Home / Romansa / Terjebak Cinta Pria Dingin / 02. Insiden Lupa Bawa Handuk

Share

02. Insiden Lupa Bawa Handuk

last update Last Updated: 2024-12-01 18:03:49

Arga membuang nafasnya kasar, masih menatap pintu kamar mandi setelah Rania masuk ke sana. Dia terlihat jengkel seperti bocah yang tak mau mengalah. Menggerutu kecil sambil menuju sofa dan duduk di sana dengan wajah yang tak mengenakkan.

"Awas kamu Rania!" geramnya seraya mengepalkan tangan.

Satu jam berlalu Arga tertidur dalam kondisi duduknya. Sementara Rania sepertinya sedang dalam masalah terbesarnya.

"Duh, kok aku lupa bawa handuk. Pak Arga masih di sana nggak, ya?" ujarnya dengan perasaan yang luar biasa cemas dan juga gelisah.

Rania ingin membuka pintu, tapi perasaan takut yang mendominasi membuatnya beberapa kali mengurungkan niat. Bayangkan menakutkan bagaimana jika Arga dosen sekaligus suaminya itu masih setia di depan pintu, lalu ketika melihat celah, laki-laki itu mendorong kasar.

"Tidak-tidak! Tapi kalau di sini terus, aku bisa mati kedinginan," ujar Rania dalam dilema.

"Pak!" panggilannya akhirnya memberanikan diri.

Memastikan ada tidaknya orang di dalam kamar, tapi setelah beberapa kali memanggil. Akhirnya dengan segenap keberanian yang terkumpul, Rania pun coba ambil risiko. Membuka pintu, tapi hanya memberi celah untuk mengintip.

Ketika tak melihat seseorang ada dihadapannya, Rania lebih memberanikan diri untuk menyembulkan kepalanya, dan mendesah kasar ketika melihat Arga ada di sofa.

"Kok, dia masih di sini sih? Duh, mana lagi tidur lagi. Pak Arga jadi orang menyebalkan banget! Terus sekarang aku bagaimana dong?" pikirnya semakin kebingungan.

"Ya, kali. Aku ke sana dan bongkar-bongkar isi koper. Keburu Pak Arga bangun terus liat aku nggak pakai baju bagaimana ... huhhh, aaaggrh!" lanjut Rania frustasi.

Dia pun memasukkan kembali kepalanya ke dalam kamar mandi, kemudian mendesah kasar. Sambil kemudian berpikir keras untuk mendapatkan solusinya.

"Ah, tadi aku liat Pak Arga punya handuk, apa aku ambil aja handuknya ya? Hm, tapi gimana caranya?" ujar Rania pada dirinya sendiri.

Gadis itu pun kembali mengeluarkan kepalanya dari balik pintu. Mengintip dan memperhatikan jaraknya dengan handuk yang ada di Arga. Memperhatikan jaraknya kemudian menimang-nimang sesuatu untuk memperhitungkan.

Jarak beberapa langkah, dan jalannya tidak ada yang buntu. "Bagus!" ujar Rania kemudian sambil geleng-geleng kepala.

Brak!

Gadis itu setelah mengambil ancang-ancang segera berlari dan hap mengambil handuknya. Rania pun dengan sigap langsung memakainya, membalut tubuhnya dengan cepat.

"Fiuh! Hampir saja ...," ujarnya sambil membuang nafasnya kasar dan menghela nafasnya lega.

Sayang sekali aksinya itu tak semulus harapannya. "Berani sekali kau mencuri handukku. Kembalikan!!" Arga tiba-tiba bangkit dan mencoba menarik handuknya.

Untung saja Rania sigap mundur dan mengelak, walaupun dalam keadaan kaget setengah mati. Kalau tidak, Rania tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.

"Aku pinjam dulu!" ujar Rania sambil membulatkan mata dan geleng-geleng kepala. 'Astaga, Pak Arga liat aku nggak pakai apa-apa nggak ya? Huhh, tapi sekarang aku juga belum pakai apapun!' lanjut Rania membatin dan meringis ngeri.

Tak bisa tenang, gadis itupun segera waspada. Menghindari Arga dan langsung menuju kopernya berada. Kemudian tanpa membuang waktu dia segera membongkar dan mengambil pakaiannya.

