LOGINAnastasya mendatangi kembali klinik sahabatnya. Arini sudah menunggu sejak tadi.
"Sya... Akhirnya Lo datang. Gue mau ngasih tahu hasil pemeriksaan Lo. Gue saranin Lo segera ke rumah sakit besar dan lakukan pengobatan disana." Anastasya mengambil hasil tesnya, ternyata ia positif menderita kanker serviks stadium 2. Tangannya bergetar begitu mengetahui hasil lab tersebut, ia menangis dipelukan Arini. "Gue gak mau mati, Rin... gue pengen ngasih keturunan buat Dirga," ucapnya. "Lo gak akan mati, Sya. Lo masih bisa punya keturunan juga, Lo pasti sembuh." "Gue takut, Rin... gue takut..." "Lo gak usah takut, ada gue yang bakal support Lo. Sekarang gue bikinin surat rujukan ya, nanti biar Evan yang antar Lo." "Gue bingung mesti kasih alasan apa buat Dirga," ucap Anastasya seraya mengelap air matanya. "Dirga harus tahu, Sya! Masalah sebesar ini gak bisa kamu telan sendiri," ujar Arini. "Aku takut dia bakalan ninggalin aku, Rin." "Sya, denger aku... Jika Dirga pergi saat kamu butuh support dia, berrti dia laki-laki bedebah yang gak pantas kamu cintai!" Setelah berfikir sejenak, dan dengan tangan gemetar memegang amplop hasil lab."Baiklah, Rin. Aku akan bilang ke Dirga malam ini."
Arini mengangguk lega, lalu memeluk sahabatnya sekali lagi.
"Apapun yang terjadi, aku di sini. Evan juga sudah siap bantu koordinasi dengan rumah sakit kanker terbaik di Jakarta. Kamis pagi kita berangkat bareng, ya." Anastasya hanya bisa mengangguk lemah.
**
Malam itu, Dirga pulang lebih awal dari yang dijanjikan. Wajahnya lelah, tapi senyumnya langsung mengembang saat melihat istrinya sudah menunggu di ruang keluarga dengan teh hangat dan camilan favoritnya.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? Kok pulang cepat?" tanya Dirga sambil melepas jas dan duduk di samping Anastasya, langsung memeluk pinggangnya.
Anastasya tersenyum tipis, tapi matanya tak bisa berbohong. Dirga langsung menyadari ada yang tidak beres.
"Kenapa? Kamu nangis? Ada apa?"
Anastasya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air mata yang sudah ditahannya sejak siang akhirnya jatuh lagi. Dengan suara bergetar, ia menceritakan semuanya, mulai dari nyeri yang tak biasa, bercak darah setelah hubungan intim, hingga hasil pemeriksaan Arini hari ini.
"Aku ...Cervical cancer, stadium 2, Bang."
Sesaat Dirga membeku. Wajahnya pucat, tangannya yang memeluk Anastasya perlahan melemas.
"Apa...? Kamu... kanker?"
Anastasya mengangguk, air matanya semakin deras. "Maaf, Bang... Aku takut banget. Aku takut gak bisa kasih kamu anak. Aku takut... ninggalin kamu."
Dirga langsung menarik istrinya ke dalam pelukan erat. Tubuhnya bergetar. Pria yang biasanya selalu tegar itu kini menangis tanpa suara, dagunya bertumpu di puncak kepala Anastasya.
"Kamu gila ya... maaf buat apa? Ini bukan salah kamu. Ini bukan salah siapa-siapa," bisiknya parau.
"Kita akan lawan ini bareng. Aku gak akan ninggalin kamu. Gak pernah."
Mereka berpelukan lama sekali. Dirga menciumi kening, pipi, dan bibir Anastasya berkali-kali, seolah takut istrinya akan hilang jika ia melepaskan pelukan sedikit saja.
"Aku akan minta cuti panjang. Besok aku ikut ke rumah sakit. Kita cari dokter terbaik. Biaya, pengobatan, apapun aku urus. Kamu cukup fokus untuk sembuh."
"Bang... tapi Mama Sri?"
Dirga menggeleng tegas. "Mama urusan belakangan. Yang penting sekarang kamu. Aku gak peduli lagi soal cucu kalau harus kehilangan kamu."
Malam itu mereka tidur sambil berpelukan erat. Dirga tak melepaskan Anastasya sedetik pun, tangannya terus mengusap punggung istrinya yang sesekali tersedu.
**
Keesokan paginya, Dirga membatalkan semua meeting pentingnya. Ia ikut Anastasya dan Arini ke rumah sakit besar di Jakarta. Setelah serangkaian pemeriksaan lanjutan, dokter onkologi mengonfirmasi diagnosis Cervical Cancer Stadium 2B.
"Ada harapan besar untuk kesembuhan total," kata dokter dengan tenang.
