi menelan ludah. Oke, ini… bisa bikin kontrak jadi mudah atau bikin kepala gue meledak.
Pria itu duduk tanpa banyak bicara. Hanya menatap menu sebentar, lalu menutupnya dan menatap Lumi.
“Lumi Savira?” suaranya rendah, tenang, tapi berat.
“Ya, Pak… eh, Pak Kira,” jawab Lumi, tetap profesional, sambil menaruh tangan di atas meja.
Kira mengangguk singkat. Tidak senyum. Tidak basa-basi. Lumi menarik napas pelan, sambil diam-diam mencatat mental: badan tinggi, postur rapi, aura dingin tapi tidak menakutkan. Bibir tipis, alis rapi, mata tajam. Profesional banget… tapi lumayan enak dipandang. Fokus ke kontrak, jangan baper, Lumi.
Ia memulai, menulis beberapa poin di buku catatannya:
“Baik, Pak. Saya senang bertemu. Sebelum kita mulai, ada beberapa hal yang harus jelas:”
Kira mengangkat satu alis, menunggu.
“Pertama,” Lumi mulai cepat, “ini kontrak enam bulan. Semua peran istri profesional. Dua kali makan keluarga per minggu, beberapa acara sosial, perjalanan sesekali. Saya akan selalu menjaga batas—tidak ada hubungan fisik, tidak ada keterlibatan perasaan, tidak ada komunikasi di luar kontrak kecuali kebutuhan mendesak.”
Kira menatapnya datar. “Noted.”
“Dua,” Lumi melanjutkan, “nama saya tidak boleh disebut ke siapa pun setelah kontrak selesai. Privasi mutlak. Dan saya boleh cabut kapan saja kalau terjadi hal berbahaya atau perilaku yang tidak sesuai kesepakatan.”
Sekali lagi, Kira hanya mengangguk. Nada bicaranya tetap sama, nyaris monolog.
“Baik, Pak. Untuk bayaran,” Lumi membuka catatan, “setengah di transfer di muka. Sisanya dibayar paling lambat satu bulan sebelum kontrak selesai. Transparan dan profesional.”
Kira menatap Lumi, menimbang, lalu mengangkat tangan sedikit. “Jumlah? Sesuai kesepakatan email?”
“Ya, Rp 10.000.000 per hari,” jawab Lumi datar, tapi di dalam hati… Wow, ini gila, tapi worth it.
Kira hanya mengangguk. Tidak komentar. Tidak senyum. Hanya ketenangan yang bikin Lumi lega sekaligus tegang.
Lumi menarik napas panjang. “Bagus. Kalau semuanya sudah jelas, kita tanda tangan kontrak, dan saya mulai sesuai jadwal yang disepakati.”
Kira mengeluarkan dokumen dari tas kulitnya, meletakkan di meja, dan menunggu Lumi menandatangani. Lumi menandatangani, lalu menatap Kira. Ia tersenyum tipis, merasa lega: oke, profesional, batas jelas, klien disiplin, tidak banyak drama… ini… bisa ditangani.
Di dalam hati, Lumi menyimpulkan:
“Tidak salah pilih kontrak. Kira Mahesa, suami enam bulan ini, ternyata… jauh lebih gampang di-handle daripada Pak Rudi.”Kira menutup dokumen. “Mulai minggu depan. Jadwal sudah dikirim ke asisten saya.”
“Baik, Pak.” Lumi menutup buku catatannya, meneguk teh. Senyumnya kecil, tapi puas.
Ini kontrak enam bulan. Drama akan datang, tentu saja… tapi setidaknya, ini bukan bencana dari menit pertama.Mereka duduk beberapa saat, tenang. Tidak perlu banyak bicara. Dan Lumi sadar satu hal lagi:
diamnya Kira Mahesa… justru lebih menenangkan daripada perkataan semua klien sebelumnya.Setelah kedua dokumen ditandatangani, Kira menatap Lumi sebentar, seperti menimbang sesuatu yang tidak tertulis.
“Masih ada beberapa hal,” katanya, pelan tapi tegas. “Aturan ini tidak tertulis di kontrak, tapi… penting.”
Lumi mencondongkan badan, menahan napas. Uh-oh… pasti bakal absurd.
“Pertama,” Kira melanjutkan, “di depan umum atau keluarga saya, Anda harus memanggil saya ‘suami’.”
Lumi menelan ludah. Suami… di depan umum? Ia tersenyum tipis. “Oke… profesional. Bisa diatur.”