Sementara itu di mana Arga berada dan masih disekitar sofa. Entah mengapa dia terlihat pusing dan memberi pijatan ringan pada dahinya. Namun, ketahuilah bahwa saat ini meski begitu tatapannya tak bisa beralih dari Rania.

"Benar-benar gadis pembawa bencana. Sial. Sepertinya aku harus mandi air dingin dan berendam malam ini!" ujarnya sambil kemudian berjalan menuju kamar mandi.

*****

Tepat setelah selesai mengenakan pakaiannya, pintu kamarnya di ketuk dari luar. Rania membukanya dan menemukan Laura perempuan muda, tapi sepertinya adalah asisten rumah tangga di rumah mertuanya itu.

"Maaf Nyonya, tapi Nyonya Andini memanggil Nyonya dan Tuan Arga supaya segera ke bawah untuk makan malam," ujar Laura dengan sopan selayaknya pembantu pada majikannya.

"Baiklah. Katakan pada Tante, kami akan ke sana," jawab Rania.

Laura mengangguk dan segera permisi dengan sopan untuk turun, tapi begitu Rania hilang dari balik pintu, ketika Laura menoleh ke belakang untuk melihat. Tatapan gadis itu segera merubah.

Laura tiba-tiba saja diam dan menatap marah pada pintu kamar Arga-Rania. "Breng-sek. Dasar jalang, berani sekali dia menjebak Arga dan merebutnya lebih dahulu dariku. Sialan. Sudah susah payah aku mengungkapkan perselingkuhan Salsa, tapi perempuan itu yang justru mendapatkan Arga!!" geram Laura yang kemudian mengepalkan tangannya dengan erat.

"Laura!" panggil Andini ibunya Arga dari bawah. Perempuan paruh baya itu menatap asisten rumah tangganya dengan bingung. "Dimana Arga dan Rania?"

"Tuan dan nyonya Rania, katanya akan turun sebentar lagi, Nya," jawab Laura segera memberitahu.

Andini ibunya Arga segera mengangguk paham. "Yasudah, apalagi yang kamu tunggu. Turunlah ... dan siapkan makan malam dengan segera," ujar Andini Ibunya Arga memberitahu.

"Baik, Nya," jawab Laura dengan segera.

*****

Rania segera duduk di kasur seperginya Laura. Dia antara bingung menyampaikan pesan itu pada Arga dan juga masih takut menemui ibu mertuanya di bawah. Bagaimanapun juga Rania masih ingat bagaimana tatapan mertuanya itu saat memergokinya tidur di kasur yang sama dengan Arga pagi itu. Dia ingat bagaimana tajam dan marahnya tatapan wanita paruh baya yang sudah memergokinya itu.

Cklek!

Pintu kamar mandi terbuka, tapi hanya memunculkan kepala Arga yang menyembul di sana. Rania segera bingung, tapi sesaat setelah Arga memanggil dan mengutarakan maksudnya melakukan itu pipi Rania segera memerah.

"Kembalikan handukku yang tadi dan bawalah kemari!" ujar Arga membuat Rania segera tak bisa tenang. Pikiran Rania kacau dan segera kotor karenanya.

'Apa jangan-jangan Pak Arga telan-jang dibalik sana. Hmm, aaaggrrh, hentikan Rania, jangan bayangkan yang lebih dalam lagi,' batin Rania meringis ngeri.

"Kenapa geleng kepala. Kau menolak dan mau melihat saya telan-jang, hah?!" Arga langsung mengomel karena sudah salah paham dengan gelengan kepala dari Rania. Padahal maksudnya bukan menolak, tapi untuk menghentikan pikiran kotor yang tengah Rania bayangkan sendiri.

"Bu-bukan begitu, Pak!" Rania segera berlari dan mengambil handuknya cepat. Dia takut dan waspada ketika membayangkan suaminya itu bisa nekat.

"Ii-ini!" ujar Rania menyerahkan handuknya ketika jarak mereka dekat, dan gadis itu segera menutup mata begitu sudah di posisi itu. Untuk Jaga-jaga saja, takutnya melihat sesuatu yang belum siap untuk dia lihat.

"Sial. Kau benar-benar gadis pembawa bencana!" ujar Arga sambil meraih handuknya dan segera menutup pintunya dengan cepat. "Dia membuatku kedinginan karena tingkahnya!" lanjut Arga menggerutu di dalam kamar mandi.

"Pak!" panggil Rania dengan menguatkan volume suaranya supaya terdengar oleh Arga yang di dalam kamar mandi.

