แชร์

Bab 5. Kecelakaan dan Rahasia

ผู้เขียน: Shappire
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-15 22:45:58

 “Kak, kalau kamu terus begini yang ada aku jadi takut bukan jatuh cinta. Kalau kamu benar-benar peduli harusnya berhenti memaksaku. Lagi pula, perasaanmu bukan tanggung jawabku,” ujar Safna lirih saat melihat mata tajam dan dingin milik Edgar. 

 Edgar menggertakan giginya. Sekali lagi ia harus mendapatkan penolakan dari Safna. Namun, bukan itu yang menyentil hatinya. Adiknya yang dulu selalu berlindung dibalik badannya, tapi kini justru kini ia yang membuat gadis itu merasa tidak aman dan ketakutan. Dua kali ia melihat wajah tertekan Safna, malam itu dan sekarang.

 Edgar menarik kedua lengannya–menjauh dari Safna. Ia mengambil kunci mobil yang ada di ranjang lalu keluar kamar Safna sambil membanting pintu hingga membuat sang adik terlonjak.

 Edgar menuruni anak tangga menggunakan kaki panjangnya mengabaikan panggilan dari sang papa.

 Begitu tiba di halaman, ia langsung masuk mobil dan mengemudikannya. Edgar bahkan tidak tahu kemana tujuannya saat ini. Ia hanya ingin melampiaskan amarahnya. 

 Edgar mencengkeram erat setir mobil saat kata-kata Safna muncul di kepalanya bagaikan rekaman yang rusak. 

 “Takut? Apa aku terlalu menakutkan untukmu, Safna? Apa perasaanku terlalu sulit kamu balas? Kenapa kamu harus adikku?” gumam Edgar dengan mata memerah menatap lurus jalanan. Ia mengabaikan cuaca mendung malam itu. Bahkan suara guntur berbunyi saling bersautan.

 “Aku akan membuatmu mencintaiku, Safna.” 

 Edgar kembali bergumam. Ia tidak menyerah dengan penolakan dari Safna. Status saudara tidak menyurutkan niatnya. 

 Hujan mulai turun, tetapi Edgar tidak menemukan arah tujuan yang jelas. Ia melirik ponselnya yang bergetar–tiga buah pesan masuk dari orang yang berbeda.

 Papa: Kamu kemana, Edgar? Ini sudah malam.

 Safna: Kak, kamu kemana? Papa nanyain.

 Maya: Baby, besok ada waktu?

 Ia mengabaikan pesan-pesan itu lalu kembali menatap jalanan. Edgar menancap gas menambah kecepatan hingga mobil melaju dengan kencang di jalanan yang mulai basah dan licin. Lampu kota berubah menjadi garis-garis panjang di retinanya. 

 Kalimat Safna kembali terngiang, menusuk lebih tajam dari bentakan. Edgar mengepalkan tangan di balik kemudi. Ia merasakan napasnya berat dan kepalanya berdenyut. Tiba-tiba pandangannya kabur, ia mengedipkan mata mencoba kembali fokus, tetapi terlambat. Suara ban berdecit memekakan telinga, hingga akhirnya semuanya gelap.

 ***

 Safna berdiri kaku di depan ruang operasi menunggu seorang pria yang beberapa hari terakhir ini membuatnya kesal dan marah.  Aroma antiseptik yang menusuk hidung tidak dapat mengurangi rasa gelisah, takut dan bersalah.

 Semuanya terjadi begitu cepat. Beberapa jam lalu Edgar masih berdiri di hadapannya dengan posesif, egois dan kemarahan. Namun, sekarang pria itu sedang berjuang di dalam sana dengan bergantung pada tangan orang lain.

 Albert mondar-mandir dengan wajah tegang. Pria yang biasanya terlihat wibawa itu kini terlihat kusut saat mengetahui anak sulungnya kecelakaan. Rahangnya mengeras setiap kali suara alat medis terdengar dari balik pintu.