"Kita bisa lakukan kemoterapi dan radiasi, atau operasi jika memungkinkan. Tapi... kemungkinan untuk hamil secara alami akan sangat kecil setelah pengobatan."
Anastasya hanya diam mendengarnya. Dirga langsung meraih tangan istrinya dan menciumnya.
"Kita bisa adopsi nanti. Atau surrogacy. Yang penting kamu sembuh dulu," bisik Dirga tegas.
Sore harinya, saat mereka kembali ke Bandung, Mama Sri tiba-tiba datang ke rumah mereka tanpa pemberitahuan. Wajahnya tegang.
"Dirga, Mama dengar kamu batalin meeting penting hari ini. Ada apa? Jangan bilang ini karena istri kamu yang--"
"Mah, Anastasya sakit. Kanker serviks. Stadium 2." potong Dirga.
Mama Sri terdiam. Wajahnya berubah beberapa kali, antara kaget, tak percaya, lal. khawatir.
"Ya Tuhan... serius?"
"Iya, Mah. Dan mulai sekarang, Mama jangan lagi bahas soal cucu di depan Anna. Aku mohon. Kalau Mama masih memaksa soal istri kedua, Dirga akan pilih Ana. Selamanya."
Mama Sri terduduk di sofa. Untuk pertama kalinya, ia tak membantah. Ia hanya memandang Anastasya yang duduk di sebelah Dirga dengan wajah pucat.
"Maafkan Mama selama ini, Nak... Mama udah maksa kamu," ucap Mama Sri, suaranya bergetar.
Anastasya hanya tersenyum lemah dan mengangguk. Ia terlalu lelah untuk marah. Malam itu, setelah Mama Sri pulang, Dirga memeluk Anastasya dari belakang di balkon kamar mereka.
"Kamu gak sendiri, Sayang. Aku, Arini, bahkan Mama... kita semua akan bareng-bareng lawan ini."
Anastasya menoleh, matanya masih berkaca-kaca tapi ada sedikit cahaya harapan di sana.
"Bang... kalau aku botak nanti karena kemo, kamu masih sayang gak?"
Dirga tertawa kecil sambil mencium pipinya.
"Aku malah tambah sayang. Kamu tetap cantik. Bidadari aku, sakit atau sehat."
Anastasya tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Terima kasih udah ada disamping akua, Bang..."
Sementara itu, diam-diam Mama Sri memnghubungi Tania.
"Hallo, Tania, ini Tante. Ada yang mau tante bahas sama kamu, penting."
***
Anastasya mendatangi kembali klinik sahabatnya. Arini sudah menunggu sejak tadi."Sya... Akhirnya Lo datang. Gue mau ngasih tahu hasil pemeriksaan Lo. Gue saranin Lo segera ke rumah sakit besar dan lakukan pengobatan disana."Anastasya mengambil hasil tesnya, ternyata ia positif menderita kanker serviks stadium 2. Tangannya bergetar begitu mengetahui hasil lab tersebut, ia menangis dipelukan Arini."Gue gak mau mati, Rin... gue pengen ngasih keturunan buat Dirga," ucapnya."Lo gak akan mati, Sya. Lo masih bisa punya keturunan juga, Lo pasti sembuh.""Gue takut, Rin... gue takut...""Lo gak usah takut, ada gue yang bakal support Lo. Sekarang gue bikinin surat rujukan ya, nanti biar Evan yang antar Lo.""Gue bingung mesti kasih alasan apa buat Dirga," ucap Anastasya seraya mengelap air matanya."Dirga harus tahu, Sya! Masalah sebesar ini gak bisa kamu telan sendiri," ujar Arini."Aku takut dia bakalan ninggalin aku, Rin.""Sya, denger aku... Jika Dirga pergi saat kamu butuh support dia,
"Kamu ngomong apa sih? Gak ada! Bagi aku, kamu sudah cukup. Sudah, jangan bahas hal ini lagi, aku gak suka!"Dirga melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi Anastasya."Bang ... Aku ikhlas jika abang mau menikah lagi, aku serius!"Anastasya tetap dengan pendiriannya, ia sadar bahwa kemungkinan untuk memiliki anak relatif kecil, walaupun penyakitnya belum pasti apakah kanker servik atau bukan."Beban di kepalaku sudah cukup banyak, jangan tambah beban lagi Tasya... please.""Maafkan aku bang, aku tidak bermaksud untuk ...""Sst ... cukup, aku mau ke ruang kerja dulu, besok ada meeting penting. Good nite... i love you..."Dirga mengecup kening istrinya lalu pergi dari kamarnya, Anastasya pun terbaring lesu."Bang, seandainya kamu tahu bahwa aku sakit..." gumamnya.Anastasya terjaga, ia menunggu suaminya yang tak kunjung kembali ke dalam kamarnya, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia pun menyusul Dirga ke ruang kerjanya, ia melihat suaminya tertidur di atas berkas d