“Dan sebaliknya,” tambah Kira, “Anda tetap dipanggil ‘istri’, bukan Mbak Lumi atau sebutan lain, saat bersama keluarga saya.”
Lumi mengangkat alis. Lumayan strict, tapi masuk akal… kalau ini mau terlihat nyata.
Kira menarik napas panjang. “Kedua… Anda akan tinggal di rumah saya. Alasan? Orang tua saya bisa datang kapan saja. Jadi agar semua terlihat natural, kita perlu satu alamat tetap.”
Lumi nyaris tersedak minuman. Tinggal satu rumah?! Bibirnya menegang, tapi ia menahan diri. “Satu rumah… selama enam bulan?”
“Ya,” jawab Kira singkat. “Privasi dijaga sesuai kontrak. Tidak ada tamu kecuali sudah disepakati.”
Lumi menunduk sebentar, menghitung mental stamina. Oke, ini lebih dari yang gue bayangkan. Tapi… bayaran gila tadi… worth it.
Kira menatap Lumi lagi. “Dan terakhir… karena keluarga saya ingin semuanya terlihat resmi, akan ada prosesi ijab kabul sederhana. Hanya formalitas, tidak ada konsekuensi hukum. Tapi itu bagian dari kesepakatan.”
Lumi menelan ludah, menatap kopi. “Ijab kabul… formalitas… six-month marriage… oke… this is officially insane.”
Di dalam hati, Lumi menghitung:
Panggilan harus konsisten di depan umum → bisa di-handle.
Tinggal satu rumah → oke, mental siap, tapi… bawa banyak snack.
Ijab kabul → loh… serius, tapi kalau formalitas… fine.
Ia menghela napas panjang. “Baik, Pak. Semua terdengar jelas. Saya bisa lakukan.”
Kira menatapnya sekali, anggukan singkat. Sunyi sebentar, lalu ia tersenyum tipis—untuk pertama kalinya hari itu. Lumi menatapnya balik, tersenyum juga, tapi di dalam hati… oke, ini bakal panjang, tapi… kalau Kira Mahesa se-profesional ini… mungkin gue nggak salah ambil kontrak.
Pagi hari di rumah Kira berjalan lebih tenang dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang besar. Meja sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana yang disiapkan oleh pembantu rumah. Lumi baru saja duduk ketika Kira sudah lebih dulu berada di sana.Ia mengenakan kemeja kerja, lengan bajunya digulung sedikit. Di depannya ada laptop yang terbuka dan secangkir kopi hitam yang hampir habis. Begitu Lumi duduk, Kira mengangkat pandangannya sebentar.“Duduk.”Nada suaranya datar seperti biasa. Lumi sebenarnya sudah duduk, tapi tetap mengangguk kecil.“Iya…”Ia mengambil sendok, tapi gerakannya sedikit kaku. Bayangan semalam muncul lagi di kepalanya. Kira di kamarnya menyentuh dahinya dan berdiri terlalu dekat. Lumi buru-buru fokus pada piringnya. Namun sebelum ia sempat makan, suara ponsel Kira berdering di atas meja.Kira langsung mengangkatnya.“Ya.”Lumi mencoba terlihat biasa saja sambil mulai makan. Namun beberapa detik kemudian ia mendengar nama itu.“Anggi?”Se
POV Kira Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan. Suasana langsung menjadi lebih sunyi. Lumi turun lebih dulu dari mobil. Ia menggumamkan sesuatu seperti ucapan terima kasih yang terdengar terburu-buru, lalu hampir setengah berlari masuk ke dalam rumah.Pintu tertutup. Kira masih duduk di dalam mobil. Tangannya tetap berada di atas setir, matanya menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali. Lalu perlahan ia menyandarkan punggung ke kursi. Sunyi. Namun pikirannya tidak setenang wajahnya. Bayangan Lumi di mobil tadi muncul lagi tanpa diminta. Wajahnya yang tiba-tiba memerah. Cara perempuan itu langsung membeku saat ia mengangkat tangan. Kira menghela napas pendek. Ia bahkan tidak berpikir panjang waktu itu. Hanya refleks. Ketika melihat noda sambal di pelipis Lumi, tangannya langsung bergerak membersihkannya. Sesederhana itu. Namun reaksi Lumi seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang besar. Kira menutup mata sejenak. Hal lain juga kembali
