LOGINRania tidak pernah menyangka kalau dia berakhir menjadi pengantin dari calon kakak iparnya sendiri. Berakhir di ranjang pria itu dan dipergoki yang membuatnya dipaksa menggantikan sang kakak menjadi pengantin. Lalu dinobatkan menjadi pengkhianat juga wanita murah*n yang merayu calon kakaknya sendiri. Padahal Rania sendiri tak tahu menahu, bahkan tak mengingat apapun pada malam kejadian. "Bu, aku tidak melakukan apapun? Aku mohon jangan berkata seperti itu, ak—kkuuu yakin tidak melakukan apapun dengan pak Arga!" jelas Rania mencoba meyakinkan ibunya. Ah, ya, begitulah dia memanggil calon kakak iparnya, 'pak Arga,' sebab pria itu ternyata juga dosennya sendiri. "Kau pikir Ibumu ini bod*h, Rania? Kalian tanpa apa-apa dibalik selimut itu, dan kamu bilang tidak melakukan apa-apa?!" Wanita tua itu geleng-geleng kepala dengan tatapan putus asa dan berkaca-kaca. Kekecewaan dan malu menyertainya. "Ibu malu melihat kamu seperti itu, kamu tahu, aku hilang muka dihadapan calon besanku sendiri. Aku benar-benar kecewa padamu, menyesal sudah melahirkan anak sepertimu!" Bagaimana selanjutnya, ikuti terus kisahnya, "Terjebak Cinta Pria Dingin!"
View MoreRania dan sahabatnya Melati baru pulang dari pesta ulang tahun teman mereka Selvi. Kerena kemalaman dan juga agak mabuk, gadis itu memutuskan untuk pulang ke apartemen milik kakaknya Salsa.
"Kamu yakin mau kesini?" tanya Melati sebelum bisa tenang meninggalkan sahabatnya di sana.
Rania menganggukkan kepala mengiyakannya. "Hm ...."
"Tapi besok kita kuliah loh, mana jamnya masuk pagi. Sementara jarak dari sini ke kampus lumayan jauh. Kamu kalo apes bangun telat besok pagi, bakalan habis sama Pak Arga loh? " tanya Melati memastikan lagi.
Rania menganggukkan kepala sekali lagi. "Daripada diamuk ayah sama ibu, mending sama Pak Arga karena terlambat besok pagi. Udah, ah, Mel. Lebih baik pulang aja sona, aku dah mengantuk bangat ini," ujar Rania sambil menguap dan kemudian mendorong Melati masuk ke mobilnya supaya pulang.
"Au, ah. Gelap. Awas loh entar, nggak ada curhatan mahasiswi yang tersakiti oleh Pak Arga. Aku ogah dengar curahan hati kamu besok!" peringat Melati sekali lagi untuk yang terakhir sebelum dia benar-benar masuk ke mobilnya.
"Hm, tenang aja. Lagian Pak Arga itu calon kakak iparku. Secara dengan hubungan itu, dia macam-macam, aku bisa ngancam dia pake kak Salsa!!" seru Riana dengan tenangnya.
Namun percayalah walaupun sudah berkata demikian entengnya, tapi begitu sampai di dalam unit apartemen Salsa kakaknya, Rania malah tak bisa tenang.
Meraih jam alarm dan bahkan memperhatikan alarm di HP-nya, Rania langsung mengatur waktu karena tak mau terlambat besok pagi. Barulah bisa tidur dalam nyenyaknya. Selain hal itu, Rania tak bisa memperdulikan hal lain lagi, sebab dia sudah teramat mengantuk.
*****
"RANIAAAA!!!"
Glekk!
Blamm!
Teriakan kencang disusul suara pintu dibanting keras langsung memekakkan pendengaran Kania. Telinganya cukup ngilu mendengar itu, lantas dia bangun dengan paksa. Mengucek kedua sisi kelopak matanya dan menemukan Ibunya diambang pintu dalam kemarahan yang membara.
