INICIAR SESIÓNJam pertama belum dimulai ketika Aeloria sudah dibuat kesal oleh satu hal sederhana. Ia membuka laci mejanya dan langsung menemukan beberapa buku milik orang lain menumpuk di sana. Aeloria menatap tumpukan itu dengan dahi berkerut, lalu menarik satu buku paling atas dan membacanya sebentar sebelum menoleh ke seluruh kelas. “Ini punya siapa?” Tidak ada yang menjawab. Aeloria mengangkat buku itu lebih tinggi, lalu mengetuk permukaannya dengan ujung jari. Beberapa siswa hanya saling pandang sampai akhirnya seorang anak laki-laki dari bangku belakang mengangkat tangan. “Punya gue, Ael.” Aeloria berjalan menghampirinya sambil membawa semua buku tersebut. “Kenapa masukin ke laci gue?” “Laci gue penuh.” “Terus?” “Gue kira laci lo kosong.” Aeloria menatapnya tanpa berkedip. “Kalau punya lo penuh, bukan berarti laci gue jadi gudang.” “Yaudah, maaf.” “Ambil.” Anak itu segera berdiri dan membawa bukunya. Aeloria kembali ke mejanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Freyana
Pagi itu, Aeloria baru saja masuk kelas ketika langkahnya langsung terhenti. Beberapa kursi berpindah tempat, meja-meja tidak lagi tersusun rapi, dan dekorasi yang kemarin mereka pasang terlihat berantakan di sudut ruangan. Ia menatap keadaan kelas beberapa detik sebelum meletakkan tas di kursinya dengan gerakan sedikit lebih keras. “Ini siapa yang bikin begini?” Freyana yang baru masuk langsung melihat sekeliling. “Kayaknya tadi anak-anak latihan mindahin meja.” “Terus kenapa nggak dibalikin?” “Entahlah.” Aeloria mengusap wajahnya, kemudian mengambil salah satu kursi yang bergeser terlalu jauh. Ia menariknya kembali ke tempat semula, tetapi baru selesai satu kursi, dua temannya malah masuk sambil membawa beberapa kardus. Salah satu kardus hampir jatuh ketika mereka meletakkannya di meja paling depan. “Eh! Hati-hati!” Kardus itu nyaris terguling, tetapi akhirnya berhasil ditahan. Aeloria langsung berjalan mendekat dan mengambilnya dari tangan salah satu temannya. “Lo kalau baw
Pagi itu, Aeloria baru saja masuk kelas ketika sebuah kursi hampir menabrak kakinya. Ia langsung berhenti, menatap kursi tersebut, lalu mengangkat wajah dengan alis berkerut. Seorang teman yang sedang memindahkan meja buru-buru menarik kursi itu kembali sambil nyengir canggung. “Maaf, Ael.” “Kalau mindahin barang, lihat jalan,” balas Aeloria sambil melangkah melewatinya. Freyana yang baru datang langsung terkekeh melihat ekspresi Aeloria. “Pagi-pagi udah ngomel.” “Gue hampir kesandung.” “Tapi nggak jadi.” “Justru karena gue refleks.” Aeloria menjatuhkan tasnya ke kursi, lalu duduk sambil mengeluarkan buku. Ia belum sempat membuka halaman pertama ketika wali kelas kembali masuk dan membawa beberapa lembar kertas. Melihat itu, Aeloria langsung menutup matanya sebentar, seolah sudah bisa menebak akan ada pekerjaan tambahan. “Aeloria, nanti kamu bantu cek pembagian kelompok, ya.” Aeloria menatap gurunya. “Lagi?” “Iya. Sebentar saja.” “Kenapa selalu gue?” Wali kelasnya hanya te
Bel pulang baru saja berbunyi ketika Aeloria menutup bukunya dengan sedikit keras. Ia baru saja memasukkan alat tulis ke dalam tas ketika wali kelas mereka masuk dan memanggil beberapa nama untuk membantu persiapan acara sekolah. Begitu namanya disebut, tangan Aeloria langsung berhenti bergerak, lalu matanya perlahan terangkat menatap sang guru. “Aeloria, kamu bantu koordinasi latihan kelas untuk besok, ya.” Aeloria mengangkat alis. “Saya?” “Iya. Kamu kemarin sudah bagus waktu presentasi. Jadi, Ibu percaya kamu bisa mengaturnya.” Aeloria menarik napas panjang sambil menahan keinginan untuk protes. “Bu, saya bukan ketua kelas.” Beberapa teman langsung tertawa kecil, membuat Aeloria melirik tajam ke arah mereka. Ia bahkan sempat menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya, seolah guru mereka baru saja salah menyebut nama. Namun, setelah melihat wali kelas hanya tersenyum dan tetap pada keputusannya, Aeloria akhirnya mengembuskan napas kasar. “Iya, iya. Saya bantu.
Sejak pagi, Aeloria sudah merasa ada yang tidak beres. Ia berdiri di depan cermin kelas sambil merapikan rambutnya berkali-kali, lalu menarik napas panjang sebelum mengambil map presentasi dari atas meja. Begitu melihat jam, ia langsung mengerutkan kening karena waktu tampil mereka tinggal kurang dari satu jam. “Gue kenapa sih?” Freyana yang sedang duduk di belakangnya langsung menoleh. “Kenapa apanya?” “Jantung gue berisik.” Vania tertawa. “Jantung emang bisa berisik?” “Bisa kalau punya elo.” “Lah, gue nggak ngapa-ngapain.” Aeloria mengambil botol minum dan meneguknya. Tangannya terasa dingin meskipun suasana kelas cukup hangat, sementara kertas di dalam map sudah ia periksa sampai tiga kali. Ia menutup map tersebut dengan cepat lalu menaruhnya di meja. “Gue nggak mau lihat lagi.” Freyana mendekat. “Takut salah?” “Enggak.” “Gugup?” “Sedikit.” “Sedikit banget?” Aeloria melotot. “Jangan dipancing.” Raka datang beberapa menit kemudian sambil membawa materi
Hari berikutnya, Aeloria datang lebih pagi dari biasanya. Ia langsung menuju kelas sambil membawa map berisi materi presentasi yang sudah ia rapikan sejak malam sebelumnya. Begitu sampai di meja, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memeriksanya sekali lagi, memastikan tidak ada bagian yang tertinggal. “Pembukaan aman.” Ia membalik halaman berikutnya. “Isi aman.” Halaman terakhir membuat dahinya berkerut. “Penutup…” Aeloria mendecakkan lidah. “Kok jelek banget?” Freyana yang baru datang langsung menarik kursi di sebelahnya. “Apanya?” “Penutup presentasi gue.” Freyana membaca beberapa kalimat yang tertulis di kertas. “Menurut gue bagus.” “Biasa.” “Terus maunya gimana?” Aeloria mengambil pulpen dan mencoret beberapa kata. “Gue pengin kedengeran yakin, bukan kayak orang baca buku.” Vania muncul dari belakang sambil membawa tas. “Elo emang mau presentasi atau pidato kenegaraan?” Aeloria langsung menoleh. “Kalau elo nggak bantu, mending diam.” “Pagi-pagi g