"Apalagi Rania?" Arga segera membalas setelah membuang nafasnya kasar.

"Cepatlah. Tante berpesan supaya kita segera ke bawah untuk makan malam," jelas Rania memberitahu.

Arga mengangguk paham walaupun Rania tak mungkin melihatnya. "Hm, tapi tolong siapkan pakaian ku dengan segera dan turunlah lebih dahulu setelahnya. Temui Mommy dan jangan buat dia menunggu lama," interaksi Arga dengan tegas.

"Baik, Pak," jawab Rania paham dan segera menyetujuinya. Menyiapkan pakaian untuk suami sekaligus dosennya.

Tak ada kendala sama sekali dengan hal itu, sampai pada bagian yang agaknya canggung dan membuat Rania segera meragu. "Apa dalamannya juga aku siapkan, ya?"

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Pria Dingin    67. Usai

    "Puas kamu menghancurkan hidup aku, puas?!" bentak Viona marah. Jika pada umumnya malam pernikahan itu indah dan juga romantis, maka dirinya berakhir suram. Gadis itu bahkan bukan hanya tak terima, tapi juga terhina. Pasalnya fakta suaminya Andreas atau juga yang dipanggil Andre itu merupakan kekasih dari Salsa. Perempuan yang pernah diagungkan olehnya sebagai kakak terbaik. Teringat bagaimana dulu dia menghina Rania, Viona tertunduk menyesal. 'Dulu aku selalu bilang Rania rendahan karena merebut calon suami kakaknya sendiri, lalu sekarang apa? Aku sendiri bahkan melakukannya,' ujar Viona membatin miris. "Aku belum puas!" ujar Andre menjawab. Viona segera mengangkat kepalanya, lalu melihat ke arah Andre sambil menantikan jawaban pria itu dengan penasaran. "Aku beritahu Viona alasan kenapa mau menikah denganmu supaya kau tahu caranya nanti memuaskanku. Pertama, aku sudah muak dengan Salsa dan yang kedua aku butuh anak supaya warisan orang tuaku jatuh ke tanganku!" "Tapi kenapa har

  • Terjebak Cinta Pria Dingin    66. Pernikahan Viona

    Rania dan Arga pulang bersama ke rumah, setelah semalam bergantian dengan sang Mommy Andini. sekarang giliran mereka yang beristirahat. Ah, ya. Nugraha Prayudha sudah sadarkan diri, juga kondisinya sudah mulai stabil. Inilah mengapa Arga-Rania sedikit tenang saat ke rumah. Namun di sana mereka malah langsung dipertemukan dengan Viona. Arga langsung memperlihatkan kemurkaannya dan menatap adiknya dengan penuh kebencian. "Selama ini kau yang selalu mengatakan Rania istriku seorang jala-ng, tapi sekarang apa?!" Arga mengeram mengepalkan tinjunya. Andai saja Viona bukan perempuan, maka bogeman mentah sudah mendarat mulus di wajahnya."Kau bahkan membuat aku tak bisa memukul bajing-an itu, Viona. Kenyataannya yang rusak itu kamu, yang memper**sa itu kamu, bukan dia. Kau bertindak seperti perempuan yang tidak punya harga diri, mempermalukan keluarga kita. Katakan dimana akal sehatmu saat melakukan itu?!" bentak Arga berusaha keras untuk menahan diri, supaya dia tak menyakiti adiknya itu.

  • Terjebak Cinta Pria Dingin    65. Tak Tersisa Apapun Lagi. (Kehancuran Viona)

    Viona sedang berbelanja di pusat perbelanjaan. Dia baru saja membeli heels, saat tiba-tiba saja seseorang perempuan mengikutinya dari belakang. Saat jarak mereka sudah cukup dekat, perempuan itu menarik pergelangan tangan Viona, sehingga mereka berhadapan.Namun belum juga Viona yang terkejut dengan aksinya itu, sesuatu yang lebih mengejutkan menghantam pipinya tanpa dapat di cegat.Plakk!! "Perempuan rendah-an sepertimu pantas mendapatkan itu. Kau memang licik, bereng-sek! Bisa-bisanya kau melakukan itu?!" serang Salsa yang ternyata merupakan pelaku dari penamparan itu. "Apa maksudmu, Kak. Aku tak mengerti?" tanya Viona syok, kecewa, dan bingung di saat yang bersamaan. Dia tahu tabiat perempuan dihadapannya sekarang dan dia menyesal pernah membela dan mendukungnya mati-matinya, namun bukankah dia yang di rugikan. Lalu sekarang kenapa justru Salsa malah yang menamparnya. "Kau masih bertanya, hah? Nggak usah pura-pura bodoh, Viona. Kau sengaja menggoda kekasihku untuk membalaskan de