Rania langsung beranjak mundur dan meneguk ludahnya kasar secara reflek. Rania pikir Ibunya marah karena dia ketahuan habis mabuk, tapi kemudian sesuatu disisinya membuatnya kaget.
Plakkk!!
Belum habis kekagetan Rania, sesuatu langsung menghantam pipinya keres. Rania terkejut dan tamparan kedua langsung menyusul mendarat di pipinya. Membangunkan sesosok yang begitu lelap yang tiba-tiba ada dan entah kapan sudah di sana.
"Apa maksud kalian melakukan ini, terutama kamu Rania? Bagaimana bisa tidur dengan calon kakak iparmu sendiri? Kalian penghianat?!!" gumam Renita dengan suara keras dan tak habis pikir.
Dari pintu terlihat Andini ibunya Arga yang belum menyadari apa yang sedang terjadi. Masuk ke dalam sambil melihat-lihat HP-nya dengan serius.
"Bagaimana Jeng, apakah Salsa sudah siap? Desainernya sudah mengirimkan foto loh untuk ga--"
Brak!!
Telepon yang tadinya Andini pegang langsung terjatuh, begitu mengangkat dagu dan menghadap ke depan. Dia sebelumnya memang sudah mendengar suara pintu yang dibanting keras, tapi Andini tak terlalu menghiraukannya dan terus fokus pada HP-nya, lalu sekarang tebalik, HP-nya yang tak diperdulikan.
Dengan langkah yang langsung reflek dia mendekat ke arah tempat tidur. Sama seperti yang barusan Renita lakukan, dia pun memberikan tamparan tanpa penjelasan.
Plak!
"In-ini tak seperti yang Ibu dan Tan--" ujar Rania terpotong karena dua ibu di hadapan mereka yang sudah marah itu, tak membiarkannya bicara.
"Lalu seperti apa, hahh?!" sarkas Andini murka. "Kalian habis bersenang-senang tadi malam dan khilaf sampai membuat kalian ketahuan?"
"Oh, ini kerjaan kamu Rania?! Pantas saja semalam gigih bangat mau ke pesta teman mu, rupanya kamu mau begini. Bertingkah mura-han sampai tega merebut calon suami kakakmu sendiri?" timpal Renita mengomel.
"Kamu juga Arga, bagaimana bisa mengkhianati Salsa, itupun dengan adiknya sendiri, adik iparmu?" tambah Andini.
"Ini tidak seperti yang--"
"Tutup mulutmu Arga, Mommy tak mau mendengar sepatah katapun keluar dari sana, dan selamat setelah ini kalian harus menikah!!" tegas Andini tak mau dibantah dengan kemurkaannya.
"Tapi--"
"Kamu juga, Rania. Puas kalian, penghianat seperti kalian memang harus menikah. Cih, Ibu muak sama kamu Rania. Ternyata perempuan yang ku kandung sembilan bulan dan ku besarkan sampai usianya dua puluh satu tahun, tak ubahnya cuma iblis antagonis yang tak punya hati. Kamu benar-benar tak punya nurani Rania!!"
*****
Rania masih belum mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Bangun pagi sudah dipergoki tidur dengan Pak Arga yang tak lain adalah dosen sekaligus kakak iparnya sendiri. Dia masih gemetar sampai sekarang. Jantungnya bergemuruh hebat dan juga air matanya yang tak lelah membasahi pipinya.
"Sudah, Mbak. Tolonglah bekerjasama, nanti riasannya tak jadi-jadi," jelas penata rias pengantin yang sedang berusaha untuk memoles wajahnya dengan riasan.
"Saya nggak mau menikah. Tolong saya, Mbak!!" seru Rania penuh harap.
Tapi belum juga mbak penata riasnya menjawab, Salsa kakaknya tiba-tiba muncul dari balik pintu. Rania tertegun dan langsung geleng-geleng kepala.
