Se connecter“Heh! Kamu ngapain aja sama Kak Edgar pas aku tinggal tadi malam?” tanya Mila melalui panggilan telepon.Safna terdiam. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang yang sudah dua hari tidak ditinggali. Gadis itu menghela napas sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari sahabatnya.“Nggak ngapa-ngapain. Seharusnya aku yang tanya, kamu ke mana sama Malik? Kenapa pas aku pulang kalian belum pulang?” “Nggak ke mana-mana. Dia cuma ngajak makan doang. Dia nggak bolehin aku naik, katanya nggak boleh ganggu kalian. Padahal itu apartemen aku,” ujar Mila mencibir Safna.“Bilang aja kamu kurang puas ngintipnya.”“Iih, kok tahu, sih? Mana nanggung banget lagi kurang dikit lagi kalian bakal ciuman. Sayang banget si Malik Malik itu datang. Coba kalau nggak–”“Mila!” geram Safna yang merasa malu pada sahabatnya itu.“Apa sih?”“Udah ah, malu ege.”Mila langsung terkekeh di seberang sana. Suaranya ringan, tapi jelas penuh godaan.“Maluuuu?” ulangnya panjang. “Tumben banget ada yang bikin Safna si pali
Pintu yang terbuka itu seperti memutus sesuatu yang hampir terjadi. Udara di ruang tamu mendadak berubah.Safna langsung menjauh setengah langkah, napasnya masih belum stabil. Sementara Edgar… tetap di tempatnya. Tatapannya masih tenang, tapi rahangnya sedikit mengeras—gangguan yang datang di momen yang tidak tepat.Di ambang pintu, Malik berdiri tegak. Matanya masih tertuju pada keduanya, lalu perlahan bergeser—menilai situasi dengan cepat, seperti kebiasaannya.“Maaf,” ucap Malik akhirnya, datar. “Sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat.”Nada suaranya sopan. Profesional. Seolah yang barusan ia lihat bukan sesuatu yang… personal.Safna menunduk sedikit, merasa canggung.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Malik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya.“Masuk,” ucapnya singkat.Malik menggeleng tipis. “Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin memastikan keadaan Nona Safna.”Kalimat itu terdengar formal. Terlalu formal untuk situasi seperti ini.Safna mengangkat wajahnya
“Astaga—Safna… Kak Edgar di depan.”Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Safna tidak langsung bergerak. Napasnya tertahan di tenggorokan, jantungnya yang semula hanya berdegup cepat kini seperti menghantam dinding dadanya sendiri, liar, tak terkendali. Tidak. Tidak sekarang.“Buka,” ucapnya akhirnya, pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang baru saja panik.Mila menatapnya ragu beberapa detik, seolah berharap Safna akan berubah pikiran. Tapi tidak. Pada akhirnya, ia tetap memutar gagang pintu. Dan di sanalah dia. Edgar berdiri tegak dengan setelan rapi yang selalu melekat pada dirinya, seolah dunia tidak pernah cukup berantakan untuk mengusik penampilannya. Wajahnya tenang, terlalu tenang—namun matanya… Llangsung menemukan Safna.Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan dalam yang terasa seperti menarik Safna masuk ke sesuatu yang belum selesai.“Masuk dulu,” sela Mila cepat, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, mencoba menambal ketegangan yang tiba-tiba
Sudah satu minggu setelah berita skandal Edgar muncul. Kini kabar perselingkuhan dan kandasnya hubungan Maya dan Edgar sudah mulai hilang, tenggelam dengan berita lain. Bahkan, opini publik pun sudah mereda tidak sepanas beberapa waktu lalu.“Semua sudah selesai, Nak?” tanya Albert saat mereka sedang di halaman belakang rumah sambil minum teh di pagi hari.“Sudah. Semua sesuai rencana, Pah.”Albert mengangguk. Ia melipat koran di tangan lalu mengambil tablet di meja.“Bagus. Papa selalu percaya sama kamu. Coba lihat, perusahaan orang tua Maya mulai mencari klien baru yang mau investasi. Dia juga meminta papa supaya tidak membatalkan kerjasama. Menurutmu bagaimana?” ujar Albert sambil memperlihatkan tabletnya pada Edgar. Edgar mengambil gawai tersebut dan membaca email di dalamnya. Wajahnya masih datar seolah isi di dalamnya tak berarti apa-apa. Setelah selesai membaca, Edgar memgembalikan benda tersebut kepada papanya.Edgar terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya membuka suarany