“Cervical Cancer …,” ucap Arini pelan.“A-apa?? Cervical cancer? Serviks? No… no… pasti salah, pasti ada yang gak bener!”Anastasya berusaha tidak mempercayai semua ucapan sahabatnya itu, ia menolak kenyataan yang baru saja didengarnya."Sya ... baru praduga Sya, kita perlu diagnosis awal buat memastikannya, hari kamis lu kesini lagi. Kita lakukan pap smear ya, lu tenang dulu, oke."Arini berusaha menenangkan Anastasya yang terpukul atas berita yang baru saja didengarnya. Ya, Anastasya tidak bisa berkata apapun, dia tampak shock. Anastasya membenamkan kepalanya di atas meja, menangisi nasibnya yang malang."Gue takut Rin, apa itu sebabnya gue sampai sekarang gak bisa punya anak?""Kita belum yakin seratus persen sebelum tes awal. Denger Sya, gue bakalan selalu ada di samping lo, ingat ... everything gonna be ok."Arini beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Anastasya yang berada di depan meja nya, ia mengelus punggung Anastasya dengan lembut. Merasakan punggung sahabatnya
"Percuma kamu lap pake sapu tangan itu, nodanya udah menempel dan tidak bisa hilang dengan di lap seperti itu," ucap pria itu datar."Sekali lagi saya minta maaf, saya akan mengganti kemeja anda, Pak." Anastasya tertunduk tanpa melihat lawan bicara."Ah ... sudahlah, Oh ya lain kali jika sedang berbicara, jangan menunduk seperti itu. Gak sopan namanya."Begitu pria tersebut berbicara seperti itu, RaAnastasya langsung mendongakan kepalanya. Pria tersebut menganga begitu melihat kecantikan Anastasya."Bidadari turun dari langit mana ini, cantiknya kebangetan ...," ujarnya dalam hati.Radeela yang ketakutan, buru-buru beranjak dari sana, ia membuka hellsnya lalu lari tunggang langgang meninggalkan laki-laki yang masih terpana melihat kecantikan parasnya.Dengan nafas terengah-engah, Anastasya berhasil menemukan kendaraanya, “Sial, kuncinya kan sama bang Dirga,” monolognya, mau tak mau ia pun bersembunyi di samping mobilnya.“Sayang, ngapain kamu jongkok disana?” Tanya Dirga kebingungan.
"Mas Dirga, ya?"Seorang wanita cantik datang menghampiri mereka. Dirga kelabakan, ia mulai gugup, jantungnya berdegup kencang. Sementara, Radeella kebingungan melihat wanita cantik dan seksi menghampiri mejanya."Siapa, bang?" Bisik Anstasya seraya menoleh ke arah wanita cantik tersebut."I-itu temen abang, sayang."Dirga berdiri lalu mengulurkan tangan pada wanita cantik di depannya. Wanita tersebut tersenyum lalu duduk di sebelah Dirga, sedangkan Anastasya duduk di seberang mereka berdua. Dirga memperkenalkan istrinya pada wanita tersebut."Sayang, perkenalkan ini rekan bisnis abang, namanya Tania Gunaldi Prastika.""Panggil saja saya Tania, Mbak Anstasya." Tania mengulurkan tangannya seraya tersenyum manis."Mbak Tania sudah tau nama saya rupanya, bang Dirga pasti sering menceritakan tentang saya ya, mbak?" Celotehnya seraya memberikan tatapan mautnya pada Dirga, suaminya."Hahaha ... Becanda mbak Tasya, kami jarang ketemu secara langsung, komunikasi kami kebanyakan by phone, kebe
"Dirga, istrimu itu kapan hamilnya? Kamu sudah menikah hampir dua tahun tapi belum juga dikasih keturunan, ibu ingin cepat - cepat menimang cucu. Jangan - jangan istrimu itu mandul?!"Dirga hanya bisa menunduk pasrah mendengar ucapan ibunya. Sungguh dilema baginya, ia sangat mencintai istrinya Radella namun ia pun tak mampu melawan ibunya, satu - satunya orang tua yang ia miliki."Mungkin Tuhan belum memberi kepercayaan pada kami, Mah."Dirga memberanikan diri berbicara di depan ibunya. Mama Sri yang tadinya duduk di singgasana kebesarannya, tiba - tiba berdiri dan pergi meninggalkan Dirga."Kamu tidak usah datang ke rumah mama lagi!"Mama Sri masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam, baru kali ini Dirga berani melawannya. Dirga berjalan ke arah kamar ibunya, ia mengetuk - ngetuk pintu namun ibunya tak bergeming."Mah... Dirga pulang dulu ya. Nanti Dirga kembali lagi kesini. Assalamualaikum."Akhirnya dengan berat hati, Dirga meninggalkan kediaman ibunya. Dengan langkah gont







