Home / Romansa / Terjebak Cinta Kakak Angkatku / Bab 6. Tatapan Berbahaya Itu

Share

Bab 6. Tatapan Berbahaya Itu

Author: Shappire
last update Last Updated: 2026-01-22 01:53:15

Safna menatap Edgar dari balik kaca ruangan ICU. Kakaknya masih terbaring kaku ditemani alat-alat medis yang menempel pada tubuh pria itu. Meskipun sudah bersikap keterlaluan padanya, Safna tidak tega melihat Edgar tidak berdaya.

Entah sudah berapa kali Safna menghela napas. Ia mengabaikan rasa lelah dan kantuknya demi menunggu Edgar. Sedangkan Albert memilih pulang untuk menemani sang istri yang terlihat sangat terpukul. Safna melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, tetapi belum ada kabar dari dokter maupun kenalan orang tuanya.

“Andai aja aku bisa donor buat kamu, Kak,” gumam Safna dengan netra masih tertuju pada pria itu. 

Safna menoleh saat ada suara langkah kaki mendekat. 

“Apa kalian sudah menemukan pendonor untuk Kak Ega?” tanya Safna pada orang kepercayaan Albert.

“Sudah, Nona. Sudah kami berikan kepada dokter sesuai perintah Tuan.”

Safna mengangguk. Ia menyuruh mereka pergi– meski tahu perintah itu hanya formalitas.

Jantung Safna berdetak tidak karuan saat tak lama kemudian datang petugas medis dan dokter masuk ke ruangan. Gadis itu selalu berharap semuanya membaik seperti sebelumnya.

“Setelah kak Ega sadar, apa dia akan terima setelah tahu fakta kalau bukan anak kandung papa dan mama?” 

Terlalu banyak yang ada di pikiran Safna sekarang. Kepalanya terlalu berisik, fakta yang diterima bertubi-tubi, seolah hidupnya sengaja diacak sebelum ia sempat bernapas.

“Tapi aku penasaran, Kak Ega dibuang orang tuanya lalu diadopsi oleh papa. Atau… diambil dari panti asuhan, ya? Atau mungkin dari tempat yang lebih kelam?” gumam Safna yang saat ini sudah duduk di kursi tunggu. Ia memang belum diceritakan kronologinya oleh Albert sehingga membuatnya penasaran. Namun, ada yang lebih mengganggu hati gadis itu saat ini. Bagaimana jika setelah Edgar tahu bukan kakak kandungnya, pria itu akan semakin bersikap terus terang dan melanjutkan obsesinya. 

Tiba-tiba Safna bergidik ngeri membayangkan Edgar akan berbuat tak senonoh lagi. Jika nantinya akan seperti itu, bolehkah ia berharap Edgar tidak mengetahui kebenarannya? Namun, Safna pun tidak tega menyembunyikan fakta tersebut.

*** 

Safna masih duduk di kursi tunggu saat langkah kaki terdengar. Pelan, terukur tapi berat, seperti seseorang yang membawa keputusan besar di pundaknya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ada aura yang terlalu familiar dan dominan. Albert berhenti beberapa langkah di belakangnya.

Safna menoleh saat bayangan pria itu jatuh di lantai mengkilap rumah sakit. Wajah sang papa terlihat lebih tua malam ini. Kerutan di dahi yang biasanya tersembunyi di balik wibawa kini terlihat nyata. Matanya merah bukan hanya karena lelah.

“Pa,” panggil Safna pelan nyaris seperti gumaman.

Albert mengangguk lalu duduk di sebelahnya. Tidak langsung bicara, tangannya bertaut, jari-jarinya saling menekan seolah sedang menahan sesuatu agar tidak tumpah.

“Kondisinya stabil,” ujar Albert pada akhirnya. “Tapi belum sepenuhnya aman.”

Safna mengangguk. Ia sudah tahu itu. Namun, mendengar langsung dari papanya tetap membuat dadanya sesak. 

“Pendonornya?” tanya Safna dengan hati-hati dan sedikit ragu.

“Sudah,” jawab Albert singkat. “Cocok.”

Safna menghela napas panjang, seolah baru diizinkan napas setelah berjam-jam menahannya. Ia menoleh ke arah kaca ICU

 Edgar masih terbaring lemah di sana. Wajah pria itu pucat, jauh dari sosok dingin dan dominan yang beberapa jam lalu berdiri di hadapannya. 

“Apa mama baik-baik saja?” tanya Safna yang teringat kondisi terakhir perempuan paruh baya itu jauh dari kata baik.

Albert menggeleng. “Mama kamu minum obat penenang. Papa menyuruhnya istirahat.”

Hening kembali menyergap mereka. Hanya suara monitor medis dari balik dinding kaca yang terdengar ritmis seperti pengingat bahwa waktu terus berjalan, meski dunia Safna terasa berhenti.