 Sudah satu jam setelah dokter membawa nya masuk ke ruangan operasi dalam keadaan berlumuran darah, tetapi Edgar belum kunjung keluar. 

 Safna menelan ludahnya kasar. Bayangan wajah Edgar sebelum pergi kembali berputar berulang-ulang seperti potongan sebuah film.

 “Kak, aku cuma mau kamu berhenti, tapi bukan seperti ini,” gumam Safna lalu mengembuskan napas pelan berharap dapat meredakan rasa sesak di dadanya.

 Pintu ruang operasi terbuka membuat ketiga orang yang ada di sana menoleh dan menghampiri dokter yang sudah berusia sekitar lima puluh tahunan. 

 “Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Albert pada dokter yang masih mengenakan masker.

 Safna menunggu jawaban dari dokter. Jantungnya berdegup kencang dan tanpa sadar ia meremas jari-jari tangannya. 

 “Pasien kehilangan banyak darah akibat benturan dan luka dalam,” ujar dokter itu dengan tenang. “Kami butuh transfusi segera, golongan darahnya cukup spesifik. Kami sedang tidak memiliki stok di rumah sakit.”

 Safna melangkah maju lebih dekat pada dokternya. “Aku si-”

 “Kami akan carikan pendonornya, Dokter. Tolong selamatkan anak saya,” ujar Albert memotong ucapan Safna.

 Albert meninggalkan ruang operasi dan bersiap menghubungi asistennya untuk mencarikan pendonor. Ia membawa serta istrinya yang terlihat sangat lemah.

 “Pa, apa maksudnya cari pendonor? Kenapa bukan aku, Mama atau Papa saja?” tanya Safna yang berjalan cepat berusaha menyesuaikan langkah kakinya dengan Albert.

 “Kak Ega butuh secepatnya, Pa,” ujar Safna kembali berbicara saat tidak mendapatkan respon dari orang tuanya.

 “Ma,” panggil Safna, tetapi perempuan paruh baya itu justru kembali menangis.

 “Jangan sekarang, Safna. Nanti papa jelaskan setelah mendapatkan pendonor yang cocok untuk kakakmu.”

 Safna menghentikan langkah kakinya tidak lagi mengejar Albert. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh papanya. Safna berjalan berlawanan arah dengan Albert. Gadis itu memilih duduk di depan IGD.

 “Kak Ega golongan darahnya berbeda dengan kami. Tapi kita-”

 Safna terdiam sebelum menyelesaikan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat saat sebuah kemungkinan terlintas di benaknya. 

 “Nggak mungkin kalau dia bukan anak kandung mama dan papa, bukan?” gumam Safna. Ia merasa dadanya kembali sesak memikirkan jika itu kebenarannya.

 Safna berdiri saat melihat dokter yang mengoperasi Edgar tadi. Ia menghampiri dokter tersebut.

 “Dokter,” panggil Safna dan dokter itu berhenti tepat di depannya.

 “Kami sedang menghubungi bank darah. Tapi golongan darah pasien sangat langka. Kami tetap mengupayakan yang terbaik,” ujar dokter tersebut seolah tahu apa yang akan Safna tanyakan.

 “Dokter, apa golongan darah kakak saya?” tanya Safna nyari seperti sebuah bisikan.

 Dokter itu menatap Safna sejenak lalu menurunkan intonasi suaranya. “Golongan darahnya O negatif. Tidak banyak orang yang memilikinya Kami harus cepat karena kondisi pasien tidak stabil.” 

 O negatif? Bukan A atau B seperti yang selama ini ia tahu.

 Tanpa sadar tangannya bergetar. Safna mundur satu langkah. Ia bersandar pada tembok yang ada di belakangnya dengan tubuh sedikit membungkuk. 

 “Dok, kalau ada pendonor dengan golongan yang sama, peluangnya besar, kan?” tanya Safna kembali bersuara.

 Dokter itu mengangguk. “Ya, itu sangat membantu.”

 Safna mengangguk, mengerti dengan apa yang diucapkan dokter tersebut. Setelah berterima kasih ia mencari Albert.