"Kak, Rania nggak menghianati Kakak. Sungguh ... dan Rania nggak mau menikah dengan Pak Arga! Tolong percayalah dan tolong bebaskan Rania dari pernikahan ini!!" seru Rania dengan bersungguh-sungguh.
"Masih berani ngomong seperti itu, setelah ketahuan kelakuanmu yang busuk itu?" geram Salsa sambil menatap tajam adiknya. "Rania! Aku pikir selama ini kamu cuma gadis yang nakal dan cukup ceria, tapi sekarang lain ceritanya, kamu ternyata cuma musuh dalam selimut yang tega menikam kakakmu sendiri!"
"Kak ...." Rania masih mencoba mengiba.
"Cukup Rania. Sudahlah, jangan berpura-pura lagi. Nikmati saja penghianatanmu dan juga hasilnya. Menikahlah dengan Arga. Kalian memang cocok, sama-sama penghianat ketemu penghianat!" gusar Salsa dengan kejam.
*****
Pernikahan terpaksa dan tak diduga-duga pun terjadi, tanpa bisa dielakkan lagi. Rania terpaksa menjadi istri dari calon kakak ipar sekaligus dosennya sendiri. Mau tak mau walaupun dia tak mengerti, semuanya pun sudah terjadi.
"Taroh di sana!" tegas Arga memerintah.
Rania hanya pasrah dan menarik kopernya ke arah lemari.
"Di sana! Aku bilang di sana, bukan di situ Rania! Apa kau bodoh sampai arah saja tidak tahu?!" omel Arga yang membuat Rania takut dan kembali gemetar.
"Aaa---"
"Taruh saja di situ. Astaga, punya istri kok begini sekali!" ujar Arga kesal.
"Pak ditaruh di mana jadinya?" tanya Rania bingung dan takut-takut.
Padahal sebetulnya Arga yang salah, menunjuk ke sisi kiri lemari, tapi malah mau kopernya diletakkan di sisi kanan.
"Di mana saja! Suka-suka kamu saja. Cih, aku capek menghadapimu. Sudah, letakkan di situ dan pergilah mandi. Habis ini kita akan makan malam di bawah," jelas Arga.
Namun entah apa maksudnya, lelaki itu malah meraih handuk dan masuk sendiri ke kamar mandi.
"Terus aku man-mandi di mana Pak?" interupsi Rania menyadarkan Arga.
Untuk sesaat Arga terdiam memikirkannya, tapi kemudian dia mendesah kasar. "Di kamar mandi Rania, masa kamu maunya di halaman, tapi bukan ide yang buruk juga. Di luar kan hujan, kamu mandi di sana saja!" jawab Arga dengan ketus.
Rania menggaruk lehernya yang tak gatal, melirik keluar jendela yang memang ada hujan diluar sana. Mendengar beberapa kali terdengar petir menyambar, Rania spontan menggelengkan kepala.
"Aku nggak mau mandi di luar," jawabnya dengan serius, lalu dengan tanpa babibu lagi Rania mendahului Arga masuk ke dalam.
*****
Kondisi Rania semakin membaik meski berbanding terbalik dengan perasaannya. Dia semakin membenci Arga dengan perasaan cinta di saat yang bersamaan. Dia muak, tapi juga sadar kalau hatinya sudah terikat pada pria itu. Bersama terasa sesak, tapi menjauh diapun merasakan hal yang sama. Semuanya serba salah dan Rania sangat jengah dengan segalanya."Kali ini aku harap kamu tidak membantah. Pulang dari sini kamu harus tetap beristirahat dengan baik. Lupakan segala masalahmu yang entah dengan siapapun itu. Tolong pikirkan anakku Rania, dia bergantung kepadamu!" peringat Arga sambil menggandeng tangan Rania keluar rumah sakit dan bersiap untuk pulang."Hm," jawab Rania berdehem."Kamu jangan kekanakan lagi, ya!" lanjut Arga masih tak puas dan Rania menganggukkan kepala saja, tak mau memperkeruh suasana.Sudah seminggu dirinya dirawat di rumah sakit, meski sebetulnya tiga hari yang lalu dia sudah diperbolehkan pulang, tapi suaminya yang posesif dan berlebihan itu memaksanya dirawat lebih lama
"Huekk!"Rania kembali pusing dan mual yang tidak tertahankan, tapi anehnya tak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Arga yang melihat itu cemas, mendekat padanya lalu dengan sigap membantu menopang tubuhnya sebelum jatuh."Kamu beneran tidak menyukai makanan ini, Ran?" tanya Arga dengan tatapan penuh kecemasan.Rania tak menjawab, tapi dengan keras kepalanya dia malah memaksakan diri untuk memakan sarapannya."Jangan dipaksakan, kamu tidak usah makan lagi!" seru Arga sambil merebut sendoknya.Namun Rania pun tak diam saja dan wanita itu segera berusaha untuk merebutnya. Arga geram lalu melempar sendok beserta makanan lainnya."Apa kau tidak mengerti ucapanku, hah?!" tanya Arga sambil langsung mencengkram rahang Rania karena marah. "Kamu mual kan, dan aku sudah katakan kalau kita makan yang lainnya saja, kamu mengerti Rania. Sesekali patuhlah!!"Brakk!!Arga yang masih dalam amarahnya tak bisa langsung tenang dan memukul meja dengan keras. Melampiaskan amarahnya ke sana. Beralih ke R
Rania terbangun karena merasa dadanya sesak dan juga pengap. Rasa pusing langsung mendera kepalanya dan kian terasa seiring dengan kesadarannya yang semakin terkumpul.Namun bukan hanya itu, tiba-tiba saja dia dikagetkan dengan lengan yang memeluk pinggangnya dari belakang. Rania membulatkan matanya kemudian menoleh dan langsung syok mendapati Arga tiba-tiba sudah disisinya.Belum selesai dengan kekagetannya, Rania harus merasa mual dan mendorongnya langsung menyingkirkan lengan Arga dari pinggangnya dan kemudian berlari ke kamar mandi."Rania," ujar Arga yang kemudian terlihat bangun karena pergerakan dari Rania.Pria itu dengan sigap bangkit dan mengejar Rania ke kamar mandi. Seperti sedang ketakutan kalau istrinya itu kabur lagi.FlashbackMalam itu, Arga masih belum bisa tidur dan terus-terusan memikirkan Rania. Sampai kemudian dia mendapatkan email tugas yang dikirimkan beberapa mahasiswanya termasuk Rania, segera setelah itu dia membalas dengan menyuruhnya pulang dan mengancamny
Arga mengepalkan tangannya, mengeram menatap beberapa kain yang di jadikan tali dan masih terikat di balkon. Dia marah, tapi di saat yang sama pria itu juga tampak gelisah memikirkan bagaimana kondisi istrinya yang baru kabur itu.Menghubungi beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari Rania. Hal itu membuatnya semakin cemas saja dan mungkin tak bisa tenang sebelum menemukan istrinya yang bahkan sedang mengandung itu.Tak bisa diam saja, pria itu segera mengandalkan asistennya dengan cara melacak GPS HP istrinya itu, dan dirinya sendiri langsung bergerak untuk mencarinya.Malam tiba dengan cepat dan Arga masih belum menemukan istrinya, tak bisa beristirahat dia bahkan merasa harus melihat kondisi adiknya di rumah sakit."Bagaimana keadaanmu?" tanya Arga sambil mengusap puncak kepala Viona dan tersenyum walaupun dalam lelahnya."Viona baik-baik saja, Mas, tapi bagaimana dengan Kak Rania? Kemana dia, apa sekejam itukah dirinya sampai untuk menjenguk aku korbannya dia tak sudi?!" tanya Vio
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.