  • Terjebak Cinta Pria Dingin    64. Romantis yang Memancing Emosi Regan

    Arga dan Rania semakin mesra dari hari ke hari. Apalagi sekarang Rania punya kunci untuk mengontrol emosi suaminya itu. Cukup jadi istana yang manis, dibutuhkan dan disukai oleh suaminya, maka apapun yang dibutuhkan pasti terkabulkan. Arga yang kejam, berubah bagaikan ibu peri yang selalu mengabulkan apapun yang Rania inginkan. Namun bukan hanya itu, dia bahkan begitu pengertian dan perhatian. Seperti hari ini contohnya, Rania kembali ketiduran di kelasnya. Namun, bukannya mengusirnya seperti biasanya, dia malah pura-pura tak melihatnya. Agar tak mengurangi sikap ke profesional dirinya sebagai dosen, Arga menatap Melati dari depan. Mengodenya sebelum kemudian mengirimkan pesan untukny. |Tolong bangunkan Rania pelan-pelan dan suruh dia tidur ke ruanganku. Tanpa menunda, Melati pun melakukannya, sementara Arga pura-pura tidak melihatnya. Beberapa menit kemudian, Rania izin keluar kelasnya dan Arga tentu saja memberinya. Namun walau begitu, beberapa mahasiswa menggosipkan setelah ke

  • Terjebak Cinta Pria Dingin    63. Penyesalan Viona

    Viona akhirnya pulang sendiri ke rumah, karena tak punya pilihan atau bahkan sekarang sudah tak memiliki apapun. Martabat, uang dan bahkan harga dirinya. Setelah kehilangan kegadisannya memang apalagi yang dia punya. "Vio?!" sapa Nugraha memanggilnya. Viona reflek menoleh dan langsung merasa sesak menatap wajah ayahnya. Selama ini dia selalu menghina Rania murahan, tapi sekarang dialah yang sesungguhnya di posisi itu. Viona merasa rusak sekaligus bersalah karena sudah mengecewakan ayahnya. "Kamu dari mana saja, Nak. Daddy, Masmu dan beberapa orang suruhan sudah mencarimu dua hari ini. Kamu kemana saja Sayang?" tanya Nugraha dengan nada suara yang lembut. Bahkan setelah membentak dan melawan ayahnya tempo waktu, ayahnya itu tetap saja bersikap baik kepadanya. Tidak marah walaupun Viona tahu dia sudah sangat geram dengan kelakuannya. Kedua bola mata Viona pun reflek berkaca-kaca, seolah sakit sendiri dengan perhatian itu, sebab dirinya merasa tak pantas. "Wajahmu pucat Nak. Kamu ja

  • Terjebak Cinta Pria Dingin    62

    Viona terbangun dari tidurnya, menguap seperti biasanya. Dia dengan tenang merenggangkan tangan, sampai kemudian gadis itu merasakan sesuatu yang salah. Viona membulatkan matanya. Melirik kesekitar dan menemukan sesuatu yang membuatnya berdebar kencang. Melihat ke bawah selimut, nafasnya yang kemudian memberat dan tak beraturan."Aaarrrggh! Apa yang kamu lakukan sama aku?!" teriak Viona sambil kemudian menyerang seseorang disebelahnya dengan spontan.Orang itu terbangun, membuka matanya dan langsung mengelak dari serangan Viona. Akan tetapi walaupun sudah begitu, orang yang rupanya adalah lelaki itu, sama sekali tak menunjukkan keterkejutannya. Dia bersikap biasa saja dan malah dengan tenang bangkit dari tempat tidur."Baji*gan!! Kenapa kamu melakukan ini sama aku, hiks-hikss?!!" lirih Viona yang akhirnya menangis.Dia tak kuasa karena rupanya dia baru saja kehilangan mahkotanya sebagai perempuan. Hatinya hancur, menyesal, tapi di saat yang sama dia tak bisa memperbaiki apapun lagi."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status