 Beberapa jam sudah berlalu, tetapi belum ada kabar dari bank darah maupun dari asisten Albert.  Pria paruh baya itu kembali dengan wajah semakin kusam, tapi tidak menutupi wajah tampannya. Albert duduk di kursi tunggu tepat di sebelah sang istri yang sedang berada di dalam pelukan Safna.

 “Bagaimana, Pa?” tanya Sofia dengan wajah sendu.

 Albert menghela napas pelan lalu menggeleng. “Masih dicari, Ma.”

 Baru kali ini ia melihat kedua orang tuanya terlihat begitu kacau. Di balik sikap tegas dan keras papanya, ternyata hari ini ia melihat sisi lembut dan terpukulnya saat tahu Edgar sedang berjuang antara hidup dan mati.

 Safna beranjak dari tempat duduknya dan memilih duduk di samping Albert. 

 “Pa, kenapa golongan Kak Ega berbeda? Apa ada yang kalian sembunyikan?” tanya Safna dengan hati-hati. Ia menelan ludahnya kasar saat mendapatkan tatapan dari kedua orang tuanya.

 Sepertinya bukan waktu yang tepat. Safna hanya mampu bergumam dalam hati. Kemudian, ia melipat bibirnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 103

    Langit malam dipenuhi cahaya lampu gantung kristal yang berkilauan di ballroom hotel mewah itu. Musik lembut mengalun mengiringi para tamu yang mulai memenuhi ruangan. Suasana resepsi terasa hangat dan elegan—didominasi warna putih dan emas yang membuat semuanya terlihat begitu megah.Di tengah ballroom, Edgar berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membungkus tubuh tingginya sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, namun sorot matanya hari itu berbeda. Lebih lembut. Lebih hidup.Untuk pertama kalinya… Edgar benar-benar terlihat bahagia tanpa perlu menyembunyikannya.Sementara di sisi lain ruangan, Safna baru saja keluar dari bridal room ditemani Mila dan Sofia. Gadis itu mengenakan gaun putih panjang dengan detail mutiara halus di bagian dada. Rambutnya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helai kecil yang membingkai wajahnya.Mila langsung memegang dada dramatis. “Ya ampun… cantik banget. Kalau aku cowok, aku nikahin kamu juga sekarang.”Safna langsung tertawa kecil me

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 102

    Safna langsung membeku. Jantungnya berdetak aneh saat melihat cara Edgar menatapnya. Terlalu tenang. Terlalu serius. Dan itu justru membuat perutnya terasa melilit.“Kak… aku cuma bercanda,” gumam Safna pelan sambil tertawa kecil untuk menutupi gugupnya.Namun, Edgar tidak ikut tertawa. Pria itu justru perlahan melepaskan pelukannya lalu berdiri dari sofa. Safna mengernyit bingung melihat Edgar berjalan menuju meja dekat jendela apartemen. Tangannya mengambil sesuatu dari sana—kotak kecil berwarna hitam.Safna langsung terdiam. Untuk beberapa detik, otaknya seperti berhenti bekerja.“Kak Ega.” Suaranya mengecil.Edgar kembali mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Safna. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada drama berlebihan. Hanya ketenangan khas Edgar yang justru membuat semuanya terasa lebih nyata.“Sebenarnya aku ingin melakukannya nanti,” ujar Edgar pelan. “Tapi karena kamu terus menyindir saya….”Safna menutup mulutnya perlahan saat Edgar berdiri tepat di depannya.