“Pa, aku mau tanya,” ujar Safna dengan ragu. Rasa penasarannya lebih besar saat ini dibandingkan ketakutannya.

Albert tidak menjawab. Ia tahu apa yang akan keluar dari mulut putrinya. 

“Pa, bisa ceritakan bagaimana Kak Ega jadi anak kalian? Bagai-”

“Safna, jangan sekarang. Tunggu sampai kondisinya semua baik-baik saja. Bukankah papa sudah mengatakannya?”

Safna menelan ludahnya kasar lalu memajukan bibirnya membuat pria di sampingnya menghela napas kasar. 

Albert mengulurkan tangannya mengusap kepala putri bungsunya. 

“Iya, memang benar Edgar bukan anak kandung papa dan mama. Kami mengadopsi dari panti asuhan setelah usia pernikahan kami lima tahun tapi belum diberikan keturunan. Itu saja yang kamu perlu tahu, ya. Prosesnya tidak sesederhana itu, tapi  papa tidak ingin kamu memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Jangan tanyakan apapun lagi, terlebih pada mama. Papa tidak mau membuat sedih mamamu.”

Dengan terpaksa Safna mengangguk walau sebenarnya masih penasaran seolah cerita itu menggantung dan ada yang mengganjal. Namun, untuk saat ini tidak ada pilihan selain mengikuti perintah Albert.

Monitor medis Edgar berbunyi lebih cepat. Safna menoleh tajam ke ruang ICU, dadanya kembali berdebar. Begitu juga dengan Albert yang langsung berdiri.

Seorang perawat masuk ke ruangan itu lalu disusul oleh dokter. Mereka bergerak cepat, berbicara dengan suara rendah tapi tegas. 

Safna maju satu langkah, jantungnya berdegup kencang. 

“Ada apa, Dok?” tanya Albert saat Dokter keluar ruangan. 

“Ada kabar baik, pasien mulai sadar,” ucap dokter itu ketika sudah berhadapan dengan Albert.

Safna membeku. 

Sementara di dalam sana, perlahan… kelopak mata Edgar bergerak. Satu tarikan napas lalu matanya terbuka. 

Netra dingin itu menatap kosong langit-langit ruangan sebelum perlahan bergerak–mencari dan… berhenti tepat pada Safna yang berdiri di balik kaca. 

Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Safna merasa tenggorokannya tercekat, tanpa sadar tangannya meremas ujung bajunya sendiri. Karena dibalik mata yang baru saja terbuka itu tidak ada kebingungan. Hanya kesadaran dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 48. Edgar Menggoda Safna

    Safna berjalan menuju ruangan kepala divisinya. Ia tersenyum saat mendapatkan sapa dari rekan tim lainnya.“Sepada, Kak Fitri,” ujar Safna menyembulkan kepala setelah mengetuk pelan pintu ruangan itu.“Masuk, Na.”Safna masuk sambil tersenyum pada perempuan yang berusia enam tahun di atasnya. “Ini berkas sesuai permintaanmu yang perlu ditandatangani bos besar.”Fitri memijit pelan kepalanya lalu menatap Safna dengan puppy eyes. “Boleh tolong kamu aja yang minta tanda tangan? Kerjaan aku lagi numpuk banget.”Safna menghela napas pelan. “Emang boleh diwakili?” “Boleh, kok.”“Baiklah,” jawab Safna dengan terpaksa.Fitri langsung tersenyum senang dan merentangkan tangannya hendak memeluk Safna. Namun, Safna menghindar.“Kakak berhutang traktir makan siang hari ini pokoknya,” ujar Safna lalu meninggalkan ruangan itu. “Siap. Terima kasih banyak, Safna yang cantik,” teriak Fitri sebelum Safna benar-benar keluar dari sana.Safna tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan. Namun, badannya

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 47. Tepat

    Jane mengerjap setelah mendengar ucapan Edgar yang menurutnya tidak masuk akal.“Jangan bercanda, Ed, nggak lucu. Kasihan Safna masa nggak diakui adik,” ujar Jane sambil menggelengkan kepala dan terkekeh, tetapi hanya sebentar. Tawanya terhenti saat melihat wajah datar Edgar dan diamnya Jayden. Jane merasa ada yang salah.“Jangan bilang itu beneran?” tanya Jane yang masih belum dijawab oleh mereka. “Oke. Apa aku ketinggalan banyak informasi?” Edgar menarik napas pelan sebelum akhirnya berbicara. “Safna bukan adik kandungku, itu faktanya. Aku rasa kalian harus tahu. Jangan tanya bagaimana bisa karena aku nggak berniat menjelaskannya. Dan satu lagi, jangan sampai hal ini bocor sebelum waktunya.”“Sejak kapan kamu tahu?” tanya Jane masih mencoba mencerna informasi yang baru saja didengarnya.“Saat aku kecelakaan.” Edgar tahu Jane terkejut dan butuh penjelasan. Namun, ia tidak mau membahasnya lebih jauh. Baginya, fakta itu sudah cukup ia bagikan pada Jane. “Oke. Lebih baik sekarang ki

