Se connecterPintu ruang kerja Edgar tertutup pelan begitu Safna masuk ke dalam. Gadis itu masih membawa tablet dan beberapa map tipis di tangannya. Wajahnya terlihat lelah setelah meeting panjang hampir dua jam, tapi yang paling jelas justru ekspresi kesalnya.Edgar yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung mendekat begitu melihat Safna.“Akhirnya selesai juga,” gumamnya pelan.Safna mendelik kecil. “Kak Ega senang banget, ya, bikin aku malu.”Edgar mengernyit samar. “Karena telepon tadi?”“Bukan cuma tadi,” sahut Safna sambil meletakkan map di sofa dengan sedikit lebih keras dari biasanya. “Kak Malik sampai hampir datang ke ruang meeting. Semua orang lihat.”Edgar langsung melirik Malik yang berdiri tidak jauh dari pintu.Malik mengangkat kedua tangannya cepat. “Saya belum sempat masuk, Nona. Baru sampai depan ruangan langsung disuruh balik.”Lagi pula itu perintah Pak Edgar. Tentu hanya dapat dikatakan dalam hati oleh Malik.Safna menghela napas panjang. “Tetap aja.”Edgar berjalan mendeka
“Kak, kan tadi aku bilang jangan diganggu dulu. Aku baru mulai meeting satu divisi. Meetingnya berhenti gara-gara kamu nelpon. Mereka takut kalau itu penting,” ujar Safna pelan tapi jelas dengan nada sedikit ketus.“Aku cuma–”“Nanti aku kabari lagi. Jangan suruh Kak Malik datang ke sini atau aku nggak mau makan sama kamu. Lagian makan siang masih lama.”“Sayang–”“Udah ya, pokoknya jangan ganggu aku dulu. Tahu nggak si kak? Aku malu. Mereka nungguin aku selesai telfon,” ucap Safna sambil melirik rekan kerja di ruang meeting yang sedang menatapnya.Safna benar-benar merasa tidak enak. Walau mereka bilang tidak masalah, tapi percayalah… mereka mengatakan seperti itu karena takut dipecat oleh Edgar. Sedangkan di ruangannya Edgar tidak dapat menyela ucapan Safna. Entah kenapa sekarang Safna semakin bawel padanya.Safna langsung menutup telponnya begitu saja lalu tersenyum pada mereka. “Maaf, ya, jadi ketunda meetingnya.”“Nggak papa, daripada nanti gaji kita yang dipotong,” ujar salah
“Semua bukti sudah kamu serahkan ke polisi?” tanya Edgar di jok belakang. Pagi ini ia akan menemui Maya di kantor polisi. Tadinya Safna ingin ikut, tapi pria itu melarangnya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan melihat dari Maya yang menurutnya cukup gila.“Sudah, Pak. Anda yakin ini bikin dia jera?” tanya Malik sambil mengemudikan mobilnya.“Harus. Dia harus jera. Buat dia mendekam di penjara dan tidak ada celah untuk lolos.”“Baik, Pak.”Mobil berhenti tepat di depan gedung kantor polisi. Pagi itu tidak terlalu ramai, tapi cukup sibuk. Beberapa petugas lalu lalang, kendaraan keluar masuk halaman dengan ritme yang teratur. Berbeda dengan ketegangan yang diam-diam ikut turun bersama Edgar dari dalam mobil.Malik mematikan mesin, lalu menoleh sedikit ke belakang. “Sudah siap, Pak?”Edgar tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras, namun ekspresinya tetap tenang seperti biasa.“Tidak ada yang perlu disiapkan,” jawabnya akhirnya singkat.Ia mem
Keesokan paginya, suasana lobi kantor yang biasanya rapi dan tenang berubah menjadi riuh. Beberapa karyawan berdiri berkelompok, berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke satu arah yang sama. Suara sepatu beradu dengan lantai marmer terdengar cepat, tidak teratur—berbeda dari ritme kerja yang biasanya terkontrol.Di tengah semua itu— Maya berdiri. Rambutnya tidak serapi biasanya. Make up-nya masih ada, tapi sedikit berantakan. Matanya tajam, terlalu tajam, dengan emosi yang tidak lagi disembunyikan.“Kalian semua lihat, kan?!” suaranya meninggi, menggema di seluruh lobi. “CEO kalian itu… munafik!”Beberapa karyawan langsung saling pandang. Tidak ada yang berani mendekat, tapi tidak ada juga yang benar-benar pergi.Maya tertawa. Tiba-tiba. Pendek. Kering. Tidak wajar.“Lucu ya…” lanjutnya sambil menggeleng pelan. “Dia hancurin aku, terus sekarang dia santai-santai pacaran sama adiknya sendiri!”Bisik-bisik langsung semakin ramai. “Adik angkat!” sahut seseorang pelan dari belakang.May
Safna menatap pantulan dirinya di cermin cukup lama. Rambutnya masih basah, ujung-ujungnya menetes pelan membasahi bahu. Handuk putih masih melilit kepalanya, tapi ia bahkan tidak sadar sejak kapan ia berdiri di sana. Tatapannya kosong, seolah yang ia lihat di cermin bukan dirinya. Ucapan papanya–Albert masih terngiang. Belum lagi penjelasan dari Sofia yang masih belum dapat dicerna.“Kamu juga bukan anak kandung kami.”Safna menutup matanya. Namun, bukannya hilang—suara itu justru semakin keras. Disusul oleh suara Sofia yang lebih lembut, tapi justru lebih menghancurkan.“Mama mengadopsi kalian dari panti asuhan yang sama. Jika saja Edgar tidak mengalami geger otak ringan saat kecil. Pasti dia ingat saat kami mengadopsi kamu yang baru umur dua bulan saat itu.”Napas Safna tertahan. Perlahan, matanya kembali terbuka. Ia menatap dirinya lagi.Wajah yang selama ini ia kenal tiba-tiba terasa asing.“Jadi, selama ini…” gumamnya lirih.Tangannya terangkat pelan, menyentuh pipinya sendiri
Edgar terdiam beberapa detik. Tatapannya tertuju pada pria di depannya—sosok yang selama ini selalu ia hormati… sekaligus satu-satunya orang yang masih bisa menahannya.Meski usia pria itu sudah melewati setengah abad, sorot matanya masih tajam. Tidak goyah. Tidak mudah ditaklukkan.Edgar menarik napas pelan, lalu akhirnya membuka suara.“Aku akan berusaha mendapatkan restu dari Papa dan Mama.”Nada suaranya tenang. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya—ketegasan yang tidak bisa diabaikan.“Tapi…” lanjutnya, kini menatap langsung tanpa ragu, “apa kalian tega menolak kami?”“Bukankah lebih mudah,” sambung Edgar pelan, “kalau Papa dan Mama memilih untuk menerima… daripada memaksa semuanya jadi lebih rumit?”Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, maknanya jelas— Edgar tidak akan mundur.“Jadi menurutmu… ini sesederhana itu?” tanyanya akhirnya.Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Safna menegang.Edgar tidak bergerak. “Saya tidak mengatakan sederhana. Tapi juga