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 101

    Aroma kopi yang kuat langsung menyambut Edgar begitu ia memasuki kafe langganan mereka sore itu. Suasana tidak terlalu ramai, hanya beberapa pengunjung yang duduk santai sambil menikmati akhir pekan. Namun, perhatian Edgar langsung tertuju pada dua orang yang sudah menunggunya di sudut ruangan.Jayden duduk sambil memainkan sendok kecil di gelas kopinya, sementara Jane terlihat sibuk menatap layar tablet di depannya.“Kalian cepat juga,” ujar Edgar sambil menarik kursi di hadapan mereka.Jayden mendengus pelan. “Yang benar itu kamu yang telat.”“Lima menit.”“Buat orang yang biasanya datang paling duluan, itu udah aneh,” balas Jayden santai.Jane akhirnya mengangkat wajahnya lalu menatap Edgar beberapa detik. “Kamu kelihatan capek.”Edgar menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Memang.”Tidak ada basa-basi panjang. Mereka sudah terlalu lama berteman untuk sekadar saling menanyakan kabar formal.Pelayan datang mengantarkan pesanan Edgar. Setelah suasana sedikit tenang, Jayden akhirnya menyi

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 100

    Apartemen itu sunyi. Edgar berdiri di depan jendela besar ruang tamunya sambil memandang lampu kota yang masih menyala di tengah malam. Jasnya sudah ia lepaskan sejak tadi, dasi pun tergeletak sembarangan di sofa. Namun, meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, matanya sama sekali tidak bisa terpejam.Jam digital di meja menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Edgar mengembuskan napas pelan lalu berjalan kembali ke kamar. Ia sudah mencoba tidur hampir satu jam… dan gagal total. Ranjang king size itu terasa terlalu luas. Terlalu kosong.Pria itu merebahkan tubuhnya lagi sambil memijat pelipisnya pelan. Aneh. Dulu saat Safna kuliah di luar negeri selama bertahun-tahun, ia masih bisa menjalani hari seperti biasa. Tidak segelisah ini. Tidak seperti sekarang… saat gadis itu sebenarnya hanya berjarak beberapa kilometer darinya.Edgar memejamkan mata sejenak.Namun, yang muncul justru wajah Safna. Tawanya. Suaranya. Cara gadis itu menatapnya tadi malam saat ia dipaksa pindah dari rum

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 99

    “Om mohon, Edgar, cabut tuntutan kamu pada Maya. Dia sudah menanggung semua kesalahannya. Om, janji…Maya tidak akan mengacau lagi.”Edgar memejamkan mata lalu menghela napas pelan saat mengingat percakapannya dengan Harlan siang tadi di kantor. “Pak, Anda yakin akan mencabut tuntutan pada Maya?” tanya Malik sambil mengemudi. Malik melirik atasannya yang masih bersandar pada jok mobil sambil memejamkan matanya.Ravendra terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Ya. Tapi, buatkan perjanjian dengan om Harlan, Malik. Perjanjian hitam di atas putih.”Malik sedikit mengernyit mendengar jawaban itu. Mobil masih melaju membelah jalanan sore yang mulai padat. Cahaya matahari yang meredup masuk samar melalui kaca mobil, membuat suasana di dalam terasa tenang… tapi berat.“Perjanjian seperti apa, Pak?” tanya Malik hati-hati.Edgar membuka matanya perlahan. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tenang seperti biasa.“Kalau Maya kembali mendekati Safna, mengganggu keluargaku, atau mencoba mel

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 98

    Langit siang itu mendung. Awan abu-abu menggantung rendah, membuat suasana rumah sakit jiwa yang berdiri di pinggir kota itu terasa semakin suram. Bangunannya besar, dicat putih pucat dengan pagar tinggi yang mengelilingi area luar. Terlihat bersih dan tenang… tapi justru ketenangan itu terasa tidak nyaman.Safna berdiri di samping Edgar dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya. Sejak turun dari mobil tadi, ia belum banyak bicara. Entah kenapa langkahnya terasa berat.“Kalau kamu belum siap, kita bisa pulang,” ujar Edgar pelan sambil meliriknya.Safna menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Meski begitu, Edgar tetap memperhatikan wajahnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berjalan masuk bersama seorang polisi yang mendampingi mereka.Lorong rumah sakit itu sunyi. Hanya suara langkah kaki dan sesekali suara samar dari ruangan lain yang terdengar. Safna tanpa sadar mendekat sedikit pada Edgar. Pria itu langsung menyadarinya. Tangannya bergerak pelan, menggenggam tang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status