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 46. Bukan Adik Kandung

    Katakan pada Kak Edgar, nggak perlu mengirim atau membuatku sibuk lagi di luar negeri karena kita sudah putus.Kalimat terakhir Leo sebelum pergi masih terngiang di kepala Safna bahkan setelah pria itu menghilang dari pandangannya.Jadi, Leo tahu jika semua ulah Edgar. Tapi, kenapa dia nggak pernah nolak? Apa karena itu kesempatan bagus untuk kariernya, jadi dia nggak pernah menolak?Safna menggigit bibirnya pelan.Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Ia sebenarnya ingin menanyakannya langsung tadi. Namun, percakapan mereka sudah terlalu berat. Dan sebelum Safna sempat membuka topik itu, Leo sudah lebih dulu pamit pergi menuju bandara.Pria itu bahkan belum benar-benar beristirahat setelah penerbangan panjangnya.Safna sempat ingin menahannya. Setidaknya menyuruhnya tidur beberapa jam dulu sebelum kembali terbang. Namun, langkah itu tidak pernah benar-benar ia lakukan. Karena sekarang… ia bukan siapa-siapa lagi bagi Leo.Safna menatap berkas-berkas yang belum di

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 45. Closure

    Pagi itu Safna keluar rumah sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia sudah bersiap berangkat ke kantor, tas kerjanya menggantung di bahu sementara ponsel ada di genggaman. Udara pagi masih terasa sejuk ketika ia menuruni anak tangga teras. Bahkan ia sudah melihat taksi online nya sudah tiba depan.Langkah Safna berhenti sebelum benar-benar keluar halaman. Seseorang berdiri di dekat mobil itu. Awalnya Safna hanya mengira tamu atau mungkin rekan kerja Edgar yang datang terlalu pagi. Namun, ketika orang itu bergerak sedikit dan wajahnya tertangkap cahaya matahari pagi, napas Safna langsung tertahan.“Leo?” Nama itu keluar hampir seperti bisikan.Pria itu berdiri beberapa meter darinya, mengenakan jaket yang terlihat kusut dan ransel yang masih menggantung di satu bahu. Rambutnya sedikit berantakan, bahkan ada lingkar gelap samar di bawah matanya seolah ia tidak tidur semalaman. Leo menatap Safna tanpa berkedip. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Safna benar-benar tidak menyangka

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 44. Kemarahan Leo

    “Berikan ponselnya pada Safna, Pak Edgar yang terhormat. Jangan karena Anda kakak nya sehingga bisa berbuat sesukanya!” geram Leo dari seberang sana saat sudah kehabisan kesabaran.Edgar terkekeh, baginya kemarahan Leo tidak ada apa-apanya. “Kalau saya bilang dia tidak mau berbicara denganmu, bagaimana?” tanya Edgar dengan santai dan satu tangannya membuka berkas yang ada di meja.“Safna tidak mungkin seperti itu kalau bukan Anda yang melarangnya. Saya sudah mengalah berkali-kali. Saat Safna disuruh pulang waktu jalan dengan saya. Saat Safna disuruh memilih Anda atau saya. Tapi, sekarang saya sudah muak. Saya tidak akan mengalah, apalagi jika Safna mengakhiri hubungan kita atas perintah Anda!” Safna menegang di tempatnya. Ia tidak menyangka Leo akan berbicara sekeras itu pada Edgar.“Oh, ya?” tanya Edgar sambil melirik Safna yang langsung memalingkan wajahnya.“Tapi, saya rasa Safna tidak berpikir sama denganmu. Bagaimana jika aku katakan itu atas keputusannya sendiri?” ucap Edgar s

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 43. Ayo Putus

    Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.Safna terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia tidak benar-benar tidur semalaman. Kalimat Edgar masih menggantung di kepalanya seperti gema yang tidak mau hilang.Itu jadi konsumsi publik.Safna menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang aneh—bukan marah, bukan sedih sepenuhnya. Lebih seperti lelah yang menumpuk terlalu lama. Ia bangkit dan meraih ponselnya. Notifikasi dari Leo memenuhi layar.Leo: Kamu sudah tidur?Leo: Jangan lupa makan.Leo: Aku kangen banget.Safna membaca satu per satu tanpa ekspresi. Tidak ada yang salah dari Leo. Tidak ada kalimat kasar. Tidak ada pengakuan dosa.Dan mungkin itu yang membuat semuanya terasa semakin sunyi. Ia sadar satu hal. Ia tidak bisa terus meminta kejelasan dari Edgar sementara dirinya sendiri masih menggantungkan seseorang di ujung sana.Itu tidak adil. Bukan pada Leo, bukan juga dirinya.Safna duduk di tepi ranjang. Tangannya sedikit gemetar saat membuka ruang obrolan itu. Ia tidak ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status