Aroma makanan mulai memenuhi dapur. Udang saus mentega, sup seafood, dan beberapa hidangan lain sudah tertata rapi di atas meja panjang. Lumi membantu Bu Rini dan Sari memindahkan piring-piring ke ruang makan. “Bagus sekali,” kata Ibu Indah sambil melihat meja yang sudah hampir penuh. “Sudah lama rumah ini tidak seramai ini. Sayang Alika dan Nayla mereka masih belum pulang." Lumi tersenyum kecil. Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka dari ruang tengah. Klik. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Lumi yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti di tempat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Sepertinya Kira sudah pulang,” kata Ibu Indah santai dari belakangnya. Kalimat itu membuat Lumi makin kaku. Beberapa detik kemudian langkah kaki itu semakin mendekat. Dan benar saja—Kira muncul di ambang pintu ruang makan. Masih dengan setelan kerja, jasnya tersampir di lengan. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi ekspresinya tetap se
Hari ini Lumi tidak keluar sama sekali dari kamarnya, setelah kejadian kemaren ia merasa malu bertemu Kira. Bayangan ia memeluk Kira karena ketakutan dan ia bersandar di bahu Kira karena demam membuatnya malu. Berani sekali dirinya melakukan itu. Beruntung Kira tidak marah. Lumi duduk di sofa dalam kamar, televisi menyala menyiarkan berita gosip. Tapi matanya tidak benar-benar menyimak acara itu. Khayalannya melayang ke kejadia kemaren. "Aaaaaa aku maluuuu!" teriaknya frustasi, Lumi mengambil susu dingin yang di buat oleh Kira. Saat ia sedang memindah-mindah chanel telponnya berdering. Dan ada nama Ibu Indah di layar telponnya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo, Bu?” “Lumi, kamu lagi di rumah dan nggak sibuk?” “Iya, Bu.” "Temenin ibu masak yuk buat kita makan malem bareng. Ibu banyak beli seafood nih." "Seakarang bu kerumahnya?" "Iya dong. Masa besok." kelakar ibu Indah di telpon membuat Lumi tersenyum. Setelah berpikir sejenak Lumi mengiyakan permintaan Ibu Indah
Ruang rapat lantai dua puluh itu dipenuhi cahaya dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Di tengah ruangan, meja panjang sudah dipenuhi berkas kerja sama, tablet, dan beberapa cangkir kopi yang mulai dingin.Kira duduk di sisi kanan meja. Ekspresinya sama seperti biasanya—tenang, datar, sulit dibaca. Di seberangnya, Anggi memegang pulpen sambil membaca dokumen terakhir yang baru saja dipresentasikan oleh tim legal.Beberapa staf dari kedua perusahaan masih berada di ruangan itu. Presentasi hampir selesai.“Kami sudah meninjau revisi pada poin distribusi regional,” kata salah satu manajer dari perusahaan Anggi. “Jika tidak ada perubahan tambahan, tahap implementasi bisa dimulai bulan depan.”Kira mengangguk sedikit.“Itu sesuai dengan timeline yang kami rencanakan.”Anggi menutup dokumen di depannya.“Perusahaan kami juga tidak memiliki keberatan,” katanya dengan nada profesional. “Selama laporan audit tetap transparan seperti yang sudah disepakati.”“Sudah menja
Kira menunggu cukup lama sampai napas Lumi benar-benar teratur. Perempuan itu akhirnya tertidur lagi setelah minum obat. Wajahnya masih pucat, tapi kerutan di dahinya sudah menghilang. Tidak ada lagi gumaman takut. Tidak ada lagi tubuh yang gelisah.Kira berdiri perlahan dari sisi tempat tidur. Ia menarik selimut Lumi sedikit lebih tinggi, memastikan bahunya tertutup. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di dahi Lumi—mengecek suhu tubuhnya sekali lagi. Masih hangat. Tapi tidak setinggi tadi.“Tidur saja,” gumamnya pelan.Kira keluar dengan langkah hati-hati. Pintu ditutup tanpa suara. Ruang kerja Kira berada di ujung lorong lantai dua. Ruangan itu selalu terasa berbeda dari bagian rumah lain. Lebih sunyi. Lebih… dingin.Di sinilah sebagian besar waktunya dihabiskan. Laptop sudah menyala di atas meja. Beberapa dokumen digital menunggu persetujuan. Rapat pagi sudah ia batalkan, tapi bukan berarti pekerjaannya ikut berhenti.Kira duduk. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Membal