Safna menghela napas panjang begitu pintu kamarnya tertutup. Bahunya terasa berat, bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk atau macetnya jalanan, tapi juga karena sesuatu yang sejak tadi ia tahan—rindu yang tak bisa ia akui.Ia sengaja menyibukkan diri seharian. Menumpuk pekerjaan, menahan diri untuk tidak membuka chat, tidak mengetik satu pesan pun untuk Edgar. Menjaga jarak seperti yang pria itu minta. Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin terasa kosong.“Sampai kapan ini akan berakhir,” gumam Safna pelanIa merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa tenaga. Tatapannya kosong ke langit-langit, seolah berharap jawabannya ada di sana.Baru saja matanya hendak terpejam tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.Safna mengernyit pelan. “Ya?”Pintu terbuka sedikit, dan kepala seorang perempuan paruh baya menyembul dengan senyum hangat.“Boleh mama masuk, sayang?” ujar Sofia lembut.Sofia melangkah masuk setelah Safna mengangguk pelan. Pintu ditutup perlahan di belakangnya, seolah ia tida
Edgar duduk santai di ruangannya. Suasana hatinya tidak terlalu buruk, tapi juga jauh dari kata baik. Ada sesuatu yang menggantung—seperti menunggu momen yang pasti akan datang.Tangannya sibuk membalik lembar demi lembar dokumen, sementara punggungnya bersandar malas pada kursi. Namun, gerakannya tiba-tiba terhenti saat suara ketukan pintu terdengar..“Masuk.”Suara Edgar tenang. Terlalu tenang.Pintu terbuka. Malik masuk dengan langkah cepat, ekspresinya lebih serius dari biasanya.“Pak, orang tua Nona Maya ada di depan. Mereka ingin bertemu.”Edgar mengangkat kepala. Tatapannya langsung berubah—lebih fokus, lebih tajam.Seperti predator yang akhirnya melihat mangsanya datang sendiri.“Biarkan mereka masuk.”Pintu ruang kerja Edgar terbuka tanpa banyak basa-basi. Sepasang pria dan wanita paruh baya melangkah masuk dengan wajah tegang—lebih tepatnya, marah yang ditahan.Malik menutup pintu di belakang mereka, lalu berdiri di samping dengan sikap profesional seperti biasa.“Silakan
“Kamu nggak mau tahu keadaan ku?” tanya Edgar membuat Safna yang sejak tadi duduk di sofa menoleh. Safna memang belum berbicara dengan Edgar semenjak pria itu sadar. Ia lebih memilih mendengarkan percakapan Albert dengan Edgar. “Aku sudah tahu.” Jawaban Safna nyaris hanya seperti gumaman saja, te
“Safna, kamu nggak papa, kan? Aku panik banget tahu, nggak?” ujar Fitri saat Edgar telah keluar dari ruangan itu.“Aku nggak papa, Kak. Cuma luka kecil aja.” Safna tersenyum tipis supaya Fitri tidak panik lagi. Sejak masuk ke ruangan itu, Fitri terlihat sangat khawatir. Bahkan, rambut yang tadinya
Keributan di basement mulai menarik perhatian beberapa karyawan yang belum pulang. Dua orang security yang berjaga di dekat pintu masuk parkir langsung berlari mendekat.“Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka.Fitri hampir menangis saat menjawab. “Dia—dia terserempet mobil!”Security itu langs
“Ekhem!”Safna dan beberapa rekan kerjanya menoleh hampir bersamaan saat mendengar deheman dari belakang. Obrolan mereka yang tadinya riuh langsung terhenti seperti kaset yang dipause.Mata mereka mengerjap hampir bersamaan ketika melihat siapa yang berdiri di sana. Edgar–pria itu berdiri tegak di







