LOGINBukankah dalam rumah tangga semua suka duka harus di lalui bersama? Tak peduli sehat ataupun sakit. Namun keadaan berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh Anastasya Ramlan, sosok suami yang begitu dicintainya bahkan rumah tangga yang selalu harmonis, mendadak berbalik terbalik dengan harapannya. Sang suami justru meninggalkannya disaat dirinya, di vonis mengidap penyakit yang mematikan. Hancur? Sudah pasti. Bahkan lebih baik mati. Namun disaat keterpurukan mengepung hidup Anatasya, seseorang datang mengulurkan tangan, memberi Anastasya semangat dan bangkit untuk berjuang melawan penyakitnya. Lalu, bagaimanakah kehidupan Anastasnya selanjutnya? Akankah ia tetap terpuruk dan menyerah? Atau berusaha bangkit dan menerima uluruan tangan dari seseorang itu?
View MoreAnastasya mendatangi kembali klinik sahabatnya. Arini sudah menunggu sejak tadi."Sya... Akhirnya Lo datang. Gue mau ngasih tahu hasil pemeriksaan Lo. Gue saranin Lo segera ke rumah sakit besar dan lakukan pengobatan disana."Anastasya mengambil hasil tesnya, ternyata ia positif menderita kanker serviks stadium 2. Tangannya bergetar begitu mengetahui hasil lab tersebut, ia menangis dipelukan Arini."Gue gak mau mati, Rin... gue pengen ngasih keturunan buat Dirga," ucapnya."Lo gak akan mati, Sya. Lo masih bisa punya keturunan juga, Lo pasti sembuh.""Gue takut, Rin... gue takut...""Lo gak usah takut, ada gue yang bakal support Lo. Sekarang gue bikinin surat rujukan ya, nanti biar Evan yang antar Lo.""Gue bingung mesti kasih alasan apa buat Dirga," ucap Anastasya seraya mengelap air matanya."Dirga harus tahu, Sya! Masalah sebesar ini gak bisa kamu telan sendiri," ujar Arini."Aku takut dia bakalan ninggalin aku, Rin.""Sya, denger aku... Jika Dirga pergi saat kamu butuh support dia,
"Kamu ngomong apa sih? Gak ada! Bagi aku, kamu sudah cukup. Sudah, jangan bahas hal ini lagi, aku gak suka!"Dirga melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi Anastasya."Bang ... Aku ikhlas jika abang mau menikah lagi, aku serius!"Anastasya tetap dengan pendiriannya, ia sadar bahwa kemungkinan untuk memiliki anak relatif kecil, walaupun penyakitnya belum pasti apakah kanker servik atau bukan."Beban di kepalaku sudah cukup banyak, jangan tambah beban lagi Tasya... please.""Maafkan aku bang, aku tidak bermaksud untuk ...""Sst ... cukup, aku mau ke ruang kerja dulu, besok ada meeting penting. Good nite... i love you..."Dirga mengecup kening istrinya lalu pergi dari kamarnya, Anastasya pun terbaring lesu."Bang, seandainya kamu tahu bahwa aku sakit..." gumamnya.Anastasya terjaga, ia menunggu suaminya yang tak kunjung kembali ke dalam kamarnya, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia pun menyusul Dirga ke ruang kerjanya, ia melihat suaminya tertidur di atas berkas d
“Cervical Cancer …,” ucap Arini pelan.“A-apa?? Cervical cancer? Serviks? No… no… pasti salah, pasti ada yang gak bener!”Anastasya berusaha tidak mempercayai semua ucapan sahabatnya itu, ia menolak kenyataan yang baru saja didengarnya."Sya ... baru praduga Sya, kita perlu diagnosis awal buat memastikannya, hari kamis lu kesini lagi. Kita lakukan pap smear ya, lu tenang dulu, oke."Arini berusaha menenangkan Anastasya yang terpukul atas berita yang baru saja didengarnya. Ya, Anastasya tidak bisa berkata apapun, dia tampak shock. Anastasya membenamkan kepalanya di atas meja, menangisi nasibnya yang malang."Gue takut Rin, apa itu sebabnya gue sampai sekarang gak bisa punya anak?""Kita belum yakin seratus persen sebelum tes awal. Denger Sya, gue bakalan selalu ada di samping lo, ingat ... everything gonna be ok."Arini beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Anastasya yang berada di depan meja nya, ia mengelus punggung Anastasya dengan lembut. Merasakan punggung sahabatnya
"Percuma kamu lap pake sapu tangan itu, nodanya udah menempel dan tidak bisa hilang dengan di lap seperti itu," ucap pria itu datar."Sekali lagi saya minta maaf, saya akan mengganti kemeja anda, Pak." Anastasya tertunduk tanpa melihat lawan bicara."Ah ... sudahlah, Oh ya lain kali jika sedang berbicara, jangan menunduk seperti itu. Gak sopan namanya."Begitu pria tersebut berbicara seperti itu, RaAnastasya langsung mendongakan kepalanya. Pria tersebut menganga begitu melihat kecantikan Anastasya."Bidadari turun dari langit mana ini, cantiknya kebangetan ...," ujarnya dalam hati.Radeela yang ketakutan, buru-buru beranjak dari sana, ia membuka hellsnya lalu lari tunggang langgang meninggalkan laki-laki yang masih terpana melihat kecantikan parasnya.Dengan nafas terengah-engah, Anastasya berhasil menemukan kendaraanya, “Sial, kuncinya kan sama bang Dirga,” monolognya, mau tak mau ia pun bersembunyi di samping mobilnya.“Sayang, ngapain kamu jongkok disana?” Tanya Dirga kebingungan.
"Mas Dirga, ya?"Seorang wanita cantik datang menghampiri mereka. Dirga kelabakan, ia mulai gugup, jantungnya berdegup kencang. Sementara, Radeella kebingungan melihat wanita cantik dan seksi menghampiri mejanya."Siapa, bang?" Bisik Anstasya seraya menoleh ke arah wanita cantik tersebut."I-itu te
"Dirga, istrimu itu kapan hamilnya? Kamu sudah menikah hampir dua tahun tapi belum juga dikasih keturunan, ibu ingin cepat - cepat menimang cucu. Jangan - jangan istrimu itu mandul?!"Dirga hanya bisa menunduk pasrah mendengar ucapan ibunya. Sungguh dilema baginya, ia sangat mencintai istrinya Rade


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews