“Ikuti dia, Tuan?!” Martin mengulangi ucapannya.
“Kau benar-benar tuli ya!” dengus Max. Mengabaikan dan tetap mengikuti gadis itu. Gadis itu berjalan sambil memeluk tubuhnya yang tak berhenti bergetar. Dia, terus membayangkan peristiwa yang memberikan sakit di seluruh tubuhnya tadi. Berulang kali dipikirkan. Dia masih saja tak mengerti kenapa sang kakak tega menjebak dirinya. Saat dia berusia lima belas tahun. Ibunya tiba-tiba mengalami kecelakaan. Entah apa penyebab kecelakaan itu. Namun, ibunya sampai detik ini masih terbaring lemah di rumah sakit. Dia membutuhkan biaya perawatan dan obat-obatan yang sangat mahal. Yang tidak pernah diduganya. Beberapa bulan setelah kejadian itu. Tiba-tiba ayahnya membawa pulang seorang wanita dan anak perempuan. Usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua darinya. Dan ayahnya memperkenalkan mereka sebagai ibu yang akan merawat juga dia mendapatkan seorang kakak perempuan. Walaupun ingin marah, dia masih terlalu kecil saat itu dan masih menggantungkan kehidupan dengan ayahnya. Jadi, dia tidak mungkin bisa menolak. Dia, menerima kedatangan mereka dengan terpaksa. Semuanya langsung berubah ketika mereka hadir di kehidupan Maureen. Apapun yang biasanya selalu menjadikan dirinya prioritas. Semenjak ibunya tak ada, dia hanya menjadi terasing secara pelan-pelan. Semua harus dilakukan demi dia bertahan hidup di keluarga itu. Sampai pada akhirnya seluruh akses keuangan dirinya perlahan digerogoti oleh mereka. Untuk bertahan hidup Maureen harus mencari penghasilannya sendiri. Dia mulai bekerja di berbagai tempat hanya untuk menutupi biaya hidup dirinya agar tidak kelaparan dan juga untuk membayar biaya sekolahnya. Maureen sebenarnya tidak terlahir dari keluarga kekurangan. Ibunya memiliki banyak aset yang cukup untuk menanggung hidup sampai tujuh turunan. Namun, semua dia tidak dapatkan secara mulus karena kehadiran ibu dan kakak tirinya. Perlahan dia mengerti. Alasan ayahnya menikah dengan ibunya hanya untuk meraup semua kekayaan ibunya. Ibu Maureen merupakan seorang putri tunggal dari keluarga Aditama--kakek Maureen. Ayahnya, dulu adalah sopir pribadi keluarga Aditama. Dengan jebakan licik hingga membuat ibu Maureen mengandung. Dari seorang yang tak punya apa-apa ayah Maureen diangkat hingga mempunyai martabat. Yang ibu Maureen tak ketahui adalah ayahnya sebenarnya sudah menikah lebih dulu dengan ibu Shasa kakak tirinya. Ayahnya bahkan sengaja memberikan nama belakang pada putrinya itu dengan nama Aditama agar semua tahu bahwa putrinya pun keturunan Aditama, padahal tidak. "Ck, ck, kau sungguh akan pulang dengan berjalan kaki seperti itu, hah?" Suara berat yang beberapa saat lalu sempat membuat jantungnya terpesona, dadanya berdebar dan wajahnya memerah. Membuatnya terhipnotis. Kini ada disamping tubuh Maureen. Max bersuara sambil membuka pintu mobil dan mengikuti langkah pelan kaki Maureen. "Jangan pedulikan! Ini bukan urusanmu!" usir Maureen. Dingin dan ketus menimpali ucapan Max. "Apa kau tahu, jalan yang sedang kau lalui itu ke tempatku. Apa tidak lebih baik kalau ikut saja denganku!" Max berkata penuh penekanan. Dia, meminta Martin menghentikan mobil saat melihat Maureen menghentikan langkah. Maureen kemudian menoleh kanan dan kiri. Memperhatikan sekitar. Dia, benar-benar baru menyadari kalau dia tidak tahu dimana posisinya sekarang. Dia, tetap tidak putus asa. Dia merogoh tas dan melihat ponsel miliknya. "Tidak akan ada sinyal. Ini wilayahku. Hanya sinyal dengan kode rahasia dariku baru akan mendapatkannya!" sahut Max yang mengerti kalau Maureen sedang berusaha menghubungi seseorang. “Dasar laki-laki sombong. Memang dia siapa? Ini kan jalanan umum. Bisa-bisanya dia mengklaim wilayahnya,” gerutu Maureen sambil mengerucutkan bibir tanpa sadar dihadapan Max. "Apa itu? Kau sungguh tidak mempercayai ucapanku!" Max meradang. Baru sekali ini dihidupnya, dia diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita yang dianggap biasa saja. Apalagi melihat wajah Maureen yang menyepelekan dirinya. "Aku nggak percaya. Memangnya kau ini seorang Miliarder atau Raja? Hah! Benar-benar gila dan tak masuk akal!" Maureen menggelengkan kepala. Spontan berbalik dan berkacak pinggang dihadapan Max. Matanya tetap membulat dengan sempurna. "Ikutlah pulang denganku, apa kau tidak lapar!" ucap Max tiba-tiba melembut. Martin menoleh dan sedikit merinding mendengar tuannya berkata dengan lembut. “Apa aku tidak salah dengar!” Batin Martin berkomentar. Max sebenarnya sudah menaikkan rahang dan ingin lampiaskan segala amarah pada Maureen. Namun, lagi-lagi saat melihat wajahnya yang pucat dan terlihat sedih. Dia jadi tidak tega. Max tak pernah menunjukkan wajah seperti itu pada wanita manapun. "Tidak!" pekik Maureen tajam saat Max mencoba menyentuh lengannya dan akan mengajaknya masuk kembali ke mobil. "Jangan buat kesabaranku hilang. Kau ikut denganku sekarang atau aku tak segan akan membunuh dan melemparkan mayat mu ke jalanan!" ancam Max. Kali ini dia tak mau kalah dengan wanita di hadapannya itu. "Argh!! Kau gila. Dasar pria maniak. Pergi sana!" kembali dia mendorong tubuh Max yang mencoba mendekatinya. "Ikut aku sekarang juga sebelum aku berubah pikiran!" Max melangkah maju dan menarik lengan Maureen. Menyeretnya masuk ke mobil. "Lepas, lepaskan aku! Aku tidak mau ikut denganmu!" dia meronta sekuat tenaga. Namun, tetap sisa-sisa. Tenaganya tidak mampu melawan kesigapan juga kekuatan Max. "Kau benar-benar membuatku repot, hah!" Max mengangkat tubuh mungil Maureen hingga dia sudah berpindah di pangkuannya. Tangannya melingkar erat di pinggang wanita itu dan Max terus menatap intens wanita yang sedang berada dalam pangkuannya. Maureen tidak menjawabnya. Dia memalingkan wajah. Tenaganya sudah terkuras. Setelah dia memukul dada laki-laki itu, tidak ada yang berfungsi. Laki-laki itu seperti tidak merasakan sakit dari pukulan Maureen. "Aku kan sudah bilang, ikut denganku. Kau sungguh tidak lapar?" ucapan terulang dari mulut Max membuat cacing-cacing di perut Maureen menjawab dengan spontan. Wajah Maureen memerah saat mulutnya akan bersuara menolak ucapan yang terlontar dari mulut Max. "Sungguh, kau benar-benar tidak lapar?" Max menggoda Maureen sambil mengangkat dagunya. Wajah wanita itu sudah tertunduk karena malu. "Aku nggak lapar!" jawab Maureen tegas. Namun, naas perutnya malah kembali berbunyi. Dan itu lebih keras saat dia menolaknya. "Martin, suruh koki siapkan hidangan istimewa malam ini. Aku ingin, saat tiba semua sudah ada!" perintah tuannya. Martin menautkan alis sambil menekan nomor yang terhubung dengan Mansion tuannya. “Hah. Apa aku tidak salah? Tuan sendiri yang mengundangnya secara pribadi ke Mansion!” Martin berkata di hati lagi sambil memberikan perintah lewat telepon. Maureen tetap memalingkan wajahnya. Saat tangan Max masih terus bermain di wajahnya yang chubby. "Aw, sakit tahu!" pekik Maureen menghempaskan tangan Max. Saat Max mencubit pipinya dengan gemas. "Kau, mirip boneka. Aku gemas sekali!" selorohnya tanpa sadar. Membuat Martin kembali menautkan kedua alis. Segurat senyuman bahkan meluncur mulus di wajah Max. Entah kenapa Max merasakan kenyamanan berbeda saat menatap wajah Maureen. Tidak seperti saat dia menatap para wanita yang hanya menjadi selimut penghangat. Ketika dia sedang membutuhkan makanan biologisnya. Maureen tetap bergeming. Dia diam tidak menanggapi ucapannya. Pikirannya melayang pada wajah ibu dan kakak tiri. Kalau dia tak pulang malam ini, dia pasti akan dihajar habis-habisan oleh mereka. Martin membukakan pintu. Max menarik keluar perlahan tubuh Maureen. Kakinya tetap tidak mau bergerak. Terpaksa Max mengangkat tubuh Maureen nya. "Kau pikir aku tidak memiliki cara untuk membuatmu berlutut di bawah kakiku!" Max berkata dengan sombong sambil mengangkat masuk tubuh Maureen ke Mansionnya.“Dasar Kau benar-benar licik!” dengus Max. Tangannya terkepal, eratan giginya terdengar.Meski mendengar dengusannya, Nathan seolah tidak peduli.Maureen mengambil piring berisi obat tadi, dia duduk kembali di pinggir ranjang. “Kita minum obatnya sekaligus ya,” Maureen menatap sesaat, tapi Nathan masih memalingkan wajahnya.Seperti orang yang takut untuk minum obat.Atau sebenarnya dia sedang mencari kesempatan untuk menggoyahkan hati Maureen.Sebisa mungkin Nathan akan melakukan segala cara agar hati gadis itu berubah.“Max, tolonglah keluar sebentar, aku janji, aku tidak akan macam-macam. Aku hanya membantunya minum obat,” sekali lagi Maureen meminta izin kerelaan suaminya.“Apanya yang tidak macam-macam hah!” Max berkacak pinggang tersulut kembali.“Max, aku mohon, tolonglah!” pintanya sekali lagi, melihat terus ke arah Max maupun Nathan, kedua laki-laki itu tidak ada mau yang mengalah.Nathan tidak ingin saat dia meminum obat terlihat oleh Max, itu seperti menyangkut harga diriny
Maureen menoleh pada suami, pinggangnya sakit di cubit Max.Nathan menatap penampilan Maureen, dia bahkan bisa langsung mengenali kemeja yang dipakai Maureen milik siapa.Kemudian matanya menyipit pada leher yang terlihat bekas gigitan terlihat jelas. Itu sudah merupakan tanda kepemilikan.“Te—terima kasih banyak, Nath, kau lagi—lagi menolongku,” Maureen ingin sekali mendekat, tapi pinggangnya ditahan Max.Nathan hanya menatap situasi yang ambigu. Dia ingin sekali berdiri dan langsung menghajar Max, namun sekarang yang dia perlukan adalah satu janji yang harus Maureen tepati.Dengan adanya janji tersebut, Nathan merasa yakin apapun masih bisa diubahnya.“Uhuk uhuk shh!!” desis Nathan sambil memegangi dadanya.“Apa yang sakit? Dimana yang sakitnya?” Maureen menepis tangan suaminya, dia spontan duduk di tepi ranjang Nathan.Tangannya reflek mendekat dan ikutan menyentuh untuk mengetahui kondisi Nathan. Wajahnya cermin bahwa dia mencemaskan kondisinya.“Rupanya aku belum sepenuhnya kala
“Kau benar-benar keterlaluan. Aku marah padamu, Max!” Maureen berbalik dan mendorongnya, dia membuka pintu mobil dan segera keluar.Max segera mengikuti, “Sayang, jangan marah. Maafkan aku. Kita makan malam dulu ya, kau pasti lapar kan?” Max berhasil meraih tangannya.Sebisa mungkin Max mengulur waktu agar Maureen tidak jadi menjenguk atau kalau dia bisa membawanya langsung pulang.Maureen bergeming.Ucapannya diabaikan.“Jangan marah, maafkan aku. Aku akan izinkan, asalkan aku juga bisa bersamamu!” Max merayunya.Dia tidak ingin kalau Maureen berubah pikiran dan meninggalkannya.“Kau jangan membohongiku!” dengus Maureen menoleh karena ucapannya.“Apa aku terlihat seperti itu dimatamu?” kembali Maureen bergeming.“Hanya karena laki—laki yang baru kau kenal, kau sampai bersikap seperti ini, hah!” Max melayangkan aksi protes, “apa aku dimatamu tidak lebih baik darinya?” Maureen menghela nafasnya.“Apa aku terlalu keras? Bagaimanapun, kalau bukan Max yang menyelamatkan mama dan membantuk
Max mengabaikan rintihannya. Dia terus melahap belahan bibir bawah istrinya hingga benar-benar Maureen tidak kuat.“Max … ahh hmm ahh Max ummm aku!” tanpa sadar Maureen terus mendorong kepala suaminya agar tetap bermain di bawah tadi.Kepalanya terangkat, deru napasnya masih terdengar kasar, tanpa ragu, bibir tadi sekarang sedang menyerang lagi bibirnya.Detik berikutnya, tubuh polos istrinya sudah diangkat ke pangkuan, Maureen mulai bergerak naik turun secara perlahan.“Max, kau benar-benar kejam. Tubuhku ini masih sakit ahhh ahh mmm!” saat dia protes, Max malah membalikkan tubuhnya lagi hingga kini Max yang sedang memompa dengan ritme cepat.Dia benar-benar menghajar tubuh istrinya sampai kewalahan.Max menarik tubuhnya dalam dekapan. Dia menutupi hanya dengan kemeja yang dilepasnya.“Kau yang lebih dulu berbohong dan mengkhianati ku. Ini hukumannya sangat ringan hah!” wajah Maureen di tarik sampai mereka berhadapan, dan grauk, Max menggigit bibirnya hingga berdarah.“Ah sakit Max!
Carlos dan Benny langsung mendekat. Nathan masih memeluk tubuh Maureen.“Kau gila, Nathan!!” teriak Carlos setelah suasana lebih kondusif, orang-orang tadi sudah dihabisi oleh anak buah Max juga Nathan.Martin segera mendekat pada Lola. Kepalanya dipukul dan terluka. Dia pingsan.Max ingin sekali marah melihatnya. Tapi, dia juga melihat istrinya yang sudah penuh dengan darah.Mereka segera membawanya kembali masuk ke rumah sakit.Max melihat wajah yang melindungi tubuh istrinya.“Moses? Sedang apa dia disini? Bagaimana dia bisa mengenal istriku?” kaya Max dalam hati.Max terkejut, tapi dia juga ikut membantu mengangkat tubuhnya.Carlos segera melakukan operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang di punggungnya.“Di–dia, akan baik-baik saja kan Max? Aku, aku akan merasa bersalah kalau dia …,” Maureen dipeluk Max. Meski ada luka, tapi hanya lecet-lecet.Darah yang tadi mengalir pun itu berasal dari Nathan.“Tenanglah, ini tidak seperti yang kau bayangkan,” Max mencoba menenangkan hat
“Kau sudah janji padaku. Dua kali janji. Apa semua itu akan kau ingkari?” Maureen cemberut lagi, “Iya, iya, aku tahu. Aku akan bicara padanya!” Maureen ingin melepaskan pegangannya, tapi Nathan memberikan kode pada Benny dan Carlos untuk membawa Lola keluar ruangan dokter tadi.“Loh, loh, mau kemana?” Maureen ingin melangkah, tapi sekali lagi ditarik oleh Nathan hingga dia akhirnya duduk lagi di pangkuan Nathan.Nathan pura-pura meringis saat Maureen mencoba mendorongnya.“Ma–maafkan aku, kau juga yang salah!” dengus Maureen, dia tidak berusaha keras lagi mendorong tubuh Nathan.Namun, Nathan seolah tidak ingin mendengarkan perkataannya, dia hanya lebih memepetkan tubuhnya.“Na–Nath, kau, kita uhm ….”Maureen merasa serba salah dan tidak enak. Tubuhnya ingin mendorong keras, tapi disisi lain dia merasa berhutang budi padanya.Pinggangnya malah semakin didorong masuk ke dalam pelukan. Sepertinya, Nathan hanya ingin memeluknya sesaat.“Rasanya aku ingin sekali menggigit dan memakannya